The Old Friend

baiturahman.jpg

Jika Banda Aceh menjelma menjadi sebuah sistem konstelasi, maka saya tak kan ragu untuk menyebut Masjid Baiturrahman sebagai pusatnya. Sedangkan gedung pemerintahan, bangunan-bangunan, dan orang-orang yang bermukim di kota Banda tak lebih dari asteroid-asteroid dan kepulan kabut penganggu yang mengitarinya. Tak penting. Karena di sanalah, di tengah himpitan gegap gempita kehidupan ibukota, beragam wajah mewarnai semburat kemegahan Baiturrahman dan ribuan kaki menjejaki tiap jengkal tempatnya berdiri…

Baiturrahman Grand Mosque — Banda Aceh, 1 December 2013 [06:09pm]

Ahh, perasaan seperti ini selalu saja memeluk saya di detik-detik terakhir malam minggu pertama tiap bulan. Minggu awal tiap bulan merupakan hari libur yang mengizinkan kami untuk beranjak keluar dari dayah sebentar. Untuk sekedar melepas penat dan mengisi kembali semangat yang hampir berantakan. Malam rasanya terlalu lama menjauh untuk hari yang ‘suci’ itu.

Tetesan air wudu belum juga mengering selepas salat subuh. Venus masih berkerling di ujung langit dan cicitan burung belum terdengar dari puncak-puncak kasia yang memagari pekarangan dayah. Tapi adrenalin saya sudah mulai berpacu melawan dingin yang menghentak. Pagi ini saya mengajak diri saya sendiri untuk mengisi hari yang berbahagia ini dengan mengunjungi salah satu landmark kota. Masjid Baiturrahman. Continue reading

Krueng Cut

BeFunky_dscf1181.jpg

Simpang Tibang, 2 January 2013 [11:13am]

Tiap kali saya kembali pulang setelah menyelami ilmu di pesantren, saya selalu bergembira. Seakan alam menyambut anaknya yang pulang berjihad dan menampakkan selendangnya dimana-dimana. Diantara satunya yang mempesona tak lain: Krueng Cut.

Krueng sejatinya ‘sungai’ dalam bahasa Aceh. Di sungai yang bermuara ke pantai Aluenaga ini berjejer para pencari tiram yang mencari makhluk kecil itu disudut-sudut batu. Pun sungai ini merupakan salah satu stand tetap untuk para pemancing dari atas jembatan. Ditambah dengan pemandangan sunset tiap petang yang menyeruak menjadikannya kian istimewa.

Saya merasa dianak-emaskan oleh alam!

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 32: Sungai di rumah maya milik Haryadi. Berkunjunglah ke sana dan temukan bagaimana indahnya menjadikan foto sebagai ajang saling berbagi cerita.

Rewind The Memory

pasaratjeh.jpg

Tidak ada tempat transaksi jual beli yang paling terkenal di Banda Aceh selain di pasar semi-kumuh ini…

Saya terpekur mengenang bagaimana tempat ini terekam sejak kecil ketika kaki pertama kali menginjak altar suci Baiturrahman. Masih jelas dalam ingatan saat bunyi klakson kendaraan bermotor bertalu-talu mengangkasa mengalahkan seru azan yang menyejukkan. Terpal-terpal biru bergelimpangan sepanjang jalan melindungi para penjual dari sinar matahari panas yang tak tahu adat itu. Macet dimana-dimana, etnis Tinghoa saling mengeluarkan beberapa kata dalam bahasa ibu mereka, kucing-kucing berbelang menguap sejadi-jadinya. Sampah-sampah pun dengan sopan mengambil posisi di depan jalan, merata dan bertumpuk-tumpuk.

Dan tak pernah lupa, saat Ayah saya bercerita dengan bangga sembari menunjuk-tunjuk sebuah lokasi persis di bawah tangga, tempat dia dan dua temannya memanggul beras dan mereparasi arloji untuk menyambung hidup, untuk terus bersekolah di kampus universitas syiah kuala. Tempat yang penuh hikayat perjuangan kaum miskin. Tak pernah berubah. Pasar Atjeh tidak pernah berganti cerita.

Saya rindu tempat ini.

