Day One: The Last Refrain

Kuala Lumpur International Airport, 24th April 2014 [02:23pm]

Saya tak sadar tertidur kurang lebih beberapa menit sebelum mendarat. Setelah menghabiskan setangkup nasi lemak yang disediakan oleh awak kabin dan menikmati pigura langit yang menawan, kantuk semakin tak tertahankan rasanya…

Saya terbangun oleh guncangan badan pesawat akibat proses landing. Bunyi angin menderu-deru terdengar dari luar, menghadang laju pesawat yang semakin lamban akibat gesekan udara. Saya yang mendapat jatah duduk di seat nomor 2 dapat melihat dengan cukup jelas bagaimana para pramugari melaksanakan proses persiapan bagi penumpang untuk turun dari pesawat.

Suara seorang wanita terdengar mendayu-dayu dalam bahasa Inggris mengabarkan segala hal, tentang informasi bandara dan daerah, tentang rangkaian proses mengambil bagasi dan sebagainya. Sebuah hal yang saya yakini telah dilatih ―sambil membunyikan nada oktaf naik turun secara rutin― selama berbulan-bulan. Tapi bagaimanapun itu, saya menikmati tiap lekukan aksen Inggrisnya yang mencermikan karakteristik tutur kaum Malayu; mengakhiri bunyi setiap kata benda dengan pengucapan ‘e’. Saya membuka note handphone dan menulis di kolom Bucket List, “Mendengar dialek Inggris yang berbeda-beda: 1. Dialek Melayu: checked!”

Pesawat masih terus berjalan pelan. Area Bandara yang sangat luas membuat pilot harus membawa pesawat berjalan cukup jauh. Bunyi ban yang bergemerutuk beradu dengan aspal runaway terdengar cukup jelas dari kabin. Saya bisa merasakan getarannya dan juga mendengar duara mesin yang berdesing di bagian tengah pesawat.

Di saat sebagian teman saya terganggu dengan suara bising itu dan juga besarnya waktu yang melebar saat mencari tempat parkir, saya justru menikmatinya. Bagi saya perjalanan ini bukan sekadar menikmati sebuah destinasi sebagai setitik objek tapi juga dalam proses perjalanan itu sendiri, dalam berjalan menuju perjalanan itu. Menjadikan perjalanan sebagai sebuah cerita yang asyik diceritakan saat awalnya dan patut dikenang ketika akhirnya tiba. Sebuah seni, saya menyebutnya.

Dalam rentang waktu menunggu pilot melajukan pesawat menuju tempat parkir, sebuah bunyi kresek tiba-tiba bersuara, menyentuh saraf-saraf pendengaran kami.

“Penumpang yang terhormat…” suara seorang pria terdengar jelas. “Pada tahun 2014, maskapai penerbangan ini kembali meraih penghargaan sebagai maskapai dengan pelayanan terbaik. Dengan demikian kami telah berturut-turut mendapatkannya dalam 5 tahun berturut-turut. Terima kasih kami ucapkan atas pilihan anda menggunakan jasa maskapai ini,”

Reflek saya melihat ke arah beberapa teman. Mimik wajah mereka menampilkan raut, yang sepertinya, sama dengan saya, bingung. Lalu terdengar sedikit riuh di bagian belakang pesawat sana. Ada apa?

Continue reading

Blessing is [Means] Rahmat

hisnameisrahmat.jpg

Banyak hal yang saya senangi dari bocah ini. Namun dua di antara banyak hal itu yang paling saya senangi adalah salam yang senantiasa ia ucapkan dan kepolosan kata-kata yang melewati celah antara dua bibirnya…

Namanya Rahmat. Rahmat Nazil. Salah seorang penghuni kamar Teuku Umar 2 yang memiliki nada suara khas dan postur tubuh kecil. Saya pertama kali bertemu dengannya hanya selang beberapa hari setelah minggu pertama masuk para santri baru.

Saya yang saat itu masih menjabat sebagai salah seorang punggawa penjaga peraturan dayah mendapatinya terlambat tiba ke masjid, padahal langit telah berubah warna menjadi mega merah pekat dan lantunan ayat-ayat langit yang sejak beberapa puluh menit lalu bergema kini telah mencapai batasnya. Magrib telah tiba.

