Masjid India: Melinearkan Perbedaan!

Pernahkah terlintas dalam benak, mengapa kita diciptakan berbeda?

Saya tidak tahu apakah kalian telah begitu seringnya mendengar gaung pariwisata Malaysia yang berjargon “Truly Asia”. ‘Asia sebenarnya’ menjadi dua buah kata yang berpondasi pada kenyataan kultur keseharian mereka: tiga bangsa peranakan terbesar [Melayu, Tamil, dan Tionghoa] hidup berdampingan dengan hak-hak yang berlinear. Negara Malaysia yang berada di lokasi strategis bagi aktivitas perlayaran menjadi sebuah rendezvous, tempat yang banyak disinggahi oleh para pedagang Gujarat, Tionghoa, dan [tentu saja] Melayu. Layaknya lampu terang yang disesaki laron, Negeri Malaya ini berubah menjadi dermaga yang sibuk. Satu persatu wajah-wajah baru yang datang dari tanah lampau jauh di seberang lautan membawa harapan untuk mengubah kehidupan.Kondisi geografis yang berdekatan dengan Tionghoa di sebelah utara dan India di sebelah barat membuat akumulasi keragaman semakin meningkat. Dan saat perniagaan telah selesai tergelar, layar demi layar pun kembali terkembang menuju kampung halaman meninggalkan mereka yang memilih untuk bertahan.

Sejarah Malaysia juga tak bisa bersembunyi dari penjajahan yang dilakukan oleh Koloni Inggris. Pemukiman Koloni ini dibentuk pada tahun 1826 dan sedikit-demi sedikit menyebarkan pengaruhnya ke tiap-tiap kerajaan kecil yang telah berdiri di sepanjang semenanjung sampai akhirnya setiap kerajaan serta negeri-negeri kecil  itu bersatu membentuk Malaysia, persekutuan Malaya, pada September ’64.

***

Dalam hukum alam yang saling berkebalikan, setiap atom kecil mempunyai pasangan yang berlawanan…

Pernah saya berjalan pada suatu sore di kawasan Jalan Masjid India menikmati pergumulan hidup manusianya. Saya melangkah senyap, melintasi kerumunan orang bergerak tergesa-gesa menyeksamai pakaian jadi, alat elektronik, dan perlengkapan ibadah, dilatari julangan Menara KL yang menguasai langit Kuala Lumpur. Deretan toko berjejer di sepanjang jalan raya yang membelah pertokoan ini menjadi dua bagian, layaknya barisan tamtama yang serasi namun dengan warna-warni lampu neon yang meriah. Para pedagang menawarkan barang-barang saat kami melewati depan toko mereka, yang hanya bisa saya balas dengan sebusur senyuman atau sepatah kata ‘maaf’.

Izinkan saya bertanya terlalu dini untuk hal yang sering tak terduga jawabannya; mengapa kita diciptakan berbeda? Continue reading

Day One: The Last Refrain

Kuala Lumpur International Airport, 24th April 2014 [02:23pm]

Saya tak sadar tertidur kurang lebih beberapa menit sebelum mendarat. Setelah menghabiskan setangkup nasi lemak yang disediakan oleh awak kabin dan menikmati pigura langit yang menawan, kantuk semakin tak tertahankan rasanya…

Saya terbangun oleh guncangan badan pesawat akibat proses landing. Bunyi angin menderu-deru terdengar dari luar, menghadang laju pesawat yang semakin lamban akibat gesekan udara. Saya yang mendapat jatah duduk di seat nomor 2 dapat melihat dengan cukup jelas bagaimana para pramugari melaksanakan proses persiapan bagi penumpang untuk turun dari pesawat.

Suara seorang wanita terdengar mendayu-dayu dalam bahasa Inggris mengabarkan segala hal, tentang informasi bandara dan daerah, tentang rangkaian proses mengambil bagasi dan sebagainya. Sebuah hal yang saya yakini telah dilatih ―sambil membunyikan nada oktaf naik turun secara rutin― selama berbulan-bulan. Tapi bagaimanapun itu, saya menikmati tiap lekukan aksen Inggrisnya yang mencermikan karakteristik tutur kaum Malayu; mengakhiri bunyi setiap kata benda dengan pengucapan ‘e’. Saya membuka note handphone dan menulis di kolom Bucket List, “Mendengar dialek Inggris yang berbeda-beda: 1. Dialek Melayu: checked!”

Pesawat masih terus berjalan pelan. Area Bandara yang sangat luas membuat pilot harus membawa pesawat berjalan cukup jauh. Bunyi ban yang bergemerutuk beradu dengan aspal runaway terdengar cukup jelas dari kabin. Saya bisa merasakan getarannya dan juga mendengar duara mesin yang berdesing di bagian tengah pesawat.

Di saat sebagian teman saya terganggu dengan suara bising itu dan juga besarnya waktu yang melebar saat mencari tempat parkir, saya justru menikmatinya. Bagi saya perjalanan ini bukan sekadar menikmati sebuah destinasi sebagai setitik objek tapi juga dalam proses perjalanan itu sendiri, dalam berjalan menuju perjalanan itu. Menjadikan perjalanan sebagai sebuah cerita yang asyik diceritakan saat awalnya dan patut dikenang ketika akhirnya tiba. Sebuah seni, saya menyebutnya.

Dalam rentang waktu menunggu pilot melajukan pesawat menuju tempat parkir, sebuah bunyi kresek tiba-tiba bersuara, menyentuh saraf-saraf pendengaran kami.

