Dodaidi: It’s A Lullaby!

Darul Ulum Islamic College, 23 December 2013 [15:04pm]

Allah sungguh Maha Adil! Setelah berminggu-minggu berpacu mengejar banyak pengetahuan dalam rangkaian estafet yang bernama ujian, diberikanNya saya sedikit waktu untuk berleha-leha dan untuk menikmati kekosongan waktu yang tercipta karena wan agenda. Boleh dibilang waktu-waktu kosong seperti ini, bagi saya, merupakan nama lain bagi hal yang paling terakhir tertinggal di dalam kotak pandora: harapan. Harapan untuk berubah.

Saat-saat seperti ini digunakan Bang Hendri, salah seorang senior saya yang kini telah menjadi pembina, untuk memutar lagu-lagu penyegar pikiran. Bermacam-macam jenisnya. Jika lagu sudah diudarakan melalui pengeras suara, hari-hari panas tak akan terasa. Seakan matahari ikut berdendang, lupa menyinari bumi.

“Bang, neu puta lagu nyang leumik. Ngat maat ta eh…” saya meminta pada Bang Hendri. Lagu berirama rendah nikmat sekali untuk pengiring tidur di siang yang berbahagia ini.

“Jeut..” dia menyahut, “Dodaidi beuh?”. Tanpa menunggu jawaban saya, perlahan alunan lagu lembut yang dikidungkan oleh Cut Aza Rizka menguasai. Mendayu-dayu di antara tiang-tiang bangunan sekolah dan naik turun dibawa angin sepoi lalu menyelinap ke tiap hati santri yang rindu akan ayah, ibu dan kampung halaman mereka.

Allah hai do dodaidi, boeh gadong bi boeh kayee uteun,
rayeuk sinyak hana peue mak bri, ayeb ngoen keji ureung donya kheun.
Wahe aneuk bek taduk le, beudoeh saree tabila bangsa,
bek tatakot keu darah ile, adak pih mate poma karela.

Saya tercenung, menyeksamainya separuh jiwa dan mendengarnya seakan-akan untuk kali yang pertama. Perlahan seluruh beban ujian luruh bergemuruh siang itu..

Selain alunan nadanya yang selalu mendekap jiwa, ada hal lain yang membuatnya begitu dikenang…

Dodaidi adalah senandung pengiring tidur yang dinyanyikan oleh kaum ibu kepada bayi mereka. Masih terekam jelas dalam ingatan, saat kaum ibu di kampung saya mengayun-ayunkan ija sawak (kain selendang) yang digantung dengan tali ke kayu-kayu atap rumah, sedang di dalamnya sang anak pelan tertidur dalam damai sembari mendengar lantunan lagu pengiring tidur dari bibir ibu mereka.

Saat ahli-ahli kejiwaan anak masa kini merekomendasikan pengaruh baik ditanamkan dalam diri anak sejak masih dini, kaum ibu Aceh telah memulainya lebih dulu, bahan sejak si anak masih berkawan dengan ayunan. Bentuk pengaruh kebaikan ini mereka ubah wujudnya dalam bentuk syair penggugah jiwa dan cita-cita. Ruh keyakinan dan ketauhidan mereka tiupkan ke dalam larik sehingga mendapat tempat di bawah alam sadar si anak bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Waktu kosong setelah ujian pun memberi kesempatan bagi saya untuk pergi ke perpustakaan, mencari-cari pilinan sejarah tentang syair pengiring tidur ini. Dalam catatan beberapa buku, seperti kebanyakan syair dan hadi maja Aceh lainnya, tidak diketahui siapa yang pertama kali mengkidungkan dodaidi. Kebanyakan literatur tertulis mengarah kepada ibu susu Iskandar Muda. Setelah itu, nyanyian ini bertahan melewati bentangan zaman melalui lidah para ibu antar generasi dan menjadi salah satu lagu yang paling disukai oleh orang Aceh.

