Sepotong Titik yang [Tak Pernah] Berakhir

when sun set at the horizon

Tiap-tiap kita dianugerahi Tuhan dengan garis lengkung sempurna yang menyinggung garis lainnya tanpa pernah bertanya mengapa ataupun bagaimana. Manusia sejatinya mengguratkan tinta dalam lembaran-lembaran kehidupan, menghiasinya dengan torehan kejadian, lalu menutupnya dengan kenangan-kenangan sebagai pelajaran bagi generasi mendatang. Seperti jejak-jejak siluet jingga yang ditinggalkan matahari terbenam pada sore ini.

Barisan batang Keutapang memagari saluran air yang menjadi arena berlari ratusan santri dengan siluet hitam panjang. Lapangan semen berkilat memantulkan sinar angkasa. Matahari beredar dalam orbit langitnya perlahan membiarkan romansa senja menangkapnya dalam satu gambar utuh tentang manusia yang berjuang, bertahan. Pendar langit memeluknya dengan awan-gemawan bertingkat-bertingkat layaknya ombak yang menyapu pesisir pantai. Diiringi tatapan iri dari pelakon semesta lain, mereka semua mengamati hal-hal yang bergerak di bawah sini.

Ratusan santri berlari serentak menuju masjid dengan sarung yang belum terkenakan dengan sempurna, dengan kopiah kecil yang tersampir miring di kepala-kepala kecil mereka, dengan alquran dan sajadah aneka warna rupa. Laju mereka memuncak seiring hitungan mundur para punggawa organisasi santri yang menggawangi jalannya peraturan dayah ini. Dalam tiap satuan angka yang melesat mundur itu saya menghitung berapa banyak hal yang telah terjadi selama saya menyusuri bentangan ilmu di sini.

Apa yang telah saya dapatkan?

Lebih besar lagi, apa yang telah saya lakukan untuk tempat ini?

Tempat ini mengajarkan saya untuk melihat segala sesuatu dalam sudut pandang kedewasaan, dengan menisbikan keegoisan. Mendidik saya untuk menyetarakan setiap hal tanpa pernah meremehkan setiap detil yang akan dan sudah terlewatkan. Dalam rentang waktu selama ini, berbagai cita-cita terpatri karena kebodohan dan kemahatololan diri sendiri telah gagal saya raih. Tapi dibalik itu, kegagalan menyadarkan bahwa saya tidak gagal dalam segala hal, hanya sebagian besar. Dan tidak kalah sendirian. Di antara ratusan kepala di tempat ini saya punya teman untuk berbagi kegagalan bersama, berbagi kebodohan bersama, berbagi sepiring nasi bersama.

Kini saya hanya mampu menyuarakan bersyukur mampu berdiri di tiap-tiap linimasa itu. Menjadi santri baru, memandang tempat ini dalam tempurung kebodohan, untuk selanjutnya merasakan tingkatan-tingkatan berlainan jarak dengan pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda.

Dan tentang apa yang sudah saya berikan untuk tempat ini, biarlah arus lakon kesibukan membawanya hanyut. Karena jauh dalam ceruk terdalam hati ini, saya cukup hanya ingin menjadi koma yang membiarkan jutaan kata-kata lain menyambungkannya, melanjutkan untaian kata yang telah dibangunnya, alih-alih menjadi titik yang tidak menyisakan sepotong tanda baca setelahnya.

Karena dibalik punggung saya, masih ada ratusan santri lain yang memegang kitab, mengaji ketika matahari telah sempurna terlelap di peraduan, mengeja kosakata baru tiap subuhnya. Karena di belakang tapak masih ada penerus impian-impian saya, cita-cita saya, dan hasrat-hasrat saya yang terpendam untuk tempat ini.

Karena saya hanyalah sepotong matahari senja yang memandang lekat ufuk timur, mengingatkan tentang awal eksistensi saya di sini. Menyimak saat-saat terakhir, menikmati guliran waktu yang memudar seiring siluet yang memendek dan intensitas cahaya matahari yang meredup perlahan…

Darul ulum Islamic College — Banda Aceh, 16th Aprul 2014 [06:22pm]

Advertisements

Blessing is [Means] Rahmat

hisnameisrahmat.jpg

Banyak hal yang saya senangi dari bocah ini. Namun dua di antara banyak hal itu yang paling saya senangi adalah salam yang senantiasa ia ucapkan dan kepolosan kata-kata yang melewati celah antara dua bibirnya…

Namanya Rahmat. Rahmat Nazil. Salah seorang penghuni kamar Teuku Umar 2 yang memiliki nada suara khas dan postur tubuh kecil. Saya pertama kali bertemu dengannya hanya selang beberapa hari setelah minggu pertama masuk para santri baru.