“Penumpang yang terhormat…” suara seorang pria terdengar jelas. “Pada tahun 2014, maskapai penerbangan ini kembali meraih penghargaan sebagai maskapai dengan pelayanan terbaik. Dengan demikian kami telah berturut-turut mendapatkannya dalam 5 tahun berturut-turut. Terima kasih kami ucapkan atas pilihan anda menggunakan jasa maskapai ini,”

Reflek saya melihat ke arah beberapa teman. Mimik wajah mereka menampilkan raut, yang sepertinya, sama dengan saya, bingung. Lalu terdengar sedikit riuh di bagian belakang pesawat sana. Ada apa?

Continue reading

The Beginning: Simpul Di Atas Awan

Saya dan kita semua senantiasa terkesan dengan masa kanak.

Sewaktu saya kecil, kata luar negeri punya makna yang jauh melampaui pemikiran. Saya berpikir betapa jauhnya luar negeri, melewati batas antar planet, melintasi kabut-kabut nebula yang telah saya kagumi sejak baru bisa membaca. Dari buku-buku yang saya baca, luar negeri menggambarkan kata perbedaan, saat kita bertemu dengan rupa manusia yang berbeda-beda maka betapa hebatnya tanah di luar sana!

Kemudian hari saat bencana tsunami menghantam, ayah saya diminta bergabung dengan salah satu badan rehabilitasi bencana dan sering meninggalkan kami bepergian ke berbagai kota di Indonesia. Saat dia pulang, kami diceritakan tentang hebatnya kota-kota itu. Bahwa letaknya jauh meloncati beberapa kepulauan, dengan makanan yang berbeda rasanya, irama azan yang unik dan dengan bahasa yang berlainan. Sembari membagikan oleh-oleh ayah mengabarkan tentang kota tersebut. Saat ayah bercerita, saya menangkap rasa rindu yang begitu menyeruak pada kehidupan kota di sana. Dan saat itu pula keinginan saya untuk pergi ke sana tumbuh berkecambah. Di tiap kisah yang ayah tuturkan, saya selalu menyelipkan sekeping doa berharap semoga saja tapak saya juga akan menjejas tiap langkah yang ayah susuri di kota-kota itu.

Dan ya, Tuhan cukup senang dengan kata kejutan.

Beberapa tahun setelahnya, untuk pertama kalinya saya duduk di bangku pesawat dan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta untuk mengikuti sebuah perhelatan. Jakarta telah saya injak. Setahun berselang, Saya menghirup aroma tanah Batam dalam balutan hutan perkemahan pramuka. Beberapa bulan kemudian saya akhirnya menikmati rasanya menaiki angkutan umum bentor di hiruk pikuk Gorontalo.

Untuk sesaat saya mengucap kebesaran Tuhan.

Lalu kemudian, saat melihat samar bayangan bangunan Marina Bay Hotel dari pantai Batam, saya berdoa sedikit nakal: Mungkin saja Malaysia atau Singapura menjadi negeri pertama yang akan saya tapaki dengan genggaman passport! Tahun berganti, dan Tuhan ternyata mendengar doa saya namun dengan sedikit hadiah yang berbeda…

***

 Banda Aceh — Kuala Lumpur, 23 April 2014 [12:53pm]

Saya baru saja menghabiskan setangkup nasi lemak yang disediakan awak kabin pesawat, salah satu nasi terlezat yang pernah saya nikmati. Di dalam pesawat. Di atas awan. Dua orang karib di sebelah kanan saya tengah memutar playlist di smartphone dan berbagi kabel earphone bersama. Saya melihat ke barisan kabin yang memanjang ke belakang. Banyak teman saya yang terlelap dan mengapitkan kedua lengan di antara ketiak mereka, tidak sedikit pula yang memilih untuk membuka lembaran inflight magazine. Beberapa mencoba untuk menghilangkan mual dengan berbincang dengan karib di sebelahnya.
Continue reading

The Old Friend

baiturahman.jpg

Jika Banda Aceh menjelma menjadi sebuah sistem konstelasi, maka saya tak kan ragu untuk menyebut Masjid Baiturrahman sebagai pusatnya. Sedangkan gedung pemerintahan, bangunan-bangunan, dan orang-orang yang bermukim di kota Banda tak lebih dari asteroid-asteroid dan kepulan kabut penganggu yang mengitarinya. Tak penting. Karena di sanalah, di tengah himpitan gegap gempita kehidupan ibukota, beragam wajah mewarnai semburat kemegahan Baiturrahman dan ribuan kaki menjejaki tiap jengkal tempatnya berdiri…

Baiturrahman Grand Mosque — Banda Aceh, 1 December 2013 [06:09pm]

Ahh, perasaan seperti ini selalu saja memeluk saya di detik-detik terakhir malam minggu pertama tiap bulan. Minggu awal tiap bulan merupakan hari libur yang mengizinkan kami untuk beranjak keluar dari dayah sebentar. Untuk sekedar melepas penat dan mengisi kembali semangat yang hampir berantakan. Malam rasanya terlalu lama menjauh untuk hari yang ‘suci’ itu.

Tetesan air wudu belum juga mengering selepas salat subuh. Venus masih berkerling di ujung langit dan cicitan burung belum terdengar dari puncak-puncak kasia yang memagari pekarangan dayah. Tapi adrenalin saya sudah mulai berpacu melawan dingin yang menghentak. Pagi ini saya mengajak diri saya sendiri untuk mengisi hari yang berbahagia ini dengan mengunjungi salah satu landmark kota. Masjid Baiturrahman. Continue reading

Half Page of The Strangers

Banda Aceh City – Darussalam, 24 November 2013 [10:12am]

Setelah hampir sebulan belajar keras di dayah, hari ini -akhirnya- libur tiba! Dayah tempat saya belajar itu seperti tidak mengenal dikotomi waktu. Malam dan siang tak ada bedanya. Buku dan kitab terus kami daras selama tubuh masih kuat untuk belajar dan mata masih mampu untuk tetap terbuka. Bahkan tak jarang kami terang-terangan menantang bulan untuk tetap terjaga hingga larut malam. Sehingga remeh-remeh hal seperti internet tak mendapat tempat di tiap kegiatan. Dan kesempatan untuk merayakan kebebasan sepanjang hari ini saya mulai dengan menyapa jurnal kehidupan saya ini.

