Half Page of The Strangers

Banda Aceh City – Darussalam, 24 November 2013 [10:12am]

Setelah hampir sebulan belajar keras di dayah, hari ini -akhirnya- libur tiba! Dayah tempat saya belajar itu seperti tidak mengenal dikotomi waktu. Malam dan siang tak ada bedanya. Buku dan kitab terus kami daras selama tubuh masih kuat untuk belajar dan mata masih mampu untuk tetap terbuka. Bahkan tak jarang kami terang-terangan menantang bulan untuk tetap terjaga hingga larut malam. Sehingga remeh-remeh hal seperti internet tak mendapat tempat di tiap kegiatan. Dan kesempatan untuk merayakan kebebasan sepanjang hari ini saya mulai dengan menyapa jurnal kehidupan saya ini.

Seharusnya saya mulai menjelajahi akun-akun yang tersebar di tiap sudut dunia maya sekarang. Membuka blog dan membaca postingan beberapa teman. Namun, sebaris aksara bertuliskan, “Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6”, mengejutkan saya. Sebagai seorang blogger Tanah Rencong sudah sepatutnya saya bergembira. Saya tergoda untuk meneruskan dan membiarkan bit-bit metadata itu bekerja hingga kursor berhenti di sebuah postingan berisi ajakan, “Yuk menulis tentang Aceh”.

Saya tertarik.

Dan di sini, biarlah halaman sederhana ini menunjukkan bagaimana hidup menawarkan sisi-sisi terindah untuk menjadi seorang keturunan daerah Iskandar Muda ini…

Seseorang yang pertama kali berucap, “the strangers you meet on the way will leave you a memory that will linger forever” adalah shahih adanya. Saya pun demikian. Orang-orang asing yang saya temui di tiga kota besar Indonesia nanti adalah bagian dari senarai hidup tak terlupakan. Tak pernah terbersit dalam angan akan bersua, namun mereka menyadarkan saya akan jiwa Aceh yang bersemayam di badan sampai khatam usia. Mereka menunjukkan saya, betapa indahnya menjadi seorang Aceh. Namun, secara tak sadar membuat saya malu kepada diri sendiri karena minim pengetahuan sejarah tanah ini.

Jakarta City – Pondok Gede, 20 July 2011 [07:32pm]

Kembali ke awal malam saat itu selepas Isya, bulan masih belum tampak. Rombongan kontingen kami sedang menikmati makan malam yang disuguhkan panitia perlombaan. Perlombaan apa? Ah, perlukah saya sebut? Saya rasa tidak perlu. Biarlah ia menjadi rahasia saya dan Tuhan Yang Mahatahu.

Hidangannya tidak terlalu menjanjikan. Nasinya kering. Lidah saya yang terbiasa dengan nasi berkuah menyuarakan kata tidak sepakat. Dia memberontak. Memaksa saya untuk mencari makanan lain yang lebih bisa diterima papila-papila kecil lidah. Kemudian saya berjalan keluar dari komplek pemondokan. Melihat-lihat para penjaja makanan yang berjualan di sekitarnya. Dari kaca-kaca gerobak tertulis nama-nama makanan asing. Mpek-mpek, tahu tek-tek, telor gulung. Tidak ada yang menerbitkan selera.

Saya terus berjalan, sampai telinga menangkap sebuah suara percakapan berbahasa Aceh. Menimbulkan semacam sensasi asing yang tidak pernah terasa selama kaki menginjak Serambi Mekah. Dan kontan saya bersorak dalam hati ketika tahu bahwa suara itu berasal dari sebuah warung mie Aceh!

Di depan warung yang tak bernama itu, seorang pria tua tambun dengan kumis putih melintang di bawah hidung peseknya, cekatan menuang kecap dan sayuran ke dalam wajan besar berisi mie kuning yang telah berubah warna karena bercampur dengan bumbu merah khas. Aroma pedas-pedas gurih menguap dan seketika lidah mengucap kata sepakat. Dengan ragu saya dekati bapak itu dan menyapanya dalam bahasa Aceh.