Saya yang saat itu masih menjabat sebagai salah seorang punggawa penjaga peraturan dayah mendapatinya terlambat tiba ke masjid, padahal langit telah berubah warna menjadi mega merah pekat dan lantunan ayat-ayat langit yang sejak beberapa puluh menit lalu bergema kini telah mencapai batasnya. Magrib telah tiba.

Dia berlari, diiringi kepakan sarung yang belum terkenakan dengan sempurna dan peci yang masih tersampir miring di atas kepala kecilnya. Seharusnya saya marah dan menegurnya tapi ketika melihat pemandangan menggelikan seperti itu rasa marah sungguh musykil untuk dipertahankan.

Saya hanya menepuk punggungnya pelan menggunakan sajadah lalu menyuruhnya masuk ke dalam masjid saat tiba-tiba dia menggumamkan dua patah kata yang baru pertama kali saya dengar dari seorang santri baru seperti dia.

“Maaf akhi, saya enggak akan telat lagi…”

Dan dia memegang perkataannya sampai sekarang. Continue reading

The Old Friend

baiturahman.jpg

Jika Banda Aceh menjelma menjadi sebuah sistem konstelasi, maka saya tak kan ragu untuk menyebut Masjid Baiturrahman sebagai pusatnya. Sedangkan gedung pemerintahan, bangunan-bangunan, dan orang-orang yang bermukim di kota Banda tak lebih dari asteroid-asteroid dan kepulan kabut penganggu yang mengitarinya. Tak penting. Karena di sanalah, di tengah himpitan gegap gempita kehidupan ibukota, beragam wajah mewarnai semburat kemegahan Baiturrahman dan ribuan kaki menjejaki tiap jengkal tempatnya berdiri…

Baiturrahman Grand Mosque — Banda Aceh, 1 December 2013 [06:09pm]

Ahh, perasaan seperti ini selalu saja memeluk saya di detik-detik terakhir malam minggu pertama tiap bulan. Minggu awal tiap bulan merupakan hari libur yang mengizinkan kami untuk beranjak keluar dari dayah sebentar. Untuk sekedar melepas penat dan mengisi kembali semangat yang hampir berantakan. Malam rasanya terlalu lama menjauh untuk hari yang ‘suci’ itu.

Tetesan air wudu belum juga mengering selepas salat subuh. Venus masih berkerling di ujung langit dan cicitan burung belum terdengar dari puncak-puncak kasia yang memagari pekarangan dayah. Tapi adrenalin saya sudah mulai berpacu melawan dingin yang menghentak. Pagi ini saya mengajak diri saya sendiri untuk mengisi hari yang berbahagia ini dengan mengunjungi salah satu landmark kota. Masjid Baiturrahman. Continue reading

Geunteut: Senja Tak Selalu Indah

senja.jpg

Darul Ulum Islamic College — Banda Aceh, 28 Desember 2013 [17:58pm]

“Asri’uu ilal masjid! Laa ahad aiyakun muta’akkhiran!”

Suara Chairunnas bertalu-talu bergema melalui pengeras suara yang tersebar di setiap bangunan asrama dan sekolah menyuruh segenap santri untuk pergi ke masjid. Tanggung jawab sebagai ketua bidang ibadah membuatnya harus merelakan sebagian waktu istirahat untuk mengontrol pelaksanaan ibadah di dayah. Jika subuh hampir tiba, teman saya ini bangun dari tidurnya dan membangunkan para santri. Pada waktu zuhur dan asar pun, tanpa banyak berbicara dia meletakkan tas sekolahnya dan mengajak para santri untuk salat berjamaah di masjid. Sungguh, saya sangat kagum pada semangat dakwahnya!