Seharusnya saya mulai menjelajahi akun-akun yang tersebar di tiap sudut dunia maya sekarang. Membuka blog dan membaca postingan beberapa teman. Namun, sebaris aksara bertuliskan, “Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6”, mengejutkan saya. Sebagai seorang blogger Tanah Rencong sudah sepatutnya saya bergembira. Saya tergoda untuk meneruskan dan membiarkan bit-bit metadata itu bekerja hingga kursor berhenti di sebuah postingan berisi ajakan, “Yuk menulis tentang Aceh”.

Saya tertarik.

Dan di sini, biarlah halaman sederhana ini menunjukkan bagaimana hidup menawarkan sisi-sisi terindah untuk menjadi seorang keturunan daerah Iskandar Muda ini…

Seseorang yang pertama kali berucap, “the strangers you meet on the way will leave you a memory that will linger forever” adalah shahih adanya. Saya pun demikian. Orang-orang asing yang saya temui di tiga kota besar Indonesia nanti adalah bagian dari senarai hidup tak terlupakan. Tak pernah terbersit dalam angan akan bersua, namun mereka menyadarkan saya akan jiwa Aceh yang bersemayam di badan sampai khatam usia. Mereka menunjukkan saya, betapa indahnya menjadi seorang Aceh. Namun, secara tak sadar membuat saya malu kepada diri sendiri karena minim pengetahuan sejarah tanah ini.

Jakarta City – Pondok Gede, 20 July 2011 [07:32pm]

Kembali ke awal malam saat itu selepas Isya, bulan masih belum tampak. Rombongan kontingen kami sedang menikmati makan malam yang disuguhkan panitia perlombaan. Perlombaan apa? Ah, perlukah saya sebut? Saya rasa tidak perlu. Biarlah ia menjadi rahasia saya dan Tuhan Yang Mahatahu.

Hidangannya tidak terlalu menjanjikan. Nasinya kering. Lidah saya yang terbiasa dengan nasi berkuah menyuarakan kata tidak sepakat. Dia memberontak. Memaksa saya untuk mencari makanan lain yang lebih bisa diterima papila-papila kecil lidah. Kemudian saya berjalan keluar dari komplek pemondokan. Melihat-lihat para penjaja makanan yang berjualan di sekitarnya. Dari kaca-kaca gerobak tertulis nama-nama makanan asing. Mpek-mpek, tahu tek-tek, telor gulung. Tidak ada yang menerbitkan selera.

Saya terus berjalan, sampai telinga menangkap sebuah suara percakapan berbahasa Aceh. Menimbulkan semacam sensasi asing yang tidak pernah terasa selama kaki menginjak Serambi Mekah. Dan kontan saya bersorak dalam hati ketika tahu bahwa suara itu berasal dari sebuah warung mie Aceh!

Di depan warung yang tak bernama itu, seorang pria tua tambun dengan kumis putih melintang di bawah hidung peseknya, cekatan menuang kecap dan sayuran ke dalam wajan besar berisi mie kuning yang telah berubah warna karena bercampur dengan bumbu merah khas. Aroma pedas-pedas gurih menguap dan seketika lidah mengucap kata sepakat. Dengan ragu saya dekati bapak itu dan menyapanya dalam bahasa Aceh.

“Assalamualaikum, kiban haba? Pak…” saya menunjuk-nunjuk beliau. Dia tampak terkejut disapa dalam bahasa Aceh, serta merta sumringah menyambut tangan saya. “Geut, geut.. Ureung Aceh? Oh, neuhoi  mantoeng lon Pak Abu.” Tangan saya digoncang-goncangnya. Ah, menyenangkan sekali menemukan penutur Aceh di tanah asing. Pak Abu menyuruh saya duduk, menyiapkan mie yang memang sudah masak, lalu duduk di samping saya. Kemudian ceritapun mengalir di antara kami.

Dia adalah pencinta mie dan ternyata beliau bukanlah orang Aceh asli. Pak Abu sunda tulen. Maka ‘Abu’ hanyalah sebuah nama panggilan. Istrinya lah yang mengubah tutur kata dan logat bicara beliau, dari dialek sunda menjadi aksen Aceh, karena dia adalah orang Sigli. Dia pun bercerita bahwa sudah belasan tahun membawa istri ke kampung halamannya dan mengajarinya cara memasak mie Aceh. Dan tentu saja saya langsung mafhum bahwa yang menguatkan ikatan pernikahan mereka adalah tepung giling yang dibentuk  menjadi seperti tali: mie.

Saya terkagum bagaimana makanan yang terkadang dibuat sambil lalu itu mampu menyatukan sekaligus mengeratkan cinta dari dua ranah berbeda. Bahasa dan istiadat tak jadi soal. Karena semuanya luluh dalam seporsi makanan bernama mie. Terlebih membanggakan karena mie itu adalah mie Aceh.

