Senja di Atas Dawai

zamer bungr

Layaknya manusia, sepasang burung ini sepertinya sedang mengalami hubungan yang kurang harmonis. Keduanya bersitegang di antena belakang rumah saya. Saling tak acuh dengan mempalingkan kepala. Kiranya keempat kepak sayap itu terbang tentu indah sekali bukan. Tapi mau diapakan lagi. Bukankah perseteruan akan selalu hadir di setiap santiran kaki komponen semesta?

***

Senja di Atas Dawai

Karena dunia sering menjadi sengketa

Biarlah jingga senja sejenak memisahkan  kita

Ditatap rerumpun hijau dan cermin air di sekeliling kita

Kita menatap diri masing-masing dalam lengang

Biarlah hati putih kita beriak tenang

Jangan takut! kita tak berpisah selamanya

Hanya beberapa kali sang citra ‘kan mencium pipi cakrawala

Jangan gundah, kawan! Kita tak berpisah jauh

Hanya berjarak saja tujuh bayangan sauh

Kita memalingkan muka bukan berarti pedar

Tapi membaca bahasa rahasia kita berdua: Daun Cedar

Sungguh dawai yang sedang kita pijak

Tak kan mengusik sayap-sayap kita, pun beredak

Ku selalu di belakangmu

Menatap ke paruh mu

Merutuki kuasa waktu.

Banda Aceh, 5 Juli 2013.

18:34:56
 
Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 23: Burung, yang sedang berlangsung di sini
Advertisements

3 thoughts on “Senja di Atas Dawai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s