Magrib ini dia kembali menunjukkan semangatnya. Dengan wibawa yang tinggi dia menyuruh para santri untuk bergegas beranjak ke masjid. Jika terlambat sebentar saja, hukuman sudah menunggu mereka. Tak ayal beberapa santri berlarian serabutan melihat Chairunnas sudah sampai di depan masjid. Sebagian kancing baju mereka belum terkancing sepenuhnya, sarung masih berkibar-kibar tak terpasang sempurna dan kopiah tersampir miring. Tangan kiri mereka memegang sajadah aneka warna, sedangkan sebelah kanan memegang Alquran ragam ukuran. Saya tergelak melihatnya. Semburat jingga di ujung barat beradu dengan tubuh mereka yang berlari kencang ke arah masjid. Membuat sebilah siluet yang indah. Bayangan hitam dan panjang.

Tiba-tiba saya terdiam.

Pelan, saya merasa sedang mengalami deja vu. Seperti menyusuri sebuah teka-teki berlabirin saya berusaha menelusuri kemana ingatan ini bermuara. Garis-garis besar berkelabat saling mengejar satu persatu mencoba mengingatkan saya akan suatu hal,

“Anak-anak yang berlarian dengan sarung dan kitab suci. Matahari jingga di horizon barat. Siluet hitam, panjang dan besar…”

Seketika bulu roma saya berdiri. Saya menarik nafas. Udara berubah menjadi tidak nyaman. Satu kata berusaha keluar dari mulut saya. Pelan saya berdesis,“Geunteut..”

***

Saya dan beberapa teman masa kecil selalu bermain bola di sebuah lapangan rumput yang berdekatan dengan kebun seorang warga desa. Kebun itu seperti hutan kecil, dengan rimbunan belukar dan perdu serta pepohonan tinggi. Tiap sehabis bermain, saat  matahari sebelah barat sudah mulai berubah warna menjadi jingga sementara suara alunan ayat-ayat suci sudah mulai bergema dari corong TOA meunasah, saat itulah kami berlari membawa pulang bola tanda permainan selesai. Kami berlari pontang-panting. Bukan karena takut akan dimarahi oleh orang tua. Namun karena teringat teriakan salah seorang sepuh yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju meunasah beberapa hari yang lalu,“Hai gam, bagah kah woe! Ie cok le geunteut en teuk!”. Lain waktu saya mendengar kabar bahwa salah seorang warga telah hilang selama berhari-hari dan akhirnya ditemukan di atas pohon keutapang. Semua orang percaya bahwa ini adalah ulah geunteut. Sungguh mengerikan!

Geunteut bagi masyarakat Aceh merupakan sebuah sebutan untuk jin yang dipercaya sering menganggu para pejalan malam hari. Penduduk kampung selalu menggambarkannya dengan sosok berwarna hitam. Berdasarkan haba orang tua, ciri khas geuntuet adalah jika dilihat ke arah atas maka penampakan jin ini tinggi besar. Namun sebaliknya jika dilihat ke arah bawah akan terlihat pendek dan kecil. Jin ini mencegat di tengah kegelapan lalu membawa korban dan menggantungnya di pohon yang tinggi.

Maka jika petang sudah menguning dengan segera kami, para anak kecil, akan berlari pulang ke rumah, mengambil sarung dan kitab, lalu beranjak menuju meunasah untuk mengaji. Sejak itu dalam bayangan masa kecil saya, senja begitu menakutkan. Mencekam seperti kegelapan yang menyelimuti saat mendung badai datang. Semua perasaan takut itu didukung secara ‘manis’ oleh situasi malam. Dulu masih jarang ada orang yang berjaga hingga larut malam di luar rumah, kecuali bagi mereka yang terkena giliran untuk berjaga malam di pos siskamling. Pulangnya kami bergerombolan seperti sekumpulan orang yang menghangatkan diri sembari memegang kepala karena menurut rumor, geunteut menculik dengan mencengkram rambut.

Perjalanan menuntut ilmu ke Banda Aceh mempertemukan saya dengan beragam orang dari berbagai daerah di Aceh. Hal ini memudahkan saya untuk mengetahui seluk beluk adat budaya Aceh dari beberapa daerah sekaligus. Termasuk soal geunteut ini. Semua teman saya memiliki gambaran dan cerita masing-masing mengenai jin ini. Juga soal kondisi para korban. Razi, salah seorang teman saya yang berasal Bireuen bercerita bahwa geunteut akan membawa korbannya ke ‘peuredeu trieng’ (rimbunan bambu berukuran besar). Sedang Affas yang berasal dari Sigli berkisah bahwa korban yang dibawa geunteut biasanya akan merasa sedang berada di tempat yang penuh dengan kenikmatan dan hanya bisa sadar setelah diperdengarkan suara azan. Layaknya pengalaman masa kecil saya, Rian yang berasal dari kota Banda Aceh pun dulu ketika selesai bermain bola bersama teman-temannya akan pulang dengan langkah seribu sembari berteriak,”Woi pulang, pulang! geunteut…geunteut…”

