Terselip di antara Imsakiyah Ramadhan

Kenangan akan terus meninggalkan jejaknya dalam hidup seseorang. Kadang terselip antara raungan khas kesedihan, kadang dia menyeruak di tengah sorak-sorai kegembiraan, bahkan dia membisik ketika sedang duduk sendiri jauh dari keramaian. Seperti Ramadhan yang saban tahun selalu dirayakan.

***

Dalam kurikulum pelajaran di pondok pesantren saya, ada sedikit perubahan mata pelajaran yang menggembirakan tahun kemarin. Beberapa pelajaran membuat saya penasaran. Salah satunya Ilmu Falak. Cabang pengetahuan untuk menghitung perubahan gerak palnet-planet dan bintang untuk kemudian digunakan dalam mempermudah kehidupan manusia sehari-hari. Manusia, khususnya muslim. Bagaimana rasanya membilang rumus benda-benda angkasa luar ? Memikirkannya semakin membuat saya penasaran…

Komplek Pesantren Darul Ulum [17:45 pm]

Setelah Asar, iseng saya mengunjungi seorang teman yang sedang menghitung imsakiyah di kamarnya.

 “How’s your imsakiyah, brother?” ujar saya pada Iskandar.

It’s almost done.“jawab nya, “How about yours?

Mine? I haven’t touched it yet. I’ll finish it soon” jawab saya, lalu pergi meninggalkan Iskandar, kembali menuju kamar tidur saya sendiri. “You better finish it soon before limit time or you will be punished!” teriak Iskandar. Saya terus berlalu tak menghiraukannya.

Sudah setahun sejak saya pertama kali bergumul dengan cabang ilmu tersebut. Diajak untuk menghitung dengan rumus-rumus rumit mendebarkan. Lambang-lambang matematika berkeliaran kesana-kemari tiap saya mengetuk jari-jari saya pada tombol-tombol kalkulator. Saya pun mulai bisa mengeja arah kiblat hanya dengan menggunakan bantuan cahaya matahari dan sebilah tongkat yang biasa disebut istiwa. Menyadarkan saya bahwa masih banyak hal-hal ajaib lainnya jika kita mau sedikit saja menjelajahi lebih dalam sudut-sudut pengetahuan.

Kali ini, pengetahuan itu mengajak saya untuk mengejanya lebih sukar. Untuk pertama kali dalam hidup saya, imsakiyah menjadi titik perhatian aktifitas. Pernahkah memikirkan bagaimana hitungan tepat seorang falakiah bisa mempengaruhi sah atau tidaknya jadwal berbuka puasa seluruh umat ? Untuk itu saya pun diajarkan bagaimana menghitung awal waktu tiap alat lima waktu. Mencoba mencerna bahwa satu derajat posisi matahari yang melenggok di langit sana bisa mempengaruhi perbedaan waktu antara beberapa daerah di bumi. Tentunya bukan hal yang mudah untuk menghitung awal waktu 5 waktu salat sehari semalam selama satu bulan berjalan. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian yang tinggi untuk menghitungnya menggunakan rumus-rumus bertingkat. Teman-teman saya mungkin merasa heran ketika waktu tenggat tinggal beberapa hari lagi tapi saya belum menghitung imsakiyah satu waktu pun.

Dua minggu menuju hari pengumpulan imsakiyah [11:12 pm]

Malam ini sunyi. Para santri kebanyakan telah lelap. Sebagiannya lain memilih bercakap-cakap dengan suara setengah berbisik agar tak tertangkap bagian keamanan. Saya sendiri tengah duduk sendirian di bawah pohon mangga berukuran sedang yang tumbuh di depan asrama. Buku Biologi boleh melarang siapa saja untuk tidak duduk di bawah pohon pada malam hari, tapi tidak dengan saya. Yang penting merasa cukup nyaman dengan suasana sekitar. Terdengar sekilas bacaan Al-Quran dari masjid di sekitar komplek. Irama nya membawa saya kembali ke halaman rumah saya di kampung sana. Pelan, saya merasa sedang mengenakan kopiah dengan posisi miring, selembar kain sarung yang saya ikat di leher untuk mengurangi dingin, celana pendek dan sepasang sandal jepit. Saya tidak sendiri. Bersama lima rekan, kami pergi ke mushalla kecil yang biasa kami sebut Bale’ beut. Bahasa daerah saya untuk menyebut rumah panggung yang biasa digunakan mengaji. Dengan semangat Ramadhan kami menghidupkan mikrofon TOA yang berdebu dan tilawah hingga larut. Kadang disertai dengkuran beberapa teman yang tertidur karena sudah lelah mengaji.

Mengenang nya membuat saya terkekeh. Bahkan setelah waktu 5 tahun dan jarak luas yang memisahkan, kenangan itu masih saja muncul dan mengibur. Seperti menyadarkan saya bahwa, kenangan itu akan terus ikut berpacu di belakang waktu dalam batasan jarak yang telah ditentukan oleh Sang Penentu. Terkadang dia tertinggal karena hal-hal lain yang lebih penting dipikirkan. Maka jadilah ia terlupa. Tapi secepat apapun waktu, ia perlu beristirahat. Di malam yang sunyi misalnya ketika waktu melambat, kenangan bisa saja hadir membelai. Di antara waktu dan jarak yang memisahkan terselip kenangan yang terlupakan.

Kenangan indah saya tentang Ramadhan terusik ketika mengingat tugas imsakiyah yang belum saya kerjakan. Mungkin alasan terbesar kenapa saya belum mengerjakan nya adalah itu. Menunggu waktu yang tepat? Tidak. Saya ingin menikmati bagaimana menghitung waktu-waktu Ramadhan bisa membawa saya ke kenangan-kenangan terindah dalam hidup. Bukankah peraturan belajar nomor satu adalah menikmati, bukan merasa tersiksa ?

***

Next day…

Iskandar: Hey brother, I’m about to finish, how’s your imsakiyah? Me: Hm… I’ve registered it to Ustad this morning | Iskandar: This morning? | Me: Yes, indeed..

IMG

Advertisements

7 thoughts on “Terselip di antara Imsakiyah Ramadhan

    • He..he, memang saya sudah lama ingin belajar ilmu falak ini begitu mendengat tntng kemampuan beliau yang cukup cakap di bidang ini. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa mempeljarinya.

      Like

      • Alhamdulillah, nanti kalau sudah disusun rapi jgn lupa diupdate atau dibagi-bagi biar kita sama-sama mendapatkan manfaat dari ilmu yang telah dipelajari. Salut buat Zamer :)

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s