The Beginning: Simpul Di Atas Awan

Saya dan kita semua senantiasa terkesan dengan masa kanak.

Sewaktu saya kecil, kata luar negeri punya makna yang jauh melampaui pemikiran. Saya berpikir betapa jauhnya luar negeri, melewati batas antar planet, melintasi kabut-kabut nebula yang telah saya kagumi sejak baru bisa membaca. Dari buku-buku yang saya baca, luar negeri menggambarkan kata perbedaan, saat kita bertemu dengan rupa manusia yang berbeda-beda maka betapa hebatnya tanah di luar sana!

Kemudian hari saat bencana tsunami menghantam, ayah saya diminta bergabung dengan salah satu badan rehabilitasi bencana dan sering meninggalkan kami bepergian ke berbagai kota di Indonesia. Saat dia pulang, kami diceritakan tentang hebatnya kota-kota itu. Bahwa letaknya jauh meloncati beberapa kepulauan, dengan makanan yang berbeda rasanya, irama azan yang unik dan dengan bahasa yang berlainan. Sembari membagikan oleh-oleh ayah mengabarkan tentang kota tersebut. Saat ayah bercerita, saya menangkap rasa rindu yang begitu menyeruak pada kehidupan kota di sana. Dan saat itu pula keinginan saya untuk pergi ke sana tumbuh berkecambah. Di tiap kisah yang ayah tuturkan, saya selalu menyelipkan sekeping doa berharap semoga saja tapak saya juga akan menjejas tiap langkah yang ayah susuri di kota-kota itu.

Dan ya, Tuhan cukup senang dengan kata kejutan.

Beberapa tahun setelahnya, untuk pertama kalinya saya duduk di bangku pesawat dan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta untuk mengikuti sebuah perhelatan. Jakarta telah saya injak. Setahun berselang, Saya menghirup aroma tanah Batam dalam balutan hutan perkemahan pramuka. Beberapa bulan kemudian saya akhirnya menikmati rasanya menaiki angkutan umum bentor di hiruk pikuk Gorontalo.

Untuk sesaat saya mengucap kebesaran Tuhan.

Lalu kemudian, saat melihat samar bayangan bangunan Marina Bay Hotel dari pantai Batam, saya berdoa sedikit nakal: Mungkin saja Malaysia atau Singapura menjadi negeri pertama yang akan saya tapaki dengan genggaman passport! Tahun berganti, dan Tuhan ternyata mendengar doa saya namun dengan sedikit hadiah yang berbeda…

***

 Banda Aceh — Kuala Lumpur, 23 April 2014 [12:53pm]

Saya baru saja menghabiskan setangkup nasi lemak yang disediakan awak kabin pesawat, salah satu nasi terlezat yang pernah saya nikmati. Di dalam pesawat. Di atas awan. Dua orang karib di sebelah kanan saya tengah memutar playlist di smartphone dan berbagi kabel earphone bersama. Saya melihat ke barisan kabin yang memanjang ke belakang. Banyak teman saya yang terlelap dan mengapitkan kedua lengan di antara ketiak mereka, tidak sedikit pula yang memilih untuk membuka lembaran inflight magazine. Beberapa mencoba untuk menghilangkan mual dengan berbincang dengan karib di sebelahnya.
Continue reading

Sepotong Titik yang [Tak Pernah] Berakhir

when sun set at the horizon

Tiap-tiap kita dianugerahi Tuhan dengan garis lengkung sempurna yang menyinggung garis lainnya tanpa pernah bertanya mengapa ataupun bagaimana. Manusia sejatinya mengguratkan tinta dalam lembaran-lembaran kehidupan, menghiasinya dengan torehan kejadian, lalu menutupnya dengan kenangan-kenangan sebagai pelajaran bagi generasi mendatang. Seperti jejak-jejak siluet jingga yang ditinggalkan matahari terbenam pada sore ini.