“Assalamualaikum, kiban haba? Pak…” saya menunjuk-nunjuk beliau. Dia tampak terkejut disapa dalam bahasa Aceh, serta merta sumringah menyambut tangan saya. “Geut, geut.. Ureung Aceh? Oh, neuhoi  mantoeng lon Pak Abu.” Tangan saya digoncang-goncangnya. Ah, menyenangkan sekali menemukan penutur Aceh di tanah asing. Pak Abu menyuruh saya duduk, menyiapkan mie yang memang sudah masak, lalu duduk di samping saya. Kemudian ceritapun mengalir di antara kami.

Dia adalah pencinta mie dan ternyata beliau bukanlah orang Aceh asli. Pak Abu sunda tulen. Maka ‘Abu’ hanyalah sebuah nama panggilan. Istrinya lah yang mengubah tutur kata dan logat bicara beliau, dari dialek sunda menjadi aksen Aceh, karena dia adalah orang Sigli. Dia pun bercerita bahwa sudah belasan tahun membawa istri ke kampung halamannya dan mengajarinya cara memasak mie Aceh. Dan tentu saja saya langsung mafhum bahwa yang menguatkan ikatan pernikahan mereka adalah tepung giling yang dibentuk  menjadi seperti tali: mie.

Saya terkagum bagaimana makanan yang terkadang dibuat sambil lalu itu mampu menyatukan sekaligus mengeratkan cinta dari dua ranah berbeda. Bahasa dan istiadat tak jadi soal. Karena semuanya luluh dalam seporsi makanan bernama mie. Terlebih membanggakan karena mie itu adalah mie Aceh.

Cerita beliau meredam pemberontakan lidah saya akan makanan dan gelak tawa Pak Abu melengkapi hubungan kami yang baru saja tercipta. Penutup malam yang sempurna!

mieaceh.jpg

Batam City – Kabil, 7 July 2012 [08:02pm]

Pada malam terakhir Perkemahan Pramuka Santri Nusantara, panitia menjadwalkan acara yang paling dinanti oleh peserta. Sebuah acara yang luar biasa. Acara ini merefleksikan kekuatan budaya Indonesia sebagai hal yang paling dibanggakan dan paling menggetarkan. Semuanya tergambar dari sebaris perkataan yang menjadi slogan republik ini, Bhinneka Tunggal Ika. Acara ini tertulis di buku agenda peserta dengan judul, Pentas Kesenian Nusantara.

Dan tentu saja kami langsung paham bahwa marwah Aceh tertulis di lekuk-lekuk tubuh kami. Bahkan sampai ditempelkan di lengan baju kami. Sebuah gambar daun sirih dan sepasang rencong, lambang Gerakan Pramuka Aceh. Maka kami tidak boleh menjatuhkan martabatnya. Namun janganlah risau karena sebenarnya sejak awal langkah kami telah menyiapkan salah satu kesenian yang paling dibanggakan penduduk Aceh. Mulai dari para seniman, mereka yang mengaku-aku sebagai penikmat seni sampai sopir labi-labi dan para pejabat yang budiman, pasti menyukai penampilan kami ini: Tari Rapai!

Tidak main-main. Kami menyiapkan sekitar 10 buah rapai lengkap dengan seragam dan ikat kepala yang kerap membuat saya pusing. Setiap hari, setelah semua acara harian selesai, sejak hari pertama di bumi perkemahan kami rajin latihan. Tak jarang kami menari kesetanan. Sampai menarik perhatian kontingen lain. Hingga akhirnya tiba pada malam penampilan. Nomor undian menakdirkan kami untuk menabuh rapai setelah tari bertopeng asal daerah Bali. Ini berarti kami akan tampil pada urutan kedua terakhir. Giliran tampil yang masih lama ini kami gunakan untuk menonton semua penampilan daerah lain.

Kami berbaur dengan peserta lain. Saya sedang berebut mengambil posisi dengan seseorang tidak jauh dari panggung saat seorang lelaki dengan cat hitam menutupi seluruh wajah dan badannya menghampiri saya. Mengingatkan saya akan refleksi karakter hantu geunteut yang sering digembar-gemborkan orang tua agar kami, para anak kecil, pulang ke rumah saat maghrib tiba.

“Joko asli Suroboyo…” ujarnya memperkenalkan diri sambil tangannya membentuk sikap akan menjabat. Saya menyambutnya, “Ya, saya Amir..”