Cerita beliau meredam pemberontakan lidah saya akan makanan dan gelak tawa Pak Abu melengkapi hubungan kami yang baru saja tercipta. Penutup malam yang sempurna!

mieaceh.jpg

Batam City – Kabil, 7 July 2012 [08:02pm]

Pada malam terakhir Perkemahan Pramuka Santri Nusantara, panitia menjadwalkan acara yang paling dinanti oleh peserta. Sebuah acara yang luar biasa. Acara ini merefleksikan kekuatan budaya Indonesia sebagai hal yang paling dibanggakan dan paling menggetarkan. Semuanya tergambar dari sebaris perkataan yang menjadi slogan republik ini, Bhinneka Tunggal Ika. Acara ini tertulis di buku agenda peserta dengan judul, Pentas Kesenian Nusantara.

Dan tentu saja kami langsung paham bahwa marwah Aceh tertulis di lekuk-lekuk tubuh kami. Bahkan sampai ditempelkan di lengan baju kami. Sebuah gambar daun sirih dan sepasang rencong, lambang Gerakan Pramuka Aceh. Maka kami tidak boleh menjatuhkan martabatnya. Namun janganlah risau karena sebenarnya sejak awal langkah kami telah menyiapkan salah satu kesenian yang paling dibanggakan penduduk Aceh. Mulai dari para seniman, mereka yang mengaku-aku sebagai penikmat seni sampai sopir labi-labi dan para pejabat yang budiman, pasti menyukai penampilan kami ini: Tari Rapai!

Tidak main-main. Kami menyiapkan sekitar 10 buah rapai lengkap dengan seragam dan ikat kepala yang kerap membuat saya pusing. Setiap hari, setelah semua acara harian selesai, sejak hari pertama di bumi perkemahan kami rajin latihan. Tak jarang kami menari kesetanan. Sampai menarik perhatian kontingen lain. Hingga akhirnya tiba pada malam penampilan. Nomor undian menakdirkan kami untuk menabuh rapai setelah tari bertopeng asal daerah Bali. Ini berarti kami akan tampil pada urutan kedua terakhir. Giliran tampil yang masih lama ini kami gunakan untuk menonton semua penampilan daerah lain.

Kami berbaur dengan peserta lain. Saya sedang berebut mengambil posisi dengan seseorang tidak jauh dari panggung saat seorang lelaki dengan cat hitam menutupi seluruh wajah dan badannya menghampiri saya. Mengingatkan saya akan refleksi karakter hantu geunteut yang sering digembar-gemborkan orang tua agar kami, para anak kecil, pulang ke rumah saat maghrib tiba.

“Joko asli Suroboyo…” ujarnya memperkenalkan diri sambil tangannya membentuk sikap akan menjabat. Saya menyambutnya, “Ya, saya Amir..”

“Dari Aceh ya?” Saya mengangguk. Matanya melirik-lirik rapai yang sedang saya peluk. “Itu apa?” tanyanya. “Oh, ini rapai. Seperti gendang tapi suaranya lebih keras.” Saya menabuh rapai dengan bangga. Semacam memamerkan. “Khas dari Aceh..” saya menambahkan. Joko mengangguk-angguk kemudian bertanya,

“Kenapa namanya rapai?”

Saya terkejut. Seperti mendengar suara petir yang menyambar-nyambar nun jauh di ujung horizon. Saya gelagapan dan akhirnya menjawab lesu, “Saya tidak tahu ya, Joko…” Memang sepertinya orang Surabaya sopan-sopan dan baik karena demi melihat perubahan air muka saya, dia langsung mengubah arah pembicaraan. Kemudian perbincangan kami berlanjut ke arah-arah yang menarik dan tak terduga. Kami puas tertawa malam itu. Namun pertanyaan Joko terus mengiang-ngiang di kepala saya.

Pertanyaan Joko menyadarkan saya dari euforia kebanggaan. Saya sama sekali tidak tahu asal-usul nama gendang Aceh itu. Saya pun yakin, teman-teman yang lain juga tidak mengetahuinya. Dan seketika saya dirundung malu yang tak terkira. Mungkin memang benar tiap orang punya hak untuk membanggakan budayanya. Namun bukankah itu menjadi sebuah kejanggalan karena di saat yang sama dia sama sekali tidak tahu menahu soal asal-usul budayanya itu?

rapai.jpg

Gorontalo City – The Downtown Stadium, 27 June 2013 [04:22pm]

Kali ini takdir menggiring saya ke Gorontalo dalam kerangka perlombaan olahraga dan seni antar pesantren Indonesia. Perlombaan ini sebenarnya biasa saja. Tak ada kata meriah di sana. Jika pun ada banyak orang berteriak semarak tak karuan seperti orang kesurupan menyemangati temannya yang sedang berlomba, maka hampir bisa dipastikan bahwa pertandingan yang sedang berlangsung adalah lomba lari.

Lomba lari diadakan di sebuah stadion pusat kota yang dikelilingi oleh realita-realita miris kehidupan. Pengemis, orang mengumpat-umpat di sebuah emperan toko, dan tukang bentor [kendaraan penumpang khas] yang saling berebut langganan. Namun semua drama satir tadi dibungkus dengan pemandangan alamnya yang indah. Bentangan gunung berkabut sambung-menyambung berpadu dengan persawahan hijau bak permadani. Sampai-sampai saya berpikir, terkadang Tuhan begitu nakal karena menyandingkan keindahan dengan kebobrokan.

Saat itu pelari asal Jawa Timur sedang bersaing ketat dengan pelari asal Sumatera Utara. Seorang pria yang memakai topi rajutan menghampiri saya. Saya pun kemudian mengamati topi rajutan yang melekat di kepalanya. Rajutannya bukan terbuat dari kain melainkan dari kulit kayu kecil-kecil. Warnanya coklat, seperti rotan yang sering dilibas oleh Teungku Tie ke betis jika saya terlambat pergi mengaji ke meunasah.

