Putri Pukes, Manusia Jadi Batu.

“Jika kau sudah pergi meninggalkan kerajaan ini janganlah sekalipun engkau palingkan wajahmu ke belakang ….”

 

Tidak ada yang berbeda ketika kami menginjakkan kaki di gua ini. Layaknya gua-gua yang lain. Pengap, lembab dan gelap menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem sebuah gua. Dan tentu saja cerita rakyat dibalik eksistensinya. Begitupun gua ini. Gua, yang dalam bahasa Gayo disebut Loyang, ini pun tak luput dari cerita aneh.

Siang ini, dengan menggunakan bus carteran, kami–rombongan Kafilah Banda Aceh untuk acara Tunas Ramadhan Aceh– mengunjungi beberapa tempat wisata di Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Termasuk Loyang Putri Pukes yang terkenal ini. Cukup dengan membayar Rp. 5000/orang, setiap orang dibolehkan masuk dengan ditemani seorang guide. Uniknya, para guide memang tinggal di balik pecahan batu tebing di samping pintu masuk gua yang  berada di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh tengah ini. Begitu masuk, tulisan “Putri Pukes, Manusia Jadi Batu” akan menyambut kita.

Sayangnya keadaan gua yang gelap membuat kami tidak bisa melihat dengan cukup jelas. Untungnya flashlight kamera membantu. Tepat ditengah gua, terdapat sebuah sumur yang dangkal. “Sumur ini tiga bulan sekali baru terisi air. Airnya bisa jadi obat,” jelas Pak guide yang masih jelas logat khas Gayo-nya. Mungkin nasib kami sedang sial karena ketika kami datang, air sumur sedang tidak ada. Bagaimana rasa air dalam gua? Apa sama dengan rasa air zam-zam? :)

Di pinggir sumur itulah sesosok batu setinggi badan saya berdiri. Bentuk nya hampir tidak mirip manusia. Bagian bawahnya agak membesar. “Konon, kalau kita merasa sedih terhadap apa yang terjadi pada Batu Putri Pukes ini, Sang Batu akan mengeluarkan air mata sehingga bagian bawahnya membesar,” kata Pak Guide.

Ada dua versi terkait dengan asal-usul Putri Pukes,” Pak guide mulai berkisah. “Yang pertama, konon ada rombongan yang ingin pergi ke suatu perkawinan di sebuah kampung. Karena di tengah jalan hujan turun, mereka akhirnya berteduh ke gua. Namun malang, mereka malah terjebak di sini dan tidak bisa keluar,” Ucapnya sambil mengusap sekilas pinggiran sumur itu.

Sedang yang kedua, berkaitan dengan Putri Pukes sendiri yang dilamar oleh seorang pangeran. Sang Ibu tidak merestui, tapi Sang Putri sangat mencintai Pangeran. Dilema pun terjadi. Antara kasih sayang ibu dan rasa cintanya pada Pangeran, Si Putri akhirnya memilih untuk menjadi istri Pangeran. Si Ibu akhirnya mengizinkan dengan berat hati, namun memberi syarat pada Sang Putri yang akan pergi ke kampung Pangeran agar jangan sesekali melihat ke belakang ketika melangkah,”

Si Putri pun pergi dengan kawalan. Namun apa daya, didorong oleh kecintaan yang amat kuat pada sang ibu, Putri melanggar titah. Dia menoleh ke belakang. Seketika petir menggelegar. Hujan turun dengan amat deras. Angin bertiup sangat kencang. Dan rombongan memutuskan berteduh di gua. Ketika akan melanjutkan perjalanan, Para pengawal memanggil sang putri yang berdiri sendirian di sudut gua. Tapi terlambat, Sang Putri telah menjadi batu selamanya,” Pak guide berkisah panjang lebar. Wajahnya nampak gundah. Mungkin sedih karena harus berulang kali menceritakan kisah yang pedih ini pada puluhan orang tiap harinya. Yang sabar ya, Pak. Mungkin inilah takdir Bapak. Siapa tahu gara-gara Bapak sedih sama cerita Putri ini, patung batu nya bisa tambah besar. Ambil sisi positif nya aja, Pak. Ingin saya bertanya, bagaimana nasib para pengawal, tapi saya urungkan karena takut nanti Pak guide tambah galau.