“Dari Aceh ya?” Saya mengangguk. Matanya melirik-lirik rapai yang sedang saya peluk. “Itu apa?” tanyanya. “Oh, ini rapai. Seperti gendang tapi suaranya lebih keras.” Saya menabuh rapai dengan bangga. Semacam memamerkan. “Khas dari Aceh..” saya menambahkan. Joko mengangguk-angguk kemudian bertanya,

“Kenapa namanya rapai?”

Saya terkejut. Seperti mendengar suara petir yang menyambar-nyambar nun jauh di ujung horizon. Saya gelagapan dan akhirnya menjawab lesu, “Saya tidak tahu ya, Joko…” Memang sepertinya orang Surabaya sopan-sopan dan baik karena demi melihat perubahan air muka saya, dia langsung mengubah arah pembicaraan. Kemudian perbincangan kami berlanjut ke arah-arah yang menarik dan tak terduga. Kami puas tertawa malam itu. Namun pertanyaan Joko terus mengiang-ngiang di kepala saya.

Pertanyaan Joko menyadarkan saya dari euforia kebanggaan. Saya sama sekali tidak tahu asal-usul nama gendang Aceh itu. Saya pun yakin, teman-teman yang lain juga tidak mengetahuinya. Dan seketika saya dirundung malu yang tak terkira. Mungkin memang benar tiap orang punya hak untuk membanggakan budayanya. Namun bukankah itu menjadi sebuah kejanggalan karena di saat yang sama dia sama sekali tidak tahu menahu soal asal-usul budayanya itu?

rapai.jpg

Gorontalo City – The Downtown Stadium, 27 June 2013 [04:22pm]

Kali ini takdir menggiring saya ke Gorontalo dalam kerangka perlombaan olahraga dan seni antar pesantren Indonesia. Perlombaan ini sebenarnya biasa saja. Tak ada kata meriah di sana. Jika pun ada banyak orang berteriak semarak tak karuan seperti orang kesurupan menyemangati temannya yang sedang berlomba, maka hampir bisa dipastikan bahwa pertandingan yang sedang berlangsung adalah lomba lari.

Lomba lari diadakan di sebuah stadion pusat kota yang dikelilingi oleh realita-realita miris kehidupan. Pengemis, orang mengumpat-umpat di sebuah emperan toko, dan tukang bentor [kendaraan penumpang khas] yang saling berebut langganan. Namun semua drama satir tadi dibungkus dengan pemandangan alamnya yang indah. Bentangan gunung berkabut sambung-menyambung berpadu dengan persawahan hijau bak permadani. Sampai-sampai saya berpikir, terkadang Tuhan begitu nakal karena menyandingkan keindahan dengan kebobrokan.

Saat itu pelari asal Jawa Timur sedang bersaing ketat dengan pelari asal Sumatera Utara. Seorang pria yang memakai topi rajutan menghampiri saya. Saya pun kemudian mengamati topi rajutan yang melekat di kepalanya. Rajutannya bukan terbuat dari kain melainkan dari kulit kayu kecil-kecil. Warnanya coklat, seperti rotan yang sering dilibas oleh Teungku Tie ke betis jika saya terlambat pergi mengaji ke meunasah.

“Peci Gorontalo nya Mas.. Tiga puluh ribuan saja” tawarnya dengan jejak aksen bernada tinggi di tiap akhir kata. Khas dialek orang timur Indonesia. Saya senang mendengarnya, sangat nasionalis. Ternyata topi rajutan itu tak lain adalah pecinya orang Gorontalo dan pria ini adalah penjualnya. Saya teringat ayah dan paknek di rumah. Sebuah oleh-oleh yang menarik. “Bungkus dua ya, Mas..” Saya membelinya. Dia tersenyum dan dengan cekatan mengemasnya dalam lembaran koran lalu menyerahkannya kepada saya. Uang saya berikan dan dia berujar terima kasih.

Kubu pendukung Jawa Timur bersorak girang gegap gempita karena pelarinya menang, sedang kubu Sumatera Utara terlihat mendengus-dengus kesal karena pelarinya tertinggal di belakang. 

