Wastra!

10303771_772030832816362_7649778786014823150_n

Beberapa hari lalu dalam lawatan menuju Kuala Lumpur, saya memilih pasar tradisional yang berdiri di dekat Masjid India sebagai tempat berburu sedikit bingkisan tangan. Kios-kios kecil berbagi tempat di sepanjang tanah sempit ini, menjadikan warna dan iluminasi cahaya menjadi kentara adanya.

Saat sedang menyusuri barisan pasar aneka rupa ini , sontak retina saya menangkap barisan kain berupa-rupa warna di salah satu kios kecil yang terletak di bagian ujung pasar. Seketika saya membusurkan senyum saat menyadari barisan warni bak pelangi itu merupakan kain bercorak batik.

Menemukan sekeping bagian dari rumah di ranah yang berbeda ternyata rasanya cukup menyenangkan juga…

***

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 41: Wastra

Advertisements

Blessing is [Means] Rahmat

hisnameisrahmat.jpg

Banyak hal yang saya senangi dari bocah ini. Namun dua di antara banyak hal itu yang paling saya senangi adalah salam yang senantiasa ia ucapkan dan kepolosan kata-kata yang melewati celah antara dua bibirnya…

Namanya Rahmat. Rahmat Nazil. Salah seorang penghuni kamar Teuku Umar 2 yang memiliki nada suara khas dan postur tubuh kecil. Saya pertama kali bertemu dengannya hanya selang beberapa hari setelah minggu pertama masuk para santri baru.

Saya yang saat itu masih menjabat sebagai salah seorang punggawa penjaga peraturan dayah mendapatinya terlambat tiba ke masjid, padahal langit telah berubah warna menjadi mega merah pekat dan lantunan ayat-ayat langit yang sejak beberapa puluh menit lalu bergema kini telah mencapai batasnya. Magrib telah tiba.

Dia berlari, diiringi kepakan sarung yang belum terkenakan dengan sempurna dan peci yang masih tersampir miring di atas kepala kecilnya. Seharusnya saya marah dan menegurnya tapi ketika melihat pemandangan menggelikan seperti itu rasa marah sungguh musykil untuk dipertahankan.

Saya hanya menepuk punggungnya pelan menggunakan sajadah lalu menyuruhnya masuk ke dalam masjid saat tiba-tiba dia menggumamkan dua patah kata yang baru pertama kali saya dengar dari seorang santri baru seperti dia.

“Maaf akhi, saya enggak akan telat lagi…”

Dan dia memegang perkataannya sampai sekarang. Continue reading

The Old Friend

baiturahman.jpg

Jika Banda Aceh menjelma menjadi sebuah sistem konstelasi, maka saya tak kan ragu untuk menyebut Masjid Baiturrahman sebagai pusatnya. Sedangkan gedung pemerintahan, bangunan-bangunan, dan orang-orang yang bermukim di kota Banda tak lebih dari asteroid-asteroid dan kepulan kabut penganggu yang mengitarinya. Tak penting. Karena di sanalah, di tengah himpitan gegap gempita kehidupan ibukota, beragam wajah mewarnai semburat kemegahan Baiturrahman dan ribuan kaki menjejaki tiap jengkal tempatnya berdiri…

Baiturrahman Grand Mosque — Banda Aceh, 1 December 2013 [06:09pm]

Ahh, perasaan seperti ini selalu saja memeluk saya di detik-detik terakhir malam minggu pertama tiap bulan. Minggu awal tiap bulan merupakan hari libur yang mengizinkan kami untuk beranjak keluar dari dayah sebentar. Untuk sekedar melepas penat dan mengisi kembali semangat yang hampir berantakan. Malam rasanya terlalu lama menjauh untuk hari yang ‘suci’ itu.

