The Old Friend

baiturahman.jpg

Jika Banda Aceh menjelma menjadi sebuah sistem konstelasi, maka saya tak kan ragu untuk menyebut Masjid Baiturrahman sebagai pusatnya. Sedangkan gedung pemerintahan, bangunan-bangunan, dan orang-orang yang bermukim di kota Banda tak lebih dari asteroid-asteroid dan kepulan kabut penganggu yang mengitarinya. Tak penting. Karena di sanalah, di tengah himpitan gegap gempita kehidupan ibukota, beragam wajah mewarnai semburat kemegahan Baiturrahman dan ribuan kaki menjejaki tiap jengkal tempatnya berdiri…

Baiturrahman Grand Mosque — Banda Aceh, 1 December 2013 [06:09pm]

Ahh, perasaan seperti ini selalu saja memeluk saya di detik-detik terakhir malam minggu pertama tiap bulan. Minggu awal tiap bulan merupakan hari libur yang mengizinkan kami untuk beranjak keluar dari dayah sebentar. Untuk sekedar melepas penat dan mengisi kembali semangat yang hampir berantakan. Malam rasanya terlalu lama menjauh untuk hari yang ‘suci’ itu.

Tetesan air wudu belum juga mengering selepas salat subuh. Venus masih berkerling di ujung langit dan cicitan burung belum terdengar dari puncak-puncak kasia yang memagari pekarangan dayah. Tapi adrenalin saya sudah mulai berpacu melawan dingin yang menghentak. Pagi ini saya mengajak diri saya sendiri untuk mengisi hari yang berbahagia ini dengan mengunjungi salah satu landmark kota. Masjid Baiturrahman.

Sebelum matahari meninggi, saya langsung mengambil backpack dan bergegas menyetop sebuah labi-labi. Dengan lekas saya turut berjejalan dengan para penduduk kota di dalam angkutan umum khas Aceh yang menyusuri tiap lekuk kota. Membiarkan diri saya larut dalam perbincangan kaum ibu penjual sirih, tangisan balita, aroma asap rokok, angin sepoi yang berhembus dari jendela.

Labi-labi menurunkan saya di gerbang utara dan sekejap hiruk pikuk kota menyambut saya dalam pilu. Para pengemis wanita menatap saya dengan pandangan memohon. Segera saya alihkan tatapan, berharap seandainya ada sedikit uang kecil di saku tentunya wanita tadi akan lebih beruntung.

Terngiang perkataan salah seorang teman,”Baiturrahman dan Pasar Aceh itu seperti buku dan sampulnya..”. Dan benar saja, derap kaki berirama linear dengan kesibukan para penjaja berkerumun di sisi utara-barat kompleks masjid. Saya dapat merasakan aroma kepekatan dari toko-toko kecil yang saling berhimpitan, kios yang mengambil lapak di bahu jalan, warna-warni dagangan, dan seseorang yang berbicara dengan mikrofon mengambil peruntungan dari mereka yang masih percaya pengobatan tradisional. Sementara di belakangnya, berdiri bangunan pasar modern yang giat dibangun oleh pemerintah untuk menampilkan wajah ekonomi yang lebih baik.

Di balik sisinya, berdirilah Masjid Baiturrahman, bangunan gagah yang mengintai para pelakon di pasar ini.

Seperti bentangan awan kumolunimbus yang panjang tak terkira, sejarah menuliskan kisah panjang masjid ini dengan pena kemuliaan dan tinta darah di atas bentang lembaran pengorbanan. Dibangun pertama kali di masa pemerintahan Iskandar Muda dan terus menemani perjalanan sejarah  kota tua ini. Menaunginya hingga ke pucuk-pucuk bangunan tua yang mengambil tempat di sekelilingnya. Kubah-kubah besar khas India dan menara-menara masjid yang menggetarkan dada. Aroma matahari hangat menyergap paru-paru saya bersamaan dengan deru kucuran air dari kolam ikan yang tidur di halaman depan kompleks. Sebuah menara utama berdiri di sisi timur, pepohonan kurma yang melambai di tiup-tiup angin, jam bertulis angka arab di bangunan sisi timur serta para fotografer yang berkeliaran di sekitar bangunan mencari nafkah dari para pengunjung.

Beberapa depa kemudian, gerbang berukiran khas india menyambut di antara undakan tangga. Lampu-lampu kristal, marmer pualam sejuk, kaligrafi-kaligrafi Arab yang indah, mimbarnya yang tinggi dan tiang-tiang yang menyokong erat langit-langit elok. Dalam bisu bangunan tua ini menghamparkan kisah-kisah tentang jihad melawan Belanda, konflik Aceh yang menggoreskan hati, dan terjangan tsunami.

Saya menyenangi suara imam yang memimpin salat. Seperti saya menyenangi sebagian kecil remah roti yang saya bagikan untuk merpati-merpati di sini. Saya merindukan masjid ini seperti saya merindukan teman yang lama yang lama tak bersua. Saya mengenang masjid ini seperti saya mengenang ayah yang menghabiskan sebagian masa lalu bersama temannya di sini untuk mencari sedikit rizki, agar tetap bisa kuliah.

Melintasi kembali keanggunan dan gegap gempita tempat ini, mengenang sedikit percikan masa kecil di sini, dan larut dalam derap langkah urat nadi kehidupan orang yang mengerumuninya. Kini saya punya banyak waktu untuk kembali memandangnya, bukan sekedar sebagai landmark kota atau rumah bagi ratusan orang yang hilir mudik di sekitarnya. Lebih dari itu; memandangnya sebagai karib dekat.

Kini, saya pulang, dengan sejuta semangat untuk kembali menapaki jalan pemilin ilmu pengetahuan. Berharap ada sedikit titik temu antara saya dan tempat ini untuk kembali bersua suatu saat nanti. Liburan berikutnya mungkin…

Advertisements

12 thoughts on “The Old Friend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s