In The Name of God

Indonesia adalah negeri dengan jajaran kepulauan yang memeluknya dari timur ke barat. Seandainya Ibu Pertiwi ini adalah sebuah tubuh, maka saya tidak akan ragu jika menyebut jantungnya adalah deretan pantai putih yang senantiasa dijilati ombak dan paru-paru pemberi udaranya adalah selaksa gunung yang tinggi menjulang.

Maka laut adalah salah satu destinasi pariwisata favorit diantara anggota republik ini. Termasuk saya. Setiap gelombang air dan angin pantainya selalu menyiratkan kenangan indah di setiap detik menghitung mundur hari liburan tiba. Seakan-akan laut memanggil dan kita selalu berharap sekiranya mampu memenuhi seruannya di tiap akhir pekan.

Setiap tempat memiliki kisahnya sendiri…

Tiap hari prei tiba, tempat yang pertama kali menggerayang di pikiran saya adalah bibir pantai sebelah utara Aceh Besar atau dengan kata lain area timur Banda Aceh. Bukankah pernah saya ceritakan bahwa Aceh Besar memiliki bibr pantai yang panjang? Krueng Raya namanya. Tempat yang menjadi andalan para punggawa pariwisata Pemerintah Aceh Besar itu, menyimpan kekayaan alam yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Berbagai kawanan ikan bergerak dalam formasi padu tanpa dikomandoi. Lineria matahari bergerayang di riak air lalu menelusup di antara lantai laut yang putih. Akar-akar pepohonan keurambang berebutan bernafas menusuk-nusuk udara dari bawah air. Nah, tidak heran bukan jika pantai-pantai Krueng Raya memikat saya?

Tapi bukan itu yang menjadi alasan kerinduan saya…

Saat pemandangan termagis yang Tuhan lukis saya nikmati, ada rasa getar yang tidak bisa kita dapatkan saat menyanyikan sajak-sajak langit dalam balutan kehangatan sajadah di mesjid. Di sana, di antara lantai butir-butir pasir putih saya menemukan arti lain dalam sejarah penghambaan saya.

Kali ini bukan azan yang memanggil saya dan bukan seruan iqamah yang menjadi pengingat waktu salat, tapi matahari dan sayup bayangannya yang menyadarkan kami bahwa waktu untuk bertasbih pada Tuhan telah sampai. Dan juga bukan air tanah yang membasuh tiap lengkuk dosa, tapi asin buih laut yang menjadi air wudu saya. Dan sang imam tidak perlu menggunakan alat pengeras untuk menyampaikan lafal nyaring kidung ayat-ayat tua, cukuplah alam menjadi pemberi tahu bahwa sudah saatnya untuk sujud dan bangun kembali.

Ah, mengingatnya membuat saya semakin merindukan saat-saat indah bersujud kembali di permukaan jantung Indonesia itu. Dan sudah selayaknya bagi kita agar selalu mengiringi langkah perjalanan dengan Tuhan yang selalu di sisi…

Berjalanlah ke seluruh penjuru bumi, dan rekatkanlah di tiap simpul sepatu yang kau ikat mati itu nama Tuhanmu dan juga Ibu Pertiwi…

lhok mee

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s