The Old Friend

baiturahman.jpg

Jika Banda Aceh menjelma menjadi sebuah sistem konstelasi, maka saya tak kan ragu untuk menyebut Masjid Baiturrahman sebagai pusatnya. Sedangkan gedung pemerintahan, bangunan-bangunan, dan orang-orang yang bermukim di kota Banda tak lebih dari asteroid-asteroid dan kepulan kabut penganggu yang mengitarinya. Tak penting. Karena di sanalah, di tengah himpitan gegap gempita kehidupan ibukota, beragam wajah mewarnai semburat kemegahan Baiturrahman dan ribuan kaki menjejaki tiap jengkal tempatnya berdiri…

Baiturrahman Grand Mosque — Banda Aceh, 1 December 2013 [06:09pm]

Ahh, perasaan seperti ini selalu saja memeluk saya di detik-detik terakhir malam minggu pertama tiap bulan. Minggu awal tiap bulan merupakan hari libur yang mengizinkan kami untuk beranjak keluar dari dayah sebentar. Untuk sekedar melepas penat dan mengisi kembali semangat yang hampir berantakan. Malam rasanya terlalu lama menjauh untuk hari yang ‘suci’ itu.

Tetesan air wudu belum juga mengering selepas salat subuh. Venus masih berkerling di ujung langit dan cicitan burung belum terdengar dari puncak-puncak kasia yang memagari pekarangan dayah. Tapi adrenalin saya sudah mulai berpacu melawan dingin yang menghentak. Pagi ini saya mengajak diri saya sendiri untuk mengisi hari yang berbahagia ini dengan mengunjungi salah satu landmark kota. Masjid Baiturrahman. Continue reading

Geunteut: Senja Tak Selalu Indah

senja.jpg

Darul Ulum Islamic College — Banda Aceh, 28 Desember 2013 [17:58pm]

“Asri’uu ilal masjid! Laa ahad aiyakun muta’akkhiran!”

Suara Chairunnas bertalu-talu bergema melalui pengeras suara yang tersebar di setiap bangunan asrama dan sekolah menyuruh segenap santri untuk pergi ke masjid. Tanggung jawab sebagai ketua bidang ibadah membuatnya harus merelakan sebagian waktu istirahat untuk mengontrol pelaksanaan ibadah di dayah. Jika subuh hampir tiba, teman saya ini bangun dari tidurnya dan membangunkan para santri. Pada waktu zuhur dan asar pun, tanpa banyak berbicara dia meletakkan tas sekolahnya dan mengajak para santri untuk salat berjamaah di masjid. Sungguh, saya sangat kagum pada semangat dakwahnya!

Magrib ini dia kembali menunjukkan semangatnya. Dengan wibawa yang tinggi dia menyuruh para santri untuk bergegas beranjak ke masjid. Jika terlambat sebentar saja, hukuman sudah menunggu mereka. Tak ayal beberapa santri berlarian serabutan melihat Chairunnas sudah sampai di depan masjid. Sebagian kancing baju mereka belum terkancing sepenuhnya, sarung masih berkibar-kibar tak terpasang sempurna dan kopiah tersampir miring. Tangan kiri mereka memegang sajadah aneka warna, sedangkan sebelah kanan memegang Alquran ragam ukuran. Saya tergelak melihatnya. Semburat jingga di ujung barat beradu dengan tubuh mereka yang berlari kencang ke arah masjid. Membuat sebilah siluet yang indah. Bayangan hitam dan panjang.

Tiba-tiba saya terdiam.

Pelan, saya merasa sedang mengalami deja vu. Seperti menyusuri sebuah teka-teki berlabirin saya berusaha menelusuri kemana ingatan ini bermuara. Garis-garis besar berkelabat saling mengejar satu persatu mencoba mengingatkan saya akan suatu hal,

“Anak-anak yang berlarian dengan sarung dan kitab suci. Matahari jingga di horizon barat. Siluet hitam, panjang dan besar…”

Seketika bulu roma saya berdiri. Saya menarik nafas. Udara berubah menjadi tidak nyaman. Satu kata berusaha keluar dari mulut saya. Pelan saya berdesis,“Geunteut..”

***

Saya dan beberapa teman masa kecil selalu bermain bola di sebuah lapangan rumput yang berdekatan dengan kebun seorang warga desa. Kebun itu seperti hutan kecil, dengan rimbunan belukar dan perdu serta pepohonan tinggi. Tiap sehabis bermain, saat  matahari sebelah barat sudah mulai berubah warna menjadi jingga sementara suara alunan ayat-ayat suci sudah mulai bergema dari corong TOA meunasah, saat itulah kami berlari membawa pulang bola tanda permainan selesai. Kami berlari pontang-panting. Bukan karena takut akan dimarahi oleh orang tua. Namun karena teringat teriakan salah seorang sepuh yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju meunasah beberapa hari yang lalu,“Hai gam, bagah kah woe! Ie cok le geunteut en teuk!”. Lain waktu saya mendengar kabar bahwa salah seorang warga telah hilang selama berhari-hari dan akhirnya ditemukan di atas pohon keutapang. Semua orang percaya bahwa ini adalah ulah geunteut. Sungguh mengerikan!

Geunteut bagi masyarakat Aceh merupakan sebuah sebutan untuk jin yang dipercaya sering menganggu para pejalan malam hari. Penduduk kampung selalu menggambarkannya dengan sosok berwarna hitam. Berdasarkan haba orang tua, ciri khas geuntuet adalah jika dilihat ke arah atas maka penampakan jin ini tinggi besar. Namun sebaliknya jika dilihat ke arah bawah akan terlihat pendek dan kecil. Jin ini mencegat di tengah kegelapan lalu membawa korban dan menggantungnya di pohon yang tinggi.

Maka jika petang sudah menguning dengan segera kami, para anak kecil, akan berlari pulang ke rumah, mengambil sarung dan kitab, lalu beranjak menuju meunasah untuk mengaji. Sejak itu dalam bayangan masa kecil saya, senja begitu menakutkan. Mencekam seperti kegelapan yang menyelimuti saat mendung badai datang. Semua perasaan takut itu didukung secara ‘manis’ oleh situasi malam. Dulu masih jarang ada orang yang berjaga hingga larut malam di luar rumah, kecuali bagi mereka yang terkena giliran untuk berjaga malam di pos siskamling. Pulangnya kami bergerombolan seperti sekumpulan orang yang menghangatkan diri sembari memegang kepala karena menurut rumor, geunteut menculik dengan mencengkram rambut.

