Blessing is [Means] Rahmat

hisnameisrahmat.jpg

Banyak hal yang saya senangi dari bocah ini. Namun dua di antara banyak hal itu yang paling saya senangi adalah salam yang senantiasa ia ucapkan dan kepolosan kata-kata yang melewati celah antara dua bibirnya…

Namanya Rahmat. Rahmat Nazil. Salah seorang penghuni kamar Teuku Umar 2 yang memiliki nada suara khas dan postur tubuh kecil. Saya pertama kali bertemu dengannya hanya selang beberapa hari setelah minggu pertama masuk para santri baru.

Saya yang saat itu masih menjabat sebagai salah seorang punggawa penjaga peraturan dayah mendapatinya terlambat tiba ke masjid, padahal langit telah berubah warna menjadi mega merah pekat dan lantunan ayat-ayat langit yang sejak beberapa puluh menit lalu bergema kini telah mencapai batasnya. Magrib telah tiba.

Dia berlari, diiringi kepakan sarung yang belum terkenakan dengan sempurna dan peci yang masih tersampir miring di atas kepala kecilnya. Seharusnya saya marah dan menegurnya tapi ketika melihat pemandangan menggelikan seperti itu rasa marah sungguh musykil untuk dipertahankan.

Saya hanya menepuk punggungnya pelan menggunakan sajadah lalu menyuruhnya masuk ke dalam masjid saat tiba-tiba dia menggumamkan dua patah kata yang baru pertama kali saya dengar dari seorang santri baru seperti dia.

“Maaf akhi, saya enggak akan telat lagi…”

Dan dia memegang perkataannya sampai sekarang.

***

Rahmat lahir di tengah keluarga yang sederhana. Ayahnya membangun rumah kecil di daerah pinggiran Kota Banda Aceh bersama ibu dan abang. Rahmat datang mendaftar untuk bersekolah di dayah ini dengan genggaman erat sang ayah yang bergetar saat menyadari bahwa salah satu tulang rusuknya akan disimpan di sini untuk sementara waktu.

Bukan hal yang mudah tentu saja meninggalkan seorang anak di daerah yang asing. Sedikit banyak saya paham rasa para orang tua meninggalkan seseorang yang mereka cintai di sini. Terkadang hal-hal tak terduga sering terjadi. Sakit mendadak, kebiasaan-kebiasaan baru yang harus dibiasakan, antrian panjang, barang yang hilang karena kealpaan menjadi beberapa hal dari sebuah daftar panjang kekhawatiran para orang tua.

Lumrah? Tentu saja. Namun untuk sebuah harapan di masa depan, dengan hati yang dikuat-kuatkan para orang tua harus merelakan anak-anak mereka.

Layaknya bilangan pecahan dengan bilangan real yang berkebalikan, Rahmat sumringah melihat kerumunan manusia yang berjalan berjejalan menuju masjid, santri yang menjinjing lembaran buku di tangan mereka. Dan sesaat Rahmat merasa hal-hal baru tadi membuatnya terkesan.

Suatu malam saat mahkamah kedisiplinan tengah berlangsung, Rahmat duduk di samping saya sembari mengamati jalannya hukuman yang diberikan para munadhamah di lapangan.

“Akhi, orang itu kenapa dihukum akhi?” tanyanya kepada saya. Saya melihat  ke arah lapangan. Beberapa santri kelas atas tengah berdiri sambil menggumamkan hafalan  yang kemudian saya kenali sebagai mufaradat-mufradat baru. Salah seorang teman saya dari bagian bahasa, Ichsan, berdiri di sana menanyakan kosakata-kosakata kepada mereka.

“Oh.. Orang itu gak bicara bahasa Arab sama bahasa Inggris.” saya menjawab.

“Kami kenapa enggak masuk mahkamah, akhi? Kami kan juga enggak bicara bahasa Arab sama bahasa Inggris?” dia menimpali. Dan saya terhenyak.