“Peci Gorontalo nya Mas.. Tiga puluh ribuan saja” tawarnya dengan jejak aksen bernada tinggi di tiap akhir kata. Khas dialek orang timur Indonesia. Saya senang mendengarnya, sangat nasionalis. Ternyata topi rajutan itu tak lain adalah pecinya orang Gorontalo dan pria ini adalah penjualnya. Saya teringat ayah dan paknek di rumah. Sebuah oleh-oleh yang menarik. “Bungkus dua ya, Mas..” Saya membelinya. Dia tersenyum dan dengan cekatan mengemasnya dalam lembaran koran lalu menyerahkannya kepada saya. Uang saya berikan dan dia berujar terima kasih.

Kubu pendukung Jawa Timur bersorak girang gegap gempita karena pelarinya menang, sedang kubu Sumatera Utara terlihat mendengus-dengus kesal karena pelarinya tertinggal di belakang. 

Kemudian penjual itu duduk di samping saya. Mengkipas-kipasi tubuhnya yang berkeringat dengan semacam kain lap. “Aslinya mana, Mas?” Dia bertanya kepada saya. Kali ini jejak aksen bernada tingginya berbunyi di bagian tengah kalimat. “Dari Aceh…” Saya mencoba menjawab seramah mungkin dan tersenyum. Mencoba bersikap bersahabat. Bukan apa, Dia seorang pribumi, saya harus menjaga sikap. “Wah, dari Aceh rupanya!” dia sumringah. Kali ini aksen berbunyi kembali di bagian akhir. “Saya dengar disana punya pantai indah-indah…” Saya mengangguk mengiyakan seperti ayam mematuk batu. Hati saya girang bukan kepalang karena Aceh saya disebut, indah.

“Hm..tapi saya sering pikir punya pertanyaan.” katanya dengan raut serius.

Pertanyaan? Pertanyaan apa?

“Mana indah saya punya daerah atau punya Mas?”

Saya terdiam. Tak menduga akan ditabrak pertanyaan seperti itu di tanah asing. Oleh orang asing pula. Lalu saya mengedarkan pandangan pada siluet gunung-gunung tertutup kabut nun di pinggir kota. Saya teringat persawahan hijau yang membentang bak permadani ketika melewati jalan protokolnya. Hal yang sama seperti itu terakhir saya lihat ketika pulang kampung ke Lhokseumawe melalui jalan antar provinsi Banda Aceh-Medan. Saya coba membandingkan. Ah, sulit. Terlalu sulit. Dan untuk pertama kalinya saya menyadari keindahan Aceh dalam sudut pandang yang sulit dilukiskan.

“Tidak tahu saya, Mas.” Saya mengambil dua tarikan nafas, “Alam aceh sudah tergambar di bawah alam sadar saya sejak lahir dan saat ini untuk menafikan keindahannya tidaklah mungkin karena saya sangat mencintai tanah lahir saya itu. Namun mengingkari keindahan kota ini juga tidak bisa. Gorontalo ini indah sekali.”

Dia tersenyum senang dan berdecak-decak sendiri. “Gimana kalau sama-sama indah?” tawarnya tiba-tiba. Saya membalas,”Jadi seri ini ceritanya ni, Mas?” Dia tertawa. Saya tergelak. Dan sepertinya kami telah menemukan kesimpulan yang memuaskan!

gorontalo

Andai Andrea Hirata benar, maka di sana, di tiga kota itu saya menemukan kepingan hidup. Kepingan yang tidak biasa karena dia melengkapi penglihatan saya akan Aceh, tanah kerinduan saya, tanah kelahiran saya. Tiga kepingan itu mengejewantah dalam tiga sosok asing yang sama sekali tidak pernah saya temui. Namun mereka seperti angin bagi para pelaut, yang menunjukkan bagaimana caranya berlayar. Menyinggung titik buta, mengubah haluan kehidupan.

Dibuatnya saya paham tentang fungsi lain dari seporsi mie Aceh. Dibuatnya muka saya merah padam menanggung malu karena tidak tahu sejarah budaya sendiri. Dibuatnya saya merasakan kebanggaan akan alam Aceh dalam cermin yang berbeda. Mereka adalah simpang perberhentian saya. Menunjuki ulang cara saya menjiwai daerah sendiri. Mereka menghiasi perjalanan saya, dan melengkapinya.

Untuk itu saya mengucapkan terima kasih yang tak terkira pada mereka…

…..

Mungkin memang benar kata para pejalan. Terlebih bagi mereka yang menunjuki jalan pulang, saat lintasan perjalanan dilewati dengan orang yang tepat, maka percayalah tak ada masa yang tak indah!

Salam!

*all photo belongs and taken by me, except gorontalo view. It taken by Ustad Alfirdaus

Lhok Mee

Apa yang membuat saya selalu memikirkan liburan sembari berangan kosong agar Tuhan mempercepat setiap hitungan hari menuju nya?

[Darul Ulum Islamic College, 29 May 2009 13:23 PM]

Jika saat ini adalah tujuh sembilan tahun yang lalu, saat tiap kali orang bertanya dimana saya saat liburan menyapa, sontak saya menjawab: “akan membilang uang demi satu dua jam bermain playstation di sebuah rental terdekat”. Sebuah ironi sebetulnya karena teman disebelah rumah pun punya permainan digital itu. Tapi mau dikata apa? Dunia anak kecil adalah dunia tanpa rasa takut akan sebuah penyia-nyiaan. Seluruh komposisinya adalah permainan yang tak berujung dan tak berkesudahaan. Namun semua permainan itu luntur sejak saya meninggalkan kampung halaman dan memutuskan untuk belajar di sebuah pondok tengah kota.