Di luar persepsi percaya atau tidak, sebenarnya ada sedikit hikmah yang menggelitik di balik geunteut ini. Alasan para orang tua dulu membesar-besarkan kisah tentang jin ini untuk kami, anak kecil, tak lain agar bergegas pulang ke rumah jika magrib hampir tiba. Pesan orang tua untuk tidak berkeliaran di luar rumah saat magrib [agar tidak diculik geunteut] sedikit banyak membuat kami ketakutan. Maka jika magrib datang, tempat kami hanya ada dua: kalau bukan di rumah, berarti di meunasah sedang mengaji. Tak heran kami lekas pintar mengalun-alunkan ayat ilahi. Masa kecil kami dulu, saat dunia belum dicengkeram terlalu erat oleh globalisasi, merupakan salah satu hal yang paling saya syukuri.

Banyak teman di dayah yang sependapat dengan saya bahwa pengaruh zaman turut memudarkan karisma geuntuet ini. Anak-anak berkeliaran di berbagai warung internet saat magrib sudah jamak terlihat. Banyak orang yang terjaga hingga larut malam membuat berbagai kebisingan, menyulitkan para kaum yang ingin menikmati malam sebagai waktu beristirahat ataupun menggelar sajadah. Sungguh sebuah ironi ketika anak-anak Aceh lupa terhadap ‘makna’ legenda jin ini. Tidak ada lagi ketakutan untuk beraktifitas di luar pada malam hari. Silahkan menganggapnya sebagai sebuah kemajuan! Namun, kerap saya berfikir bahwa kemajuan sedikit banyak turut ikut serta dalam membungkam kearifan lokal. Meski kearifan lokal itu bertema makhluk gaib yang bernama geunteut.

Bukan hanya kota, namun juga kawasan pedesaan. Sesekali, jika masa mengizinkan, pergilah ke gampong-gampong dan lihat bagaimana balee-balee beut kayu [yang sudah mulai lapuk] kosong tak terurus. Lihat bagaimana keude kupie yang dilengkapi dengan TV LCD sudah menjamuri kawasan gampong. Mengutip perkataan salah seorang teman ketika membahas tentang perilaku remaja sekarang: “Lagi-lagi globalisasi menjadi batu sandungan terhadap moral dan budaya…”

Memang peristiwa penculikan oleh jin geunteut ini sudah jarang terdengar, namun [layaknya tsunami] perlukah jin ini ‘bangkit’ kembali agar moral manusia sekarang kembali ke titik yang sebenarnya. Dalam arti, kembali menghargai waktu malam dan petang sebagai ‘penutup tubuh’ bagi manusia. Nah, sepertinya kita tidak bisa mengelak pada tugas yang satu ini, mempertahankan kearifan lokal tanpa terhisap jauh ke dalam pusaran globalisasi. Agar generasi setelah kita nantinya tidak hanya memilah dan menyesapi aroma kemajuan zaman yang bersahabat, namun juga tetap bisa ‘menikmati’ makna dari perbuatan geunteut ini seperti yang pernah kita rasakan saat ini.

Dan seperti kata salah seorang guru saya, perkembangan zaman seperti sekeping mata koin, ada sisi baik dan buruk yang saling berkebalikan. Adalah tangan kita sendiri yang menentukan sisi mana yang menjadi milik kita…

Salam

***

Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6! Yuk menulis tentang Aceh, rakan!

Dodaidi: It’s A Lullaby!

Darul Ulum Islamic College, 23 December 2013 [15:04pm]

Allah sungguh Maha Adil! Setelah berminggu-minggu berpacu mengejar banyak pengetahuan dalam rangkaian estafet yang bernama ujian, diberikanNya saya sedikit waktu untuk berleha-leha dan untuk menikmati kekosongan waktu yang tercipta karena wan agenda. Boleh dibilang waktu-waktu kosong seperti ini, bagi saya, merupakan nama lain bagi hal yang paling terakhir tertinggal di dalam kotak pandora: harapan. Harapan untuk berubah.