Dia berlari, diiringi kepakan sarung yang belum terkenakan dengan sempurna dan peci yang masih tersampir miring di atas kepala kecilnya. Seharusnya saya marah dan menegurnya tapi ketika melihat pemandangan menggelikan seperti itu rasa marah sungguh musykil untuk dipertahankan.

Saya hanya menepuk punggungnya pelan menggunakan sajadah lalu menyuruhnya masuk ke dalam masjid saat tiba-tiba dia menggumamkan dua patah kata yang baru pertama kali saya dengar dari seorang santri baru seperti dia.

“Maaf akhi, saya enggak akan telat lagi…”

Dan dia memegang perkataannya sampai sekarang. Continue reading

Satu Muharram

darululumnight.jpg

Satu Muharram kembali datang dan saya menyambutnya dengan terus menggelas ilmu pengetahuan di dayah yang hampir menggenapi enam tahun di sisi. Malam ini tidak ada apa-apa yang bisa saya sodorkan untuk pergantian tahun Hijri. Hanya ada beberapa santri lain yang berangkatan di bawah saya. Langit cerah. Semarak. Masjid Baiturrahman mengkidungkan ayat-ayat langit sejak selepas Isya. Sebuah acara menyambut 1435 Hijriyah sedang berlangsung di tengah kota. Andai ada sistem konstelasi di kota Banda, maka sudah pasti saya katakan Mesjid bersejarah itu sebagai matahari pusatnya. Sedang bangunan-bangunan remeh di sekitarnya tak lain adalah sekumpulan planet dan masyarakat yang berduyun-duyun masuk ke lingkaran komplek Baiturrahman tak lebih sebagai asteroid-asteroid yang hilir mudik tak tentu arah.

Ah, betapa inginnya saya menyambut malam istimewa ini di sana…

***

Darul Ulum Islamic College, 4 November 2013 [20:56 PM]

Sepulang Isya, saya kembali ke kamar. Merencanakan sesuatu untuk sekedar melepas rasa penat. Saya mengambil sebuah buku ketika Ade, salah seorang junior saya, memasuki kamar.

“Akhi!” Ade memanggil saya dan bertanya,”kalau di rumah, rayain satu Muharram kayakmana?”

Saya terkejut dengan pertanyaan beraroma tiba-tiba itu. Tapi kemudian saya tersenyum dan mencoba mencari jawaban. Nihil.”Biasanya apa ya? Laa adri. Tidak tahu.  Akhi udah 6 tahun selalu satu Muharram di sini. Biasanya ke Baiturrahman kan dengar ceramah” Saya mencoba jujur. Dia terdiam. Saya mencoba bertanya balik. “Maza taf’al ‘adaatan? Biasanya kamu ngapain”

“Ana kalau di rumah biasa bakar ayam,” jawabnya. Dia tersenyum. Saya tertawa. Perut saya berbunyi.

Kemudian dia melanjutkan ceritanya. “Tapi gak enak juga akhi, kalau selalu makan ayam rame-rame. Lebih enak makan sendiri.”

Demi mendengarnya saya terdiam. Kata-kata Ade terdengar seperti lonceng yang bergemerincing, memukul dada. Tiap sensor gelombangnya menyentuh sudut terdalam di hati saya. Saya tertegun.

“Lebih enak makan sendiri..” kata Ade mengiang-ngiang di dalam kepala saya.

Angin malam bertiup sepoi. Jarum jam bersikeras menunjuk angka setengah dua belas. Saya duduk sendiri di lantai tiga bangunan gedung sekolah. Balkon kecil yang terbuka lebar ini langsung menghadap ke tengah kota. Menyuguhkan kelipan sinar-binar lampu yang menerangi Banda Aceh tiap malam. Seperti cahaya lampu yang menerangi buku-buku kami para santri hingga Candra berdiri tegak di atas kepala langit.

Malam ini saya mencoba berdamai dengan nasib. Tidak pergi ke Baiturrahman bukan berarti tidak bisa merayakan satu Muharram. Bahkan saya masih bisa untuk merayakannya sekedar dengan duduk di atas sini. Hanya ada saya dan diri saya sendiri. Kami bercengkrama, mengobrol seperti sepasang teman yang sudah terlalu lama berpisah. Kata-kata Ade tadi mengingatkan saya.