Saat itu semua sudah bersiap dengan backpack masing-masing. Setelah semua kertas-kertas yang dihamburkan setelah ujian, akhirnya tiba lah hari yang paling ditunggu-tunggu orang seantero negeri: liburan. Kami semua akan menjamahi bumi Lhok Mee. Salah satu pantai termasyhur di antara orang kota. Saya menjalani tanpa minat. Bagi saya liburan tak ubahnya menyimpul karet demi karet dalam permainan tali yang saban saya mainkan bersama kawan dekat. Membosankan, alih-alih menyenangkan. Menghabiskan waktu.

Setidaknya sampai saat itu tiba saya belum tahu kalau alam sedang dan akan mengejutkan saya dengan rahasia-rahasianya…

Delapan bus Damri biru berukuran sedang pun berjalan. Setelah merayap seperti semut di antara himpitan kendaraan ibukota, bus akhirnya melaju mengangkasa menebas Jalan Krueng Raya. Sepanjang perjalanan lajur kiri dan kanan dipenuhi dengan beragam hamparan pembunuh bosan. Bentangan Krueng Cut, penopang kehidupan para pengumpul kerang inilah yang pertama kali memanjakan mata. Kemilau cahaya matahari mendung bergerak-gerak dipermainkan riak air. Selanjutnya bebungaan liar menyapu keseluruhan mata angin.

DSCF1181

Selang beberapa menit kemudian, rimbunnya Hutan Manggrove menyambut kita. Setelah Tsunami, reboisasi Manggrove sangat digalakkan. Sejumlah pantai, khususnya yang terkena dampak langsung Tsunami banyak ditanami tumbuhan yang satu ini. Beberapa diantaranya tumbuh dengan begitu subur, namun sebagian lagi hanya tinggal menghitung hari untuk mati. Kebanyakan karena batangnya dijadikan kayu bakar oleh penduduk sekitar. Selain itu, di sepanjang masih ada rumah-rumah bekas terjangan tsunami.

DSCF1189

Di Jalan Krueng Raya ini banyak sekali tempat-tempat vital bagi kelangsungan hidup orang banyak. Pelabuhan Malahayati salah satunya. Kawasan Krueng Raya ini juga memiliki bibir pantai yang panjang. Sehingga terdapat beberapa pantai yang strategis. Namun tetap yang paling cantik adalah Pantai Lhok Mee. Letak pantai yang satu ini memang sulit dicapai. Meskipun beraspal tapi banyak turunan dan juga tanjakan. Bus ini bahkan beberapa kali harus meraung dan berjalan zig-zag agar sampai ke ujung tanjakan. Setelah beberapa kali meraung tersengal-sengal, bus akhirnya sampai di bukit Soeharto. Dinamai demikian karena dulu pemimpin Orde baru itu ikut menggagas penghijauan bukit berbatu abu ini. Di balik bukit itulah, Lhok Mee berada. Sebagai informasi kalau kita terus saja menyusuri Jalan Krueng Raya ini akan menembus daerah Laweung.

DSCF1267

Sesaat kemudian, bus mulai menjalani jalan berbatu. Berbelok kiri..perlahan… sampai tangkai pelepah kelapa menyibakkan pemandangan yang tidak pernah saya lihat di manapun! Inikah pantai tujuan kita? Yang diucap-ucap seluruh anak kota sejak tadi malam? Tuhan, saya pasti sedang bermimpi! Saya tidak punya perbendaharaan kosakata yang tepat saat ini. Tapi dengan pasir putih nan lembut yang membujur terbentang, kawanan pohon keurembang tegak menyeruakkan akar-akar nya dari bawah air, segarnya angin khas sondai, apa lagi yang harus saya katakan. Sekedar menutup mulutpun saya sudah tak sanggup lagi.

DSCF1281

Pantai Lhok Mee ini masih sangat asri. Sangat jauh dari kebisingan. Yang ada hanya ada pepohonan tua, pepasiran putih, air biru yang berpendar, serta angin sepoi yang menyapu lembaran rambut dan wajah. Kami menyewa kawasan pantai ini untuk satu hari penuh. Untuk itu kami harus membayar satu setengah juta rupiah. Saya rasa impas untuk ukuran kami yang berjumlah delapan ratusan. Dan tawa tanda berakhirnya satu tahun ajaran yang lalu pun dimulai.

“Kamar 22 melawan Kamar Bedeng dan 16,” Teriak Raja. Salah seorang teman saya, yang kini merangkap menjadi ketua lomba tarik tambang. Kontan saja semua berteriak saling memanggil teman yang belum kelihatan batang hidungnya. Setelah semua berkumpul, adu tarik-menarik tali itu pun dimulai. Satu per satu berguguran. Yang menang semakin mendekatkan kakinya ke arah final. Bahkan para ustad pun juga ikut bermain.

Setelah tarik-menarik usai, giliran akhirat berbicara. Kami shalat Zuhur diantara padang pasir putih. Yang berdiri paling di sisi sebelah laut jika beruntung akan terkena sapuan ombak. Takbiratul Ihram, Rukuk, Sujud,   terus satu demi satu hingga berakhir dengan salam. Dan pasir putih pun terlukis indah di setiap wajah dan pipi. Kontan semua tertawa.

Akhirnya, saya pun merasakan apa yang disebut jatuh cinta. Tentu saja arti denotasi. Ah, kemana saja saya selama ini? Disinilah seharusnya pelajaran berada. Pada kerubungan kerapu yang muncul di antara akar-akar menjulang itu bersemayam ilmu-ilmu biologi yang selama ini saya tekuni. Kawanan Echinodermata untuk pertama kalinya saya lihat mengerayang di pesisir air yang surut. Bersama teman-teman menciptakan taman permainan sendiri di tengah belantara padang pasir putih. Liburan menarik diri saya ke dalam pusaran tawa.