Tetesan air wudu belum juga mengering selepas salat subuh. Venus masih berkerling di ujung langit dan cicitan burung belum terdengar dari puncak-puncak kasia yang memagari pekarangan dayah. Tapi adrenalin saya sudah mulai berpacu melawan dingin yang menghentak. Pagi ini saya mengajak diri saya sendiri untuk mengisi hari yang berbahagia ini dengan mengunjungi salah satu landmark kota. Masjid Baiturrahman. Continue reading

Krueng Cut

BeFunky_dscf1181.jpg

Simpang Tibang, 2 January 2013 [11:13am]

Tiap kali saya kembali pulang setelah menyelami ilmu di pesantren, saya selalu bergembira. Seakan alam menyambut anaknya yang pulang berjihad dan menampakkan selendangnya dimana-dimana. Diantara satunya yang mempesona tak lain: Krueng Cut.

Krueng sejatinya ‘sungai’ dalam bahasa Aceh. Di sungai yang bermuara ke pantai Aluenaga ini berjejer para pencari tiram yang mencari makhluk kecil itu disudut-sudut batu. Pun sungai ini merupakan salah satu stand tetap untuk para pemancing dari atas jembatan. Ditambah dengan pemandangan sunset tiap petang yang menyeruak menjadikannya kian istimewa.

Saya merasa dianak-emaskan oleh alam!

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 32: Sungai di rumah maya milik Haryadi. Berkunjunglah ke sana dan temukan bagaimana indahnya menjadikan foto sebagai ajang saling berbagi cerita.

Rewind The Memory

pasaratjeh.jpg

Tidak ada tempat transaksi jual beli yang paling terkenal di Banda Aceh selain di pasar semi-kumuh ini…

Saya terpekur mengenang bagaimana tempat ini terekam sejak kecil ketika kaki pertama kali menginjak altar suci Baiturrahman. Masih jelas dalam ingatan saat bunyi klakson kendaraan bermotor bertalu-talu mengangkasa mengalahkan seru azan yang menyejukkan. Terpal-terpal biru bergelimpangan sepanjang jalan melindungi para penjual dari sinar matahari panas yang tak tahu adat itu. Macet dimana-dimana, etnis Tinghoa saling mengeluarkan beberapa kata dalam bahasa ibu mereka, kucing-kucing berbelang menguap sejadi-jadinya. Sampah-sampah pun dengan sopan mengambil posisi di depan jalan, merata dan bertumpuk-tumpuk.

Dan tak pernah lupa, saat Ayah saya bercerita dengan bangga sembari menunjuk-tunjuk sebuah lokasi persis di bawah tangga, tempat dia dan dua temannya memanggul beras dan mereparasi arloji untuk menyambung hidup, untuk terus bersekolah di kampus universitas syiah kuala. Tempat yang penuh hikayat perjuangan kaum miskin. Tak pernah berubah. Pasar Atjeh tidak pernah berganti cerita.

Saya rindu tempat ini.

Namun, kini tak ubahnya wanita yang ditinggal pergi suami tanpa kabar berita. Sebuah pembangunan pasar yang lebih modern dilaksanakan tepat di belakangnya. Sehingga berbondong-bondonglah umat Banda Aceh ke sana. Tak pelak jumlah pengunjung pasar ini turun. Dan tak tahu malu, pemerintah memberi nama yang sama pula untuk pasar yang lebih modern itu. Kasihan sekali pasar tradisional ini. Sudah ditinggal suami, dicuri nama pula oleh pasar baru di belakangnya.

Lalu ku perhatikan lagi jendela-jendela berdebu, daun pintu berlubang, papan nama toko yang mulai lapuk. Ku lihat lagi kabel-kabel usang yang mulai kendur dan telanjang tak berpenutup. Ku pandang kembali lantainya yang makin hari makin kusam, dinding-dindingnya yang dikhianati zaman, kucing-kucingnya yang tertidur pulas. Tak berubah. Masih sama, selalu sama…

Tak ada ciptaan Tuhan yang paling sering dirutuki sekaligus dipuji-puji selain kenangan masa lalu…

Pasar Atjeh, 19 November 2013 [02:26pm]

Kopi, Bukan Sekadar Air Berwarna Hitam

Saya selalu menyukai semua hal yang berhubungan dengan kakek saya. Dia adalah orang tua yang masih menyisakan sisa-sisa aroma masa muda. Beliau merupakan tipikal orang kelahiran pertengahan abad 20 yang semangatnya meledak-ledak namun antisipatif, penuh loyalitas, dan pandai memanfaatkan semua momentum yang ada. Semua terlihat dari caranya mengeber sepeda motor dengan kencang namun cepat menelisik rasio terjadinya kecelakaan—semangat meledak-ledak namun antisipatif, sikapnya mengasihi keluarga—penuh loyalitas, dan pintar mendaur ulang kayu-kayu bekas pembangunan rumah menjadi semacam kursi furnitur yang cantik—pandai memanfaatkan semua momentum yang ada. Unik bukan?