Barisan batang Keutapang memagari saluran air yang menjadi arena berlari ratusan santri dengan siluet hitam panjang. Lapangan semen berkilat memantulkan sinar angkasa. Matahari beredar dalam orbit langitnya perlahan membiarkan romansa senja menangkapnya dalam satu gambar utuh tentang manusia yang berjuang, bertahan. Pendar langit memeluknya dengan awan-gemawan bertingkat-bertingkat layaknya ombak yang menyapu pesisir pantai. Diiringi tatapan iri dari pelakon semesta lain, mereka semua mengamati hal-hal yang bergerak di bawah sini.

Ratusan santri berlari serentak menuju masjid dengan sarung yang belum terkenakan dengan sempurna, dengan kopiah kecil yang tersampir miring di kepala-kepala kecil mereka, dengan alquran dan sajadah aneka warna rupa. Laju mereka memuncak seiring hitungan mundur para punggawa organisasi santri yang menggawangi jalannya peraturan dayah ini. Dalam tiap satuan angka yang melesat mundur itu saya menghitung berapa banyak hal yang telah terjadi selama saya menyusuri bentangan ilmu di sini.

Apa yang telah saya dapatkan?

Lebih besar lagi, apa yang telah saya lakukan untuk tempat ini?

Tempat ini mengajarkan saya untuk melihat segala sesuatu dalam sudut pandang kedewasaan, dengan menisbikan keegoisan. Mendidik saya untuk menyetarakan setiap hal tanpa pernah meremehkan setiap detil yang akan dan sudah terlewatkan. Dalam rentang waktu selama ini, berbagai cita-cita terpatri karena kebodohan dan kemahatololan diri sendiri telah gagal saya raih. Tapi dibalik itu, kegagalan menyadarkan bahwa saya tidak gagal dalam segala hal, hanya sebagian besar. Dan tidak kalah sendirian. Di antara ratusan kepala di tempat ini saya punya teman untuk berbagi kegagalan bersama, berbagi kebodohan bersama, berbagi sepiring nasi bersama.

Kini saya hanya mampu menyuarakan bersyukur mampu berdiri di tiap-tiap linimasa itu. Menjadi santri baru, memandang tempat ini dalam tempurung kebodohan, untuk selanjutnya merasakan tingkatan-tingkatan berlainan jarak dengan pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda.

Dan tentang apa yang sudah saya berikan untuk tempat ini, biarlah arus lakon kesibukan membawanya hanyut. Karena jauh dalam ceruk terdalam hati ini, saya cukup hanya ingin menjadi koma yang membiarkan jutaan kata-kata lain menyambungkannya, melanjutkan untaian kata yang telah dibangunnya, alih-alih menjadi titik yang tidak menyisakan sepotong tanda baca setelahnya.

Karena dibalik punggung saya, masih ada ratusan santri lain yang memegang kitab, mengaji ketika matahari telah sempurna terlelap di peraduan, mengeja kosakata baru tiap subuhnya. Karena di belakang tapak masih ada penerus impian-impian saya, cita-cita saya, dan hasrat-hasrat saya yang terpendam untuk tempat ini.

Karena saya hanyalah sepotong matahari senja yang memandang lekat ufuk timur, mengingatkan tentang awal eksistensi saya di sini. Menyimak saat-saat terakhir, menikmati guliran waktu yang memudar seiring siluet yang memendek dan intensitas cahaya matahari yang meredup perlahan…

Darul ulum Islamic College — Banda Aceh, 16th Aprul 2014 [06:22pm]

A Note of Exam

BeFunky_DSCF8551.jpg

Saat pikiran diperluas gagasan baru , ia takkan pernah kembali pada bentuknya semula ~Oliver Wendell Holmes

Darul Ulum Islamic College, 6 December 2013 [07:04pm]

Bagi mereka yang telah terpilih untuk merasakannya, saat-saat ini merupakan waktu yang paling dirindukan. Hari berulang kali berganti nama dan akhirnya ujian dayah kembali hadir bersambang. Kali ini dengan sentimentil, ujian datang dalam balutan kenangan yang istimewa. Inilah ujian dayah ke sebelas sejak saya pertama kali menyicip potongan-potongan ilmu di sini. Inilah ujian terakhir saya di dayah ini.

