The Rain

It’s 11:12 am and raining now so as memories. The fact that I’ve been here -in my campus- for almost six years surprises me. The time runs without any limit. And I want to share to you a little part of it…

hujan

Hujan pertama sejak saya kembali ke tanah ini, akhirnya menjamahi bumi…

Mungkin arus kesibukan tempat ini telah membuat saya lupa bahwa alam terkadang memilah tanah-tanah kering untuk dicandai suatu ketika, dan datang bersama awan-awan kelabu pekat beserta orkestra guntur yang bertalu-talu memainkan nada oktaf feedback tertinggiMungkin ribuan kosakata-kosakata arab yang wajib saya hafal saban minggunya membuat kepala saya tidak mampu merasakan lelah, atau lebih tepatnya tidak boleh merasakan lelah. 

Kemudian hujan bertandang melunturkan itu semua. Menyadarkan saya dalam berbagai cara bahwa kehidupan juga butuh sebuah tombol pause, menghentikan sejenak permainan anak-anak manusia. Menghadirkan cerita kalis di tengah drama satir perjalanan. Membiarkan sejenak telinga-telinga cendawan untuk tumbuh mengikuti irama angin. Dari beberapa alasan sentimentil, saya menyukai rintikan air dari langit ini…

Hujan lalu menziarahi tanah ini dengan membawa berbagai ‘pertama kalinya’. 

Untuk pertama kalinya dalam bulan ini, saya harus membiarkan baju-baju kotor menumpuk di sudut kamar. Menunggu hujan reda hingga matahari bersedia untuk menerpa sinar hangatnya pada cucian saya. Untuk pertama kalinya, saya terlambat mengikuti beberapa pelajaran karena rona abu langit tak sejalan dengan gerak detik jam tangan saya. Untuk pertama kalinya saya terpaksa meninggalkan shalat Ashar berjamaah karena hujan berbaris menghalangi.

***

Hujan sudah hampir seminggu membasahi ranah. Tapi siang ini sepertinya dia mulai mempersilahkan kami menikmati hasil perbuatannya. Beberapa genangan air terbentuk bertali dua dengan “jebakan” lumpur-lumpur yang tidak terlihat oleh retina.

“Yakhriq bait!” salah seorang teman mengumpat. Kakinya berlepotan terkena tanah lembek berlumpur. Saya dan beberapa teman tertawa mengejek. Ahh… kadang ditengah keseriusan mengumpulkan ilmu, ada celah-celah sempit yang memang disiapkan Tuhan untuk menguburnya sejenak.

“Unzur akh! Bada’at syajaral muzharah!” Kali ini teman saya yang lain sontak kegirangan. Telunjuknya mengarah pada sebatang kasia emas yang mulai kuning berbunga di depan komplek sekolah ini. Saya tercengang melihatnya. Padahal baru beberapa hari yang lalu panasnya kota ini meretakkan beberapa tanah yang tersisih air. Tapi lihat sekarang, sepenuh batangnya dikelilingi kelopak-kelopak kecil yang terkadang berdesau digasak angin. Miracle!

***

Pun begitu, alih-alih mengungkung ruang gerak, hujan justru memberi kita sedikit waktu untuk berlepas lelah. Menyediakan kita seruang tempat untuk berbagi tawa bersama teman di kamar masing-masing. Air ini sedikit banyak membuat saya malu kepada diri yang terlalu terpaku pada kekakuan dogma. Terlalu patuh pada dentuman realita yang kadang tak perduli pada orang-orang yang terlalu lemah untuk berdaya.  Kadang hujan juga membuka mata saya bahwa bagaimanapun kita, sebagai sesosok kiyan perlu sebuah jeda.

Setelah tamparan hidup satu persatu kita elaki, mungkin hujan lah tempat kita membangun ulang semangat menapaki…

Darul Ulum Islamic College, 1 Sept 2013 [15:25:16]

Advertisements

One thought on “The Rain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s