Lhok Mee

Apa yang membuat saya selalu memikirkan liburan sembari berangan kosong agar Tuhan mempercepat setiap hitungan hari menuju nya?

[Darul Ulum Islamic College, 29 May 2009 13:23 PM]

Jika saat ini adalah tujuh sembilan tahun yang lalu, saat tiap kali orang bertanya dimana saya saat liburan menyapa, sontak saya menjawab: “akan membilang uang demi satu dua jam bermain playstation di sebuah rental terdekat”. Sebuah ironi sebetulnya karena teman disebelah rumah pun punya permainan digital itu. Tapi mau dikata apa? Dunia anak kecil adalah dunia tanpa rasa takut akan sebuah penyia-nyiaan. Seluruh komposisinya adalah permainan yang tak berujung dan tak berkesudahaan. Namun semua permainan itu luntur sejak saya meninggalkan kampung halaman dan memutuskan untuk belajar di sebuah pondok tengah kota.

Saat itu semua sudah bersiap dengan backpack masing-masing. Setelah semua kertas-kertas yang dihamburkan setelah ujian, akhirnya tiba lah hari yang paling ditunggu-tunggu orang seantero negeri: liburan. Kami semua akan menjamahi bumi Lhok Mee. Salah satu pantai termasyhur di antara orang kota. Saya menjalani tanpa minat. Bagi saya liburan tak ubahnya menyimpul karet demi karet dalam permainan tali yang saban saya mainkan bersama kawan dekat. Membosankan, alih-alih menyenangkan. Menghabiskan waktu.

Setidaknya sampai saat itu tiba saya belum tahu kalau alam sedang dan akan mengejutkan saya dengan rahasia-rahasianya…

Delapan bus Damri biru berukuran sedang pun berjalan. Setelah merayap seperti semut di antara himpitan kendaraan ibukota, bus akhirnya melaju mengangkasa menebas Jalan Krueng Raya. Sepanjang perjalanan lajur kiri dan kanan dipenuhi dengan beragam hamparan pembunuh bosan. Bentangan Krueng Cut, penopang kehidupan para pengumpul kerang inilah yang pertama kali memanjakan mata. Kemilau cahaya matahari mendung bergerak-gerak dipermainkan riak air. Selanjutnya bebungaan liar menyapu keseluruhan mata angin.

DSCF1181

Selang beberapa menit kemudian, rimbunnya Hutan Manggrove menyambut kita. Setelah Tsunami, reboisasi Manggrove sangat digalakkan. Sejumlah pantai, khususnya yang terkena dampak langsung Tsunami banyak ditanami tumbuhan yang satu ini. Beberapa diantaranya tumbuh dengan begitu subur, namun sebagian lagi hanya tinggal menghitung hari untuk mati. Kebanyakan karena batangnya dijadikan kayu bakar oleh penduduk sekitar. Selain itu, di sepanjang masih ada rumah-rumah bekas terjangan tsunami.

DSCF1189

Di Jalan Krueng Raya ini banyak sekali tempat-tempat vital bagi kelangsungan hidup orang banyak. Pelabuhan Malahayati salah satunya. Kawasan Krueng Raya ini juga memiliki bibir pantai yang panjang. Sehingga terdapat beberapa pantai yang strategis. Namun tetap yang paling cantik adalah Pantai Lhok Mee. Letak pantai yang satu ini memang sulit dicapai. Meskipun beraspal tapi banyak turunan dan juga tanjakan. Bus ini bahkan beberapa kali harus meraung dan berjalan zig-zag agar sampai ke ujung tanjakan. Setelah beberapa kali meraung tersengal-sengal, bus akhirnya sampai di bukit Soeharto. Dinamai demikian karena dulu pemimpin Orde baru itu ikut menggagas penghijauan bukit berbatu abu ini. Di balik bukit itulah, Lhok Mee berada. Sebagai informasi kalau kita terus saja menyusuri Jalan Krueng Raya ini akan menembus daerah Laweung.

DSCF1267

Sesaat kemudian, bus mulai menjalani jalan berbatu. Berbelok kiri..perlahan… sampai tangkai pelepah kelapa menyibakkan pemandangan yang tidak pernah saya lihat di manapun! Inikah pantai tujuan kita? Yang diucap-ucap seluruh anak kota sejak tadi malam? Tuhan, saya pasti sedang bermimpi! Saya tidak punya perbendaharaan kosakata yang tepat saat ini. Tapi dengan pasir putih nan lembut yang membujur terbentang, kawanan pohon keurembang tegak menyeruakkan akar-akar nya dari bawah air, segarnya angin khas sondai, apa lagi yang harus saya katakan. Sekedar menutup mulutpun saya sudah tak sanggup lagi.

DSCF1281

Pantai Lhok Mee ini masih sangat asri. Sangat jauh dari kebisingan. Yang ada hanya ada pepohonan tua, pepasiran putih, air biru yang berpendar, serta angin sepoi yang menyapu lembaran rambut dan wajah. Kami menyewa kawasan pantai ini untuk satu hari penuh. Untuk itu kami harus membayar satu setengah juta rupiah. Saya rasa impas untuk ukuran kami yang berjumlah delapan ratusan. Dan tawa tanda berakhirnya satu tahun ajaran yang lalu pun dimulai.

“Kamar 22 melawan Kamar Bedeng dan 16,” Teriak Raja. Salah seorang teman saya, yang kini merangkap menjadi ketua lomba tarik tambang. Kontan saja semua berteriak saling memanggil teman yang belum kelihatan batang hidungnya. Setelah semua berkumpul, adu tarik-menarik tali itu pun dimulai. Satu per satu berguguran. Yang menang semakin mendekatkan kakinya ke arah final. Bahkan para ustad pun juga ikut bermain.

Setelah tarik-menarik usai, giliran akhirat berbicara. Kami shalat Zuhur diantara padang pasir putih. Yang berdiri paling di sisi sebelah laut jika beruntung akan terkena sapuan ombak. Takbiratul Ihram, Rukuk, Sujud,   terus satu demi satu hingga berakhir dengan salam. Dan pasir putih pun terlukis indah di setiap wajah dan pipi. Kontan semua tertawa.

Akhirnya, saya pun merasakan apa yang disebut jatuh cinta. Tentu saja arti denotasi. Ah, kemana saja saya selama ini? Disinilah seharusnya pelajaran berada. Pada kerubungan kerapu yang muncul di antara akar-akar menjulang itu bersemayam ilmu-ilmu biologi yang selama ini saya tekuni. Kawanan Echinodermata untuk pertama kalinya saya lihat mengerayang di pesisir air yang surut. Bersama teman-teman menciptakan taman permainan sendiri di tengah belantara padang pasir putih. Liburan menarik diri saya ke dalam pusaran tawa.

Saya mungkin memang bukan anak yang terlahir di sisi laut. Tapi bukankah bangsa kita adalah negeri bahari? Tempat jutaan makhluk mengambil jatah hidupnya di antara ombak-ombak batu karang atau jauh di kegelapan yang dalam? Sadar atau tidak, sepertinya kita tidak bisa mengelak bahwa sebenarnya rasa asin pantai menyatu dalam tiap lekuk tulang. Bahwa ombak-ombak pantai yang suka sekali menjilat bibir pantai ternyata bergelombang dalam pembuluh darah kita. Tidak heran jika salah satu destinasi wisata yang dicintai warga republik ini adalah lautan.

Dan sepertinya sekarang saya sedang jatuh cinta :)

Advertisements

6 thoughts on “Lhok Mee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s