Masa mudanya dipenuhi dengan kerja keras dan perjuangan. Semua itu berakibat pada meningkatnya wibawa kakek di mata orang-orang yang menghormatinya. Suatu ketika ibu saya pernah bercerita bagaimana dia dan kakak adiknya, yang masih kecil-kecil, diizinkan masuk ke dalam bioskop Langsa hanya karena sang pemilik bioskop sangat menghormati kakek. Katanya, beliau sangat disegani mengingat kakek saya itu merupakan penyuluh pertanian yang hebat. Demi mendengar cerita itu kakek saya tertawa terbahak-bahak, sampai bahunya berguncang-guncang. Tertawa, salah satu kebiasaan masa muda yang masih dipeliharanya hingga kini.

Di lain waktu ibu pernah berkisah tentang pekerjaan sopir yang dilakoni kakek. Dia mengendarai truk 12 ban, membawa ratusan sak semen dari Banda Aceh ke Magelang hanya karena ekonomi keluarga sedang morat-marit sedangkan ibu saya memerlukan biaya untuk penelitian skripsinya. Saya mencari pembenaran atas kisah itu padanya. Dengan enteng dia menjawab, “Rul, tau kue waktu itu dua ban truknya bocor di Pekanbaru..” Lalu beliau tertawa, terbahak-bahak.

Saya dan kakek terlibat dalam sebuah hubungan kakek bercucu yang berbeda dari orang lain. Pengerat ikatan kami bukanlah permainan gendong-menggendong atau uang lebaran seperti kakek-kakek yang lain. Pelengket hubungan kami sangat tidak biasa karena tidak cocok untuk anak-anak. Pentaut hubungan kami adalah dua cangkir kopi Aceh. Kopi Aceh hitam yang pahit.

Langsa City – Paya Bujok Tunong, One Day in June 2003 [06:58am]

Saban pagi minggu jika cuaca teduh, ketika saya masih bocah sekitar kelas 1 MIN, kakek menghidupkan kereta Yamaha hitamnya. Suara kereta itu seperti kambing tersedak. Tapi, kakek sangat bangga pada Yamaha tuanya itu. Sepeda motor itu melambangkan masa-masa mudanya, sebuah supremasi atas kejantanannya.

“Yok Rul, ke keude kupie kita…” teriaknya dari luar pagar. Keude kupie itu tak lain adalah pengucapan orang Aceh atas kedai kopi.

Saya menyambut ajakannya dengan berlari-lari dari dalam rumah. Bagi saya mengopi bersamanya di keude kupie lebih menarik dari deretan film kartun Indosiar saban minggu. Beliau tertawa, terbahak-bahak. Sesampainya disana kakek langsung memesan pesanan yang telah menjadi adat jika kami berdua  pergi ke keude kupie, yaitu dua cangkir kopi Aceh pahit dan sebungkus Dji Sam Soe.

Keude kupi ini sederhana saja. Dindingnya hanya ditopang dengan kayu dan atapnya dibubungi dengan daun rumbia. Sangat tradisional, kata guru mata pelajaran ekonomi. Melihat kami berdua tiba, sang pemilik keude kupie, yang merupakan rekan kakek sesama mantan penyuluh pertanian datang menyambut. Kemudian mereka terlibat dalam sebuah percakapan serius, namun tak jarang ditengahi suara ledak tawa panjang jika yang sedang diperbincangkan itu adalah cerita-cerita masa muda yang penuh kenangan.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan kakek, saya senang mengamati perilaku, adat istiadat dan tata tertib tak tertulis orang-orang yang menghabiskan sebagian harinya di keude kupie ini. Semacam mempelajari budaya sendiri. Maka bolehlah saya disebut sebagai sosiolog termuda Aceh dalam khazanah perkopian.