Saya senang menganalogikan ujian seperti kembang api. Mulanya ia menderita. Segala bentuk api penyulut yang membakar membuatnya terbang tinggi ke langit disertai teriakan hebat yang memekakkan telinga dan kepulan asap yang menyesakkan rongga dada. Tapi lihat bagaimana akhirnya! Dia menjelma menjadi kilauan bunga-bunga api indah aneka warna dan rupa di atas sana. Dia menerobos gelap malam lalu menggantinya dengan riuh cahaya yang gegap gempita. Saya rasa hanya pemandangan matahari yang kembali ke peraduanlah yang mampu bersanding dengan cantiknya kembang api.

Saya pun demikian.

Jika terizin disebut, ujian kali ini kiranya menjadi salah satu etape terakhir perjalanan dari kembang api dalam diri saya sebelum bermetamorfosis menjadi ledakan sinar yang menyenangkan dan menerangi alam sekitar. Ujian kali ini, jika diperinci, merupakan ujian ke dua puluh tiga dalam senarai hidup saya. Yang berarti kurang lebih: Seberapa banyakkah ilmu saya sekarang?

Tidak tanggung-tanggung ujian ini. Jika tidak kuat, siap-siap terpental. Selama setengah bulan ujian maraton akan menarik-narik diri dalam pusaran yang kuat.

Saat beberapa teman menganggap ujian sebagai sebuah momok, saya cenderung menganggapnya sebagai salah satu puncak selebrasi intelejensia selama 6 bulan ke belakang. Hanya di minggu-minggu ini beberapa kejadian unik akan berlangsung. Tidak akan terjadi di luar ujian.

Saat-saat seperti ini lah buku seakan menjadi baju yang senantiasa melekat di badan. Mengikuti kemana saja saya beranjak. Lalu malamnya tertelungkup menutupi wajah mengiringi  sang empunya melangkah ke taman mimpi. Ada juga yang menjadi makhluk malam dan menekuri buku setelah berdoa panjang dalam tahajud. Kemudian terkikik-kikik mendengar teman yang mengigau tentang pelajaran Nahwu. Juga jembatan-jembatan keledai aneh dan menggelikan yang, entah kenapa, hanya bisa tercipta selama ujian. Menarik sekali. Ujian, sungguh sangat menarik.

Pun, saya merasa hanya di malam-malam ujian mimpi menjadi sangat absurd.

Saya pernah bermimpi menjadi Iron Man menggantikan Tony Stark yang sedang sakit. Dalam mimpi itu saya merupakan salah satu anggota Fantastic Four. Padahal setahu saya, si Iron tak ada sangkut pautnya dengan Fantastic Four. Lebih ganjil lagi saat ternyata saya bisa menembakkan meriam laser dari telapak tangan seperti yang kerap dilakukan Tony Stark. Namun, sebelum menembaknya saya harus melafalkan beberapa kaidah Nahwu yang sedang saya hafal dengan benar. Jika salah, tak akan keluar tembakan itu. Dengan sekuat tenaga saya berusaha membaca dengan benar. Dan, ampun, karena hafalan saya benar luar dalam, maka kekuatannya menjadi tak terkendali dan tangan saya terbang kemana-kemana. Tiba-tiba Ben Grimm yang tak lain adalah si Thing, sang manusia batu, menepuk bahu saya dengan keras. Lalu terdengar teriakan,”Saket, gam!”. Saya terbangun. Teman saya yang berbadan tambun mengelus-elus wajahnya yang memerah terkena pukulan saya.

