A Note of Exam

BeFunky_DSCF8551.jpg

Saat pikiran diperluas gagasan baru , ia takkan pernah kembali pada bentuknya semula ~Oliver Wendell Holmes

Darul Ulum Islamic College, 6 December 2013 [07:04pm]

Bagi mereka yang telah terpilih untuk merasakannya, saat-saat ini merupakan waktu yang paling dirindukan. Hari berulang kali berganti nama dan akhirnya ujian dayah kembali hadir bersambang. Kali ini dengan sentimentil, ujian datang dalam balutan kenangan yang istimewa. Inilah ujian dayah ke sebelas sejak saya pertama kali menyicip potongan-potongan ilmu di sini. Inilah ujian terakhir saya di dayah ini.

Saya senang menganalogikan ujian seperti kembang api. Mulanya ia menderita. Segala bentuk api penyulut yang membakar membuatnya terbang tinggi ke langit disertai teriakan hebat yang memekakkan telinga dan kepulan asap yang menyesakkan rongga dada. Tapi lihat bagaimana akhirnya! Dia menjelma menjadi kilauan bunga-bunga api indah aneka warna dan rupa di atas sana. Dia menerobos gelap malam lalu menggantinya dengan riuh cahaya yang gegap gempita. Saya rasa hanya pemandangan matahari yang kembali ke peraduanlah yang mampu bersanding dengan cantiknya kembang api.

Saya pun demikian.

Jika terizin disebut, ujian kali ini kiranya menjadi salah satu etape terakhir perjalanan dari kembang api dalam diri saya sebelum bermetamorfosis menjadi ledakan sinar yang menyenangkan dan menerangi alam sekitar. Ujian kali ini, jika diperinci, merupakan ujian ke dua puluh tiga dalam senarai hidup saya. Yang berarti kurang lebih: Seberapa banyakkah ilmu saya sekarang?

Tidak tanggung-tanggung ujian ini. Jika tidak kuat, siap-siap terpental. Selama setengah bulan ujian maraton akan menarik-narik diri dalam pusaran yang kuat.

Saat beberapa teman menganggap ujian sebagai sebuah momok, saya cenderung menganggapnya sebagai salah satu puncak selebrasi intelejensia selama 6 bulan ke belakang. Hanya di minggu-minggu ini beberapa kejadian unik akan berlangsung. Tidak akan terjadi di luar ujian.

Saat-saat seperti ini lah buku seakan menjadi baju yang senantiasa melekat di badan. Mengikuti kemana saja saya beranjak. Lalu malamnya tertelungkup menutupi wajah mengiringi  sang empunya melangkah ke taman mimpi. Ada juga yang menjadi makhluk malam dan menekuri buku setelah berdoa panjang dalam tahajud. Kemudian terkikik-kikik mendengar teman yang mengigau tentang pelajaran Nahwu. Juga jembatan-jembatan keledai aneh dan menggelikan yang, entah kenapa, hanya bisa tercipta selama ujian. Menarik sekali. Ujian, sungguh sangat menarik.

Pun, saya merasa hanya di malam-malam ujian mimpi menjadi sangat absurd.

Saya pernah bermimpi menjadi Iron Man menggantikan Tony Stark yang sedang sakit. Dalam mimpi itu saya merupakan salah satu anggota Fantastic Four. Padahal setahu saya, si Iron tak ada sangkut pautnya dengan Fantastic Four. Lebih ganjil lagi saat ternyata saya bisa menembakkan meriam laser dari telapak tangan seperti yang kerap dilakukan Tony Stark. Namun, sebelum menembaknya saya harus melafalkan beberapa kaidah Nahwu yang sedang saya hafal dengan benar. Jika salah, tak akan keluar tembakan itu. Dengan sekuat tenaga saya berusaha membaca dengan benar. Dan, ampun, karena hafalan saya benar luar dalam, maka kekuatannya menjadi tak terkendali dan tangan saya terbang kemana-kemana. Tiba-tiba Ben Grimm yang tak lain adalah si Thing, sang manusia batu, menepuk bahu saya dengan keras. Lalu terdengar teriakan,”Saket, gam!”. Saya terbangun. Teman saya yang berbadan tambun mengelus-elus wajahnya yang memerah terkena pukulan saya.