Saya tergelak. Hari masih pagi perawan tapi seperti pasar ikan, keude kupie ini ribut bukan main…

Orang-orang tua berpeci haji putih duduk bergerombolan di bagian dalam, membincangkan banyak hal. Mulai dari gotong-royong mingguan, memperbaiki talang air meunasah, sampai tentang perkawinan anak orang. Namun yang lebih sering adalah mengejek-ejek pejabat. Maka bagi orang-orang seperti ini, keudeu kupi tak ubahnya ruang rapat berpendingin ruangan. Bedanya hanya terletak pada kaki yang sah-sah saja terangkat ke atas kursi saat mereka mengeluarkan pendapat. Sama sekali tidak dianggap tak sopan. Guru saya pernah menegur salah seorang teman karena mengangkat kaki ke kursi ketika duduk. Beliau membentaknya, “Kamu kira ini warung kopi?!” Nah, apa saya bilang? Dianggap sopannya mengangkat kaki ke atas kursi hanya bisa terjadi di keudeu kupi. Tidak akan terjadi di tempat lain.

Sementara di bagian luar keude, catur menjadi rebutan. Mereka yang bermain catur sama sekali tidak mengenal kata senyap. Mereka merecoki setiap langkah pion yang digerakkan oleh dua temannya yang sedang bertanding. Bersorak-sorak saat para perwira utama terkena tebasan pedang menteri lawan. Lalu tertawa-tawa ketika pion raja kehabisan nafas ditimpa pion kuda. Tapi, ajaibnya, setelah permainan berakhir, mereka menyemangati dan menepuk-nepuk bahu temannya yang kalah lalu memuji-muji rekannya yang menang. Mungkin ini disebabkan karena samanya problema hidup yang mereka hadapi. Nasib pahit yang menelikung mengubah mereka menjadi semacam kelompok egaliter. Mereka berpadu, seperti ada semangat bahu-membahu dan jiwa menolong yang tertanam dalam diri mereka. Catur adalah pengejewantahan hidup mereka. Mereka bisa mengatur permainan sendiri tanpa ada nasib yang mencekik, bersorak-sorak kegirangan saat hidup ditimpa nestapa, dan saling tolong-menolong ketika menjalaninya. Semua hanya bisa mereka dapatkan di dunia hitam putih kotak-kotak itu.

Adapun di bagian tengah hanya ada satu dua pemuda yang duduk membisu sendirian. Ruang tengah ini dikuasai oleh radio berukuran besar yang sering mendendangkan lagu-lagu cinta tahun 90-an. Saat itu belum banyak keude kupie yang dilengkapi dengan tv tabung, sehingga cukuplah radio sebagai hiburan penyeimbang tawa yang berderai di sana. Muka pria-pria muda itu lesu. Seperti ingin menggantung diri sendiri siang nanti. Saat itu saya belum paham, apa yang mendasari terbentuknya wajah-wajah murung seperti itu. Waktu berjalan dan saya tumbuh remaja, akhirnya saya mafhum artinya. Penopang wajah murung itu tak pelak karena masalah asmara. Jika radio mengalunkan lagu-lagu cinta, mereka memejamkan mata, mendengarnya sepenuh jiwa. Tiap lirik diseksamainya. Seakan dia adalah pria paling tidak beruntung di dunia ini. Pria yang dipatahkah harapannya karena dikhianati cinta. Ah, terkadang cinta bisa jadi sangat mengerikan.

Dan jangan pernah mencari anak perempuan yang hilang, istri ataupun nenek-nenek di keude kupie ini. Saya tak pernah melihat mereka menginjakkan kaki di sini. Keude kupie adalah teritorial para lelaki. Kaum hawa tak kan mendapat tempat di sini.

