Kopi, Bukan Sekadar Air Berwarna Hitam

Saya selalu menyukai semua hal yang berhubungan dengan kakek saya. Dia adalah orang tua yang masih menyisakan sisa-sisa aroma masa muda. Beliau merupakan tipikal orang kelahiran pertengahan abad 20 yang semangatnya meledak-ledak namun antisipatif, penuh loyalitas, dan pandai memanfaatkan semua momentum yang ada. Semua terlihat dari caranya mengeber sepeda motor dengan kencang namun cepat menelisik rasio terjadinya kecelakaan—semangat meledak-ledak namun antisipatif, sikapnya mengasihi keluarga—penuh loyalitas, dan pintar mendaur ulang kayu-kayu bekas pembangunan rumah menjadi semacam kursi furnitur yang cantik—pandai memanfaatkan semua momentum yang ada. Unik bukan?

Masa mudanya dipenuhi dengan kerja keras dan perjuangan. Semua itu berakibat pada meningkatnya wibawa kakek di mata orang-orang yang menghormatinya. Suatu ketika ibu saya pernah bercerita bagaimana dia dan kakak adiknya, yang masih kecil-kecil, diizinkan masuk ke dalam bioskop Langsa hanya karena sang pemilik bioskop sangat menghormati kakek. Katanya, beliau sangat disegani mengingat kakek saya itu merupakan penyuluh pertanian yang hebat. Demi mendengar cerita itu kakek saya tertawa terbahak-bahak, sampai bahunya berguncang-guncang. Tertawa, salah satu kebiasaan masa muda yang masih dipeliharanya hingga kini.

Di lain waktu ibu pernah berkisah tentang pekerjaan sopir yang dilakoni kakek. Dia mengendarai truk 12 ban, membawa ratusan sak semen dari Banda Aceh ke Magelang hanya karena ekonomi keluarga sedang morat-marit sedangkan ibu saya memerlukan biaya untuk penelitian skripsinya. Saya mencari pembenaran atas kisah itu padanya. Dengan enteng dia menjawab, “Rul, tau kue waktu itu dua ban truknya bocor di Pekanbaru..” Lalu beliau tertawa, terbahak-bahak.

Saya dan kakek terlibat dalam sebuah hubungan kakek bercucu yang berbeda dari orang lain. Pengerat ikatan kami bukanlah permainan gendong-menggendong atau uang lebaran seperti kakek-kakek yang lain. Pelengket hubungan kami sangat tidak biasa karena tidak cocok untuk anak-anak. Pentaut hubungan kami adalah dua cangkir kopi Aceh. Kopi Aceh hitam yang pahit.

Langsa City – Paya Bujok Tunong, One Day in June 2003 [06:58am]

Saban pagi minggu jika cuaca teduh, ketika saya masih bocah sekitar kelas 1 MIN, kakek menghidupkan kereta Yamaha hitamnya. Suara kereta itu seperti kambing tersedak. Tapi, kakek sangat bangga pada Yamaha tuanya itu. Sepeda motor itu melambangkan masa-masa mudanya, sebuah supremasi atas kejantanannya.

“Yok Rul, ke keude kupie kita…” teriaknya dari luar pagar. Keude kupie itu tak lain adalah pengucapan orang Aceh atas kedai kopi.

Saya menyambut ajakannya dengan berlari-lari dari dalam rumah. Bagi saya mengopi bersamanya di keude kupie lebih menarik dari deretan film kartun Indosiar saban minggu. Beliau tertawa, terbahak-bahak. Sesampainya disana kakek langsung memesan pesanan yang telah menjadi adat jika kami berdua  pergi ke keude kupie, yaitu dua cangkir kopi Aceh pahit dan sebungkus Dji Sam Soe.

Keude kupi ini sederhana saja. Dindingnya hanya ditopang dengan kayu dan atapnya dibubungi dengan daun rumbia. Sangat tradisional, kata guru mata pelajaran ekonomi. Melihat kami berdua tiba, sang pemilik keude kupie, yang merupakan rekan kakek sesama mantan penyuluh pertanian datang menyambut. Kemudian mereka terlibat dalam sebuah percakapan serius, namun tak jarang ditengahi suara ledak tawa panjang jika yang sedang diperbincangkan itu adalah cerita-cerita masa muda yang penuh kenangan.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan kakek, saya senang mengamati perilaku, adat istiadat dan tata tertib tak tertulis orang-orang yang menghabiskan sebagian harinya di keude kupie ini. Semacam mempelajari budaya sendiri. Maka bolehlah saya disebut sebagai sosiolog termuda Aceh dalam khazanah perkopian.