Saat-saat seperti ini digunakan Bang Hendri, salah seorang senior saya yang kini telah menjadi pembina, untuk memutar lagu-lagu penyegar pikiran. Bermacam-macam jenisnya. Jika lagu sudah diudarakan melalui pengeras suara, hari-hari panas tak akan terasa. Seakan matahari ikut berdendang, lupa menyinari bumi.

“Bang, neu puta lagu nyang leumik. Ngat maat ta eh…” saya meminta pada Bang Hendri. Lagu berirama rendah nikmat sekali untuk pengiring tidur di siang yang berbahagia ini.

“Jeut..” dia menyahut, “Dodaidi beuh?”. Tanpa menunggu jawaban saya, perlahan alunan lagu lembut yang dikidungkan oleh Cut Aza Rizka menguasai. Mendayu-dayu di antara tiang-tiang bangunan sekolah dan naik turun dibawa angin sepoi lalu menyelinap ke tiap hati santri yang rindu akan ayah, ibu dan kampung halaman mereka.

Allah hai do dodaidi, boeh gadong bi boeh kayee uteun,
rayeuk sinyak hana peue mak bri, ayeb ngoen keji ureung donya kheun.
Wahe aneuk bek taduk le, beudoeh saree tabila bangsa,
bek tatakot keu darah ile, adak pih mate poma karela.

Saya tercenung, menyeksamainya separuh jiwa dan mendengarnya seakan-akan untuk kali yang pertama. Perlahan seluruh beban ujian luruh bergemuruh siang itu..

Selain alunan nadanya yang selalu mendekap jiwa, ada hal lain yang membuatnya begitu dikenang…

Dodaidi adalah senandung pengiring tidur yang dinyanyikan oleh kaum ibu kepada bayi mereka. Masih terekam jelas dalam ingatan, saat kaum ibu di kampung saya mengayun-ayunkan ija sawak (kain selendang) yang digantung dengan tali ke kayu-kayu atap rumah, sedang di dalamnya sang anak pelan tertidur dalam damai sembari mendengar lantunan lagu pengiring tidur dari bibir ibu mereka.

Saat ahli-ahli kejiwaan anak masa kini merekomendasikan pengaruh baik ditanamkan dalam diri anak sejak masih dini, kaum ibu Aceh telah memulainya lebih dulu, bahan sejak si anak masih berkawan dengan ayunan. Bentuk pengaruh kebaikan ini mereka ubah wujudnya dalam bentuk syair penggugah jiwa dan cita-cita. Ruh keyakinan dan ketauhidan mereka tiupkan ke dalam larik sehingga mendapat tempat di bawah alam sadar si anak bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Waktu kosong setelah ujian pun memberi kesempatan bagi saya untuk pergi ke perpustakaan, mencari-cari pilinan sejarah tentang syair pengiring tidur ini. Dalam catatan beberapa buku, seperti kebanyakan syair dan hadi maja Aceh lainnya, tidak diketahui siapa yang pertama kali mengkidungkan dodaidi. Kebanyakan literatur tertulis mengarah kepada ibu susu Iskandar Muda. Setelah itu, nyanyian ini bertahan melewati bentangan zaman melalui lidah para ibu antar generasi dan menjadi salah satu lagu yang paling disukai oleh orang Aceh.

Ada nasihat indah yang terselip di balik syair dodaidi ini. Ada rahasia dan alasan tersendiri mengapa lirik itu terucap…

Saat Aceh dilanda peperangan melawan Belanda, kaum ibu menidurkan anaknya di bawah lantunan syair-syair yang mengarah kepada harapan agar sang anak menjadi pejuang yang tangguh melawan kaum kafir Belanda. Dalam sebuah buku tak bersampul yang saya temukan di perpustakaan, tertulis sebuah syair yang dilontarkan oleh Cut Meutia sebagai teman menuju alam mimpi untuk anak semata wayangnya Teuku Raja Sabi di rimba Aceh bagian utara. Untaian tembang pengiring tidur ini jelas memperlihatkan cita-cita Cut Meutia agar sang anak lekas tumbuh menjadi orang yang tangguh dan melanjutkan perjuangan ibu dan ayahnya,

Jak kutimang prak
boh ate nyak beurijang raya,
Bek tasurot meusitapak,
oh meurumpok ngon Beulanda.
Jak lon timang preuen,
ureung jameuen beuhe lagoina,
Bek hai aneuk tagidong reunyeuen,
bila jameuen tuntut le gata..