Perjalanan menuntut ilmu ke Banda Aceh mempertemukan saya dengan beragam orang dari berbagai daerah di Aceh. Hal ini memudahkan saya untuk mengetahui seluk beluk adat budaya Aceh dari beberapa daerah sekaligus. Termasuk soal geunteut ini. Semua teman saya memiliki gambaran dan cerita masing-masing mengenai jin ini. Juga soal kondisi para korban. Razi, salah seorang teman saya yang berasal Bireuen bercerita bahwa geunteut akan membawa korbannya ke ‘peuredeu trieng’ (rimbunan bambu berukuran besar). Sedang Affas yang berasal dari Sigli berkisah bahwa korban yang dibawa geunteut biasanya akan merasa sedang berada di tempat yang penuh dengan kenikmatan dan hanya bisa sadar setelah diperdengarkan suara azan. Layaknya pengalaman masa kecil saya, Rian yang berasal dari kota Banda Aceh pun dulu ketika selesai bermain bola bersama teman-temannya akan pulang dengan langkah seribu sembari berteriak,”Woi pulang, pulang! geunteut…geunteut…”

Di luar persepsi percaya atau tidak, sebenarnya ada sedikit hikmah yang menggelitik di balik geunteut ini. Alasan para orang tua dulu membesar-besarkan kisah tentang jin ini untuk kami, anak kecil, tak lain agar bergegas pulang ke rumah jika magrib hampir tiba. Pesan orang tua untuk tidak berkeliaran di luar rumah saat magrib [agar tidak diculik geunteut] sedikit banyak membuat kami ketakutan. Maka jika magrib datang, tempat kami hanya ada dua: kalau bukan di rumah, berarti di meunasah sedang mengaji. Tak heran kami lekas pintar mengalun-alunkan ayat ilahi. Masa kecil kami dulu, saat dunia belum dicengkeram terlalu erat oleh globalisasi, merupakan salah satu hal yang paling saya syukuri.

Banyak teman di dayah yang sependapat dengan saya bahwa pengaruh zaman turut memudarkan karisma geuntuet ini. Anak-anak berkeliaran di berbagai warung internet saat magrib sudah jamak terlihat. Banyak orang yang terjaga hingga larut malam membuat berbagai kebisingan, menyulitkan para kaum yang ingin menikmati malam sebagai waktu beristirahat ataupun menggelar sajadah. Sungguh sebuah ironi ketika anak-anak Aceh lupa terhadap ‘makna’ legenda jin ini. Tidak ada lagi ketakutan untuk beraktifitas di luar pada malam hari. Silahkan menganggapnya sebagai sebuah kemajuan! Namun, kerap saya berfikir bahwa kemajuan sedikit banyak turut ikut serta dalam membungkam kearifan lokal. Meski kearifan lokal itu bertema makhluk gaib yang bernama geunteut.

Bukan hanya kota, namun juga kawasan pedesaan. Sesekali, jika masa mengizinkan, pergilah ke gampong-gampong dan lihat bagaimana balee-balee beut kayu [yang sudah mulai lapuk] kosong tak terurus. Lihat bagaimana keude kupie yang dilengkapi dengan TV LCD sudah menjamuri kawasan gampong. Mengutip perkataan salah seorang teman ketika membahas tentang perilaku remaja sekarang: “Lagi-lagi globalisasi menjadi batu sandungan terhadap moral dan budaya…”

Memang peristiwa penculikan oleh jin geunteut ini sudah jarang terdengar, namun [layaknya tsunami] perlukah jin ini ‘bangkit’ kembali agar moral manusia sekarang kembali ke titik yang sebenarnya. Dalam arti, kembali menghargai waktu malam dan petang sebagai ‘penutup tubuh’ bagi manusia. Nah, sepertinya kita tidak bisa mengelak pada tugas yang satu ini, mempertahankan kearifan lokal tanpa terhisap jauh ke dalam pusaran globalisasi. Agar generasi setelah kita nantinya tidak hanya memilah dan menyesapi aroma kemajuan zaman yang bersahabat, namun juga tetap bisa ‘menikmati’ makna dari perbuatan geunteut ini seperti yang pernah kita rasakan saat ini.

Dan seperti kata salah seorang guru saya, perkembangan zaman seperti sekeping mata koin, ada sisi baik dan buruk yang saling berkebalikan. Adalah tangan kita sendiri yang menentukan sisi mana yang menjadi milik kita…

Salam

***

Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6! Yuk menulis tentang Aceh, rakan!

Dodaidi: It’s A Lullaby!

Darul Ulum Islamic College, 23 December 2013 [15:04pm]

Allah sungguh Maha Adil! Setelah berminggu-minggu berpacu mengejar banyak pengetahuan dalam rangkaian estafet yang bernama ujian, diberikanNya saya sedikit waktu untuk berleha-leha dan untuk menikmati kekosongan waktu yang tercipta karena wan agenda. Boleh dibilang waktu-waktu kosong seperti ini, bagi saya, merupakan nama lain bagi hal yang paling terakhir tertinggal di dalam kotak pandora: harapan. Harapan untuk berubah.

Saat-saat seperti ini digunakan Bang Hendri, salah seorang senior saya yang kini telah menjadi pembina, untuk memutar lagu-lagu penyegar pikiran. Bermacam-macam jenisnya. Jika lagu sudah diudarakan melalui pengeras suara, hari-hari panas tak akan terasa. Seakan matahari ikut berdendang, lupa menyinari bumi.

“Bang, neu puta lagu nyang leumik. Ngat maat ta eh…” saya meminta pada Bang Hendri. Lagu berirama rendah nikmat sekali untuk pengiring tidur di siang yang berbahagia ini.

“Jeut..” dia menyahut, “Dodaidi beuh?”. Tanpa menunggu jawaban saya, perlahan alunan lagu lembut yang dikidungkan oleh Cut Aza Rizka menguasai. Mendayu-dayu di antara tiang-tiang bangunan sekolah dan naik turun dibawa angin sepoi lalu menyelinap ke tiap hati santri yang rindu akan ayah, ibu dan kampung halaman mereka.

Allah hai do dodaidi, boeh gadong bi boeh kayee uteun,
rayeuk sinyak hana peue mak bri, ayeb ngoen keji ureung donya kheun.
Wahe aneuk bek taduk le, beudoeh saree tabila bangsa,
bek tatakot keu darah ile, adak pih mate poma karela.

Saya tercenung, menyeksamainya separuh jiwa dan mendengarnya seakan-akan untuk kali yang pertama. Perlahan seluruh beban ujian luruh bergemuruh siang itu..