Bukan… bukan tentang potongan ayam yang nikmat disantap. Tapi tentang menyepi. Mencari tempat untuk menyendiri…

Sudah berapa lama saya tidak memperhatikan diri sendiri. Bercermin tentang kekurangan dan laku buruk yang sering tertunaikan. Lalu mencari sebuah pembenaran dari sebuah kejelekan yang acap kali menorehkan tinta hitam di buku amal. Kesibukan saya di dayah membuat saya melupakan bagian diri saya yang satunya. Tempat saya untuk membandingkan amal. Kini saya sadar bahwa Satu Muharram dan diri sendiri merupakan perpaduan yang memikat dan salah satu hal yang patut saya syukuri. Saya tersadar bahwa seringkali saya lupa menghaturkan maaf pada bagian diri yang lain dan mengikat janji untuk memperbaiki diri menuju laku yang lebih baik. Setidaknya saya tersadar…

Selamat satu Muharram! Semoga kau temukan bagian lain dirimu yang senantiasa menjadi pengingat akan tindak tanduk burukmu. Sampaikan salam terhangat saya untuk keluargamu dan orang-orang yang kau cintai.

Saleum; A

Postcrossing: A Postcard From Myself #Robin Round Indonesia 2

Semua hal akan kembali ke diri kita sendiri ~ Anonymous

Sejak Postcrossing menjadi hobi baru sejak Februari lalu, saya tergelitik untuk mencari komunitas kegiatan kirim-terima itu. Pamer-pamer kartu, berbagi info tentang nya, bahkan bisa saling berkirim ke sesama. Saya kira itu semua menjadi sebuah kuku penguat berpostcrossing.

Melalui internet pertama kali saya mencarinya. Terus mencari dan mencari, hingga kursor mouse saya berhenti di sebuah grup: Komunitas Postcrossing Indonesia. Sebuah grup tentang postcrossing dan segala tabur remeh nya. Setiap detil hal tentang kartu pos berkeliaran disini. Tentu juga kehangatan dan saling berbagi di antara teman. Membuat saya berpikir bahwa ini bukan lah grup hobi, tapi sebuah keluarga…

***

Dayah Modern Darul Ulum [10:13:12]

Ya Walad! Hunaka bitaqah Baridiyyah lak. Qad ‘U’ti ila shahibuk, rafsan. Khuz Ma’ah!” ujar seorang ustad pada saya. Artinya kurang lebih: Ada sebuah kartu pos untuk saya.

Yassalam.. Syukran Katsiran ustad!” jawab saya berterima kasih. “Afwan” balasnya cepat.

Hari ini Rabu, sedikit mendung. Awan masih berkerumun di langit. Melihat nya membuat saya teringat cucian baju sekolah yang masih tergantung di jemuran. “Hujan…“ucap saya pelan tidak kepada siapa-siapa. Saya duduk seorang diri merasakan tiap hembusan angin yang kian lama kian menggigit. Sepertinya bakal hujan. Saya melihat jam tangan saya. Waktu Istirahat masih panjang. Saya memutuskan untuk mengangkat cucian yang baru saja dicuci pagi tadi. Walaupun belum sepenuhnya kering itu lebih baik daripada lebih basah terkena bulir hujan. Pakaian, bagi kami para santri, tak ubahnya makan pagi dan bola kaki. Penting. Selalu dipakai 3 kali dalam seminggu. Maka ia harus selalu dalam kondisi terbaik.

Di perempatan jalan menuju jemuran seorang teman menikung saya. Dengan setengah berlari dia berteriak, “Afwan bro! Your postcard is in my bag. Ustad gave it to me just now.” Dia berlari kembali. Sepertinya dia sedang tergesa-gesa.

Thanks..” ujar saya pelan. Dia tidak mungkin mendengar.