Ada pula yang jika kita seksamai liriknya, tampak jelas pesan agar anak selalu mengingat tanah lahirnya di manapun dia berpijak,

Jak lon tateh, meujak lon tateh
Beudeh hai aneuk ta jak u Aceh
Meube bak o’n ka meube timphan
 Meubee badan bak sinyak Aceh
Allah hai Po illa hon hak
Gampong jarak han troh lon woe
 Adak na bulee ulon teureubang
 Mangat rijang troh u nanggroe

Namun yang jelas apapun syair yang disenandungkan, selalu ada nasihat agar sang anak tumbuh menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia. Agar kelahirannya tak hanya mengundang tawa gembira di awal, namun juga di pertengahan dan di akhir kehidupan.

….

Saya tercenung memikirkan bagaimana sebuah kasih sayang seorang ibu jika disatukan dengan cita-cita syahdu yang kuat mampu menghujamkan pengaruh yang dalam bagi buah hati mereka. Pepatah Arab yang menyuruh manusia untuk menuntut ilmu sejak ayunan hingga liang lahat menemukan tempatnya di antara nyanyian para ibu ini. Sebelum tiang-tiang dan bangunan bisu sekolah mengajari generasi baru tentang berbagai hal, kaum ibu telah jauh lebih dahulu mendidik mereka dengan kasih sayang dan sebuah ikatan emosional yang kuat tentang hidup ini. Menarik sekali untuk dipikirkan tentang bagaimana akhir jalan sebuah kehidupan telah lebih dulu ditunjukkan pada anak ketika mereka baru saja memulainya. Bahkan sejak mereka belum mampu merangkak!

Lagu pengiring tidur kaum Aceh bukan hanya sebuah larik kata-kata yang dipersatukan oleh alunan nada. Lebih dari itu, syair dodaidi adalah madrasah pertama milik generasi Aceh. Ajaran agama pertama yang berkata bahwa Tuhan mereka adalah Allah dan terus bersemayam di benak mereka selama kaki masih berjalan. Bahwa akhlak mulia dan budi pekerti yang baik harus dijunjung tinggi di tiap hembusan nafas.

Menyadari semua itu semakin membuat saya menakjubi tanah kelahiran ini…

Saya pernah berkelakar kepada adik perempuan saya, bahwa salah satu kenangan terindah yang pernah ibu berikan kepada kita adalah pusar. Dia adalah bukti bahwa pernah ada suatu masa ketika diri kita dan ibu adalah satu jiwa. Tidak ada batas sama sekali. Dan tali pusarlah yang menjadi saksi hubungan itu. Kini setelah masa berjalan maju sejengkal, ingin saya tambahkan satu lagi kenangan terindah itu: senandung pengiring tidur dari bibir ibu.

Dan tiba-tiba saya teringat kepada ibu saya..

Selamat hari ibu, Ummi!

***

[Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6! Yuk menulis tentang Aceh!]

Krueng Cut

BeFunky_dscf1181.jpg

Simpang Tibang, 2 January 2013 [11:13am]

Tiap kali saya kembali pulang setelah menyelami ilmu di pesantren, saya selalu bergembira. Seakan alam menyambut anaknya yang pulang berjihad dan menampakkan selendangnya dimana-dimana. Diantara satunya yang mempesona tak lain: Krueng Cut.

Krueng sejatinya ‘sungai’ dalam bahasa Aceh. Di sungai yang bermuara ke pantai Aluenaga ini berjejer para pencari tiram yang mencari makhluk kecil itu disudut-sudut batu. Pun sungai ini merupakan salah satu stand tetap untuk para pemancing dari atas jembatan. Ditambah dengan pemandangan sunset tiap petang yang menyeruak menjadikannya kian istimewa.

Saya merasa dianak-emaskan oleh alam!

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 32: Sungai di rumah maya milik Haryadi. Berkunjunglah ke sana dan temukan bagaimana indahnya menjadikan foto sebagai ajang saling berbagi cerita.