Namun, kini tak ubahnya wanita yang ditinggal pergi suami tanpa kabar berita. Sebuah pembangunan pasar yang lebih modern dilaksanakan tepat di belakangnya. Sehingga berbondong-bondonglah umat Banda Aceh ke sana. Tak pelak jumlah pengunjung pasar ini turun. Dan tak tahu malu, pemerintah memberi nama yang sama pula untuk pasar yang lebih modern itu. Kasihan sekali pasar tradisional ini. Sudah ditinggal suami, dicuri nama pula oleh pasar baru di belakangnya.

Lalu ku perhatikan lagi jendela-jendela berdebu, daun pintu berlubang, papan nama toko yang mulai lapuk. Ku lihat lagi kabel-kabel usang yang mulai kendur dan telanjang tak berpenutup. Ku pandang kembali lantainya yang makin hari makin kusam, dinding-dindingnya yang dikhianati zaman, kucing-kucingnya yang tertidur pulas. Tak berubah. Masih sama, selalu sama…

Tak ada ciptaan Tuhan yang paling sering dirutuki sekaligus dipuji-puji selain kenangan masa lalu…

Pasar Atjeh, 19 November 2013 [02:26pm]

Satu Muharram

darululumnight.jpg

Satu Muharram kembali datang dan saya menyambutnya dengan terus menggelas ilmu pengetahuan di dayah yang hampir menggenapi enam tahun di sisi. Malam ini tidak ada apa-apa yang bisa saya sodorkan untuk pergantian tahun Hijri. Hanya ada beberapa santri lain yang berangkatan di bawah saya. Langit cerah. Semarak. Masjid Baiturrahman mengkidungkan ayat-ayat langit sejak selepas Isya. Sebuah acara menyambut 1435 Hijriyah sedang berlangsung di tengah kota. Andai ada sistem konstelasi di kota Banda, maka sudah pasti saya katakan Mesjid bersejarah itu sebagai matahari pusatnya. Sedang bangunan-bangunan remeh di sekitarnya tak lain adalah sekumpulan planet dan masyarakat yang berduyun-duyun masuk ke lingkaran komplek Baiturrahman tak lebih sebagai asteroid-asteroid yang hilir mudik tak tentu arah.

Ah, betapa inginnya saya menyambut malam istimewa ini di sana…

***

Darul Ulum Islamic College, 4 November 2013 [20:56 PM]

Sepulang Isya, saya kembali ke kamar. Merencanakan sesuatu untuk sekedar melepas rasa penat. Saya mengambil sebuah buku ketika Ade, salah seorang junior saya, memasuki kamar.

“Akhi!” Ade memanggil saya dan bertanya,”kalau di rumah, rayain satu Muharram kayakmana?”

Saya terkejut dengan pertanyaan beraroma tiba-tiba itu. Tapi kemudian saya tersenyum dan mencoba mencari jawaban. Nihil.”Biasanya apa ya? Laa adri. Tidak tahu.  Akhi udah 6 tahun selalu satu Muharram di sini. Biasanya ke Baiturrahman kan dengar ceramah” Saya mencoba jujur. Dia terdiam. Saya mencoba bertanya balik. “Maza taf’al ‘adaatan? Biasanya kamu ngapain”

“Ana kalau di rumah biasa bakar ayam,” jawabnya. Dia tersenyum. Saya tertawa. Perut saya berbunyi.

Kemudian dia melanjutkan ceritanya. “Tapi gak enak juga akhi, kalau selalu makan ayam rame-rame. Lebih enak makan sendiri.”

Demi mendengarnya saya terdiam. Kata-kata Ade terdengar seperti lonceng yang bergemerincing, memukul dada. Tiap sensor gelombangnya menyentuh sudut terdalam di hati saya. Saya tertegun.

“Lebih enak makan sendiri..” kata Ade mengiang-ngiang di dalam kepala saya.

Angin malam bertiup sepoi. Jarum jam bersikeras menunjuk angka setengah dua belas. Saya duduk sendiri di lantai tiga bangunan gedung sekolah. Balkon kecil yang terbuka lebar ini langsung menghadap ke tengah kota. Menyuguhkan kelipan sinar-binar lampu yang menerangi Banda Aceh tiap malam. Seperti cahaya lampu yang menerangi buku-buku kami para santri hingga Candra berdiri tegak di atas kepala langit.

Malam ini saya mencoba berdamai dengan nasib. Tidak pergi ke Baiturrahman bukan berarti tidak bisa merayakan satu Muharram. Bahkan saya masih bisa untuk merayakannya sekedar dengan duduk di atas sini. Hanya ada saya dan diri saya sendiri. Kami bercengkrama, mengobrol seperti sepasang teman yang sudah terlalu lama berpisah. Kata-kata Ade tadi mengingatkan saya.

