Day One: The Last Refrain

Kuala Lumpur International Airport, 24th April 2014 [02:23pm]

Saya tak sadar tertidur kurang lebih beberapa menit sebelum mendarat. Setelah menghabiskan setangkup nasi lemak yang disediakan oleh awak kabin dan menikmati pigura langit yang menawan, kantuk semakin tak tertahankan rasanya…

Saya terbangun oleh guncangan badan pesawat akibat proses landing. Bunyi angin menderu-deru terdengar dari luar, menghadang laju pesawat yang semakin lamban akibat gesekan udara. Saya yang mendapat jatah duduk di seat nomor 2 dapat melihat dengan cukup jelas bagaimana para pramugari melaksanakan proses persiapan bagi penumpang untuk turun dari pesawat.

Suara seorang wanita terdengar mendayu-dayu dalam bahasa Inggris mengabarkan segala hal, tentang informasi bandara dan daerah, tentang rangkaian proses mengambil bagasi dan sebagainya. Sebuah hal yang saya yakini telah dilatih ―sambil membunyikan nada oktaf naik turun secara rutin― selama berbulan-bulan. Tapi bagaimanapun itu, saya menikmati tiap lekukan aksen Inggrisnya yang mencermikan karakteristik tutur kaum Malayu; mengakhiri bunyi setiap kata benda dengan pengucapan ‘e’. Saya membuka note handphone dan menulis di kolom Bucket List, “Mendengar dialek Inggris yang berbeda-beda: 1. Dialek Melayu: checked!”

Pesawat masih terus berjalan pelan. Area Bandara yang sangat luas membuat pilot harus membawa pesawat berjalan cukup jauh. Bunyi ban yang bergemerutuk beradu dengan aspal runaway terdengar cukup jelas dari kabin. Saya bisa merasakan getarannya dan juga mendengar duara mesin yang berdesing di bagian tengah pesawat.

Di saat sebagian teman saya terganggu dengan suara bising itu dan juga besarnya waktu yang melebar saat mencari tempat parkir, saya justru menikmatinya. Bagi saya perjalanan ini bukan sekadar menikmati sebuah destinasi sebagai setitik objek tapi juga dalam proses perjalanan itu sendiri, dalam berjalan menuju perjalanan itu. Menjadikan perjalanan sebagai sebuah cerita yang asyik diceritakan saat awalnya dan patut dikenang ketika akhirnya tiba. Sebuah seni, saya menyebutnya.

Dalam rentang waktu menunggu pilot melajukan pesawat menuju tempat parkir, sebuah bunyi kresek tiba-tiba bersuara, menyentuh saraf-saraf pendengaran kami.

“Penumpang yang terhormat…” suara seorang pria terdengar jelas. “Pada tahun 2014, maskapai penerbangan ini kembali meraih penghargaan sebagai maskapai dengan pelayanan terbaik. Dengan demikian kami telah berturut-turut mendapatkannya dalam 5 tahun berturut-turut. Terima kasih kami ucapkan atas pilihan anda menggunakan jasa maskapai ini,”

Reflek saya melihat ke arah beberapa teman. Mimik wajah mereka menampilkan raut, yang sepertinya, sama dengan saya, bingung. Lalu terdengar sedikit riuh di bagian belakang pesawat sana. Ada apa?

Continue reading