Selain itu di dekat Patung Batu Putri Pukes ini, ada sebuah undakan. “Nah, yang ini namanya batu untuk bertapa,” jelas Pak Guide ketika ada yang bertanya tentang undakan itu. Ketika itu iseng saya melihat-lihat sekitar dan berpisah dari rombongan tour. Saya beruntung karena ketika sedang asyik berkeliaran kesana-kemari, secara tidak sengaja menemukan batu berbentuk ikan dan Pulau Papua. Banyak bilang cuma orang yang jeli matanya saja yang bisa nemuin batu model macam ini. Asek! Mata Gue Jeli, Man! Tour usai. Banyak teman-teman yang mencoba menyimpan pengalaman ini dengan berfoto dekat batu Putri Pukes. Saya sendiri ‘takut-takut-enggak‘ ketika berfoto di samping batu ini. Bukan apa-apa. Hanya sekedar mengantisipasi jika tiba-tiba Sang Putri ini bangkit lagi dan berteriak, “Demi Tuhan, Subur…!!” Beberapa mencoba menyampirkan tangan di bahu batu. Ada yang bergandengan tangan dengan Sang Putri. Mungkin penasaran bagaimana rasanya menyentuh tangan seorang Putri. Sang Putri Pukes pun hanya bisa menangis dalam diam.

47468_1401470998628_8207121_n

Ke Aceh Lalu ke Kuala Lumpur

Seperti yang pernah saya posting disini, minggu-minggu sebelumnya, saya sudah menerima kartu sendiri dari Mbak Yessi, partner saya di RRI jilid 2. Tapi saya belum terima kartu yang seharusnya untuk saya. Akhirnya setelah berbulan menunggu, kartu RRI jilid 2 untuk saya tiba. Pak pos yang setia dengan seragam dan motor jingga nya berhenti di pos dayah saya. Memberikan sebuah amplop putih yang bersinar terang. Seterang hatimu… *alah.

Ini kartu RRI jilid 2 untuk saya, dari Mbak Titish:

RRI Mbak Titish

Untuk pertama kalinya saya dapat kartu sepanjang ini. Lebih dari 20 centi… Selanjutnya dalam amplop itu Mba Titish menyelipkan secarik kertas berisi permintaan dan bingkisan.

IMGDan inilah yang saya tulis di kartu Mba Titish untuk dikirim kembali ke rumah nya.

IMG_0010

Mau tahu apa yang saya tempel di sudut bawah kanan kartu itu? itu adalah guntingan kertas koran yang saya bertuliskan acara-acara festival budaya di Aceh yang akan berlangsung sepanjang tahun ini. Ini dia gambar lengkapnya.

aceh1

Selain itu Mba Titish juga kasih bingkisan 3 lembar kartu pos. Wah, makaseh banyak Mba! Moga kartu nya panjang umur *diketok pake kartu pos..

IMG_0006 IMG_0007 IMG_0008

Dan ini kartu yang saya kirim ke Mbak Yessi. :D

IMG_0012 IMG_0001d

Jejak Pertama di Takengon

Sepertinya saya tidak bisa mengelak.

Jujur saya mengaku. Hal yang paling saya tunggu saat ikut suatu perlombaan di luar kota adalah agenda darmawisata nya. Ya, jalan-jalan. Namanya juga backpacker. Tapi jangan anggap saya tidak bertanggung jawab. Belajar keras untuk meraih hasil terbaik dalam kompetisi adalah prioritas. Itu bukan hanya sebuah amanah tapi juga sebuah pertarungan gengsi dan harga diri pada orang tua, guru, teman, dan diri. Selebihnya adalah urusan pribadi: berleha-leha  menikmati kota tempat diadakannya kompetisi. Berjuang keras lalu bersenang-senang. Cukup adil bukan ?

Takengon, 1 September 2010.

Nilai regu kami -saya, Kusum, dan Yuli— jauh mengungguli lawan-lawan kami. Kemenangan telak sudah kami raih. Dari cabang Fahmil Quran dalam event Tunas Ramadhan 1432 H, pemenangnya adalah Banda Aceh. Tuntas sudah perjuangan kami. Bergumul dengan lembaran-lembaran penuh hafalan. Surfing di internet mencari bahan lomba. Hasilnya impas: kemenangan ! Kini saatnya berleha-leha.