Senyum mengembang di mulut saya. Dengan berlari saya menuju kamarnya. Menabrak sebuah ember entak milik siapa, menyenggol pundak seorang teman, lalu membanting pintu kamar dan mengobrak-abrik sebuah backpack ukuran 15 liter milik teman. Ini dia, sebuah kartu pos. Bukan Official Postcrossing. Tidak ada ID-nya. Saya perhatikan isinya dan tersadar ternyata kartu ini adalah kartu saya sendiri yang saya kirim pada Yessi untuk ikutan Round Robin Indonesia jilid 2. Sebuah Game yang dibuat oleh Fatimah Zahra dari Komunitas Postcrossing Indonesia.

Saya mengirim sebuah kartu pos yang masih suci, belum ditulis atau dipermak apapun, dalam sebuah amplop tertutup beserta kertas yang berisi alamat saya. Nanti saya pun akan menerima kartu dari teman yang lain, tentu saja dalam amplop tertutup. Setelah kartu nya saya terima saya harus mengirim kembali kartu itu tanpa amplop ke teman yang sudah mengirimkan kartu nya kepada saya. Stamped and written istilahnya kerennya. Penentu teman kirim dan terima kartu adalah Fatimah sendiri. Menarik ?

Kartu yang kita kirim akan kembali pada kita sendiri. Pengirimnya. Sebuah filosofi? Mungkin. Seorang ibnu sabil (traveller?) sejauh apapun langkahnya, sebanyak apapun jejaknya kelak dia akan kembali ke pelukan kampung halaman. Seorang manusia sebanyak apapun pahala dan dosa yang telah ditabur nya, sebaik atau seburuk apapun dia akan kembali ke asalnya. Tuhannya. Dan kartu ini, bagaimanapun dia telah terbang di atas ratusan kota, belasan gunung dan lautan. Atau berjalan di antara hiruk pikuk kehidupan manusia, singgah sebentar di kantor jingga nan sibuk lalu sampai ke tangan penerima. Dan dia pada akhirnya akan kembali kepada saya. Dulunya dia putih kosong tak tercoret namun dia kembali penuh dengan tulisan kenangan dari seberang. Dulu dia dikirim oleh wajah berkeringat penuh harapan untuk sampai ke tangan tujuan lalu dia kembali pada wajah penuh senyum dan rasa syukur. Kartu pos ini telah melalui beragam kisah.

Kartu pos ini adalah seorang Ibnu Sabil…

Untitled-6 Untitled-5

***

Saya sedang tertawa bersama teman-teman sambil melihat kartu pos ini ketika tiba-tiba seorang teman berkata dengan ekspresi bahagia,”Yes… Hujan!”. Benar, atap seng mulai ribut ditimpa deru butir hujan. Hati saya semraut. Sepertinya ada yang terlupakan…

….Baju sekolah saya…

*&^%^%$%$#@#!@!@

Terselip di antara Imsakiyah Ramadhan

Kenangan akan terus meninggalkan jejaknya dalam hidup seseorang. Kadang terselip antara raungan khas kesedihan, kadang dia menyeruak di tengah sorak-sorai kegembiraan, bahkan dia membisik ketika sedang duduk sendiri jauh dari keramaian. Seperti Ramadhan yang saban tahun selalu dirayakan.

***

Dalam kurikulum pelajaran di pondok pesantren saya, ada sedikit perubahan mata pelajaran yang menggembirakan tahun kemarin. Beberapa pelajaran membuat saya penasaran. Salah satunya Ilmu Falak. Cabang pengetahuan untuk menghitung perubahan gerak palnet-planet dan bintang untuk kemudian digunakan dalam mempermudah kehidupan manusia sehari-hari. Manusia, khususnya muslim. Bagaimana rasanya membilang rumus benda-benda angkasa luar ? Memikirkannya semakin membuat saya penasaran…

Komplek Pesantren Darul Ulum [17:45 pm]

Setelah Asar, iseng saya mengunjungi seorang teman yang sedang menghitung imsakiyah di kamarnya.

 “How’s your imsakiyah, brother?” ujar saya pada Iskandar.

It’s almost done.“jawab nya, “How about yours?

Mine? I haven’t touched it yet. I’ll finish it soon” jawab saya, lalu pergi meninggalkan Iskandar, kembali menuju kamar tidur saya sendiri. “You better finish it soon before limit time or you will be punished!” teriak Iskandar. Saya terus berlalu tak menghiraukannya.

