Dari Hilir Kapuas, Dia Bercerita

2013-06-26 06.18.12

“Centuries Passed and Still The Same. War In Our Blood,

Somethings Never Changed…”

Lost, Avenged Sevenfold

Perkenalkan namanya Arifin. Lengkapnya Nur Arifin. Dalam perjuangannya ke Gorontalo untuk mengikuti sebuah event nasional, dia memilih mengangkat sepucuk raket hijau manis sambil mengikat selendang bertuliskan Kalimantan Barat di lehernya. Ya, anak Dayak yang tinggal di pinggir Sungai Kapuas ini adalah atlet Bulutangkis. Olahraga nya orang Indonesia.

Badannya rangka hingga ke sumsum. Hanya dibalut beberapa lapis kerat daging saja. Larinya juga tidak sederas Menjangan. Tapi jangan tanya kemampuan nya mengocek shuttlecock di atas net. Dropshot nya setajam bintang jatuh. Permainan netting nya kemayu selembut kertas terbang. Smashnya? Lebih berkilat dibanding halilintar. Oke, yang satu ini sepertinya berlebihan. Smash nya segagah ombak menerjang. Walau pada akhirnya dia terhenti di semifinal, tapi dalam hati saya tetap bergumam,”Masih ada mutiara tersembunyi di pelosok Kalimantan…,”

Pertama sekali saya bertemu, bibirnya masih malu-malu menampakkan senyum. Namanya pun diucapkan pelan,”Aripin, bang..,” Tapi lihat dia sekarang. Keayuannya luntur menjadi gincu penghangat suasana kamar kami yang dingin. Muka Ayu Putri Keraton nya berubah menjadi wajah jenaka Charlie Chaplin. Tentu saja yang satu ini dalam versi Dayak nya. Kalau dia membaca tulisan ini, pasti dia berucap,“Ah, abang ini bisa aja..,” Lembut sekali. Mungkin dengan kedipan sebelah mata. Membayangkannya membuat otot perut saya melilit kram karena tertawa.

Namun dibalik sifat humorisnya, Arifin adalah serang anak yang teguh. Sepertinya lebih teguh dari saya. Umurnya baru saja 14 tahun dan kakinya baru saja melangkah ke kelas 2 Menengah Pertama. Tapi pengalaman hidup membuat nya lebih dewasa dari saya walau tak kasat mata. Dia menancapkan akar pohon kehidupannya di pinggir Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Salah satu tempat dimana pengaruh-pengaruh yang membahayakan agama banyak berkeliaran mencari mangsa.

“Di tempat kitorang Bang, banyak orang yang bukan muslim kalau masuk Islam dikate bukan Suku Dayak lagi. Sudah dianggap bukan orang Dayak lagi, bukan keluarga lagi” terangnya sedikit muram. Ya, isu ini memang sensitif. Tapi saya bukan bermaksud SARA. Karena saya ingin bercerita tentang kisah Arifin. Tentang iman Arifin yang kokoh bagai karang. Di tengah gempuran lingkungan yang hampir tidak mendukung, dia memilih hidup di tengah pondok pesantren. Mempertebal ilmu agama dan menguatkan iman. Saya yang sejak baru bisa bernafas sudah menghirup aroma Islam di seantero tanah Rencong, pasti tidak bisa menghayati ketenangan dan kenikmatan ibadah seperti yang Arifin rasakan. Umurnya boleh saja baru berkepala 1 ditambah 4 helai rambut, tapi kepercayaannya pada Ilahi mungkin saja lebih melekat erat di hatinya dibanding saya.

Selain itu yang paling menggenaskan, dua bola mata jenakanya telah menyaksikan sendiri bagaimana seorang manusia bisa menggaum lebih keras daripada seekor singa. Peristiwa Sampit masih menyisakan goresan besar yang berdarah-darah di sudut gelap hatinya.

“Aih, itu bang kitorang takut sangat! Banyak orang bawa parang dan Mandau. Pergi ke kampung tetangga cari orang pendatang..,” tuturnya suatu ketika dengan dialek Melayu-Dayak yang menyatu dengan urat lidahnya. “Tak mau aku ingatnya lagi. Seram sangat!” defensif dia menutup. Saya tentu tidak bisa mengerti apa yang dia rasakan, tapi membayangkan melihat orang berkerumun dengan mata merah dan memegang senjata tajam itu cukup mengerikan bukan?

Perjalanan ke Gorontalo sedikit banyak telah membuka mata saya lebih lebar lagi. Dulu saya menonton nya lewat televisi, membacanya lewat surat kabar, dan mengejanya lewat internet. Tapi disini saya melihat langsung pelakonnya dan mendengar langsung tuturan kata desah risaunya. Indonesia -bahkan dunia- dengan beribu kemajemukannya dan beribu ikan, burung kadalnya juga dengan beribu sejarahnya masih saja mengulang sejarah. Mereka lebih suka membuat sejarah itu daripada menjaga dan mengambil pelajaran. Dan ironis nya mereka membuat sejarah yang kelam. Sejarah klasik sejak semesta baru bisa merangkak: Perang! Ya, perseteruan.

Sepertinya jika kita bertanya pada sejarawan,“Apa perang bisa dihentikan?” Mereka mungkin menjawab sama seperti apa yang salah satu band favorit saya nyanyikan, Avenged Sevenfold – Lost:

“Centuries passed and still the same. War in our blood, somethings never changed…”

Namun, kita tetap masih bisa berdoa agar semesta selalu dipenuhi dengan kedamaian dan tawa riang selalu menghiasi setiap suara yang keluar dari eksofagus anak manusia.

Semoga Arifin selalu menemukan keajaiban di tiap lembaran kitab Arab gundul yang dibacanya dan di tiap smash serta dropshot yang dilepaskannya.

Salam,
A
Advertisements

5 thoughts on “Dari Hilir Kapuas, Dia Bercerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s