A Note of Exam

BeFunky_DSCF8551.jpg

Saat pikiran diperluas gagasan baru , ia takkan pernah kembali pada bentuknya semula ~Oliver Wendell Holmes

Darul Ulum Islamic College, 6 December 2013 [07:04pm]

Bagi mereka yang telah terpilih untuk merasakannya, saat-saat ini merupakan waktu yang paling dirindukan. Hari berulang kali berganti nama dan akhirnya ujian dayah kembali hadir bersambang. Kali ini dengan sentimentil, ujian datang dalam balutan kenangan yang istimewa. Inilah ujian dayah ke sebelas sejak saya pertama kali menyicip potongan-potongan ilmu di sini. Inilah ujian terakhir saya di dayah ini.

Saya senang menganalogikan ujian seperti kembang api. Mulanya ia menderita. Segala bentuk api penyulut yang membakar membuatnya terbang tinggi ke langit disertai teriakan hebat yang memekakkan telinga dan kepulan asap yang menyesakkan rongga dada. Tapi lihat bagaimana akhirnya! Dia menjelma menjadi kilauan bunga-bunga api indah aneka warna dan rupa di atas sana. Dia menerobos gelap malam lalu menggantinya dengan riuh cahaya yang gegap gempita. Saya rasa hanya pemandangan matahari yang kembali ke peraduanlah yang mampu bersanding dengan cantiknya kembang api.

Saya pun demikian.

Jika terizin disebut, ujian kali ini kiranya menjadi salah satu etape terakhir perjalanan dari kembang api dalam diri saya sebelum bermetamorfosis menjadi ledakan sinar yang menyenangkan dan menerangi alam sekitar. Ujian kali ini, jika diperinci, merupakan ujian ke dua puluh tiga dalam senarai hidup saya. Yang berarti kurang lebih: Seberapa banyakkah ilmu saya sekarang?

Tidak tanggung-tanggung ujian ini. Jika tidak kuat, siap-siap terpental. Selama setengah bulan ujian maraton akan menarik-narik diri dalam pusaran yang kuat.

Saat beberapa teman menganggap ujian sebagai sebuah momok, saya cenderung menganggapnya sebagai salah satu puncak selebrasi intelejensia selama 6 bulan ke belakang. Hanya di minggu-minggu ini beberapa kejadian unik akan berlangsung. Tidak akan terjadi di luar ujian.

Saat-saat seperti ini lah buku seakan menjadi baju yang senantiasa melekat di badan. Mengikuti kemana saja saya beranjak. Lalu malamnya tertelungkup menutupi wajah mengiringi  sang empunya melangkah ke taman mimpi. Ada juga yang menjadi makhluk malam dan menekuri buku setelah berdoa panjang dalam tahajud. Kemudian terkikik-kikik mendengar teman yang mengigau tentang pelajaran Nahwu. Juga jembatan-jembatan keledai aneh dan menggelikan yang, entah kenapa, hanya bisa tercipta selama ujian. Menarik sekali. Ujian, sungguh sangat menarik.

Pun, saya merasa hanya di malam-malam ujian mimpi menjadi sangat absurd.

Saya pernah bermimpi menjadi Iron Man menggantikan Tony Stark yang sedang sakit. Dalam mimpi itu saya merupakan salah satu anggota Fantastic Four. Padahal setahu saya, si Iron tak ada sangkut pautnya dengan Fantastic Four. Lebih ganjil lagi saat ternyata saya bisa menembakkan meriam laser dari telapak tangan seperti yang kerap dilakukan Tony Stark. Namun, sebelum menembaknya saya harus melafalkan beberapa kaidah Nahwu yang sedang saya hafal dengan benar. Jika salah, tak akan keluar tembakan itu. Dengan sekuat tenaga saya berusaha membaca dengan benar. Dan, ampun, karena hafalan saya benar luar dalam, maka kekuatannya menjadi tak terkendali dan tangan saya terbang kemana-kemana. Tiba-tiba Ben Grimm yang tak lain adalah si Thing, sang manusia batu, menepuk bahu saya dengan keras. Lalu terdengar teriakan,”Saket, gam!”. Saya terbangun. Teman saya yang berbadan tambun mengelus-elus wajahnya yang memerah terkena pukulan saya.