Lain waktu, malam ujian hadis, saya bermimpi kembali. Dalam mimpi itu secara ajaib saya menjadi komposer selihai Mozart. Saya sinuhun memainkan berbagai alat musik. Yang lebih mendebarkan lagi: saya pandai bermain biola! Bukan main bahagianya hati saya dalam mimpi itu. Padahal di alam nyata gitarpun seperti tidak mau bertunangan dengan saya. Kunci-kuncinya susah sekali terhafal. Dan ketika saya sedang bermain biola itu, dawai-dawai yang sedang tergesek menjelma menjadi lembaran-lembaran kitab hadis yang semestinya saya daras. Saya tak acuh. Toh, ini hanya mimpi. Untuk apa dipusingkan? Kemudian saya pun mendikte hadis-hadis yang terdapat dalam kitab itu. Jika susunan sanad nya benar, maka alunan biola mengkidungkan Symphony No. 4 in D major, K. 19 milik Mozart. Manis nian terdengar! Tapi, sekonyong-konyong nada-nada gemulai tadi berhamburan tak tentu arah seperti ayam dikejar mau dipotong. Nadanya berubah. Lama-kelamaan semakin terdengar seperti suara ketukan pintu. Lalu titik air terasa membasahi wajah. Saya terkejut dan terbangun.”Istaiqidhz, ya akhi! Bangun! Udah mau subuh!” suara salah seorang teman menghancurkan mimpi aneh saya yang indah tadi.

Namun tak ada mimpi yang lebih aneh dari semalam. Dalam mimpi saya, Yingluck Shinawatra, si perdana menteri Thailand yang sedang dituntut mundur itu mengadu kepada saya bahwa ia merasa tertekan dengan kehidupannya saat ini dan dia ingin masuk Islam. Nah?

….

Makin lama saya berkubang dalam ujian, semakin banyak hal unik yang saya temukan. Semua hal tadi, secara halus, membuat saya sadar bahwa tak ada yang salah dengan ujian. Ia bukanlah hal yang menakutkan. Ujian laksana teman yang jarang bersua, hanya 2 kali dalam setahun, mengajak kita menyusuri lembah-lembah ilmu dan mengenang kembali pengetahuan-pengetahuan yang tersebar di tiap sudut pemikiran. Lalu membuka cakrawala gagasan kreatif yang selama ini tertutup kerangkeng tempurung. Ujian juga kerap melentingkan kemampuan fisik sampai pada tingkat tertinggi, membuat kita mengukur sejauh mana alam menguatkan kita.

Saban tahun, tiap selesai mengarungi ujian, saya berpikir untuk apa saya melakoni ini semua. Apakah karena terinjak-injak sebuah sistem pendidikan? Apakah karena harus? Menjadi sebuah bagian dalam hidup untuk kehidupan yang ‘layak’ ketika dewasa kelak? Semua pertanyaan itu semakin menggunung ketika materi semakin banyak dan tentunya semakin pelik. Sampai suatu ketika salah seorang guru menegur saya dengan cara yang paling mengena dalam hati. Dalam hidup.

“Amirul, kalau kamu terus berpikir begitu, saya jamin, di antara semua teman-teman kamu satu tingkatan, hanya kamu yang akan gagal! Hanya kamu sendiri yang akan gagal! Ada suatu hal yang tidak kamu pernah pahami jika pemikiranmu sudah terbentuk seperti itu, yaitu penghargaan akan pengetahuan, memuliakan guru, dan teman yang selalu mendukung…”

Saya tersentak.

Benar-benar tersentak.

Kemudian akhirnya saya tersadar. Ujian tanpa saya sadari sebenarnya mendekatkan diri pada hal-hal baik yang jarang terkerjakan. Pulpen, yang biasanya secara misterius sering hilang tak tahu kemana, akhirnya selalu dalam genggaman saat ujian. Buku yang terus melekat seperti baju dalam tiap anjak. Ilmu yang senantiasa terekam oleh lisan dan pikiran. Tekad baja untuk menuntaskan semua ilmu yang terpatri. Semakin bijaksana dalam mengatur keuangan, karena harus disesuaikan dengan pembelian vitamin. Semakin adiluhung dalam mengelola jadwal keseharian, karena menjaganya agar tak terbentur dengan agenda belajar. Dan yang terpenting, semakin ramai doa yang terekam untuk diberikan sayap, terbang menuju langit, di tiap salat tertunaikan. Semua hal tadi saya singkat dengan; Ujianlah pengait kebaikan sesungguhnya.

Ujian, sungguh sangat mendebarkan!

***

Dan akhirnya jika seseorang bertanya seberapa banyak ilmu saya sekarang, izinkanlah saya menjawab,

“Semoga ada keberkahan di tiap ilmu yang tertenun…”

***

Salam; A

Advertisements

2 thoughts on “A Note of Exam

  1. […] : zamerseven.wordpress.com December 7, 2013 Category : Dayah Modern Darul Ulum Banda Aceh Tweet (function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s