Postcrossing: Berawal dari Bahasa Indonesia

untitleda

Saya masih sangat teringat ketika tangan saya memegang kartu pos untuk pertama kalinya. Saat itu papan di depan kelas saya masih bertuliskan “VI-B MIN Lhokseumawe”, setingkat SD. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia menyuruh kami untuk membawa sebuah kartu pos sebagai materi pembelajaran selanjutnya.

Kartu pos ?

Telinga saya berdiri.

Dimana bisa dapat kartu pos bu?” tanya saya.

Di kantor pos.”jawab guru saya.

Siangnya langsung saya sempatkan untuk pergi ke kantor pos yang kebetulan dekat dengan sekolah saya. Sesampainya di sana saya melongo dulu sejenak. Ramai. Kemana nih cari kartu nya… Untung ada seorang petugas yang menghampiri saya dan bertanya tujuan saya. Saya katakan kepadanya bahwa saya mendapat tugas dari guru untuk mendapatkan kartu pos. Tentunya dengan memasang wajah sepolos mungkin *namanya juga anak SD. Petugas itu manggut-manggut lalu menyuruh saya untuk menunggu sejenak dan pergi kemudian kembali dengan membawa segepok kartu pos ukuran sedang bergambar Candi Prambanan. SEGEPOK.

Ini untuk adek

gratis? semuanya?

Petugas itu mengangguk. Hari itu pun saya pulang dengan membawa segepok kartu. Gratis.

Itu adalah pengalaman pertama saya dengan kartu pos. Juga untuk yang terakhir kalinya. Bagi saya dulu, kartu pos tak ubahnya kelereng. Dia ada untuk di’mainkan’. Saya tak perlu menceritakan bagaimana saya ‘memainkan’ kartu pos dengan teman-teman. Itu merupakan sebuah hal yang mengerikan. Bagi saya dulu kata ‘pos’ merupakan sebuah manifestasi dari kata ke’kuno’an. Dengan lamanya waktu yang dicapai oleh sebuah surat, kartu, dan tetekbengek pos lainnya, pos tak ubahnya kereta api yang tergusur dengan pesawat terbang. Saya yang dulunya lebih menikmati belajar daripada mengoleksi hal-hal tak berguna pun akhirnya benar-benar tidak pernah bersentuhan lagi dengan kartu pos.  Bukan hanya kartu, namun juga semua kata yang berhubungan dengan pos.

Dan kartu pos bergambar Candi Prambanan itu pun sudah lenyap tak berbekas …

Hidup saya pun terus bergulir. Hingga akhirnya saya mulai belajar tentang arti sebuah waktu. Dan waktu lah yang membawa saya kembali menyentuh secarik kartu pos. Bermula dari aktivitas blogwalking kesana kemari, saya menemukan blog Bang Ari Murdiyanto dan berkenalan dengan hobi nya. Postcrossing. Perlahan saya mulai tertarik dengan aktivitas mengirim dan menerima itu. Puncaknya saya mengirimkan sebuah kartu pos hand-made pada Bang Ari. Setelah itu kartu-kartu saya pun mulai mengepakkan sayapnya dan terbang melewati gurun, gunung, laut dan awan ke seluruh pelosok dunia.

Saya jarang sekali melakoni suatu aktivitas terus-menerus hingga bisa saya katakan sebagai sebuah hobi. Tapi postcrossing adalah sebuah pengecualian dan saat ini postcrossing bagi saya merupakan hobi yang tak terkatakan !

Happy postcrossing. Saleum! :D

Advertisements

10 thoughts on “Postcrossing: Berawal dari Bahasa Indonesia

  1. […] Saya masih sangat teringat ketika tangan saya memegang kartu pos untuk pertama kalinya. Saat itu papan di depan kelas saya masih bertuliskan “VI-B MIN Lhokseumawe”, setingkat SD. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia menyuruh kami untuk membawa sebuah kartu pos sebagai materi pembelajaran selanjutnya. Kartu pos ? Telinga saya berdiri. “Dimana bisa dapat kartu pos bu?” … Continue reading » […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s