A Word on Cognizance

DSCF0280

Tak terasa dedaunan telah berubah warna: kecokelatan, lalu menjadi hijau terang benderang. Bebungaan kuning telah mekar dari pohon-pohon besar yang tumbuh di depan bangunan utama sekolah saya. Musim-musim telah bertukar posisi. Seirama dengan semester yang sesaat lagi akan segera berganti: dari Desember sampai ke April. Seakan baru kemarin kami merayakan euforia berakhirnya ujian semester ganjil.

Tak terasa.

Minggu-minggu ke belakang selalu merupakan masa-masa paling melelahkan dalam semester ini. Sepanjang tahun. Setidaknya sampai saat ini. Absennya liburan panjang layaknya dalam masa semester ganjil selalu menjadi daya peredup semangat kami dalam belajar. Namun daya peredup yang sesungguhnya adalah ujian tengah semester. Dan senin kemarin merupakan hari ditiup nya peluit start estafet ujian yang berhari-hari lamanya.

Saya menyebutnya sebagai: Genderang Perang !

Penabuhnya adalah kami, para santri yang sedang labil ditengah sistem pendidikan melelahkan ini. Dan lawan kami adalah belasan pelajaran abstrak yang selalu penuh dengan rumus, kosakata asing, dan hafalan. Tiap malam kami mengeja satu-satu pelajaran yang akan diujikan besok. Semuanya terasa mengalir di sela-sela kening: Asas Black, Limit Fungsi, Laporan Ilmiah, G 30 S/PKI, Sistem Saraf…

Untungnya kawan, semua pelajaran abstrak itu masih berada dalam ruang lingkup ujian tengah semester. Belum lagi jika ujian yang dihadapi bernama: Ujian Semester. Pelajaran yang diujikan akan berlipat menjadi 2, karena ditambah dengan pelajaran dari kurikulum dayah.

Walaupun membayangkan betapa beratnya, tetap saja selalu terbersit dalam relung diri bahwa semuanya terasa alamiah. Tubuh kami telah terlatih selama 4 tahun lamanya untuk menghadapi terjangan soal-soal selama 14 hari itu. Tapi tetap saja, kehidupan bagaikan pohon tinggi. Semakin tinggi ia, semakin kencang angin yang menerpanya -klise sekali-. Setiap tahun pelajaran semakin rumit saja. Dan tentunya soal-soal akan semakin susah !

Makin menjadi-jadi sulitnya karena tahun ini kami didapuk sebagai pemegang kendali organisasi dayah. Kami lah masinis yang mengatur santri-santri junior di bawah kami untuk tetap berjalan di atas rel bernama peraturan. Di tengah kesibukan menghitung rumus-rumus Bernoulli dan Algoritma Trigonometri, kami juga harus membilang dan mengabsen santri yang tidak pergi ke masjid. Di tengah rutinitas mengukur takaran yang tepat dalam percobaan koloid dan buffer di laboratorium kimia, kami juga harus mengukur bijak beratnya hukuman yang diberikan pada para pelanggar nidham, peraturan. Ketika kami mulai sibuk mencari-cari info universitas-universitas favorit, kami juga harus mencari para pelanggar nidham yang luput tidak masuk mahkamah.

Begitulah. Sampai saya digiring oleh alam pada sebuah kesimpulan: tingkatan usia seseorang berbanding lurus banyaknya tanggung jawab yang dipikul. Pada akhirnya orang di sekeliling saya akan berubah. Semua nya akan berubah. Maka ketika alam di sekitar berubah, saya –dan kita semua– harus ikut berubah.

Inilah hukum alam. Tidak ada yang bisa mengelak dan menghalanginya. Bagaimana pun kita mencoba, alam pasti kan mendobraknya. Kita lah yang harus menyesuaikan diri. Seperti pohon besar yang tumbuh di depan sekolah saya: Menyesuaikan diri mengikuti kehendak alam. Dulunya cokelat, lalu menghijau, lalu bermekaran bunganya, lalu gugur dedaunan dan buah-buah kecil nya, lalu kembali menjadi cokelat. Siklus pun berulang. Sampai gugur semua helaian daun dan ranting dedahan nya. Dan mati.

Hari ini, saya kembali menemukan satu kepingan lain tentang makna hidup ini.

Saleum !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s