Sudah setahun sejak saya pertama kali bergumul dengan cabang ilmu tersebut. Diajak untuk menghitung dengan rumus-rumus rumit mendebarkan. Lambang-lambang matematika berkeliaran kesana-kemari tiap saya mengetuk jari-jari saya pada tombol-tombol kalkulator. Saya pun mulai bisa mengeja arah kiblat hanya dengan menggunakan bantuan cahaya matahari dan sebilah tongkat yang biasa disebut istiwa. Menyadarkan saya bahwa masih banyak hal-hal ajaib lainnya jika kita mau sedikit saja menjelajahi lebih dalam sudut-sudut pengetahuan.

Kali ini, pengetahuan itu mengajak saya untuk mengejanya lebih sukar. Untuk pertama kali dalam hidup saya, imsakiyah menjadi titik perhatian aktifitas. Pernahkah memikirkan bagaimana hitungan tepat seorang falakiah bisa mempengaruhi sah atau tidaknya jadwal berbuka puasa seluruh umat ? Untuk itu saya pun diajarkan bagaimana menghitung awal waktu tiap alat lima waktu. Mencoba mencerna bahwa satu derajat posisi matahari yang melenggok di langit sana bisa mempengaruhi perbedaan waktu antara beberapa daerah di bumi. Tentunya bukan hal yang mudah untuk menghitung awal waktu 5 waktu salat sehari semalam selama satu bulan berjalan. Dibutuhkan kesabaran dan ketelitian yang tinggi untuk menghitungnya menggunakan rumus-rumus bertingkat. Teman-teman saya mungkin merasa heran ketika waktu tenggat tinggal beberapa hari lagi tapi saya belum menghitung imsakiyah satu waktu pun.

Dua minggu menuju hari pengumpulan imsakiyah [11:12 pm]

Malam ini sunyi. Para santri kebanyakan telah lelap. Sebagiannya lain memilih bercakap-cakap dengan suara setengah berbisik agar tak tertangkap bagian keamanan. Saya sendiri tengah duduk sendirian di bawah pohon mangga berukuran sedang yang tumbuh di depan asrama. Buku Biologi boleh melarang siapa saja untuk tidak duduk di bawah pohon pada malam hari, tapi tidak dengan saya. Yang penting merasa cukup nyaman dengan suasana sekitar. Terdengar sekilas bacaan Al-Quran dari masjid di sekitar komplek. Irama nya membawa saya kembali ke halaman rumah saya di kampung sana. Pelan, saya merasa sedang mengenakan kopiah dengan posisi miring, selembar kain sarung yang saya ikat di leher untuk mengurangi dingin, celana pendek dan sepasang sandal jepit. Saya tidak sendiri. Bersama lima rekan, kami pergi ke mushalla kecil yang biasa kami sebut Bale’ beut. Bahasa daerah saya untuk menyebut rumah panggung yang biasa digunakan mengaji. Dengan semangat Ramadhan kami menghidupkan mikrofon TOA yang berdebu dan tilawah hingga larut. Kadang disertai dengkuran beberapa teman yang tertidur karena sudah lelah mengaji.

Mengenang nya membuat saya terkekeh. Bahkan setelah waktu 5 tahun dan jarak luas yang memisahkan, kenangan itu masih saja muncul dan mengibur. Seperti menyadarkan saya bahwa, kenangan itu akan terus ikut berpacu di belakang waktu dalam batasan jarak yang telah ditentukan oleh Sang Penentu. Terkadang dia tertinggal karena hal-hal lain yang lebih penting dipikirkan. Maka jadilah ia terlupa. Tapi secepat apapun waktu, ia perlu beristirahat. Di malam yang sunyi misalnya ketika waktu melambat, kenangan bisa saja hadir membelai. Di antara waktu dan jarak yang memisahkan terselip kenangan yang terlupakan.

Kenangan indah saya tentang Ramadhan terusik ketika mengingat tugas imsakiyah yang belum saya kerjakan. Mungkin alasan terbesar kenapa saya belum mengerjakan nya adalah itu. Menunggu waktu yang tepat? Tidak. Saya ingin menikmati bagaimana menghitung waktu-waktu Ramadhan bisa membawa saya ke kenangan-kenangan terindah dalam hidup. Bukankah peraturan belajar nomor satu adalah menikmati, bukan merasa tersiksa ?