Kemudian penjual itu duduk di samping saya. Mengkipas-kipasi tubuhnya yang berkeringat dengan semacam kain lap. “Aslinya mana, Mas?” Dia bertanya kepada saya. Kali ini jejak aksen bernada tingginya berbunyi di bagian tengah kalimat. “Dari Aceh…” Saya mencoba menjawab seramah mungkin dan tersenyum. Mencoba bersikap bersahabat. Bukan apa, Dia seorang pribumi, saya harus menjaga sikap. “Wah, dari Aceh rupanya!” dia sumringah. Kali ini aksen berbunyi kembali di bagian akhir. “Saya dengar disana punya pantai indah-indah…” Saya mengangguk mengiyakan seperti ayam mematuk batu. Hati saya girang bukan kepalang karena Aceh saya disebut, indah.

“Hm..tapi saya sering pikir punya pertanyaan.” katanya dengan raut serius.

Pertanyaan? Pertanyaan apa?

“Mana indah saya punya daerah atau punya Mas?”

Saya terdiam. Tak menduga akan ditabrak pertanyaan seperti itu di tanah asing. Oleh orang asing pula. Lalu saya mengedarkan pandangan pada siluet gunung-gunung tertutup kabut nun di pinggir kota. Saya teringat persawahan hijau yang membentang bak permadani ketika melewati jalan protokolnya. Hal yang sama seperti itu terakhir saya lihat ketika pulang kampung ke Lhokseumawe melalui jalan antar provinsi Banda Aceh-Medan. Saya coba membandingkan. Ah, sulit. Terlalu sulit. Dan untuk pertama kalinya saya menyadari keindahan Aceh dalam sudut pandang yang sulit dilukiskan.

“Tidak tahu saya, Mas.” Saya mengambil dua tarikan nafas, “Alam aceh sudah tergambar di bawah alam sadar saya sejak lahir dan saat ini untuk menafikan keindahannya tidaklah mungkin karena saya sangat mencintai tanah lahir saya itu. Namun mengingkari keindahan kota ini juga tidak bisa. Gorontalo ini indah sekali.”

Dia tersenyum senang dan berdecak-decak sendiri. “Gimana kalau sama-sama indah?” tawarnya tiba-tiba. Saya membalas,”Jadi seri ini ceritanya ni, Mas?” Dia tertawa. Saya tergelak. Dan sepertinya kami telah menemukan kesimpulan yang memuaskan!

gorontalo

Andai Andrea Hirata benar, maka di sana, di tiga kota itu saya menemukan kepingan hidup. Kepingan yang tidak biasa karena dia melengkapi penglihatan saya akan Aceh, tanah kerinduan saya, tanah kelahiran saya. Tiga kepingan itu mengejewantah dalam tiga sosok asing yang sama sekali tidak pernah saya temui. Namun mereka seperti angin bagi para pelaut, yang menunjukkan bagaimana caranya berlayar. Menyinggung titik buta, mengubah haluan kehidupan.

Dibuatnya saya paham tentang fungsi lain dari seporsi mie Aceh. Dibuatnya muka saya merah padam menanggung malu karena tidak tahu sejarah budaya sendiri. Dibuatnya saya merasakan kebanggaan akan alam Aceh dalam cermin yang berbeda. Mereka adalah simpang perberhentian saya. Menunjuki ulang cara saya menjiwai daerah sendiri. Mereka menghiasi perjalanan saya, dan melengkapinya.

Untuk itu saya mengucapkan terima kasih yang tak terkira pada mereka…

…..

Mungkin memang benar kata para pejalan. Terlebih bagi mereka yang menunjuki jalan pulang, saat lintasan perjalanan dilewati dengan orang yang tepat, maka percayalah tak ada masa yang tak indah!

Salam!

*all photo belongs and taken by me, except gorontalo view. It taken by Ustad Alfirdaus

Advertisements

5 thoughts on “Half Page of The Strangers

  1. Ini diikutkan lomba di grup sebelah kan Mir? Yakin menang dehhhh..

    Dan aku paling suka sama quote ini..
    “Sampai-sampai saya berpikir, terkadang Tuhan begitu nakal karena menyandingkan keindahan dengan kebobrokan.”

    Ironis…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s