Saya tergelak. Hari masih pagi perawan tapi seperti pasar ikan, keude kupie ini ribut bukan main…

Orang-orang tua berpeci haji putih duduk bergerombolan di bagian dalam, membincangkan banyak hal. Mulai dari gotong-royong mingguan, memperbaiki talang air meunasah, sampai tentang perkawinan anak orang. Namun yang lebih sering adalah mengejek-ejek pejabat. Maka bagi orang-orang seperti ini, keudeu kupi tak ubahnya ruang rapat berpendingin ruangan. Bedanya hanya terletak pada kaki yang sah-sah saja terangkat ke atas kursi saat mereka mengeluarkan pendapat. Sama sekali tidak dianggap tak sopan. Guru saya pernah menegur salah seorang teman karena mengangkat kaki ke kursi ketika duduk. Beliau membentaknya, “Kamu kira ini warung kopi?!” Nah, apa saya bilang? Dianggap sopannya mengangkat kaki ke atas kursi hanya bisa terjadi di keudeu kupi. Tidak akan terjadi di tempat lain.

Sementara di bagian luar keude, catur menjadi rebutan. Mereka yang bermain catur sama sekali tidak mengenal kata senyap. Mereka merecoki setiap langkah pion yang digerakkan oleh dua temannya yang sedang bertanding. Bersorak-sorak saat para perwira utama terkena tebasan pedang menteri lawan. Lalu tertawa-tawa ketika pion raja kehabisan nafas ditimpa pion kuda. Tapi, ajaibnya, setelah permainan berakhir, mereka menyemangati dan menepuk-nepuk bahu temannya yang kalah lalu memuji-muji rekannya yang menang. Mungkin ini disebabkan karena samanya problema hidup yang mereka hadapi. Nasib pahit yang menelikung mengubah mereka menjadi semacam kelompok egaliter. Mereka berpadu, seperti ada semangat bahu-membahu dan jiwa menolong yang tertanam dalam diri mereka. Catur adalah pengejewantahan hidup mereka. Mereka bisa mengatur permainan sendiri tanpa ada nasib yang mencekik, bersorak-sorak kegirangan saat hidup ditimpa nestapa, dan saling tolong-menolong ketika menjalaninya. Semua hanya bisa mereka dapatkan di dunia hitam putih kotak-kotak itu.

Adapun di bagian tengah hanya ada satu dua pemuda yang duduk membisu sendirian. Ruang tengah ini dikuasai oleh radio berukuran besar yang sering mendendangkan lagu-lagu cinta tahun 90-an. Saat itu belum banyak keude kupie yang dilengkapi dengan tv tabung, sehingga cukuplah radio sebagai hiburan penyeimbang tawa yang berderai di sana. Muka pria-pria muda itu lesu. Seperti ingin menggantung diri sendiri siang nanti. Saat itu saya belum paham, apa yang mendasari terbentuknya wajah-wajah murung seperti itu. Waktu berjalan dan saya tumbuh remaja, akhirnya saya mafhum artinya. Penopang wajah murung itu tak pelak karena masalah asmara. Jika radio mengalunkan lagu-lagu cinta, mereka memejamkan mata, mendengarnya sepenuh jiwa. Tiap lirik diseksamainya. Seakan dia adalah pria paling tidak beruntung di dunia ini. Pria yang dipatahkah harapannya karena dikhianati cinta. Ah, terkadang cinta bisa jadi sangat mengerikan.

Dan jangan pernah mencari anak perempuan yang hilang, istri ataupun nenek-nenek di keude kupie ini. Saya tak pernah melihat mereka menginjakkan kaki di sini. Keude kupie adalah teritorial para lelaki. Kaum hawa tak kan mendapat tempat di sini.