Selain alunan nadanya yang selalu mendekap jiwa, ada hal lain yang membuatnya begitu dikenang…

Dodaidi adalah senandung pengiring tidur yang dinyanyikan oleh kaum ibu kepada bayi mereka. Masih terekam jelas dalam ingatan, saat kaum ibu di kampung saya mengayun-ayunkan ija sawak (kain selendang) yang digantung dengan tali ke kayu-kayu atap rumah, sedang di dalamnya sang anak pelan tertidur dalam damai sembari mendengar lantunan lagu pengiring tidur dari bibir ibu mereka.

Saat ahli-ahli kejiwaan anak masa kini merekomendasikan pengaruh baik ditanamkan dalam diri anak sejak masih dini, kaum ibu Aceh telah memulainya lebih dulu, bahan sejak si anak masih berkawan dengan ayunan. Bentuk pengaruh kebaikan ini mereka ubah wujudnya dalam bentuk syair penggugah jiwa dan cita-cita. Ruh keyakinan dan ketauhidan mereka tiupkan ke dalam larik sehingga mendapat tempat di bawah alam sadar si anak bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Waktu kosong setelah ujian pun memberi kesempatan bagi saya untuk pergi ke perpustakaan, mencari-cari pilinan sejarah tentang syair pengiring tidur ini. Dalam catatan beberapa buku, seperti kebanyakan syair dan hadi maja Aceh lainnya, tidak diketahui siapa yang pertama kali mengkidungkan dodaidi. Kebanyakan literatur tertulis mengarah kepada ibu susu Iskandar Muda. Setelah itu, nyanyian ini bertahan melewati bentangan zaman melalui lidah para ibu antar generasi dan menjadi salah satu lagu yang paling disukai oleh orang Aceh.

Ada nasihat indah yang terselip di balik syair dodaidi ini. Ada rahasia dan alasan tersendiri mengapa lirik itu terucap…

Saat Aceh dilanda peperangan melawan Belanda, kaum ibu menidurkan anaknya di bawah lantunan syair-syair yang mengarah kepada harapan agar sang anak menjadi pejuang yang tangguh melawan kaum kafir Belanda. Dalam sebuah buku tak bersampul yang saya temukan di perpustakaan, tertulis sebuah syair yang dilontarkan oleh Cut Meutia sebagai teman menuju alam mimpi untuk anak semata wayangnya Teuku Raja Sabi di rimba Aceh bagian utara. Untaian tembang pengiring tidur ini jelas memperlihatkan cita-cita Cut Meutia agar sang anak lekas tumbuh menjadi orang yang tangguh dan melanjutkan perjuangan ibu dan ayahnya,

Jak kutimang prak
boh ate nyak beurijang raya,
Bek tasurot meusitapak,
oh meurumpok ngon Beulanda.
Jak lon timang preuen,
ureung jameuen beuhe lagoina,
Bek hai aneuk tagidong reunyeuen,
bila jameuen tuntut le gata..

Ada pula yang jika kita seksamai liriknya, tampak jelas pesan agar anak selalu mengingat tanah lahirnya di manapun dia berpijak,

Jak lon tateh, meujak lon tateh
Beudeh hai aneuk ta jak u Aceh
Meube bak o’n ka meube timphan
 Meubee badan bak sinyak Aceh
Allah hai Po illa hon hak
Gampong jarak han troh lon woe
 Adak na bulee ulon teureubang
 Mangat rijang troh u nanggroe

Namun yang jelas apapun syair yang disenandungkan, selalu ada nasihat agar sang anak tumbuh menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia. Agar kelahirannya tak hanya mengundang tawa gembira di awal, namun juga di pertengahan dan di akhir kehidupan.

….

Saya tercenung memikirkan bagaimana sebuah kasih sayang seorang ibu jika disatukan dengan cita-cita syahdu yang kuat mampu menghujamkan pengaruh yang dalam bagi buah hati mereka. Pepatah Arab yang menyuruh manusia untuk menuntut ilmu sejak ayunan hingga liang lahat menemukan tempatnya di antara nyanyian para ibu ini. Sebelum tiang-tiang dan bangunan bisu sekolah mengajari generasi baru tentang berbagai hal, kaum ibu telah jauh lebih dahulu mendidik mereka dengan kasih sayang dan sebuah ikatan emosional yang kuat tentang hidup ini. Menarik sekali untuk dipikirkan tentang bagaimana akhir jalan sebuah kehidupan telah lebih dulu ditunjukkan pada anak ketika mereka baru saja memulainya. Bahkan sejak mereka belum mampu merangkak!

Lagu pengiring tidur kaum Aceh bukan hanya sebuah larik kata-kata yang dipersatukan oleh alunan nada. Lebih dari itu, syair dodaidi adalah madrasah pertama milik generasi Aceh. Ajaran agama pertama yang berkata bahwa Tuhan mereka adalah Allah dan terus bersemayam di benak mereka selama kaki masih berjalan. Bahwa akhlak mulia dan budi pekerti yang baik harus dijunjung tinggi di tiap hembusan nafas.

Menyadari semua itu semakin membuat saya menakjubi tanah kelahiran ini…

Saya pernah berkelakar kepada adik perempuan saya, bahwa salah satu kenangan terindah yang pernah ibu berikan kepada kita adalah pusar. Dia adalah bukti bahwa pernah ada suatu masa ketika diri kita dan ibu adalah satu jiwa. Tidak ada batas sama sekali. Dan tali pusarlah yang menjadi saksi hubungan itu. Kini setelah masa berjalan maju sejengkal, ingin saya tambahkan satu lagi kenangan terindah itu: senandung pengiring tidur dari bibir ibu.

Dan tiba-tiba saya teringat kepada ibu saya..

Selamat hari ibu, Ummi!

***

[Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6! Yuk menulis tentang Aceh!]

Rewind The Memory

pasaratjeh.jpg

Tidak ada tempat transaksi jual beli yang paling terkenal di Banda Aceh selain di pasar semi-kumuh ini…

Saya terpekur mengenang bagaimana tempat ini terekam sejak kecil ketika kaki pertama kali menginjak altar suci Baiturrahman. Masih jelas dalam ingatan saat bunyi klakson kendaraan bermotor bertalu-talu mengangkasa mengalahkan seru azan yang menyejukkan. Terpal-terpal biru bergelimpangan sepanjang jalan melindungi para penjual dari sinar matahari panas yang tak tahu adat itu. Macet dimana-dimana, etnis Tinghoa saling mengeluarkan beberapa kata dalam bahasa ibu mereka, kucing-kucing berbelang menguap sejadi-jadinya. Sampah-sampah pun dengan sopan mengambil posisi di depan jalan, merata dan bertumpuk-tumpuk.