Bukan… bukan tentang potongan ayam yang nikmat disantap. Tapi tentang menyepi. Mencari tempat untuk menyendiri…

Sudah berapa lama saya tidak memperhatikan diri sendiri. Bercermin tentang kekurangan dan laku buruk yang sering tertunaikan. Lalu mencari sebuah pembenaran dari sebuah kejelekan yang acap kali menorehkan tinta hitam di buku amal. Kesibukan saya di dayah membuat saya melupakan bagian diri saya yang satunya. Tempat saya untuk membandingkan amal. Kini saya sadar bahwa Satu Muharram dan diri sendiri merupakan perpaduan yang memikat dan salah satu hal yang patut saya syukuri. Saya tersadar bahwa seringkali saya lupa menghaturkan maaf pada bagian diri yang lain dan mengikat janji untuk memperbaiki diri menuju laku yang lebih baik. Setidaknya saya tersadar…

Selamat satu Muharram! Semoga kau temukan bagian lain dirimu yang senantiasa menjadi pengingat akan tindak tanduk burukmu. Sampaikan salam terhangat saya untuk keluargamu dan orang-orang yang kau cintai.

Saleum; A

Lhok Mee

Apa yang membuat saya selalu memikirkan liburan sembari berangan kosong agar Tuhan mempercepat setiap hitungan hari menuju nya?

[Darul Ulum Islamic College, 29 May 2009 13:23 PM]

Jika saat ini adalah tujuh sembilan tahun yang lalu, saat tiap kali orang bertanya dimana saya saat liburan menyapa, sontak saya menjawab: “akan membilang uang demi satu dua jam bermain playstation di sebuah rental terdekat”. Sebuah ironi sebetulnya karena teman disebelah rumah pun punya permainan digital itu. Tapi mau dikata apa? Dunia anak kecil adalah dunia tanpa rasa takut akan sebuah penyia-nyiaan. Seluruh komposisinya adalah permainan yang tak berujung dan tak berkesudahaan. Namun semua permainan itu luntur sejak saya meninggalkan kampung halaman dan memutuskan untuk belajar di sebuah pondok tengah kota.

Saat itu semua sudah bersiap dengan backpack masing-masing. Setelah semua kertas-kertas yang dihamburkan setelah ujian, akhirnya tiba lah hari yang paling ditunggu-tunggu orang seantero negeri: liburan. Kami semua akan menjamahi bumi Lhok Mee. Salah satu pantai termasyhur di antara orang kota. Saya menjalani tanpa minat. Bagi saya liburan tak ubahnya menyimpul karet demi karet dalam permainan tali yang saban saya mainkan bersama kawan dekat. Membosankan, alih-alih menyenangkan. Menghabiskan waktu.

Setidaknya sampai saat itu tiba saya belum tahu kalau alam sedang dan akan mengejutkan saya dengan rahasia-rahasianya…

Delapan bus Damri biru berukuran sedang pun berjalan. Setelah merayap seperti semut di antara himpitan kendaraan ibukota, bus akhirnya melaju mengangkasa menebas Jalan Krueng Raya. Sepanjang perjalanan lajur kiri dan kanan dipenuhi dengan beragam hamparan pembunuh bosan. Bentangan Krueng Cut, penopang kehidupan para pengumpul kerang inilah yang pertama kali memanjakan mata. Kemilau cahaya matahari mendung bergerak-gerak dipermainkan riak air. Selanjutnya bebungaan liar menyapu keseluruhan mata angin.

DSCF1181

Selang beberapa menit kemudian, rimbunnya Hutan Manggrove menyambut kita. Setelah Tsunami, reboisasi Manggrove sangat digalakkan. Sejumlah pantai, khususnya yang terkena dampak langsung Tsunami banyak ditanami tumbuhan yang satu ini. Beberapa diantaranya tumbuh dengan begitu subur, namun sebagian lagi hanya tinggal menghitung hari untuk mati. Kebanyakan karena batangnya dijadikan kayu bakar oleh penduduk sekitar. Selain itu, di sepanjang masih ada rumah-rumah bekas terjangan tsunami.

