Postcrossing: A Postcard From Myself #Robin Round Indonesia 2

Semua hal akan kembali ke diri kita sendiri ~ Anonymous

Sejak Postcrossing menjadi hobi baru sejak Februari lalu, saya tergelitik untuk mencari komunitas kegiatan kirim-terima itu. Pamer-pamer kartu, berbagi info tentang nya, bahkan bisa saling berkirim ke sesama. Saya kira itu semua menjadi sebuah kuku penguat berpostcrossing.

Melalui internet pertama kali saya mencarinya. Terus mencari dan mencari, hingga kursor mouse saya berhenti di sebuah grup: Komunitas Postcrossing Indonesia. Sebuah grup tentang postcrossing dan segala tabur remeh nya. Setiap detil hal tentang kartu pos berkeliaran disini. Tentu juga kehangatan dan saling berbagi di antara teman. Membuat saya berpikir bahwa ini bukan lah grup hobi, tapi sebuah keluarga…

***

Dayah Modern Darul Ulum [10:13:12]

Ya Walad! Hunaka bitaqah Baridiyyah lak. Qad ‘U’ti ila shahibuk, rafsan. Khuz Ma’ah!” ujar seorang ustad pada saya. Artinya kurang lebih: Ada sebuah kartu pos untuk saya.

Yassalam.. Syukran Katsiran ustad!” jawab saya berterima kasih. “Afwan” balasnya cepat.

Hari ini Rabu, sedikit mendung. Awan masih berkerumun di langit. Melihat nya membuat saya teringat cucian baju sekolah yang masih tergantung di jemuran. “Hujan…“ucap saya pelan tidak kepada siapa-siapa. Saya duduk seorang diri merasakan tiap hembusan angin yang kian lama kian menggigit. Sepertinya bakal hujan. Saya melihat jam tangan saya. Waktu Istirahat masih panjang. Saya memutuskan untuk mengangkat cucian yang baru saja dicuci pagi tadi. Walaupun belum sepenuhnya kering itu lebih baik daripada lebih basah terkena bulir hujan. Pakaian, bagi kami para santri, tak ubahnya makan pagi dan bola kaki. Penting. Selalu dipakai 3 kali dalam seminggu. Maka ia harus selalu dalam kondisi terbaik.

Di perempatan jalan menuju jemuran seorang teman menikung saya. Dengan setengah berlari dia berteriak, “Afwan bro! Your postcard is in my bag. Ustad gave it to me just now.” Dia berlari kembali. Sepertinya dia sedang tergesa-gesa.

Thanks..” ujar saya pelan. Dia tidak mungkin mendengar.

Senyum mengembang di mulut saya. Dengan berlari saya menuju kamarnya. Menabrak sebuah ember entak milik siapa, menyenggol pundak seorang teman, lalu membanting pintu kamar dan mengobrak-abrik sebuah backpack ukuran 15 liter milik teman. Ini dia, sebuah kartu pos. Bukan Official Postcrossing. Tidak ada ID-nya. Saya perhatikan isinya dan tersadar ternyata kartu ini adalah kartu saya sendiri yang saya kirim pada Yessi untuk ikutan Round Robin Indonesia jilid 2. Sebuah Game yang dibuat oleh Fatimah Zahra dari Komunitas Postcrossing Indonesia.

Saya mengirim sebuah kartu pos yang masih suci, belum ditulis atau dipermak apapun, dalam sebuah amplop tertutup beserta kertas yang berisi alamat saya. Nanti saya pun akan menerima kartu dari teman yang lain, tentu saja dalam amplop tertutup. Setelah kartu nya saya terima saya harus mengirim kembali kartu itu tanpa amplop ke teman yang sudah mengirimkan kartu nya kepada saya. Stamped and written istilahnya kerennya. Penentu teman kirim dan terima kartu adalah Fatimah sendiri. Menarik ?

Kartu yang kita kirim akan kembali pada kita sendiri. Pengirimnya. Sebuah filosofi? Mungkin. Seorang ibnu sabil (traveller?) sejauh apapun langkahnya, sebanyak apapun jejaknya kelak dia akan kembali ke pelukan kampung halaman. Seorang manusia sebanyak apapun pahala dan dosa yang telah ditabur nya, sebaik atau seburuk apapun dia akan kembali ke asalnya. Tuhannya. Dan kartu ini, bagaimanapun dia telah terbang di atas ratusan kota, belasan gunung dan lautan. Atau berjalan di antara hiruk pikuk kehidupan manusia, singgah sebentar di kantor jingga nan sibuk lalu sampai ke tangan penerima. Dan dia pada akhirnya akan kembali kepada saya. Dulunya dia putih kosong tak tercoret namun dia kembali penuh dengan tulisan kenangan dari seberang. Dulu dia dikirim oleh wajah berkeringat penuh harapan untuk sampai ke tangan tujuan lalu dia kembali pada wajah penuh senyum dan rasa syukur. Kartu pos ini telah melalui beragam kisah.

Kartu pos ini adalah seorang Ibnu Sabil…

Untitled-6 Untitled-5

***

Saya sedang tertawa bersama teman-teman sambil melihat kartu pos ini ketika tiba-tiba seorang teman berkata dengan ekspresi bahagia,”Yes… Hujan!”. Benar, atap seng mulai ribut ditimpa deru butir hujan. Hati saya semraut. Sepertinya ada yang terlupakan…

….Baju sekolah saya…

*&^%^%$%$#@#!@!@

Advertisements

5 thoughts on “Postcrossing: A Postcard From Myself #Robin Round Indonesia 2

  1. Hahaha, menarik sekali tulisannya. Endingnya bikin ironis :)
    Dulu temen kantorku ada otang Padang dan suka denger kalo dia nelepon keluarganya. Bahasanya susah dimengerti ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s