***

Next day…

Iskandar: Hey brother, I’m about to finish, how’s your imsakiyah? Me: Hm… I’ve registered it to Ustad this morning | Iskandar: This morning? | Me: Yes, indeed..

IMG

Perfect Night !

Saya lelah. Saya ngantuk. Saya terharu. Tapi, saya senang tiada duanya.

Semalam, setelah menunggu hampir selama dua jam, pengumuman pemenang rangkaian lomba EDSA 31th Anniversary akhirnya di teriakkan. Dalam rangkaian lomba itu saya hanya mengikuti dua kompetisi: Lomba Essay dan Lomba Fotografi. Dan hasilnya: Lomba Essay, terbang ! Saya kalah.

Tapi, dalam lomba fotografi, foto black n white saya yang didapatkan dengan mentraktir adik kelas saya supaya mau menjadi model, berhasil bersarang di hati para panitia, dan di ganjar dengan peringkat ke-3 ! Akhirnya, foto yang saya potret sendiri, foto yang saya tangkap dengan susah payah, foto yang saya dapatkan setelah mengotak-atik kamera selama berbulan-bulan dan setelah mempelajari teknik-teknik fotografi secara autodidak melalui internet dinyatakan layak menjadi pemenang. Dan yang bikin saya terharu adalah kamera yang saya gunakan: Fujifilm FujiPix JX370. Iya, kamera saku ! Bukan kamera DSLR: kamera yang sudah sekian lama tertulis di daftar barang yang paling ingin saya miliki. Ngeliat foto-foto pemenang 1 dan 2 yang dipotret pake DSLR dan bandingin dengan kamera saku sendiri bikin saya tambah galau.

Tapi tetap saja, saya bahagia tiada banding !

*nangis dulu. Hiks..hiks… Srott!

Foto ini dulu pernah saya posting di sini. Ini dia foto nya:

Dari pemandian umum sebuah dayah di Banda Aceh, seorang anak membunuh waktu luang antrian mandinya dengan membaca sebuah buku pelajaran.

FYI, pemenang pertamanya adalah abang kelas saya, yang sekarang sudah jadi alumni :D Bang Hendri Julian. Tapi foto beliau lupa saya minta. Foto nya bagus banget ! Nanti deh, saya tempel di sini.

Saleum.

A Word on Cognizance

DSCF0280

Tak terasa dedaunan telah berubah warna: kecokelatan, lalu menjadi hijau terang benderang. Bebungaan kuning telah mekar dari pohon-pohon besar yang tumbuh di depan bangunan utama sekolah saya. Musim-musim telah bertukar posisi. Seirama dengan semester yang sesaat lagi akan segera berganti: dari Desember sampai ke April. Seakan baru kemarin kami merayakan euforia berakhirnya ujian semester ganjil.

Tak terasa.

Minggu-minggu ke belakang selalu merupakan masa-masa paling melelahkan dalam semester ini. Sepanjang tahun. Setidaknya sampai saat ini. Absennya liburan panjang layaknya dalam masa semester ganjil selalu menjadi daya peredup semangat kami dalam belajar. Namun daya peredup yang sesungguhnya adalah ujian tengah semester. Dan senin kemarin merupakan hari ditiup nya peluit start estafet ujian yang berhari-hari lamanya.

Saya menyebutnya sebagai: Genderang Perang !

Penabuhnya adalah kami, para santri yang sedang labil ditengah sistem pendidikan melelahkan ini. Dan lawan kami adalah belasan pelajaran abstrak yang selalu penuh dengan rumus, kosakata asing, dan hafalan. Tiap malam kami mengeja satu-satu pelajaran yang akan diujikan besok. Semuanya terasa mengalir di sela-sela kening: Asas Black, Limit Fungsi, Laporan Ilmiah, G 30 S/PKI, Sistem Saraf…

Untungnya kawan, semua pelajaran abstrak itu masih berada dalam ruang lingkup ujian tengah semester. Belum lagi jika ujian yang dihadapi bernama: Ujian Semester. Pelajaran yang diujikan akan berlipat menjadi 2, karena ditambah dengan pelajaran dari kurikulum dayah.