DSCF1189

Di Jalan Krueng Raya ini banyak sekali tempat-tempat vital bagi kelangsungan hidup orang banyak. Pelabuhan Malahayati salah satunya. Kawasan Krueng Raya ini juga memiliki bibir pantai yang panjang. Sehingga terdapat beberapa pantai yang strategis. Namun tetap yang paling cantik adalah Pantai Lhok Mee. Letak pantai yang satu ini memang sulit dicapai. Meskipun beraspal tapi banyak turunan dan juga tanjakan. Bus ini bahkan beberapa kali harus meraung dan berjalan zig-zag agar sampai ke ujung tanjakan. Setelah beberapa kali meraung tersengal-sengal, bus akhirnya sampai di bukit Soeharto. Dinamai demikian karena dulu pemimpin Orde baru itu ikut menggagas penghijauan bukit berbatu abu ini. Di balik bukit itulah, Lhok Mee berada. Sebagai informasi kalau kita terus saja menyusuri Jalan Krueng Raya ini akan menembus daerah Laweung.

DSCF1267

Sesaat kemudian, bus mulai menjalani jalan berbatu. Berbelok kiri..perlahan… sampai tangkai pelepah kelapa menyibakkan pemandangan yang tidak pernah saya lihat di manapun! Inikah pantai tujuan kita? Yang diucap-ucap seluruh anak kota sejak tadi malam? Tuhan, saya pasti sedang bermimpi! Saya tidak punya perbendaharaan kosakata yang tepat saat ini. Tapi dengan pasir putih nan lembut yang membujur terbentang, kawanan pohon keurembang tegak menyeruakkan akar-akar nya dari bawah air, segarnya angin khas sondai, apa lagi yang harus saya katakan. Sekedar menutup mulutpun saya sudah tak sanggup lagi.

DSCF1281

Pantai Lhok Mee ini masih sangat asri. Sangat jauh dari kebisingan. Yang ada hanya ada pepohonan tua, pepasiran putih, air biru yang berpendar, serta angin sepoi yang menyapu lembaran rambut dan wajah. Kami menyewa kawasan pantai ini untuk satu hari penuh. Untuk itu kami harus membayar satu setengah juta rupiah. Saya rasa impas untuk ukuran kami yang berjumlah delapan ratusan. Dan tawa tanda berakhirnya satu tahun ajaran yang lalu pun dimulai.

“Kamar 22 melawan Kamar Bedeng dan 16,” Teriak Raja. Salah seorang teman saya, yang kini merangkap menjadi ketua lomba tarik tambang. Kontan saja semua berteriak saling memanggil teman yang belum kelihatan batang hidungnya. Setelah semua berkumpul, adu tarik-menarik tali itu pun dimulai. Satu per satu berguguran. Yang menang semakin mendekatkan kakinya ke arah final. Bahkan para ustad pun juga ikut bermain.

Setelah tarik-menarik usai, giliran akhirat berbicara. Kami shalat Zuhur diantara padang pasir putih. Yang berdiri paling di sisi sebelah laut jika beruntung akan terkena sapuan ombak. Takbiratul Ihram, Rukuk, Sujud,   terus satu demi satu hingga berakhir dengan salam. Dan pasir putih pun terlukis indah di setiap wajah dan pipi. Kontan semua tertawa.

Akhirnya, saya pun merasakan apa yang disebut jatuh cinta. Tentu saja arti denotasi. Ah, kemana saja saya selama ini? Disinilah seharusnya pelajaran berada. Pada kerubungan kerapu yang muncul di antara akar-akar menjulang itu bersemayam ilmu-ilmu biologi yang selama ini saya tekuni. Kawanan Echinodermata untuk pertama kalinya saya lihat mengerayang di pesisir air yang surut. Bersama teman-teman menciptakan taman permainan sendiri di tengah belantara padang pasir putih. Liburan menarik diri saya ke dalam pusaran tawa.

Saya mungkin memang bukan anak yang terlahir di sisi laut. Tapi bukankah bangsa kita adalah negeri bahari? Tempat jutaan makhluk mengambil jatah hidupnya di antara ombak-ombak batu karang atau jauh di kegelapan yang dalam? Sadar atau tidak, sepertinya kita tidak bisa mengelak bahwa sebenarnya rasa asin pantai menyatu dalam tiap lekuk tulang. Bahwa ombak-ombak pantai yang suka sekali menjilat bibir pantai ternyata bergelombang dalam pembuluh darah kita. Tidak heran jika salah satu destinasi wisata yang dicintai warga republik ini adalah lautan.