Dan tak pernah lupa, saat Ayah saya bercerita dengan bangga sembari menunjuk-tunjuk sebuah lokasi persis di bawah tangga, tempat dia dan dua temannya memanggul beras dan mereparasi arloji untuk menyambung hidup, untuk terus bersekolah di kampus universitas syiah kuala. Tempat yang penuh hikayat perjuangan kaum miskin. Tak pernah berubah. Pasar Atjeh tidak pernah berganti cerita.

Saya rindu tempat ini.

Namun, kini tak ubahnya wanita yang ditinggal pergi suami tanpa kabar berita. Sebuah pembangunan pasar yang lebih modern dilaksanakan tepat di belakangnya. Sehingga berbondong-bondonglah umat Banda Aceh ke sana. Tak pelak jumlah pengunjung pasar ini turun. Dan tak tahu malu, pemerintah memberi nama yang sama pula untuk pasar yang lebih modern itu. Kasihan sekali pasar tradisional ini. Sudah ditinggal suami, dicuri nama pula oleh pasar baru di belakangnya.

Lalu ku perhatikan lagi jendela-jendela berdebu, daun pintu berlubang, papan nama toko yang mulai lapuk. Ku lihat lagi kabel-kabel usang yang mulai kendur dan telanjang tak berpenutup. Ku pandang kembali lantainya yang makin hari makin kusam, dinding-dindingnya yang dikhianati zaman, kucing-kucingnya yang tertidur pulas. Tak berubah. Masih sama, selalu sama…

Tak ada ciptaan Tuhan yang paling sering dirutuki sekaligus dipuji-puji selain kenangan masa lalu…

Pasar Atjeh, 19 November 2013 [02:26pm]

Kopi, Bukan Sekadar Air Berwarna Hitam

Saya selalu menyukai semua hal yang berhubungan dengan kakek saya. Dia adalah orang tua yang masih menyisakan sisa-sisa aroma masa muda. Beliau merupakan tipikal orang kelahiran pertengahan abad 20 yang semangatnya meledak-ledak namun antisipatif, penuh loyalitas, dan pandai memanfaatkan semua momentum yang ada. Semua terlihat dari caranya mengeber sepeda motor dengan kencang namun cepat menelisik rasio terjadinya kecelakaan—semangat meledak-ledak namun antisipatif, sikapnya mengasihi keluarga—penuh loyalitas, dan pintar mendaur ulang kayu-kayu bekas pembangunan rumah menjadi semacam kursi furnitur yang cantik—pandai memanfaatkan semua momentum yang ada. Unik bukan?

Masa mudanya dipenuhi dengan kerja keras dan perjuangan. Semua itu berakibat pada meningkatnya wibawa kakek di mata orang-orang yang menghormatinya. Suatu ketika ibu saya pernah bercerita bagaimana dia dan kakak adiknya, yang masih kecil-kecil, diizinkan masuk ke dalam bioskop Langsa hanya karena sang pemilik bioskop sangat menghormati kakek. Katanya, beliau sangat disegani mengingat kakek saya itu merupakan penyuluh pertanian yang hebat. Demi mendengar cerita itu kakek saya tertawa terbahak-bahak, sampai bahunya berguncang-guncang. Tertawa, salah satu kebiasaan masa muda yang masih dipeliharanya hingga kini.

Di lain waktu ibu pernah berkisah tentang pekerjaan sopir yang dilakoni kakek. Dia mengendarai truk 12 ban, membawa ratusan sak semen dari Banda Aceh ke Magelang hanya karena ekonomi keluarga sedang morat-marit sedangkan ibu saya memerlukan biaya untuk penelitian skripsinya. Saya mencari pembenaran atas kisah itu padanya. Dengan enteng dia menjawab, “Rul, tau kue waktu itu dua ban truknya bocor di Pekanbaru..” Lalu beliau tertawa, terbahak-bahak.

Saya dan kakek terlibat dalam sebuah hubungan kakek bercucu yang berbeda dari orang lain. Pengerat ikatan kami bukanlah permainan gendong-menggendong atau uang lebaran seperti kakek-kakek yang lain. Pelengket hubungan kami sangat tidak biasa karena tidak cocok untuk anak-anak. Pentaut hubungan kami adalah dua cangkir kopi Aceh. Kopi Aceh hitam yang pahit.

Langsa City – Paya Bujok Tunong, One Day in June 2003 [06:58am]

Saban pagi minggu jika cuaca teduh, ketika saya masih bocah sekitar kelas 1 MIN, kakek menghidupkan kereta Yamaha hitamnya. Suara kereta itu seperti kambing tersedak. Tapi, kakek sangat bangga pada Yamaha tuanya itu. Sepeda motor itu melambangkan masa-masa mudanya, sebuah supremasi atas kejantanannya.

“Yok Rul, ke keude kupie kita…” teriaknya dari luar pagar. Keude kupie itu tak lain adalah pengucapan orang Aceh atas kedai kopi.

Saya menyambut ajakannya dengan berlari-lari dari dalam rumah. Bagi saya mengopi bersamanya di keude kupie lebih menarik dari deretan film kartun Indosiar saban minggu. Beliau tertawa, terbahak-bahak. Sesampainya disana kakek langsung memesan pesanan yang telah menjadi adat jika kami berdua  pergi ke keude kupie, yaitu dua cangkir kopi Aceh pahit dan sebungkus Dji Sam Soe.

Keude kupi ini sederhana saja. Dindingnya hanya ditopang dengan kayu dan atapnya dibubungi dengan daun rumbia. Sangat tradisional, kata guru mata pelajaran ekonomi. Melihat kami berdua tiba, sang pemilik keude kupie, yang merupakan rekan kakek sesama mantan penyuluh pertanian datang menyambut. Kemudian mereka terlibat dalam sebuah percakapan serius, namun tak jarang ditengahi suara ledak tawa panjang jika yang sedang diperbincangkan itu adalah cerita-cerita masa muda yang penuh kenangan.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan kakek, saya senang mengamati perilaku, adat istiadat dan tata tertib tak tertulis orang-orang yang menghabiskan sebagian harinya di keude kupie ini. Semacam mempelajari budaya sendiri. Maka bolehlah saya disebut sebagai sosiolog termuda Aceh dalam khazanah perkopian.