Peraturan bagian bahasa memang memberi kelonggaran batasan waktu bagi santri baru untuk mempelajari bagaimana bercakap menggunakan bahasa Inggris dan Arab dengan baik. Kurang lebih tiga bulan. Bentangan masa yang saya rasa cukup untuk menguasai dasar keduanya.

“Kalian masih kelas satu. Nanti kalau udah waktunya kalian juga wajib berbahasa ya!” saya menjawab.

“Tapi kan akhi, orang itu kasihan dihukum…” dia berkata. Sangat polos. Untuk yang satu ini saya tidak mampu menahan gelak tawa.

Untuk sesaat saya terpikir. Usia seringkali menjadi pembeda level sebuah pemikiran. Saat usia masih berupa satuan angka, hal-hal yang kecil sangat mungkin menjadi menarik untuk diperhatikan.  Di usia ini sesuatu yang sederhana selalu saja menjadi menyenangkan adanya.

Sesederhana pemberiannya untuk saya sore tadi…

Ayah Rahmat tiba untuk menjenguk dengan dua ikat plastik hitam di kedua belah tangannya. Rahmat berlari menghampiri dan larut dalam dekapan hangat seorang ayah. Bukan hal yang mengejutkan, namun sesaat kemudian sang ayah melepaskan bawaan yang ada di tangannya lalu mencium kedua pipi rahmat. Ibu yang berdiri di samping ayah tersenyum.

Dan saat itu pula saya sadar, rindu mereka sungguh tak tertahankan rasanya.

Beberapa jam larut dalam kebahagiaan bersama kedua orang tuanya, Rahmat kembali ke kamar dengan dua ikat plastik hitam di kedua tangannya. Dia membuka plastik pertama dan mengeluarkan sebungkus nasi dengan lauk ayam goreng dan gulai lalu memasukkan plastik kedua ke dalam lemari.

Saya sedang membaca buku persiapan ujian nasional saat Rahmat menyodori saya sepotong daging ayam yang terlihat lezat. Sebelumnya ia sudah membagikan seluruh kue yang dibawa oleh orang tuanya barusan kepada seluruh temannya di kamar. Saya menerimanya dengan perasaan kagum. Dalam kepolosan dan tingkah kanak-kanaknya, Rahmat telah melampaui batas dasar sebuah kedewasaan. Ia tidak ragu memberi meski itu berarti dia hanya bisa menyicipi sedikit saja dari masakan ibunya.

***

Saya menulis memoar ini hanya berselang empat hari sebelum batas terakhir saya bersekolah di sini. Meski pengurus organisasi santri telah berganti, Rahmat tetap menepati janjinya pada saya untuk tidak terlambat ke masjid. Dia masih kerap menanyakan satu dua pertanyaan-pertanyaan unik pada saya dan menyempatkan diri untuk membawakan saya sekerat daging ayam masakan ibunya kala hari berkunjung tiba.

Menyadari beberapa hari lagi saya akan meninggalkannya membuat saya sedih. Tapi meski kamar yang kami tempati tidak lagi sama, guru-guru kami akan berbeda nantinya, pertanyaan-pertanyaannya yang menggelitik tidak lagi terlontar, atau sekerat daging tidak lagi menyambangi, saya selalu berharap semoga Rahmat menyemai keberkahan dari semua kebaikan yang ia taburi. [Senyum saya membusur ketika menyadari bahwa kata ‘Rahmat’ dalam bahasa Arab juga berarti keberkahan dan kebaikan]

Semoga jalan menuju kedewasaan selalu terbuka dan cakrawala pemikiran atau pemikirannya selalu melebihi batas horizon yang mengamati dayah ini sepanjang garis waktu kebersamaan kami.

Semoga saja kebaikan hidupnya tak sesederhana pertanyaan yang sering ia ucapkan…

Darul Ulum Islamic College – Banda Aceh, 9th April 2014 [09:10pm]

Advertisements

One thought on “Blessing is [Means] Rahmat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s