Menyela Tangis

bede1e3cfa2911e28c1022000a9e08e0_7Geraham belakang saya tumbuh dengan sangat kurang ajar saat itu. Tak ada permisi, tak ada basa-basi. Gusi yang terus-menerus berdarah akibat robek oleh laju pertumbuhan gigi itu memaksa saya bertandang ke tempat praktik seorang dentist.

Saya menunggu dengan sabar sembari memegang pipi. Antrian agak sedikit panjang hari itu. Seorang anak menangis menjerit di pelukan ibunya yang duduk tepat di sebelah saya.

“Takut diperiksa dia” jelas si ibu pada saya, meskipun saya tak bertanya. Saya pun menunjukkan raut simpati dengan sebusur kecil senyum. Ingin rasanya saya berikan sebungkus gula-gula pada anak itu, agar berhenti menangis, tapi mengingat kami sedang berada di ruang tunggu dokter gigi ide bodoh itu dengan segera saya buang dari pikiran.

Tangisnya belum juga mereda, bahkan mengeras. Sang ibu berulang-kali mengencangkan ikat kain penggendong. Bagaimana mungkin dia bisa diperiksa jika tangisannya masih juga membuncah? Saya hanya bisa menyimpul, tangisan mungkin satu-satunya bahasa perlawanan yang bisa ia ucapkan saat pembendaharaan kata masih menjadi pusaran misteri baginya, sebuah isyarat bahwa kata “dokter” telah masuk dalam daftar gelap miliknya.

“Hari yang buruk bagi sang dokter…” saya membatin.

Tapi ternyata, tentu saja, saya salah.

Saat namanya dipanggil, sang dokter membawakannya sebuah balon: sebuah glove yang telah dipompakan udara ke dalamnya, mengikatnya pada sebuah sedotan plastik lalu memberikannya pada anak itu.

“Adek jangan nangis lagi, ini Bapak kasih balon buat adek yang mau diperiksa giginya…” ucap dokter menyimpul senyum.

Sang anak mengambil balon itu dengan kedua belah tangannya, dan perlahan tangisnya mereda…

picture is a courtessy of Médecins Sans Frontiéres

 

Advertisements

Bertaut, Untuk Guru-guru Saya dan Karib Saya yang Lain

Yogyakarta, 28th January 2015 [02:16pm]

Entah berapa kali pagi mengucap selamat datang dan kami selalu bertukar gurau tentang hal yang sama.

Tentang guru-guru kami yang tak kunjung menikah atau guru ini yang sedang dekat dengan seseorang itu. Terkadang kami memutar Baraka Allah milik Maher Zain dan (lagi-lagi) bercanda tentang hubungan asmara guru-guru kami, yang sudah kami anggap layaknya ayah, abang dan kakak kami sendiri. Beberapa karib iseng membuat diagram-diagram acak hubungan antara guru ini dengan seseorang itu, tingkat kecakapan, level kecocokan, kemudian memaripurnakan postulat bahwa guru ini tidak cocok dengan seseorang yang itu, walaupun sudah terlalu banyak angka jelek di rapor mata pelajaran berhitung kami. Dan kami hanya mampu menyimpul senyum atau sesekali membuncahkan tawa. Tapi selalu juga, setangkup doa untuk mereka.

Beberapa kali saya berpikir, jika urusan belah-belahan jiwa ini ada di tanganNya, saya yakin jarak yang memisahkan keduanya tak akan berjauhan. Mungkin letak jalan hidup mereka sedang berada dalam posisi paralel, berjalan berdampingan tanpa pernah tahu takdir ke depan, sementara persimpangan sedang menunggu mereka di tempat terindah yang akan mereka datangi.

Lalu perlahan, musim dan bulan berganti berjalan. Dan satu-satu dari mereka akhirnya melabuhkan hati pada seseorang. Seseorang yang bayangannya pun sebenarnya telah “terlihat” di tiap saat guru-guru saya berjalan.

Ah, saya salah mengira! Ternyata taut hidup mereka bukan seperti jalan yang paralel, tapi layaknya gulungan benang yang acak-acakan sementara kedua ujungnya sedang menunggu untuk dipersatukan. Tidak bersimpang, keduanya bertaut dari asal yang sama.

Mereka, dekat. :)

Sepanjang tahun 2014 yang lalu, silih berganti guru-guru saya mengikat janji dengan masing-masing ‘seseorang’ mereka. Sayang sekali sebagian besar pernikahan tidak sempat saya hadiri, untuk sekedar mendengar ijab qabul dan meleburkan kebahagiaan. Tapi setidaknya di tiap mention ataupun tag yang guru-guru saya sertakan di akun ranah maya, senantiasa saya berdoa agar Allah berkenan melayangkan selembar berkah di tiap remah langkah perjalanan hidup mereka.

Semoga saja suatu waktu kelak, saat rumah memanggil pulang, kita semua bisa berkumpul. Saya dan teman-teman lainnya di serambi rumah beliau semua, untuk berbagi cerita dengan secangkir rasa rindu yang berlarut-larut.

Dan semoga saja sewaktu momen itu tiba, saya dan karib saya yang lainnya sudah punya beberapa orang murid dari guru-guru kami sendiri. :)

We ask Allah to make your love last forever. Selamat melangkah ke halaman baru kalian masing-masing!

BaarakumuLlahu lakum wa ‘alaykum wa jama’a baynakum fi khayr…