Lain waktu, malam ujian hadis, saya bermimpi kembali. Dalam mimpi itu secara ajaib saya menjadi komposer selihai Mozart. Saya sinuhun memainkan berbagai alat musik. Yang lebih mendebarkan lagi: saya pandai bermain biola! Bukan main bahagianya hati saya dalam mimpi itu. Padahal di alam nyata gitarpun seperti tidak mau bertunangan dengan saya. Kunci-kuncinya susah sekali terhafal. Dan ketika saya sedang bermain biola itu, dawai-dawai yang sedang tergesek menjelma menjadi lembaran-lembaran kitab hadis yang semestinya saya daras. Saya tak acuh. Toh, ini hanya mimpi. Untuk apa dipusingkan? Kemudian saya pun mendikte hadis-hadis yang terdapat dalam kitab itu. Jika susunan sanad nya benar, maka alunan biola mengkidungkan Symphony No. 4 in D major, K. 19 milik Mozart. Manis nian terdengar! Tapi, sekonyong-konyong nada-nada gemulai tadi berhamburan tak tentu arah seperti ayam dikejar mau dipotong. Nadanya berubah. Lama-kelamaan semakin terdengar seperti suara ketukan pintu. Lalu titik air terasa membasahi wajah. Saya terkejut dan terbangun.”Istaiqidhz, ya akhi! Bangun! Udah mau subuh!” suara salah seorang teman menghancurkan mimpi aneh saya yang indah tadi.

Namun tak ada mimpi yang lebih aneh dari semalam. Dalam mimpi saya, Yingluck Shinawatra, si perdana menteri Thailand yang sedang dituntut mundur itu mengadu kepada saya bahwa ia merasa tertekan dengan kehidupannya saat ini dan dia ingin masuk Islam. Nah?

….

Makin lama saya berkubang dalam ujian, semakin banyak hal unik yang saya temukan. Semua hal tadi, secara halus, membuat saya sadar bahwa tak ada yang salah dengan ujian. Ia bukanlah hal yang menakutkan. Ujian laksana teman yang jarang bersua, hanya 2 kali dalam setahun, mengajak kita menyusuri lembah-lembah ilmu dan mengenang kembali pengetahuan-pengetahuan yang tersebar di tiap sudut pemikiran. Lalu membuka cakrawala gagasan kreatif yang selama ini tertutup kerangkeng tempurung. Ujian juga kerap melentingkan kemampuan fisik sampai pada tingkat tertinggi, membuat kita mengukur sejauh mana alam menguatkan kita.

Saban tahun, tiap selesai mengarungi ujian, saya berpikir untuk apa saya melakoni ini semua. Apakah karena terinjak-injak sebuah sistem pendidikan? Apakah karena harus? Menjadi sebuah bagian dalam hidup untuk kehidupan yang ‘layak’ ketika dewasa kelak? Semua pertanyaan itu semakin menggunung ketika materi semakin banyak dan tentunya semakin pelik. Sampai suatu ketika salah seorang guru menegur saya dengan cara yang paling mengena dalam hati. Dalam hidup.

“Amirul, kalau kamu terus berpikir begitu, saya jamin, di antara semua teman-teman kamu satu tingkatan, hanya kamu yang akan gagal! Hanya kamu sendiri yang akan gagal! Ada suatu hal yang tidak kamu pernah pahami jika pemikiranmu sudah terbentuk seperti itu, yaitu penghargaan akan pengetahuan, memuliakan guru, dan teman yang selalu mendukung…”

Saya tersentak.

Benar-benar tersentak.

Kemudian akhirnya saya tersadar. Ujian tanpa saya sadari sebenarnya mendekatkan diri pada hal-hal baik yang jarang terkerjakan. Pulpen, yang biasanya secara misterius sering hilang tak tahu kemana, akhirnya selalu dalam genggaman saat ujian. Buku yang terus melekat seperti baju dalam tiap anjak. Ilmu yang senantiasa terekam oleh lisan dan pikiran. Tekad baja untuk menuntaskan semua ilmu yang terpatri. Semakin bijaksana dalam mengatur keuangan, karena harus disesuaikan dengan pembelian vitamin. Semakin adiluhung dalam mengelola jadwal keseharian, karena menjaganya agar tak terbentur dengan agenda belajar. Dan yang terpenting, semakin ramai doa yang terekam untuk diberikan sayap, terbang menuju langit, di tiap salat tertunaikan. Semua hal tadi saya singkat dengan; Ujianlah pengait kebaikan sesungguhnya.

Ujian, sungguh sangat mendebarkan!