Lain waktu, malam ujian hadis, saya bermimpi kembali. Dalam mimpi itu secara ajaib saya menjadi komposer selihai Mozart. Saya sinuhun memainkan berbagai alat musik. Yang lebih mendebarkan lagi: saya pandai bermain biola! Bukan main bahagianya hati saya dalam mimpi itu. Padahal di alam nyata gitarpun seperti tidak mau bertunangan dengan saya. Kunci-kuncinya susah sekali terhafal. Dan ketika saya sedang bermain biola itu, dawai-dawai yang sedang tergesek menjelma menjadi lembaran-lembaran kitab hadis yang semestinya saya daras. Saya tak acuh. Toh, ini hanya mimpi. Untuk apa dipusingkan? Kemudian saya pun mendikte hadis-hadis yang terdapat dalam kitab itu. Jika susunan sanad nya benar, maka alunan biola mengkidungkan Symphony No. 4 in D major, K. 19 milik Mozart. Manis nian terdengar! Tapi, sekonyong-konyong nada-nada gemulai tadi berhamburan tak tentu arah seperti ayam dikejar mau dipotong. Nadanya berubah. Lama-kelamaan semakin terdengar seperti suara ketukan pintu. Lalu titik air terasa membasahi wajah. Saya terkejut dan terbangun.”Istaiqidhz, ya akhi! Bangun! Udah mau subuh!” suara salah seorang teman menghancurkan mimpi aneh saya yang indah tadi.

Namun tak ada mimpi yang lebih aneh dari semalam. Dalam mimpi saya, Yingluck Shinawatra, si perdana menteri Thailand yang sedang dituntut mundur itu mengadu kepada saya bahwa ia merasa tertekan dengan kehidupannya saat ini dan dia ingin masuk Islam. Nah?

….

Makin lama saya berkubang dalam ujian, semakin banyak hal unik yang saya temukan. Semua hal tadi, secara halus, membuat saya sadar bahwa tak ada yang salah dengan ujian. Ia bukanlah hal yang menakutkan. Ujian laksana teman yang jarang bersua, hanya 2 kali dalam setahun, mengajak kita menyusuri lembah-lembah ilmu dan mengenang kembali pengetahuan-pengetahuan yang tersebar di tiap sudut pemikiran. Lalu membuka cakrawala gagasan kreatif yang selama ini tertutup kerangkeng tempurung. Ujian juga kerap melentingkan kemampuan fisik sampai pada tingkat tertinggi, membuat kita mengukur sejauh mana alam menguatkan kita.

Saban tahun, tiap selesai mengarungi ujian, saya berpikir untuk apa saya melakoni ini semua. Apakah karena terinjak-injak sebuah sistem pendidikan? Apakah karena harus? Menjadi sebuah bagian dalam hidup untuk kehidupan yang ‘layak’ ketika dewasa kelak? Semua pertanyaan itu semakin menggunung ketika materi semakin banyak dan tentunya semakin pelik. Sampai suatu ketika salah seorang guru menegur saya dengan cara yang paling mengena dalam hati. Dalam hidup.

“Amirul, kalau kamu terus berpikir begitu, saya jamin, di antara semua teman-teman kamu satu tingkatan, hanya kamu yang akan gagal! Hanya kamu sendiri yang akan gagal! Ada suatu hal yang tidak kamu pernah pahami jika pemikiranmu sudah terbentuk seperti itu, yaitu penghargaan akan pengetahuan, memuliakan guru, dan teman yang selalu mendukung…”

Saya tersentak.

Benar-benar tersentak.

Kemudian akhirnya saya tersadar. Ujian tanpa saya sadari sebenarnya mendekatkan diri pada hal-hal baik yang jarang terkerjakan. Pulpen, yang biasanya secara misterius sering hilang tak tahu kemana, akhirnya selalu dalam genggaman saat ujian. Buku yang terus melekat seperti baju dalam tiap anjak. Ilmu yang senantiasa terekam oleh lisan dan pikiran. Tekad baja untuk menuntaskan semua ilmu yang terpatri. Semakin bijaksana dalam mengatur keuangan, karena harus disesuaikan dengan pembelian vitamin. Semakin adiluhung dalam mengelola jadwal keseharian, karena menjaganya agar tak terbentur dengan agenda belajar. Dan yang terpenting, semakin ramai doa yang terekam untuk diberikan sayap, terbang menuju langit, di tiap salat tertunaikan. Semua hal tadi saya singkat dengan; Ujianlah pengait kebaikan sesungguhnya.

Ujian, sungguh sangat mendebarkan!

***

Dan akhirnya jika seseorang bertanya seberapa banyak ilmu saya sekarang, izinkanlah saya menjawab,

“Semoga ada keberkahan di tiap ilmu yang tertenun…”

***

Salam; A