Setelah pembagian hadiah dan penutupan tadi sore, saya duduk di teras rumah penginapan kami ba’da salat maghrib. Dingin. Saya kencang kan resleting jaket tebal yang menyelimuti tubuh. Kota Takengon memang terkenal sebagai daerah dingin di Aceh. Tapi menurut pemilik rumah penginapan ini, dulu Takengon lebih dingin dari sekarang. Gila ! Kalau sekarang saja dingin nya bisa menggertak kan gigi, bagaimana dengan dulu ya ?

Acara Tunas Ramadhan ini diadakan di Bulan Ramadhan. Ketika teman-teman saya di Banda Aceh sedang berpanas-panasan dengan matahari bulan Ramadhan, saya malah lupa kalau saat ini sedang berpuasa. Tidak ada rasa haus –apalagi lapar– yang menyerang. Udara dingin Takengon menyerap itu semua. Malam Takengon lebih indah dibanding kota yang pernah saya tinggali: Banda Aceh dan Lhokseumawe. Sebagian tanah masih kosong tak dibangun rumah, otomatis polution light sangat sedikit. Bintang-bintang berserakan di langit masih terlihat jelas. Jalan nya pun lengang. Hingga pukul 9 malam, tak lebih dari 10 kendaraan yang lewat di depan jalan raya penginapan ini. Dan suara jangkrik masih banyak terdengar.

Tap ! Terasa ada yang menepuk bahu saya.

Yok pergi!” kata Kusum. “Kita diajak makan ke kota.

Wah, karena kontingen Banda Aceh meraih juara umum, kami diajak pergi ke pusat kota Takengon untuk merayakan kemenangan ini. Sebagai informasi, piala bergilir perlombaan ini adalah sebuah piala berlapis emas yang senilai dengan 38 juta rupiah. Gila ! Kontingen manapun pasti senang bukan main jika mendapatkannya.

Seperti yang saya katakan tadi, jalanan Takengon di malam hari sangatlah lengang. Dengan cepat, kami sampai di terminal kota Takengon. Ya, menyantap kuliner khas Takengon. Sial ! pertama kali terpikir, kenapa tempatnya semi-kumuh begini. Tapi saya mencoba untuk berdamai dengan nasib. Mungkin saja saya bisa mencicipi cita rasa takengon dari sudut-sudut pinggir kotanya. Mungkin saja.

Setelah puas menamatkan seporsi mie Aceh rasa Takengon —yang rasanya tak kalah hebat dari mie Aceh yang biasa saya makan di Banda Aceh— dan segelas besar bandrek susu, kami pun kembali ke penginapan untuk tidur. Bagi saya, tidur malam ini harus disegerakan. Karena besok adalah hari yang telah saya nanti sepanjang minggu ini: Darmawisata. Ya, Jalan-jalan.

Takengon, 2 September 2010.

Keesokan harinya, setelah puas mandi pagi di sebuah sungai di dekat rumah yang dingin nya na’uzubillah, kami pergi menyusuri alam dan budaya kota dingin ini. FIY, sungai nya berasap, gila dinginnya. Jalan-jalan ini di awali dengan berburu souvenir khas Gayo. Ada tas tangan buat ibu-ibu, baju adat Gayo, ikat kepala, kopi luwak —yang sudah pernah saya cicipi dan ternyata rasanya lumayan pahit, maklum saya bukan penikmat kopi— dan kopi gayo. Yang saya beli ? Tak kurang dari gelang khas Gayo ! Dengan motif unik dan warna khas Gayo —merah, hijau, kuning–, gelang ini terlihat keren di  pergelangan tangan saya. Amboi.

47468_1401470998628_8207121_n

Setelah itu perjalanan kami lanjutkan ke Gua Putri Pukes. Gua batu putri yang dikutuk itu berada di Loyang Putri Pukes —loyang merupakan sebutan untuk gua dalam bahasa aceh–. Konon katanya, putri ini jadi batu karena melanggar titah ibunya. Gua ini berada di wilayah Takengon, Aceh Tengah, tidak jauh dari objek wisata Danau Laut Tawar dan Loyang Karo. Kondisi gua ini sama seperti gua-gua pada umumnya: lembab dan dingin. Kata guide nya, kalau awal-awal tahun kadang ada sedikit air yang membanjiri gua ini. Katanya ya: “Untung datang pas bulan September”.