Saya tergelak. Hari masih pagi perawan tapi seperti pasar ikan, keude kupie ini ribut bukan main…

Orang-orang tua berpeci haji putih duduk bergerombolan di bagian dalam, membincangkan banyak hal. Mulai dari gotong-royong mingguan, memperbaiki talang air meunasah, sampai tentang perkawinan anak orang. Namun yang lebih sering adalah mengejek-ejek pejabat. Maka bagi orang-orang seperti ini, keudeu kupi tak ubahnya ruang rapat berpendingin ruangan. Bedanya hanya terletak pada kaki yang sah-sah saja terangkat ke atas kursi saat mereka mengeluarkan pendapat. Sama sekali tidak dianggap tak sopan. Guru saya pernah menegur salah seorang teman karena mengangkat kaki ke kursi ketika duduk. Beliau membentaknya, “Kamu kira ini warung kopi?!” Nah, apa saya bilang? Dianggap sopannya mengangkat kaki ke atas kursi hanya bisa terjadi di keudeu kupi. Tidak akan terjadi di tempat lain.

Sementara di bagian luar keude, catur menjadi rebutan. Mereka yang bermain catur sama sekali tidak mengenal kata senyap. Mereka merecoki setiap langkah pion yang digerakkan oleh dua temannya yang sedang bertanding. Bersorak-sorak saat para perwira utama terkena tebasan pedang menteri lawan. Lalu tertawa-tawa ketika pion raja kehabisan nafas ditimpa pion kuda. Tapi, ajaibnya, setelah permainan berakhir, mereka menyemangati dan menepuk-nepuk bahu temannya yang kalah lalu memuji-muji rekannya yang menang. Mungkin ini disebabkan karena samanya problema hidup yang mereka hadapi. Nasib pahit yang menelikung mengubah mereka menjadi semacam kelompok egaliter. Mereka berpadu, seperti ada semangat bahu-membahu dan jiwa menolong yang tertanam dalam diri mereka. Catur adalah pengejewantahan hidup mereka. Mereka bisa mengatur permainan sendiri tanpa ada nasib yang mencekik, bersorak-sorak kegirangan saat hidup ditimpa nestapa, dan saling tolong-menolong ketika menjalaninya. Semua hanya bisa mereka dapatkan di dunia hitam putih kotak-kotak itu.

Adapun di bagian tengah hanya ada satu dua pemuda yang duduk membisu sendirian. Ruang tengah ini dikuasai oleh radio berukuran besar yang sering mendendangkan lagu-lagu cinta tahun 90-an. Saat itu belum banyak keude kupie yang dilengkapi dengan tv tabung, sehingga cukuplah radio sebagai hiburan penyeimbang tawa yang berderai di sana. Muka pria-pria muda itu lesu. Seperti ingin menggantung diri sendiri siang nanti. Saat itu saya belum paham, apa yang mendasari terbentuknya wajah-wajah murung seperti itu. Waktu berjalan dan saya tumbuh remaja, akhirnya saya mafhum artinya. Penopang wajah murung itu tak pelak karena masalah asmara. Jika radio mengalunkan lagu-lagu cinta, mereka memejamkan mata, mendengarnya sepenuh jiwa. Tiap lirik diseksamainya. Seakan dia adalah pria paling tidak beruntung di dunia ini. Pria yang dipatahkah harapannya karena dikhianati cinta. Ah, terkadang cinta bisa jadi sangat mengerikan.

Dan jangan pernah mencari anak perempuan yang hilang, istri ataupun nenek-nenek di keude kupie ini. Saya tak pernah melihat mereka menginjakkan kaki di sini. Keude kupie adalah teritorial para lelaki. Kaum hawa tak kan mendapat tempat di sini.

Gelas kopi mulai mendingin karena saya keasyikan mengamati keadaan sosiologis para peminum kopi. Saya mengaduk dasar gelas dengan sebuah sendok kecil. Tujuh adukan. Mengapa tujuh? Karena saya suka angka tujuh. Bagi saya tujuh melambangkan para sahabat Rasul mulia yang paling saya kagumi: Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hasan anak Ali, Abdullah anak Abu Bakar, dan Abdullah anak Umar. Kemudian saya meminumnya seperti orang dewasa, yaitu dengan menyesapnya perlahan. Perlahan saja, menimbulkan suara hirup yang khas. Dan harus terdengar sampai ke seberang jalan. Lalu aroma khas bubuk kopi membumbung tinggi, mengelus-elus bulu hidung. Pahitnya menyentak kerongkongan. Saya sangat menikmatinya. Saya tambahkan tiga sendok teh gula. Nikmatnya makin tak terkatakan. Ah, tiba-tiba saya merasa sangat dewasa.

Kakek saya masih tertawa, terbahak-bahak, dengan rekannya. Kopi miliknya sudah mulai mendingin dan saya memperingatkannya akan hal itu. “Paknek, minum dulu kopinya. Nanti dingin,” Kakek lalu melihat saya sambil menepuk-nepuk pundak dan tentu saja, tertawa.

“Oh, iya iya..” bahunya masih berguncang saat menyeruput air hitam pahit itu. Lalu tertawa kembali selepas pinggiran gelas berpisah dari bibirnya. Kumis putihnya berubah warna menjadi kehitaman terkena air kopi. Pemilik kopi menatap saya lalu bertanya kepada kakek. “Soe aneuk nyoe, Bang Ma’e?” Ismail adalah nama kakek saya. Panggilan akrabnya Bang Ma’e.

“Cuco lon..aneuk si Ita,” jawabnya sembari tertawa. Nah, ‘si Ita’ adalah nama panggilan ibu saya.

“Masya Allah…ka rayeuk lagoe aneuk si Ita nyoe..” godanya seraya mengusap-usap kepala saya. Saya malu tersipu-sipu. Sejak itu saya mafhum bahwa keude kupie juga berfungsi sebagai tempat pamer anak cucu.

Sejak kecil saya sudah diajak kakek berhubungan dan bersentuhan langsung dengan budaya keude kupie. Tempat ini bagi orang-orang semacam mereka, bukanlah sekadar tempat meminum air gula hitam. Di sana merupakan tempat pelarian dari masalah, tempat membahas sebuah mufakat, sampai tempat mengurai benang-benang kenangan tempo dulu. Dan kopi bukan sekadar air pahit berwarna hitam. Air hangatnya mampu meredam emosi yang bergejolak, tiap aroma uapnya menghilangkan setiap kejahatan bagi mereka yang ingin melakukannya, dan dentingan gelasnya semacam simfoni yang memainkan melodi terindah sepanjang masa.