Dan sepertinya sekarang saya sedang jatuh cinta :)

TFP #21 Jalanan: Usang. Berdebu. Mati!

DSCF5671 copy

Salah sudut kumuh Pasar Aceh. Jalannya penuh barang-barang dagangan tak beraturan dan kepulan debu. Lebih jauh lagi, penuh dengan deru kesendirian. Kabel-kabel kecokelatan yang usang dimakan asap usia. Jendela-jendela retak. Dedauan kering dan sampah dekil. Jalan berujung yang dihimpit dinding suram dan keacuhan.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 21: Jalanan, yang berlangsung di sini

Perfect Night !

Saya lelah. Saya ngantuk. Saya terharu. Tapi, saya senang tiada duanya.

Semalam, setelah menunggu hampir selama dua jam, pengumuman pemenang rangkaian lomba EDSA 31th Anniversary akhirnya di teriakkan. Dalam rangkaian lomba itu saya hanya mengikuti dua kompetisi: Lomba Essay dan Lomba Fotografi. Dan hasilnya: Lomba Essay, terbang ! Saya kalah.

Tapi, dalam lomba fotografi, foto black n white saya yang didapatkan dengan mentraktir adik kelas saya supaya mau menjadi model, berhasil bersarang di hati para panitia, dan di ganjar dengan peringkat ke-3 ! Akhirnya, foto yang saya potret sendiri, foto yang saya tangkap dengan susah payah, foto yang saya dapatkan setelah mengotak-atik kamera selama berbulan-bulan dan setelah mempelajari teknik-teknik fotografi secara autodidak melalui internet dinyatakan layak menjadi pemenang. Dan yang bikin saya terharu adalah kamera yang saya gunakan: Fujifilm FujiPix JX370. Iya, kamera saku ! Bukan kamera DSLR: kamera yang sudah sekian lama tertulis di daftar barang yang paling ingin saya miliki. Ngeliat foto-foto pemenang 1 dan 2 yang dipotret pake DSLR dan bandingin dengan kamera saku sendiri bikin saya tambah galau.

Tapi tetap saja, saya bahagia tiada banding !

*nangis dulu. Hiks..hiks… Srott!

Foto ini dulu pernah saya posting di sini. Ini dia foto nya:

Dari pemandian umum sebuah dayah di Banda Aceh, seorang anak membunuh waktu luang antrian mandinya dengan membaca sebuah buku pelajaran.

FYI, pemenang pertamanya adalah abang kelas saya, yang sekarang sudah jadi alumni :D Bang Hendri Julian. Tapi foto beliau lupa saya minta. Foto nya bagus banget ! Nanti deh, saya tempel di sini.

Saleum.

Weekly Photo Challenge: Color

DSCF6466

A monument of Nations that have been help to reconstruct and rehabilitate Aceh after Tsunami. Taken at Blang Padang, Aceh.

New to The Daily Post? Whether you’re a beginner or a professional, you’re invited to get involved in our Weekly Photo Challenge to help you meet your blogging goals and give you another way to take part in Post a Day / Post a Week. Everyone is welcome to participate, even if your blog isn’t about photography.

TFP #17 Biota Laut: Akhir Kehidupan Sang Ksatria Laut

ikan

Saya yakin sosok asli bangkai ekor ikan ini dulunya besar. Skala foto ini 1 : 10. Tapi saya tidak tahu persis jenis ikan apa ini. Gambar tersebut saya ambil di dapur umum salah satu dayah di Banda Aceh: Dayah Modern Darul Ulum. Ya, ikan ini sudah dijadikan santapan bagi ratusan kepala santri dayah tersebut. Akhir kehidupan sang ksatria laut.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17: Ocean Creatures (Biota Laut), yang berlangsung di sini

Weekly Photo Challenge: Lost in the Details

z

To complete this challenge is so difficult. But that’s why it called a challenge. We must try to take a shot as nice as we can. So, This afternoon, I am sitting at a cross-bridge in my city, Banda Aceh, bringing a digital camera, and take some shots of my city. Cars and motorcycles are rided by many people. Little by little, they are gone. Lost in the details. A nice afternoon at a corner of Banda Aceh.

New to The Daily Post? Whether you’re a beginner or a professional, you’re invited to get involved in our Weekly Photo Challenge to help you meet your blogging goals and give you another way to take part in Post a Day / Post a Week. Everyone is welcome to participate, even if your blog isn’t about photography.