Saya mungkin memang bukan anak yang terlahir di sisi laut. Tapi bukankah bangsa kita adalah negeri bahari? Tempat jutaan makhluk mengambil jatah hidupnya di antara ombak-ombak batu karang atau jauh di kegelapan yang dalam? Sadar atau tidak, sepertinya kita tidak bisa mengelak bahwa sebenarnya rasa asin pantai menyatu dalam tiap lekuk tulang. Bahwa ombak-ombak pantai yang suka sekali menjilat bibir pantai ternyata bergelombang dalam pembuluh darah kita. Tidak heran jika salah satu destinasi wisata yang dicintai warga republik ini adalah lautan.

Dan sepertinya sekarang saya sedang jatuh cinta :)

Jejak Pertama di Takengon

Sepertinya saya tidak bisa mengelak.

Jujur saya mengaku. Hal yang paling saya tunggu saat ikut suatu perlombaan di luar kota adalah agenda darmawisata nya. Ya, jalan-jalan. Namanya juga backpacker. Tapi jangan anggap saya tidak bertanggung jawab. Belajar keras untuk meraih hasil terbaik dalam kompetisi adalah prioritas. Itu bukan hanya sebuah amanah tapi juga sebuah pertarungan gengsi dan harga diri pada orang tua, guru, teman, dan diri. Selebihnya adalah urusan pribadi: berleha-leha  menikmati kota tempat diadakannya kompetisi. Berjuang keras lalu bersenang-senang. Cukup adil bukan ?

Takengon, 1 September 2010.

Nilai regu kami -saya, Kusum, dan Yuli— jauh mengungguli lawan-lawan kami. Kemenangan telak sudah kami raih. Dari cabang Fahmil Quran dalam event Tunas Ramadhan 1432 H, pemenangnya adalah Banda Aceh. Tuntas sudah perjuangan kami. Bergumul dengan lembaran-lembaran penuh hafalan. Surfing di internet mencari bahan lomba. Hasilnya impas: kemenangan ! Kini saatnya berleha-leha.

Setelah pembagian hadiah dan penutupan tadi sore, saya duduk di teras rumah penginapan kami ba’da salat maghrib. Dingin. Saya kencang kan resleting jaket tebal yang menyelimuti tubuh. Kota Takengon memang terkenal sebagai daerah dingin di Aceh. Tapi menurut pemilik rumah penginapan ini, dulu Takengon lebih dingin dari sekarang. Gila ! Kalau sekarang saja dingin nya bisa menggertak kan gigi, bagaimana dengan dulu ya ?

Acara Tunas Ramadhan ini diadakan di Bulan Ramadhan. Ketika teman-teman saya di Banda Aceh sedang berpanas-panasan dengan matahari bulan Ramadhan, saya malah lupa kalau saat ini sedang berpuasa. Tidak ada rasa haus –apalagi lapar– yang menyerang. Udara dingin Takengon menyerap itu semua. Malam Takengon lebih indah dibanding kota yang pernah saya tinggali: Banda Aceh dan Lhokseumawe. Sebagian tanah masih kosong tak dibangun rumah, otomatis polution light sangat sedikit. Bintang-bintang berserakan di langit masih terlihat jelas. Jalan nya pun lengang. Hingga pukul 9 malam, tak lebih dari 10 kendaraan yang lewat di depan jalan raya penginapan ini. Dan suara jangkrik masih banyak terdengar.

Tap ! Terasa ada yang menepuk bahu saya.

Yok pergi!” kata Kusum. “Kita diajak makan ke kota.

Wah, karena kontingen Banda Aceh meraih juara umum, kami diajak pergi ke pusat kota Takengon untuk merayakan kemenangan ini. Sebagai informasi, piala bergilir perlombaan ini adalah sebuah piala berlapis emas yang senilai dengan 38 juta rupiah. Gila ! Kontingen manapun pasti senang bukan main jika mendapatkannya.

Seperti yang saya katakan tadi, jalanan Takengon di malam hari sangatlah lengang. Dengan cepat, kami sampai di terminal kota Takengon. Ya, menyantap kuliner khas Takengon. Sial ! pertama kali terpikir, kenapa tempatnya semi-kumuh begini. Tapi saya mencoba untuk berdamai dengan nasib. Mungkin saja saya bisa mencicipi cita rasa takengon dari sudut-sudut pinggir kotanya. Mungkin saja.

Setelah puas menamatkan seporsi mie Aceh rasa Takengon —yang rasanya tak kalah hebat dari mie Aceh yang biasa saya makan di Banda Aceh— dan segelas besar bandrek susu, kami pun kembali ke penginapan untuk tidur. Bagi saya, tidur malam ini harus disegerakan. Karena besok adalah hari yang telah saya nanti sepanjang minggu ini: Darmawisata. Ya, Jalan-jalan.

Takengon, 2 September 2010.

Keesokan harinya, setelah puas mandi pagi di sebuah sungai di dekat rumah yang dingin nya na’uzubillah, kami pergi menyusuri alam dan budaya kota dingin ini. FIY, sungai nya berasap, gila dinginnya. Jalan-jalan ini di awali dengan berburu souvenir khas Gayo. Ada tas tangan buat ibu-ibu, baju adat Gayo, ikat kepala, kopi luwak —yang sudah pernah saya cicipi dan ternyata rasanya lumayan pahit, maklum saya bukan penikmat kopi— dan kopi gayo. Yang saya beli ? Tak kurang dari gelang khas Gayo ! Dengan motif unik dan warna khas Gayo —merah, hijau, kuning–, gelang ini terlihat keren di  pergelangan tangan saya. Amboi.