Ada nasihat indah yang terselip di balik syair dodaidi ini. Ada rahasia dan alasan tersendiri mengapa lirik itu terucap…

Saat Aceh dilanda peperangan melawan Belanda, kaum ibu menidurkan anaknya di bawah lantunan syair-syair yang mengarah kepada harapan agar sang anak menjadi pejuang yang tangguh melawan kaum kafir Belanda. Dalam sebuah buku tak bersampul yang saya temukan di perpustakaan, tertulis sebuah syair yang dilontarkan oleh Cut Meutia sebagai teman menuju alam mimpi untuk anak semata wayangnya Teuku Raja Sabi di rimba Aceh bagian utara. Untaian tembang pengiring tidur ini jelas memperlihatkan cita-cita Cut Meutia agar sang anak lekas tumbuh menjadi orang yang tangguh dan melanjutkan perjuangan ibu dan ayahnya,

Jak kutimang prak
boh ate nyak beurijang raya,
Bek tasurot meusitapak,
oh meurumpok ngon Beulanda.
Jak lon timang preuen,
ureung jameuen beuhe lagoina,
Bek hai aneuk tagidong reunyeuen,
bila jameuen tuntut le gata..

Ada pula yang jika kita seksamai liriknya, tampak jelas pesan agar anak selalu mengingat tanah lahirnya di manapun dia berpijak,

Jak lon tateh, meujak lon tateh
Beudeh hai aneuk ta jak u Aceh
Meube bak o’n ka meube timphan
 Meubee badan bak sinyak Aceh
Allah hai Po illa hon hak
Gampong jarak han troh lon woe
 Adak na bulee ulon teureubang
 Mangat rijang troh u nanggroe

Namun yang jelas apapun syair yang disenandungkan, selalu ada nasihat agar sang anak tumbuh menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia. Agar kelahirannya tak hanya mengundang tawa gembira di awal, namun juga di pertengahan dan di akhir kehidupan.

….

Saya tercenung memikirkan bagaimana sebuah kasih sayang seorang ibu jika disatukan dengan cita-cita syahdu yang kuat mampu menghujamkan pengaruh yang dalam bagi buah hati mereka. Pepatah Arab yang menyuruh manusia untuk menuntut ilmu sejak ayunan hingga liang lahat menemukan tempatnya di antara nyanyian para ibu ini. Sebelum tiang-tiang dan bangunan bisu sekolah mengajari generasi baru tentang berbagai hal, kaum ibu telah jauh lebih dahulu mendidik mereka dengan kasih sayang dan sebuah ikatan emosional yang kuat tentang hidup ini. Menarik sekali untuk dipikirkan tentang bagaimana akhir jalan sebuah kehidupan telah lebih dulu ditunjukkan pada anak ketika mereka baru saja memulainya. Bahkan sejak mereka belum mampu merangkak!

Lagu pengiring tidur kaum Aceh bukan hanya sebuah larik kata-kata yang dipersatukan oleh alunan nada. Lebih dari itu, syair dodaidi adalah madrasah pertama milik generasi Aceh. Ajaran agama pertama yang berkata bahwa Tuhan mereka adalah Allah dan terus bersemayam di benak mereka selama kaki masih berjalan. Bahwa akhlak mulia dan budi pekerti yang baik harus dijunjung tinggi di tiap hembusan nafas.

Menyadari semua itu semakin membuat saya menakjubi tanah kelahiran ini…

Saya pernah berkelakar kepada adik perempuan saya, bahwa salah satu kenangan terindah yang pernah ibu berikan kepada kita adalah pusar. Dia adalah bukti bahwa pernah ada suatu masa ketika diri kita dan ibu adalah satu jiwa. Tidak ada batas sama sekali. Dan tali pusarlah yang menjadi saksi hubungan itu. Kini setelah masa berjalan maju sejengkal, ingin saya tambahkan satu lagi kenangan terindah itu: senandung pengiring tidur dari bibir ibu.

Dan tiba-tiba saya teringat kepada ibu saya..

Selamat hari ibu, Ummi!

***

[Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6! Yuk menulis tentang Aceh!]

Advertisements

7 thoughts on “Dodaidi: It’s A Lullaby!

  1. Percaya atau tidak.. Lagu ini seharian terngiang di kepalaku. Seharian ini pas naik motor mulutku berdendang lagu ini Mir. Besok anakku aku nyanyiin lullaby lagu ini ah.. Biar dia juga tahu tentang Aceh, sebuah tempat yang sangat berarti bagi ayahnya. Nice post :D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s