***

Dan akhirnya jika seseorang bertanya seberapa banyak ilmu saya sekarang, izinkanlah saya menjawab,

“Semoga ada keberkahan di tiap ilmu yang tertenun…”

***

Salam; A

Satu Muharram

darululumnight.jpg

Satu Muharram kembali datang dan saya menyambutnya dengan terus menggelas ilmu pengetahuan di dayah yang hampir menggenapi enam tahun di sisi. Malam ini tidak ada apa-apa yang bisa saya sodorkan untuk pergantian tahun Hijri. Hanya ada beberapa santri lain yang berangkatan di bawah saya. Langit cerah. Semarak. Masjid Baiturrahman mengkidungkan ayat-ayat langit sejak selepas Isya. Sebuah acara menyambut 1435 Hijriyah sedang berlangsung di tengah kota. Andai ada sistem konstelasi di kota Banda, maka sudah pasti saya katakan Mesjid bersejarah itu sebagai matahari pusatnya. Sedang bangunan-bangunan remeh di sekitarnya tak lain adalah sekumpulan planet dan masyarakat yang berduyun-duyun masuk ke lingkaran komplek Baiturrahman tak lebih sebagai asteroid-asteroid yang hilir mudik tak tentu arah.

Ah, betapa inginnya saya menyambut malam istimewa ini di sana…

***

Darul Ulum Islamic College, 4 November 2013 [20:56 PM]

Sepulang Isya, saya kembali ke kamar. Merencanakan sesuatu untuk sekedar melepas rasa penat. Saya mengambil sebuah buku ketika Ade, salah seorang junior saya, memasuki kamar.

“Akhi!” Ade memanggil saya dan bertanya,”kalau di rumah, rayain satu Muharram kayakmana?”

Saya terkejut dengan pertanyaan beraroma tiba-tiba itu. Tapi kemudian saya tersenyum dan mencoba mencari jawaban. Nihil.”Biasanya apa ya? Laa adri. Tidak tahu.  Akhi udah 6 tahun selalu satu Muharram di sini. Biasanya ke Baiturrahman kan dengar ceramah” Saya mencoba jujur. Dia terdiam. Saya mencoba bertanya balik. “Maza taf’al ‘adaatan? Biasanya kamu ngapain”

“Ana kalau di rumah biasa bakar ayam,” jawabnya. Dia tersenyum. Saya tertawa. Perut saya berbunyi.

Kemudian dia melanjutkan ceritanya. “Tapi gak enak juga akhi, kalau selalu makan ayam rame-rame. Lebih enak makan sendiri.”

Demi mendengarnya saya terdiam. Kata-kata Ade terdengar seperti lonceng yang bergemerincing, memukul dada. Tiap sensor gelombangnya menyentuh sudut terdalam di hati saya. Saya tertegun.

“Lebih enak makan sendiri..” kata Ade mengiang-ngiang di dalam kepala saya.

Angin malam bertiup sepoi. Jarum jam bersikeras menunjuk angka setengah dua belas. Saya duduk sendiri di lantai tiga bangunan gedung sekolah. Balkon kecil yang terbuka lebar ini langsung menghadap ke tengah kota. Menyuguhkan kelipan sinar-binar lampu yang menerangi Banda Aceh tiap malam. Seperti cahaya lampu yang menerangi buku-buku kami para santri hingga Candra berdiri tegak di atas kepala langit.

Malam ini saya mencoba berdamai dengan nasib. Tidak pergi ke Baiturrahman bukan berarti tidak bisa merayakan satu Muharram. Bahkan saya masih bisa untuk merayakannya sekedar dengan duduk di atas sini. Hanya ada saya dan diri saya sendiri. Kami bercengkrama, mengobrol seperti sepasang teman yang sudah terlalu lama berpisah. Kata-kata Ade tadi mengingatkan saya.