Namun, seperti yang pernah saya katakan, waktu berjalan dan roda kehidupan berputar. Kini jarang saya jumpai keude kupie yang penuh kejadian sosial menarik seperti dahulu. Suara orang duduk bergerombolan yang membincangkan banyak hal dan pantangan mengopi di keudeu kupi bagi perempuan berganti dengan suara muda-mudi bukan mahram yang saling tertawa cekikikan. Teriakan ‘skakmat’ catur berubah irama menjadi teriakan caci maki orang yang sedang menonton bola di TV LCD, bukan sekadar tv tabung ataupun radio butut. Dan romansa putus cinta berubah bentuk menjadi status relationship yang terpampang di akun facebook. Bahkan sekarang bukan hanya kopi hitam pahit yang sediakan, namun sudah bermunculan kopi-kopi lain yang bernama aneh. Cappucino, macchiato, espresso, kopi luwak, mocha dan -yang paling aneh- kopi cantik (?).

Ah, mengingat kopi membuat saya teringat pada kakek. Begitupun sebaliknya, mengingat kakek membuat saya teringat pada kopi hitam pahit yang saban saya pesan jika mengopi bersamanya. Mungkin senarai zaman akan terus berlanjut, namun kenangan akan keude kupie berdindingkan kayu dan kopi Aceh hitam yang disajikan secara tradisional tak akan pernah saya lupakan.

…..

Me: Mungkin memang terlambat, tapi Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6, blogger amatiran yang lagi ke Amerika, jauh dari Aceh…  Yuk menulis tentang Aceh dari tanah asing di sana! | Her in USA: Haha, jahat kali. Tapi emang amatir sih. Iya, Micul… Ntar ana tulis. | Me: Ok! Ngomong-ngomong di sana gak bisa makan mie caluk ya? Her in USAih apa maksudnya ni tanya2 mie caluk -_-

kopi.jpg

Half Page of The Strangers

Banda Aceh City – Darussalam, 24 November 2013 [10:12am]

Setelah hampir sebulan belajar keras di dayah, hari ini -akhirnya- libur tiba! Dayah tempat saya belajar itu seperti tidak mengenal dikotomi waktu. Malam dan siang tak ada bedanya. Buku dan kitab terus kami daras selama tubuh masih kuat untuk belajar dan mata masih mampu untuk tetap terbuka. Bahkan tak jarang kami terang-terangan menantang bulan untuk tetap terjaga hingga larut malam. Sehingga remeh-remeh hal seperti internet tak mendapat tempat di tiap kegiatan. Dan kesempatan untuk merayakan kebebasan sepanjang hari ini saya mulai dengan menyapa jurnal kehidupan saya ini.

Seharusnya saya mulai menjelajahi akun-akun yang tersebar di tiap sudut dunia maya sekarang. Membuka blog dan membaca postingan beberapa teman. Namun, sebaris aksara bertuliskan, “Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6”, mengejutkan saya. Sebagai seorang blogger Tanah Rencong sudah sepatutnya saya bergembira. Saya tergoda untuk meneruskan dan membiarkan bit-bit metadata itu bekerja hingga kursor berhenti di sebuah postingan berisi ajakan, “Yuk menulis tentang Aceh”.

Saya tertarik.

Dan di sini, biarlah halaman sederhana ini menunjukkan bagaimana hidup menawarkan sisi-sisi terindah untuk menjadi seorang keturunan daerah Iskandar Muda ini…

Seseorang yang pertama kali berucap, “the strangers you meet on the way will leave you a memory that will linger forever” adalah shahih adanya. Saya pun demikian. Orang-orang asing yang saya temui di tiga kota besar Indonesia nanti adalah bagian dari senarai hidup tak terlupakan. Tak pernah terbersit dalam angan akan bersua, namun mereka menyadarkan saya akan jiwa Aceh yang bersemayam di badan sampai khatam usia. Mereka menunjukkan saya, betapa indahnya menjadi seorang Aceh. Namun, secara tak sadar membuat saya malu kepada diri sendiri karena minim pengetahuan sejarah tanah ini.

Jakarta City – Pondok Gede, 20 July 2011 [07:32pm]

Kembali ke awal malam saat itu selepas Isya, bulan masih belum tampak. Rombongan kontingen kami sedang menikmati makan malam yang disuguhkan panitia perlombaan. Perlombaan apa? Ah, perlukah saya sebut? Saya rasa tidak perlu. Biarlah ia menjadi rahasia saya dan Tuhan Yang Mahatahu.

Hidangannya tidak terlalu menjanjikan. Nasinya kering. Lidah saya yang terbiasa dengan nasi berkuah menyuarakan kata tidak sepakat. Dia memberontak. Memaksa saya untuk mencari makanan lain yang lebih bisa diterima papila-papila kecil lidah. Kemudian saya berjalan keluar dari komplek pemondokan. Melihat-lihat para penjaja makanan yang berjualan di sekitarnya. Dari kaca-kaca gerobak tertulis nama-nama makanan asing. Mpek-mpek, tahu tek-tek, telor gulung. Tidak ada yang menerbitkan selera.

Saya terus berjalan, sampai telinga menangkap sebuah suara percakapan berbahasa Aceh. Menimbulkan semacam sensasi asing yang tidak pernah terasa selama kaki menginjak Serambi Mekah. Dan kontan saya bersorak dalam hati ketika tahu bahwa suara itu berasal dari sebuah warung mie Aceh!

Di depan warung yang tak bernama itu, seorang pria tua tambun dengan kumis putih melintang di bawah hidung peseknya, cekatan menuang kecap dan sayuran ke dalam wajan besar berisi mie kuning yang telah berubah warna karena bercampur dengan bumbu merah khas. Aroma pedas-pedas gurih menguap dan seketika lidah mengucap kata sepakat. Dengan ragu saya dekati bapak itu dan menyapanya dalam bahasa Aceh.

“Assalamualaikum, kiban haba? Pak…” saya menunjuk-nunjuk beliau. Dia tampak terkejut disapa dalam bahasa Aceh, serta merta sumringah menyambut tangan saya. “Geut, geut.. Ureung Aceh? Oh, neuhoi  mantoeng lon Pak Abu.” Tangan saya digoncang-goncangnya. Ah, menyenangkan sekali menemukan penutur Aceh di tanah asing. Pak Abu menyuruh saya duduk, menyiapkan mie yang memang sudah masak, lalu duduk di samping saya. Kemudian ceritapun mengalir di antara kami.