Gelas kopi mulai mendingin karena saya keasyikan mengamati keadaan sosiologis para peminum kopi. Saya mengaduk dasar gelas dengan sebuah sendok kecil. Tujuh adukan. Mengapa tujuh? Karena saya suka angka tujuh. Bagi saya tujuh melambangkan para sahabat Rasul mulia yang paling saya kagumi: Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hasan anak Ali, Abdullah anak Abu Bakar, dan Abdullah anak Umar. Kemudian saya meminumnya seperti orang dewasa, yaitu dengan menyesapnya perlahan. Perlahan saja, menimbulkan suara hirup yang khas. Dan harus terdengar sampai ke seberang jalan. Lalu aroma khas bubuk kopi membumbung tinggi, mengelus-elus bulu hidung. Pahitnya menyentak kerongkongan. Saya sangat menikmatinya. Saya tambahkan tiga sendok teh gula. Nikmatnya makin tak terkatakan. Ah, tiba-tiba saya merasa sangat dewasa.

Kakek saya masih tertawa, terbahak-bahak, dengan rekannya. Kopi miliknya sudah mulai mendingin dan saya memperingatkannya akan hal itu. “Paknek, minum dulu kopinya. Nanti dingin,” Kakek lalu melihat saya sambil menepuk-nepuk pundak dan tentu saja, tertawa.

“Oh, iya iya..” bahunya masih berguncang saat menyeruput air hitam pahit itu. Lalu tertawa kembali selepas pinggiran gelas berpisah dari bibirnya. Kumis putihnya berubah warna menjadi kehitaman terkena air kopi. Pemilik kopi menatap saya lalu bertanya kepada kakek. “Soe aneuk nyoe, Bang Ma’e?” Ismail adalah nama kakek saya. Panggilan akrabnya Bang Ma’e.

“Cuco lon..aneuk si Ita,” jawabnya sembari tertawa. Nah, ‘si Ita’ adalah nama panggilan ibu saya.

“Masya Allah…ka rayeuk lagoe aneuk si Ita nyoe..” godanya seraya mengusap-usap kepala saya. Saya malu tersipu-sipu. Sejak itu saya mafhum bahwa keude kupie juga berfungsi sebagai tempat pamer anak cucu.

Sejak kecil saya sudah diajak kakek berhubungan dan bersentuhan langsung dengan budaya keude kupie. Tempat ini bagi orang-orang semacam mereka, bukanlah sekadar tempat meminum air gula hitam. Di sana merupakan tempat pelarian dari masalah, tempat membahas sebuah mufakat, sampai tempat mengurai benang-benang kenangan tempo dulu. Dan kopi bukan sekadar air pahit berwarna hitam. Air hangatnya mampu meredam emosi yang bergejolak, tiap aroma uapnya menghilangkan setiap kejahatan bagi mereka yang ingin melakukannya, dan dentingan gelasnya semacam simfoni yang memainkan melodi terindah sepanjang masa.

Namun, seperti yang pernah saya katakan, waktu berjalan dan roda kehidupan berputar. Kini jarang saya jumpai keude kupie yang penuh kejadian sosial menarik seperti dahulu. Suara orang duduk bergerombolan yang membincangkan banyak hal dan pantangan mengopi di keudeu kupi bagi perempuan berganti dengan suara muda-mudi bukan mahram yang saling tertawa cekikikan. Teriakan ‘skakmat’ catur berubah irama menjadi teriakan caci maki orang yang sedang menonton bola di TV LCD, bukan sekadar tv tabung ataupun radio butut. Dan romansa putus cinta berubah bentuk menjadi status relationship yang terpampang di akun facebook. Bahkan sekarang bukan hanya kopi hitam pahit yang sediakan, namun sudah bermunculan kopi-kopi lain yang bernama aneh. Cappucino, macchiato, espresso, kopi luwak, mocha dan -yang paling aneh- kopi cantik (?).

Ah, mengingat kopi membuat saya teringat pada kakek. Begitupun sebaliknya, mengingat kakek membuat saya teringat pada kopi hitam pahit yang saban saya pesan jika mengopi bersamanya. Mungkin senarai zaman akan terus berlanjut, namun kenangan akan keude kupie berdindingkan kayu dan kopi Aceh hitam yang disajikan secara tradisional tak akan pernah saya lupakan.

…..