Bukan… bukan tentang potongan ayam yang nikmat disantap. Tapi tentang menyepi. Mencari tempat untuk menyendiri…

Sudah berapa lama saya tidak memperhatikan diri sendiri. Bercermin tentang kekurangan dan laku buruk yang sering tertunaikan. Lalu mencari sebuah pembenaran dari sebuah kejelekan yang acap kali menorehkan tinta hitam di buku amal. Kesibukan saya di dayah membuat saya melupakan bagian diri saya yang satunya. Tempat saya untuk membandingkan amal. Kini saya sadar bahwa Satu Muharram dan diri sendiri merupakan perpaduan yang memikat dan salah satu hal yang patut saya syukuri. Saya tersadar bahwa seringkali saya lupa menghaturkan maaf pada bagian diri yang lain dan mengikat janji untuk memperbaiki diri menuju laku yang lebih baik. Setidaknya saya tersadar…

Selamat satu Muharram! Semoga kau temukan bagian lain dirimu yang senantiasa menjadi pengingat akan tindak tanduk burukmu. Sampaikan salam terhangat saya untuk keluargamu dan orang-orang yang kau cintai.

Saleum; A

The Rain

It’s 11:12 am and raining now so as memories. The fact that I’ve been here -in my campus- for almost six years surprises me. The time runs without any limit. And I want to share to you a little part of it…

hujan

Hujan pertama sejak saya kembali ke tanah ini, akhirnya menjamahi bumi…

Mungkin arus kesibukan tempat ini telah membuat saya lupa bahwa alam terkadang memilah tanah-tanah kering untuk dicandai suatu ketika, dan datang bersama awan-awan kelabu pekat beserta orkestra guntur yang bertalu-talu memainkan nada oktaf feedback tertinggiMungkin ribuan kosakata-kosakata arab yang wajib saya hafal saban minggunya membuat kepala saya tidak mampu merasakan lelah, atau lebih tepatnya tidak boleh merasakan lelah. 

Kemudian hujan bertandang melunturkan itu semua. Menyadarkan saya dalam berbagai cara bahwa kehidupan juga butuh sebuah tombol pause, menghentikan sejenak permainan anak-anak manusia. Menghadirkan cerita kalis di tengah drama satir perjalanan. Membiarkan sejenak telinga-telinga cendawan untuk tumbuh mengikuti irama angin. Dari beberapa alasan sentimentil, saya menyukai rintikan air dari langit ini…

Hujan lalu menziarahi tanah ini dengan membawa berbagai ‘pertama kalinya’. 

Untuk pertama kalinya dalam bulan ini, saya harus membiarkan baju-baju kotor menumpuk di sudut kamar. Menunggu hujan reda hingga matahari bersedia untuk menerpa sinar hangatnya pada cucian saya. Untuk pertama kalinya, saya terlambat mengikuti beberapa pelajaran karena rona abu langit tak sejalan dengan gerak detik jam tangan saya. Untuk pertama kalinya saya terpaksa meninggalkan shalat Ashar berjamaah karena hujan berbaris menghalangi.

***

Hujan sudah hampir seminggu membasahi ranah. Tapi siang ini sepertinya dia mulai mempersilahkan kami menikmati hasil perbuatannya. Beberapa genangan air terbentuk bertali dua dengan “jebakan” lumpur-lumpur yang tidak terlihat oleh retina.

“Yakhriq bait!” salah seorang teman mengumpat. Kakinya berlepotan terkena tanah lembek berlumpur. Saya dan beberapa teman tertawa mengejek. Ahh… kadang ditengah keseriusan mengumpulkan ilmu, ada celah-celah sempit yang memang disiapkan Tuhan untuk menguburnya sejenak.

“Unzur akh! Bada’at syajaral muzharah!” Kali ini teman saya yang lain sontak kegirangan. Telunjuknya mengarah pada sebatang kasia emas yang mulai kuning berbunga di depan komplek sekolah ini. Saya tercengang melihatnya. Padahal baru beberapa hari yang lalu panasnya kota ini meretakkan beberapa tanah yang tersisih air. Tapi lihat sekarang, sepenuh batangnya dikelilingi kelopak-kelopak kecil yang terkadang berdesau digasak angin. Miracle!