47468_1401470998628_8207121_n

Setelah itu perjalanan kami lanjutkan ke Gua Putri Pukes. Gua batu putri yang dikutuk itu berada di Loyang Putri Pukes —loyang merupakan sebutan untuk gua dalam bahasa aceh–. Konon katanya, putri ini jadi batu karena melanggar titah ibunya. Gua ini berada di wilayah Takengon, Aceh Tengah, tidak jauh dari objek wisata Danau Laut Tawar dan Loyang Karo. Kondisi gua ini sama seperti gua-gua pada umumnya: lembab dan dingin. Kata guide nya, kalau awal-awal tahun kadang ada sedikit air yang membanjiri gua ini. Katanya ya: “Untung datang pas bulan September”.

41249_1401493999203_4786900_n

Tempat ketiga yang kami tuju adalah ikon kota dingin ini. Danau Laut Tawar atau Danau Lut Tawar dalam bahasa penduduk di sini. Kami berhenti di sebuah taman yang berada tepat di samping Danau Laut Tawar. Taman ini terlihat cukup luas. Di taman ini, dibudidayakan banyak tanaman dan buah-buahan yang hanya bisa tumbuh subur di tempat yang sejuk. Semua tumbuhan itu tumbuh dengan subur. Ada apel, anggur, melon, tomat, buah naga, dan masih banyak lagi. Di sudut taman ini ada tangga batu yang posisinya menurun langsung menuju pinggir danau. Landai sekali. Kami pun turun ke bawah, persis di tepi danau.

Tes air nya dulu. Belum ke Laut Tawar kalau belum ngerasain air nya” ujar saya kepada teman-teman.

Semua nya setuju. Kaki kami celupkan ke dalam air. Beberapa ekor ikan depik, fauna khas Laut Tawar, terlihat berenang di sela-sela jari. Geli. Kakak pembina terlihat melambaikan ke arah kami. Kami harus kembali. Waktu bersenang-senang di Danau Laut Tawar telah usai. Karena telah waktu Zuhur, dalam perjalanan pulang kami singgah sebentar di bagian utara danau ini untuk salat dan menghabiskan makan siang yang sudah disiapkan sejak berangkat tadi pagi. Tempat kami singgah juga tepat berada di tepi danau. Perfect Lunch.

Malamnya, kami kembali menikmati kuliner kota dingin ini: bakso made in Takengon. Tapi kali ini hanya ber enam. Saya, Kak Adi, Kusum, Yuli, Kak Hajrah, Kak Yupi, dan Bang Sehatuntuk yang satu ini saya tidak berani memanggil kak :D— mencari warung bakso di sekitar rumah. Akhirnya kami menemukan sebuah warung yang terletak sekitar seratusan meter dari tempat kami menginap. Dan seperti kata saya tadi, jam masih menunjukkan pukul 20.35 malam tapi jalan sudah lengang. Setelah menghabiskan seporsi bakso, kami pun pulang dan tidur dengan perut kenyang.

Takengon, 3 September 2010.

Matahari baru saja naik. Salat Subuh baru saja ditunaikan. Hari ini kami pulang dan seharusnya saya sedang mengemas barang di backpack tercinta tapi ternyata fakta berbicara lain. Saya kembali bergemul dengan selimut. Tapi tidak lama. Sebelum pulang, pemilik rumah mengajak kami untuk berbelanja di pasar pagi. Kami setuju dan mobil pun dihidupkan.

Sesampainya di sana, saya tertegun sejenak. Orang-orang berserakan. Khas pasar. Ramai. Katanya mereka telah menjajakan dagangan nya bahkan ketika hari masih gelap. Luar biasa Takengon ! Kami berpisah sesuai dengan tujuan barang yang ingin kami beli. Saya berencana membeli buah Terung Belanda untuk ibunda di rumah. Beliau sangat suka Terung Belanda. Saya pun pergi ke salah satu penjual. Sialnya, si abang penjual tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa bahasa Gayo. Bagaimana ini ? Saya pun tidak bisa bahasa Gayo. Tiba-tiba pemilik rumah mendatangi saya dan bertanya buah apa yang ingin saya beli. Setelah itu beliau berbicara dengan abang penjual itu dalam bahasa mereka.

3000 sekilo,dek” kata pemilik rumah.

What?!! Murah sangat!

Saya keluarkan uang 5000-an, dan abang penjual itu memberi saya kembalian dua lembar uang seribuan.

Enggak semua orang Gayo bisa Indonesia. Masih ada yang mau dibeli, biar bapak bantu bicara.” kata pemilik rumah

Enggak pak. Ini saja. Makasih banyak ya pak” ucap saya.

Oh, kalau gitu bapak ke tempat yang lain ya

Iya pak. Terima kasih

Rupanya begitu. Di Gayo ternyata ada juga yang tidak bisa indonesia.

Setelah semua kembali ke mobil, kami pun pulang ke rumah penginapan untuk bersiap pulang ke Banda Aceh. Dan sesaat sebelum pulang, masih ada kejutan dari kota ini yang terjadi. Kebun milik bapak pemilik penginapan baru saja panen. Dan ada sekarung penuh jeruk yang tersisa. Saya pun menawar jeruk itu. Bapak itu mengizinkan saya membawanya pulang dengan harga yang sangat murah. 8000 perak.

Dan dengan sekarung jeruk itu, perjalanan saya di Takengon berakhir.

58492_1401020907376_7095650_n

Foto-foto oleh: Syahrul Fuadi