Dia adalah pencinta mie dan ternyata beliau bukanlah orang Aceh asli. Pak Abu sunda tulen. Maka ‘Abu’ hanyalah sebuah nama panggilan. Istrinya lah yang mengubah tutur kata dan logat bicara beliau, dari dialek sunda menjadi aksen Aceh, karena dia adalah orang Sigli. Dia pun bercerita bahwa sudah belasan tahun membawa istri ke kampung halamannya dan mengajarinya cara memasak mie Aceh. Dan tentu saja saya langsung mafhum bahwa yang menguatkan ikatan pernikahan mereka adalah tepung giling yang dibentuk  menjadi seperti tali: mie.

Saya terkagum bagaimana makanan yang terkadang dibuat sambil lalu itu mampu menyatukan sekaligus mengeratkan cinta dari dua ranah berbeda. Bahasa dan istiadat tak jadi soal. Karena semuanya luluh dalam seporsi makanan bernama mie. Terlebih membanggakan karena mie itu adalah mie Aceh.

Cerita beliau meredam pemberontakan lidah saya akan makanan dan gelak tawa Pak Abu melengkapi hubungan kami yang baru saja tercipta. Penutup malam yang sempurna!

mieaceh.jpg

Batam City – Kabil, 7 July 2012 [08:02pm]

Pada malam terakhir Perkemahan Pramuka Santri Nusantara, panitia menjadwalkan acara yang paling dinanti oleh peserta. Sebuah acara yang luar biasa. Acara ini merefleksikan kekuatan budaya Indonesia sebagai hal yang paling dibanggakan dan paling menggetarkan. Semuanya tergambar dari sebaris perkataan yang menjadi slogan republik ini, Bhinneka Tunggal Ika. Acara ini tertulis di buku agenda peserta dengan judul, Pentas Kesenian Nusantara.

Dan tentu saja kami langsung paham bahwa marwah Aceh tertulis di lekuk-lekuk tubuh kami. Bahkan sampai ditempelkan di lengan baju kami. Sebuah gambar daun sirih dan sepasang rencong, lambang Gerakan Pramuka Aceh. Maka kami tidak boleh menjatuhkan martabatnya. Namun janganlah risau karena sebenarnya sejak awal langkah kami telah menyiapkan salah satu kesenian yang paling dibanggakan penduduk Aceh. Mulai dari para seniman, mereka yang mengaku-aku sebagai penikmat seni sampai sopir labi-labi dan para pejabat yang budiman, pasti menyukai penampilan kami ini: Tari Rapai!

Tidak main-main. Kami menyiapkan sekitar 10 buah rapai lengkap dengan seragam dan ikat kepala yang kerap membuat saya pusing. Setiap hari, setelah semua acara harian selesai, sejak hari pertama di bumi perkemahan kami rajin latihan. Tak jarang kami menari kesetanan. Sampai menarik perhatian kontingen lain. Hingga akhirnya tiba pada malam penampilan. Nomor undian menakdirkan kami untuk menabuh rapai setelah tari bertopeng asal daerah Bali. Ini berarti kami akan tampil pada urutan kedua terakhir. Giliran tampil yang masih lama ini kami gunakan untuk menonton semua penampilan daerah lain.

Kami berbaur dengan peserta lain. Saya sedang berebut mengambil posisi dengan seseorang tidak jauh dari panggung saat seorang lelaki dengan cat hitam menutupi seluruh wajah dan badannya menghampiri saya. Mengingatkan saya akan refleksi karakter hantu geunteut yang sering digembar-gemborkan orang tua agar kami, para anak kecil, pulang ke rumah saat maghrib tiba.

“Joko asli Suroboyo…” ujarnya memperkenalkan diri sambil tangannya membentuk sikap akan menjabat. Saya menyambutnya, “Ya, saya Amir..”

“Dari Aceh ya?” Saya mengangguk. Matanya melirik-lirik rapai yang sedang saya peluk. “Itu apa?” tanyanya. “Oh, ini rapai. Seperti gendang tapi suaranya lebih keras.” Saya menabuh rapai dengan bangga. Semacam memamerkan. “Khas dari Aceh..” saya menambahkan. Joko mengangguk-angguk kemudian bertanya,

“Kenapa namanya rapai?”

Saya terkejut. Seperti mendengar suara petir yang menyambar-nyambar nun jauh di ujung horizon. Saya gelagapan dan akhirnya menjawab lesu, “Saya tidak tahu ya, Joko…” Memang sepertinya orang Surabaya sopan-sopan dan baik karena demi melihat perubahan air muka saya, dia langsung mengubah arah pembicaraan. Kemudian perbincangan kami berlanjut ke arah-arah yang menarik dan tak terduga. Kami puas tertawa malam itu. Namun pertanyaan Joko terus mengiang-ngiang di kepala saya.

Pertanyaan Joko menyadarkan saya dari euforia kebanggaan. Saya sama sekali tidak tahu asal-usul nama gendang Aceh itu. Saya pun yakin, teman-teman yang lain juga tidak mengetahuinya. Dan seketika saya dirundung malu yang tak terkira. Mungkin memang benar tiap orang punya hak untuk membanggakan budayanya. Namun bukankah itu menjadi sebuah kejanggalan karena di saat yang sama dia sama sekali tidak tahu menahu soal asal-usul budayanya itu?

rapai.jpg

Gorontalo City – The Downtown Stadium, 27 June 2013 [04:22pm]

Kali ini takdir menggiring saya ke Gorontalo dalam kerangka perlombaan olahraga dan seni antar pesantren Indonesia. Perlombaan ini sebenarnya biasa saja. Tak ada kata meriah di sana. Jika pun ada banyak orang berteriak semarak tak karuan seperti orang kesurupan menyemangati temannya yang sedang berlomba, maka hampir bisa dipastikan bahwa pertandingan yang sedang berlangsung adalah lomba lari.

Lomba lari diadakan di sebuah stadion pusat kota yang dikelilingi oleh realita-realita miris kehidupan. Pengemis, orang mengumpat-umpat di sebuah emperan toko, dan tukang bentor [kendaraan penumpang khas] yang saling berebut langganan. Namun semua drama satir tadi dibungkus dengan pemandangan alamnya yang indah. Bentangan gunung berkabut sambung-menyambung berpadu dengan persawahan hijau bak permadani. Sampai-sampai saya berpikir, terkadang Tuhan begitu nakal karena menyandingkan keindahan dengan kebobrokan.