***

Pun begitu, alih-alih mengungkung ruang gerak, hujan justru memberi kita sedikit waktu untuk berlepas lelah. Menyediakan kita seruang tempat untuk berbagi tawa bersama teman di kamar masing-masing. Air ini sedikit banyak membuat saya malu kepada diri yang terlalu terpaku pada kekakuan dogma. Terlalu patuh pada dentuman realita yang kadang tak perduli pada orang-orang yang terlalu lemah untuk berdaya.  Kadang hujan juga membuka mata saya bahwa bagaimanapun kita, sebagai sesosok kiyan perlu sebuah jeda.

Setelah tamparan hidup satu persatu kita elaki, mungkin hujan lah tempat kita membangun ulang semangat menapaki…

Darul Ulum Islamic College, 1 Sept 2013 [15:25:16]

Lhok Mee

Apa yang membuat saya selalu memikirkan liburan sembari berangan kosong agar Tuhan mempercepat setiap hitungan hari menuju nya?

[Darul Ulum Islamic College, 29 May 2009 13:23 PM]

Jika saat ini adalah tujuh sembilan tahun yang lalu, saat tiap kali orang bertanya dimana saya saat liburan menyapa, sontak saya menjawab: “akan membilang uang demi satu dua jam bermain playstation di sebuah rental terdekat”. Sebuah ironi sebetulnya karena teman disebelah rumah pun punya permainan digital itu. Tapi mau dikata apa? Dunia anak kecil adalah dunia tanpa rasa takut akan sebuah penyia-nyiaan. Seluruh komposisinya adalah permainan yang tak berujung dan tak berkesudahaan. Namun semua permainan itu luntur sejak saya meninggalkan kampung halaman dan memutuskan untuk belajar di sebuah pondok tengah kota.

Saat itu semua sudah bersiap dengan backpack masing-masing. Setelah semua kertas-kertas yang dihamburkan setelah ujian, akhirnya tiba lah hari yang paling ditunggu-tunggu orang seantero negeri: liburan. Kami semua akan menjamahi bumi Lhok Mee. Salah satu pantai termasyhur di antara orang kota. Saya menjalani tanpa minat. Bagi saya liburan tak ubahnya menyimpul karet demi karet dalam permainan tali yang saban saya mainkan bersama kawan dekat. Membosankan, alih-alih menyenangkan. Menghabiskan waktu.

Setidaknya sampai saat itu tiba saya belum tahu kalau alam sedang dan akan mengejutkan saya dengan rahasia-rahasianya…

Delapan bus Damri biru berukuran sedang pun berjalan. Setelah merayap seperti semut di antara himpitan kendaraan ibukota, bus akhirnya melaju mengangkasa menebas Jalan Krueng Raya. Sepanjang perjalanan lajur kiri dan kanan dipenuhi dengan beragam hamparan pembunuh bosan. Bentangan Krueng Cut, penopang kehidupan para pengumpul kerang inilah yang pertama kali memanjakan mata. Kemilau cahaya matahari mendung bergerak-gerak dipermainkan riak air. Selanjutnya bebungaan liar menyapu keseluruhan mata angin.

DSCF1181

Selang beberapa menit kemudian, rimbunnya Hutan Manggrove menyambut kita. Setelah Tsunami, reboisasi Manggrove sangat digalakkan. Sejumlah pantai, khususnya yang terkena dampak langsung Tsunami banyak ditanami tumbuhan yang satu ini. Beberapa diantaranya tumbuh dengan begitu subur, namun sebagian lagi hanya tinggal menghitung hari untuk mati. Kebanyakan karena batangnya dijadikan kayu bakar oleh penduduk sekitar. Selain itu, di sepanjang masih ada rumah-rumah bekas terjangan tsunami.

DSCF1189

Di Jalan Krueng Raya ini banyak sekali tempat-tempat vital bagi kelangsungan hidup orang banyak. Pelabuhan Malahayati salah satunya. Kawasan Krueng Raya ini juga memiliki bibir pantai yang panjang. Sehingga terdapat beberapa pantai yang strategis. Namun tetap yang paling cantik adalah Pantai Lhok Mee. Letak pantai yang satu ini memang sulit dicapai. Meskipun beraspal tapi banyak turunan dan juga tanjakan. Bus ini bahkan beberapa kali harus meraung dan berjalan zig-zag agar sampai ke ujung tanjakan. Setelah beberapa kali meraung tersengal-sengal, bus akhirnya sampai di bukit Soeharto. Dinamai demikian karena dulu pemimpin Orde baru itu ikut menggagas penghijauan bukit berbatu abu ini. Di balik bukit itulah, Lhok Mee berada. Sebagai informasi kalau kita terus saja menyusuri Jalan Krueng Raya ini akan menembus daerah Laweung.