Walaupun membayangkan betapa beratnya, tetap saja selalu terbersit dalam relung diri bahwa semuanya terasa alamiah. Tubuh kami telah terlatih selama 4 tahun lamanya untuk menghadapi terjangan soal-soal selama 14 hari itu. Tapi tetap saja, kehidupan bagaikan pohon tinggi. Semakin tinggi ia, semakin kencang angin yang menerpanya -klise sekali-. Setiap tahun pelajaran semakin rumit saja. Dan tentunya soal-soal akan semakin susah !

Makin menjadi-jadi sulitnya karena tahun ini kami didapuk sebagai pemegang kendali organisasi dayah. Kami lah masinis yang mengatur santri-santri junior di bawah kami untuk tetap berjalan di atas rel bernama peraturan. Di tengah kesibukan menghitung rumus-rumus Bernoulli dan Algoritma Trigonometri, kami juga harus membilang dan mengabsen santri yang tidak pergi ke masjid. Di tengah rutinitas mengukur takaran yang tepat dalam percobaan koloid dan buffer di laboratorium kimia, kami juga harus mengukur bijak beratnya hukuman yang diberikan pada para pelanggar nidham, peraturan. Ketika kami mulai sibuk mencari-cari info universitas-universitas favorit, kami juga harus mencari para pelanggar nidham yang luput tidak masuk mahkamah.

Begitulah. Sampai saya digiring oleh alam pada sebuah kesimpulan: tingkatan usia seseorang berbanding lurus banyaknya tanggung jawab yang dipikul. Pada akhirnya orang di sekeliling saya akan berubah. Semua nya akan berubah. Maka ketika alam di sekitar berubah, saya –dan kita semua– harus ikut berubah.

Inilah hukum alam. Tidak ada yang bisa mengelak dan menghalanginya. Bagaimana pun kita mencoba, alam pasti kan mendobraknya. Kita lah yang harus menyesuaikan diri. Seperti pohon besar yang tumbuh di depan sekolah saya: Menyesuaikan diri mengikuti kehendak alam. Dulunya cokelat, lalu menghijau, lalu bermekaran bunganya, lalu gugur dedaunan dan buah-buah kecil nya, lalu kembali menjadi cokelat. Siklus pun berulang. Sampai gugur semua helaian daun dan ranting dedahan nya. Dan mati.

Hari ini, saya kembali menemukan satu kepingan lain tentang makna hidup ini.

Saleum !

Ere Dip !

Zamer

Dari pemandian umum di sebuah dayah Banda Aceh, seorang anak membunuh waktu kosong antrian mandinya dengan membaca sebuah buku pelajaran.

Foto ini diikutsertakan dalam lomba Fotografi Edsa 2013: Pendidikan, yang berlangsung di sini

 

My This Week Photo: The Justice

Salah satu sistem pendidikan yang ada di lembaga dayah (pesantren) modern adalah mahkamah. Mahkamah berarti ‘pengadilan’ atas kesalahan yang dilakukan santri. Kesalahan yang biasa dilakukan biasanya terkait dengan penggunaan bahasa yang tidak diperbolehkan -seperti bahasa nasional, bahasa daerah, dan ucapan yang tidak pantas- (di pesantren hanya diizinkan berbicara memakai dua bahasa, Arab dan Inggris), pelanggaran di bidang akhlak, pelanggaran di bidang kebersihan, pelanggaran di bidang keamanan, dan lain sebagainya.

Dan yang menjalankan roda mahkamah adalah kami, para senior organisasi. Kami lah yang tiap malam bertugas ‘menghakimi’ para santri di bawah kami yang bermasalah. Pelanggaran ringan hanya kami berikan hukuman sekedarnya seperti push-up, lari keliling lapangan, mencari pelanggar lain dan menghafal kosakata baru dalam bahasa Arab dan Inggris. Adapun yang berat langsung diambil alih oleh para ustad.

Di novel ‘Negeri 5 Menara’, semua proses mahkamah di jelaskan secara rinci oleh Bang Ahmad Fuadi. Karena dayah tempat saya belajar, kurang lebih, mengadopsi sistem pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.