Me: Mungkin memang terlambat, tapi Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6, blogger amatiran yang lagi ke Amerika, jauh dari Aceh…  Yuk menulis tentang Aceh dari tanah asing di sana! | Her in USA: Haha, jahat kali. Tapi emang amatir sih. Iya, Micul… Ntar ana tulis. | Me: Ok! Ngomong-ngomong di sana gak bisa makan mie caluk ya? Her in USAih apa maksudnya ni tanya2 mie caluk -_-

kopi.jpg

The Rain

It’s 11:12 am and raining now so as memories. The fact that I’ve been here -in my campus- for almost six years surprises me. The time runs without any limit. And I want to share to you a little part of it…

hujan

Hujan pertama sejak saya kembali ke tanah ini, akhirnya menjamahi bumi…

Mungkin arus kesibukan tempat ini telah membuat saya lupa bahwa alam terkadang memilah tanah-tanah kering untuk dicandai suatu ketika, dan datang bersama awan-awan kelabu pekat beserta orkestra guntur yang bertalu-talu memainkan nada oktaf feedback tertinggiMungkin ribuan kosakata-kosakata arab yang wajib saya hafal saban minggunya membuat kepala saya tidak mampu merasakan lelah, atau lebih tepatnya tidak boleh merasakan lelah. 

Kemudian hujan bertandang melunturkan itu semua. Menyadarkan saya dalam berbagai cara bahwa kehidupan juga butuh sebuah tombol pause, menghentikan sejenak permainan anak-anak manusia. Menghadirkan cerita kalis di tengah drama satir perjalanan. Membiarkan sejenak telinga-telinga cendawan untuk tumbuh mengikuti irama angin. Dari beberapa alasan sentimentil, saya menyukai rintikan air dari langit ini…

Hujan lalu menziarahi tanah ini dengan membawa berbagai ‘pertama kalinya’. 

Untuk pertama kalinya dalam bulan ini, saya harus membiarkan baju-baju kotor menumpuk di sudut kamar. Menunggu hujan reda hingga matahari bersedia untuk menerpa sinar hangatnya pada cucian saya. Untuk pertama kalinya, saya terlambat mengikuti beberapa pelajaran karena rona abu langit tak sejalan dengan gerak detik jam tangan saya. Untuk pertama kalinya saya terpaksa meninggalkan shalat Ashar berjamaah karena hujan berbaris menghalangi.

***

Hujan sudah hampir seminggu membasahi ranah. Tapi siang ini sepertinya dia mulai mempersilahkan kami menikmati hasil perbuatannya. Beberapa genangan air terbentuk bertali dua dengan “jebakan” lumpur-lumpur yang tidak terlihat oleh retina.

“Yakhriq bait!” salah seorang teman mengumpat. Kakinya berlepotan terkena tanah lembek berlumpur. Saya dan beberapa teman tertawa mengejek. Ahh… kadang ditengah keseriusan mengumpulkan ilmu, ada celah-celah sempit yang memang disiapkan Tuhan untuk menguburnya sejenak.

“Unzur akh! Bada’at syajaral muzharah!” Kali ini teman saya yang lain sontak kegirangan. Telunjuknya mengarah pada sebatang kasia emas yang mulai kuning berbunga di depan komplek sekolah ini. Saya tercengang melihatnya. Padahal baru beberapa hari yang lalu panasnya kota ini meretakkan beberapa tanah yang tersisih air. Tapi lihat sekarang, sepenuh batangnya dikelilingi kelopak-kelopak kecil yang terkadang berdesau digasak angin. Miracle!

***

Pun begitu, alih-alih mengungkung ruang gerak, hujan justru memberi kita sedikit waktu untuk berlepas lelah. Menyediakan kita seruang tempat untuk berbagi tawa bersama teman di kamar masing-masing. Air ini sedikit banyak membuat saya malu kepada diri yang terlalu terpaku pada kekakuan dogma. Terlalu patuh pada dentuman realita yang kadang tak perduli pada orang-orang yang terlalu lemah untuk berdaya.  Kadang hujan juga membuka mata saya bahwa bagaimanapun kita, sebagai sesosok kiyan perlu sebuah jeda.

Setelah tamparan hidup satu persatu kita elaki, mungkin hujan lah tempat kita membangun ulang semangat menapaki…

Darul Ulum Islamic College, 1 Sept 2013 [15:25:16]