Sepotong Titik yang [Tak Pernah] Berakhir

when sun set at the horizon

Tiap-tiap kita dianugerahi Tuhan dengan garis lengkung sempurna yang menyinggung garis lainnya tanpa pernah bertanya mengapa ataupun bagaimana. Manusia sejatinya mengguratkan tinta dalam lembaran-lembaran kehidupan, menghiasinya dengan torehan kejadian, lalu menutupnya dengan kenangan-kenangan sebagai pelajaran bagi generasi mendatang. Seperti jejak-jejak siluet jingga yang ditinggalkan matahari terbenam pada sore ini.

Barisan batang Keutapang memagari saluran air yang menjadi arena berlari ratusan santri dengan siluet hitam panjang. Lapangan semen berkilat memantulkan sinar angkasa. Matahari beredar dalam orbit langitnya perlahan membiarkan romansa senja menangkapnya dalam satu gambar utuh tentang manusia yang berjuang, bertahan. Pendar langit memeluknya dengan awan-gemawan bertingkat-bertingkat layaknya ombak yang menyapu pesisir pantai. Diiringi tatapan iri dari pelakon semesta lain, mereka semua mengamati hal-hal yang bergerak di bawah sini.

Ratusan santri berlari serentak menuju masjid dengan sarung yang belum terkenakan dengan sempurna, dengan kopiah kecil yang tersampir miring di kepala-kepala kecil mereka, dengan alquran dan sajadah aneka warna rupa. Laju mereka memuncak seiring hitungan mundur para punggawa organisasi santri yang menggawangi jalannya peraturan dayah ini. Dalam tiap satuan angka yang melesat mundur itu saya menghitung berapa banyak hal yang telah terjadi selama saya menyusuri bentangan ilmu di sini.

Apa yang telah saya dapatkan?

Lebih besar lagi, apa yang telah saya lakukan untuk tempat ini?

Tempat ini mengajarkan saya untuk melihat segala sesuatu dalam sudut pandang kedewasaan, dengan menisbikan keegoisan. Mendidik saya untuk menyetarakan setiap hal tanpa pernah meremehkan setiap detil yang akan dan sudah terlewatkan. Dalam rentang waktu selama ini, berbagai cita-cita terpatri karena kebodohan dan kemahatololan diri sendiri telah gagal saya raih. Tapi dibalik itu, kegagalan menyadarkan bahwa saya tidak gagal dalam segala hal, hanya sebagian besar. Dan tidak kalah sendirian. Di antara ratusan kepala di tempat ini saya punya teman untuk berbagi kegagalan bersama, berbagi kebodohan bersama, berbagi sepiring nasi bersama.

Kini saya hanya mampu menyuarakan bersyukur mampu berdiri di tiap-tiap linimasa itu. Menjadi santri baru, memandang tempat ini dalam tempurung kebodohan, untuk selanjutnya merasakan tingkatan-tingkatan berlainan jarak dengan pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda.

Dan tentang apa yang sudah saya berikan untuk tempat ini, biarlah arus lakon kesibukan membawanya hanyut. Karena jauh dalam ceruk terdalam hati ini, saya cukup hanya ingin menjadi koma yang membiarkan jutaan kata-kata lain menyambungkannya, melanjutkan untaian kata yang telah dibangunnya, alih-alih menjadi titik yang tidak menyisakan sepotong tanda baca setelahnya.

Karena dibalik punggung saya, masih ada ratusan santri lain yang memegang kitab, mengaji ketika matahari telah sempurna terlelap di peraduan, mengeja kosakata baru tiap subuhnya. Karena di belakang tapak masih ada penerus impian-impian saya, cita-cita saya, dan hasrat-hasrat saya yang terpendam untuk tempat ini.

Karena saya hanyalah sepotong matahari senja yang memandang lekat ufuk timur, mengingatkan tentang awal eksistensi saya di sini. Menyimak saat-saat terakhir, menikmati guliran waktu yang memudar seiring siluet yang memendek dan intensitas cahaya matahari yang meredup perlahan…

Darul ulum Islamic College — Banda Aceh, 16th Aprul 2014 [06:22pm]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s