Saat itu pelari asal Jawa Timur sedang bersaing ketat dengan pelari asal Sumatera Utara. Seorang pria yang memakai topi rajutan menghampiri saya. Saya pun kemudian mengamati topi rajutan yang melekat di kepalanya. Rajutannya bukan terbuat dari kain melainkan dari kulit kayu kecil-kecil. Warnanya coklat, seperti rotan yang sering dilibas oleh Teungku Tie ke betis jika saya terlambat pergi mengaji ke meunasah.

“Peci Gorontalo nya Mas.. Tiga puluh ribuan saja” tawarnya dengan jejak aksen bernada tinggi di tiap akhir kata. Khas dialek orang timur Indonesia. Saya senang mendengarnya, sangat nasionalis. Ternyata topi rajutan itu tak lain adalah pecinya orang Gorontalo dan pria ini adalah penjualnya. Saya teringat ayah dan paknek di rumah. Sebuah oleh-oleh yang menarik. “Bungkus dua ya, Mas..” Saya membelinya. Dia tersenyum dan dengan cekatan mengemasnya dalam lembaran koran lalu menyerahkannya kepada saya. Uang saya berikan dan dia berujar terima kasih.

Kubu pendukung Jawa Timur bersorak girang gegap gempita karena pelarinya menang, sedang kubu Sumatera Utara terlihat mendengus-dengus kesal karena pelarinya tertinggal di belakang. 

Kemudian penjual itu duduk di samping saya. Mengkipas-kipasi tubuhnya yang berkeringat dengan semacam kain lap. “Aslinya mana, Mas?” Dia bertanya kepada saya. Kali ini jejak aksen bernada tingginya berbunyi di bagian tengah kalimat. “Dari Aceh…” Saya mencoba menjawab seramah mungkin dan tersenyum. Mencoba bersikap bersahabat. Bukan apa, Dia seorang pribumi, saya harus menjaga sikap. “Wah, dari Aceh rupanya!” dia sumringah. Kali ini aksen berbunyi kembali di bagian akhir. “Saya dengar disana punya pantai indah-indah…” Saya mengangguk mengiyakan seperti ayam mematuk batu. Hati saya girang bukan kepalang karena Aceh saya disebut, indah.

“Hm..tapi saya sering pikir punya pertanyaan.” katanya dengan raut serius.

Pertanyaan? Pertanyaan apa?

“Mana indah saya punya daerah atau punya Mas?”

Saya terdiam. Tak menduga akan ditabrak pertanyaan seperti itu di tanah asing. Oleh orang asing pula. Lalu saya mengedarkan pandangan pada siluet gunung-gunung tertutup kabut nun di pinggir kota. Saya teringat persawahan hijau yang membentang bak permadani ketika melewati jalan protokolnya. Hal yang sama seperti itu terakhir saya lihat ketika pulang kampung ke Lhokseumawe melalui jalan antar provinsi Banda Aceh-Medan. Saya coba membandingkan. Ah, sulit. Terlalu sulit. Dan untuk pertama kalinya saya menyadari keindahan Aceh dalam sudut pandang yang sulit dilukiskan.

“Tidak tahu saya, Mas.” Saya mengambil dua tarikan nafas, “Alam aceh sudah tergambar di bawah alam sadar saya sejak lahir dan saat ini untuk menafikan keindahannya tidaklah mungkin karena saya sangat mencintai tanah lahir saya itu. Namun mengingkari keindahan kota ini juga tidak bisa. Gorontalo ini indah sekali.”

Dia tersenyum senang dan berdecak-decak sendiri. “Gimana kalau sama-sama indah?” tawarnya tiba-tiba. Saya membalas,”Jadi seri ini ceritanya ni, Mas?” Dia tertawa. Saya tergelak. Dan sepertinya kami telah menemukan kesimpulan yang memuaskan!

gorontalo

Andai Andrea Hirata benar, maka di sana, di tiga kota itu saya menemukan kepingan hidup. Kepingan yang tidak biasa karena dia melengkapi penglihatan saya akan Aceh, tanah kerinduan saya, tanah kelahiran saya. Tiga kepingan itu mengejewantah dalam tiga sosok asing yang sama sekali tidak pernah saya temui. Namun mereka seperti angin bagi para pelaut, yang menunjukkan bagaimana caranya berlayar. Menyinggung titik buta, mengubah haluan kehidupan.

Dibuatnya saya paham tentang fungsi lain dari seporsi mie Aceh. Dibuatnya muka saya merah padam menanggung malu karena tidak tahu sejarah budaya sendiri. Dibuatnya saya merasakan kebanggaan akan alam Aceh dalam cermin yang berbeda. Mereka adalah simpang perberhentian saya. Menunjuki ulang cara saya menjiwai daerah sendiri. Mereka menghiasi perjalanan saya, dan melengkapinya.

Untuk itu saya mengucapkan terima kasih yang tak terkira pada mereka…

…..

Mungkin memang benar kata para pejalan. Terlebih bagi mereka yang menunjuki jalan pulang, saat lintasan perjalanan dilewati dengan orang yang tepat, maka percayalah tak ada masa yang tak indah!

Salam!

*all photo belongs and taken by me, except gorontalo view. It taken by Ustad Alfirdaus

I Love Aceh Story: Merekam Senja di Ujung Barat Indonesia

Paling terkesan sama postingan bang Ari yang ini

The Science of Life

i-love-aceh-story

When I admire the wonders of a sunset or the beauty of the moon, my soul expands in the worship of the creator -Mahatma Gandhi-

Saya mengamini pernyataan dari Mahatma Gandhi di atas. Menyaksikan matahari tenggelam di kala senja selalu bisa mengisi relung hati saya dengan rasa syukur tak terkira. Beruntung saya tinggal di Aceh. Bagaimana tidak, setiap hari saya bisa menyaksikan senja yang terjadi paling akhir di Indonesia. Terletak di ujung barat Indonesia, tentu saja matahari yang terbenam terakhir di Indonesia setiap harinya terjadi di Aceh.

Saya sudah cukup sering berkelana ke berbagai tempat. Percayalah kawan, tidak ada yang bisa mengalahkan cantiknya pemandangan senja di Aceh. Kalau ditanya apa yang membuat saya jatuh cinta pertama kali dengan Aceh, saya akan menjawab karena senja.

Suatu sore di akhir Oktober 2008, saya bersama beberapa karib duduk bercengkerama di pepasiran pantai Lhok Nga. Matahari sudah kembali ke peraduan dan jarum pendek arloji…

View original post 323 more words