DSCF1267

Sesaat kemudian, bus mulai menjalani jalan berbatu. Berbelok kiri..perlahan… sampai tangkai pelepah kelapa menyibakkan pemandangan yang tidak pernah saya lihat di manapun! Inikah pantai tujuan kita? Yang diucap-ucap seluruh anak kota sejak tadi malam? Tuhan, saya pasti sedang bermimpi! Saya tidak punya perbendaharaan kosakata yang tepat saat ini. Tapi dengan pasir putih nan lembut yang membujur terbentang, kawanan pohon keurembang tegak menyeruakkan akar-akar nya dari bawah air, segarnya angin khas sondai, apa lagi yang harus saya katakan. Sekedar menutup mulutpun saya sudah tak sanggup lagi.

DSCF1281

Pantai Lhok Mee ini masih sangat asri. Sangat jauh dari kebisingan. Yang ada hanya ada pepohonan tua, pepasiran putih, air biru yang berpendar, serta angin sepoi yang menyapu lembaran rambut dan wajah. Kami menyewa kawasan pantai ini untuk satu hari penuh. Untuk itu kami harus membayar satu setengah juta rupiah. Saya rasa impas untuk ukuran kami yang berjumlah delapan ratusan. Dan tawa tanda berakhirnya satu tahun ajaran yang lalu pun dimulai.

“Kamar 22 melawan Kamar Bedeng dan 16,” Teriak Raja. Salah seorang teman saya, yang kini merangkap menjadi ketua lomba tarik tambang. Kontan saja semua berteriak saling memanggil teman yang belum kelihatan batang hidungnya. Setelah semua berkumpul, adu tarik-menarik tali itu pun dimulai. Satu per satu berguguran. Yang menang semakin mendekatkan kakinya ke arah final. Bahkan para ustad pun juga ikut bermain.

Setelah tarik-menarik usai, giliran akhirat berbicara. Kami shalat Zuhur diantara padang pasir putih. Yang berdiri paling di sisi sebelah laut jika beruntung akan terkena sapuan ombak. Takbiratul Ihram, Rukuk, Sujud,   terus satu demi satu hingga berakhir dengan salam. Dan pasir putih pun terlukis indah di setiap wajah dan pipi. Kontan semua tertawa.

Akhirnya, saya pun merasakan apa yang disebut jatuh cinta. Tentu saja arti denotasi. Ah, kemana saja saya selama ini? Disinilah seharusnya pelajaran berada. Pada kerubungan kerapu yang muncul di antara akar-akar menjulang itu bersemayam ilmu-ilmu biologi yang selama ini saya tekuni. Kawanan Echinodermata untuk pertama kalinya saya lihat mengerayang di pesisir air yang surut. Bersama teman-teman menciptakan taman permainan sendiri di tengah belantara padang pasir putih. Liburan menarik diri saya ke dalam pusaran tawa.

Saya mungkin memang bukan anak yang terlahir di sisi laut. Tapi bukankah bangsa kita adalah negeri bahari? Tempat jutaan makhluk mengambil jatah hidupnya di antara ombak-ombak batu karang atau jauh di kegelapan yang dalam? Sadar atau tidak, sepertinya kita tidak bisa mengelak bahwa sebenarnya rasa asin pantai menyatu dalam tiap lekuk tulang. Bahwa ombak-ombak pantai yang suka sekali menjilat bibir pantai ternyata bergelombang dalam pembuluh darah kita. Tidak heran jika salah satu destinasi wisata yang dicintai warga republik ini adalah lautan.

Dan sepertinya sekarang saya sedang jatuh cinta :)