Gelas kopi mulai mendingin karena saya keasyikan mengamati keadaan sosiologis para peminum kopi. Saya mengaduk dasar gelas dengan sebuah sendok kecil. Tujuh adukan. Mengapa tujuh? Karena saya suka angka tujuh. Bagi saya tujuh melambangkan para sahabat Rasul mulia yang paling saya kagumi: Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hasan anak Ali, Abdullah anak Abu Bakar, dan Abdullah anak Umar. Kemudian saya meminumnya seperti orang dewasa, yaitu dengan menyesapnya perlahan. Perlahan saja, menimbulkan suara hirup yang khas. Dan harus terdengar sampai ke seberang jalan. Lalu aroma khas bubuk kopi membumbung tinggi, mengelus-elus bulu hidung. Pahitnya menyentak kerongkongan. Saya sangat menikmatinya. Saya tambahkan tiga sendok teh gula. Nikmatnya makin tak terkatakan. Ah, tiba-tiba saya merasa sangat dewasa.

Kakek saya masih tertawa, terbahak-bahak, dengan rekannya. Kopi miliknya sudah mulai mendingin dan saya memperingatkannya akan hal itu. “Paknek, minum dulu kopinya. Nanti dingin,” Kakek lalu melihat saya sambil menepuk-nepuk pundak dan tentu saja, tertawa.

“Oh, iya iya..” bahunya masih berguncang saat menyeruput air hitam pahit itu. Lalu tertawa kembali selepas pinggiran gelas berpisah dari bibirnya. Kumis putihnya berubah warna menjadi kehitaman terkena air kopi. Pemilik kopi menatap saya lalu bertanya kepada kakek. “Soe aneuk nyoe, Bang Ma’e?” Ismail adalah nama kakek saya. Panggilan akrabnya Bang Ma’e.

“Cuco lon..aneuk si Ita,” jawabnya sembari tertawa. Nah, ‘si Ita’ adalah nama panggilan ibu saya.

“Masya Allah…ka rayeuk lagoe aneuk si Ita nyoe..” godanya seraya mengusap-usap kepala saya. Saya malu tersipu-sipu. Sejak itu saya mafhum bahwa keude kupie juga berfungsi sebagai tempat pamer anak cucu.

Sejak kecil saya sudah diajak kakek berhubungan dan bersentuhan langsung dengan budaya keude kupie. Tempat ini bagi orang-orang semacam mereka, bukanlah sekadar tempat meminum air gula hitam. Di sana merupakan tempat pelarian dari masalah, tempat membahas sebuah mufakat, sampai tempat mengurai benang-benang kenangan tempo dulu. Dan kopi bukan sekadar air pahit berwarna hitam. Air hangatnya mampu meredam emosi yang bergejolak, tiap aroma uapnya menghilangkan setiap kejahatan bagi mereka yang ingin melakukannya, dan dentingan gelasnya semacam simfoni yang memainkan melodi terindah sepanjang masa.

Namun, seperti yang pernah saya katakan, waktu berjalan dan roda kehidupan berputar. Kini jarang saya jumpai keude kupie yang penuh kejadian sosial menarik seperti dahulu. Suara orang duduk bergerombolan yang membincangkan banyak hal dan pantangan mengopi di keudeu kupi bagi perempuan berganti dengan suara muda-mudi bukan mahram yang saling tertawa cekikikan. Teriakan ‘skakmat’ catur berubah irama menjadi teriakan caci maki orang yang sedang menonton bola di TV LCD, bukan sekadar tv tabung ataupun radio butut. Dan romansa putus cinta berubah bentuk menjadi status relationship yang terpampang di akun facebook. Bahkan sekarang bukan hanya kopi hitam pahit yang sediakan, namun sudah bermunculan kopi-kopi lain yang bernama aneh. Cappucino, macchiato, espresso, kopi luwak, mocha dan -yang paling aneh- kopi cantik (?).

Ah, mengingat kopi membuat saya teringat pada kakek. Begitupun sebaliknya, mengingat kakek membuat saya teringat pada kopi hitam pahit yang saban saya pesan jika mengopi bersamanya. Mungkin senarai zaman akan terus berlanjut, namun kenangan akan keude kupie berdindingkan kayu dan kopi Aceh hitam yang disajikan secara tradisional tak akan pernah saya lupakan.

…..

Me: Mungkin memang terlambat, tapi Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6, blogger amatiran yang lagi ke Amerika, jauh dari Aceh…  Yuk menulis tentang Aceh dari tanah asing di sana! | Her in USA: Haha, jahat kali. Tapi emang amatir sih. Iya, Micul… Ntar ana tulis. | Me: Ok! Ngomong-ngomong di sana gak bisa makan mie caluk ya? Her in USAih apa maksudnya ni tanya2 mie caluk -_-

kopi.jpg

Advertisements

4 thoughts on “Kopi, Bukan Sekadar Air Berwarna Hitam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s