41249_1401493999203_4786900_n

Tempat ketiga yang kami tuju adalah ikon kota dingin ini. Danau Laut Tawar atau Danau Lut Tawar dalam bahasa penduduk di sini. Kami berhenti di sebuah taman yang berada tepat di samping Danau Laut Tawar. Taman ini terlihat cukup luas. Di taman ini, dibudidayakan banyak tanaman dan buah-buahan yang hanya bisa tumbuh subur di tempat yang sejuk. Semua tumbuhan itu tumbuh dengan subur. Ada apel, anggur, melon, tomat, buah naga, dan masih banyak lagi. Di sudut taman ini ada tangga batu yang posisinya menurun langsung menuju pinggir danau. Landai sekali. Kami pun turun ke bawah, persis di tepi danau.

Tes air nya dulu. Belum ke Laut Tawar kalau belum ngerasain air nya” ujar saya kepada teman-teman.

Semua nya setuju. Kaki kami celupkan ke dalam air. Beberapa ekor ikan depik, fauna khas Laut Tawar, terlihat berenang di sela-sela jari. Geli. Kakak pembina terlihat melambaikan ke arah kami. Kami harus kembali. Waktu bersenang-senang di Danau Laut Tawar telah usai. Karena telah waktu Zuhur, dalam perjalanan pulang kami singgah sebentar di bagian utara danau ini untuk salat dan menghabiskan makan siang yang sudah disiapkan sejak berangkat tadi pagi. Tempat kami singgah juga tepat berada di tepi danau. Perfect Lunch.

Malamnya, kami kembali menikmati kuliner kota dingin ini: bakso made in Takengon. Tapi kali ini hanya ber enam. Saya, Kak Adi, Kusum, Yuli, Kak Hajrah, Kak Yupi, dan Bang Sehatuntuk yang satu ini saya tidak berani memanggil kak :D— mencari warung bakso di sekitar rumah. Akhirnya kami menemukan sebuah warung yang terletak sekitar seratusan meter dari tempat kami menginap. Dan seperti kata saya tadi, jam masih menunjukkan pukul 20.35 malam tapi jalan sudah lengang. Setelah menghabiskan seporsi bakso, kami pun pulang dan tidur dengan perut kenyang.

Takengon, 3 September 2010.

Matahari baru saja naik. Salat Subuh baru saja ditunaikan. Hari ini kami pulang dan seharusnya saya sedang mengemas barang di backpack tercinta tapi ternyata fakta berbicara lain. Saya kembali bergemul dengan selimut. Tapi tidak lama. Sebelum pulang, pemilik rumah mengajak kami untuk berbelanja di pasar pagi. Kami setuju dan mobil pun dihidupkan.

Sesampainya di sana, saya tertegun sejenak. Orang-orang berserakan. Khas pasar. Ramai. Katanya mereka telah menjajakan dagangan nya bahkan ketika hari masih gelap. Luar biasa Takengon ! Kami berpisah sesuai dengan tujuan barang yang ingin kami beli. Saya berencana membeli buah Terung Belanda untuk ibunda di rumah. Beliau sangat suka Terung Belanda. Saya pun pergi ke salah satu penjual. Sialnya, si abang penjual tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa bahasa Gayo. Bagaimana ini ? Saya pun tidak bisa bahasa Gayo. Tiba-tiba pemilik rumah mendatangi saya dan bertanya buah apa yang ingin saya beli. Setelah itu beliau berbicara dengan abang penjual itu dalam bahasa mereka.

3000 sekilo,dek” kata pemilik rumah.

What?!! Murah sangat!

Saya keluarkan uang 5000-an, dan abang penjual itu memberi saya kembalian dua lembar uang seribuan.

Enggak semua orang Gayo bisa Indonesia. Masih ada yang mau dibeli, biar bapak bantu bicara.” kata pemilik rumah

Enggak pak. Ini saja. Makasih banyak ya pak” ucap saya.

Oh, kalau gitu bapak ke tempat yang lain ya

Iya pak. Terima kasih

Rupanya begitu. Di Gayo ternyata ada juga yang tidak bisa indonesia.

Setelah semua kembali ke mobil, kami pun pulang ke rumah penginapan untuk bersiap pulang ke Banda Aceh. Dan sesaat sebelum pulang, masih ada kejutan dari kota ini yang terjadi. Kebun milik bapak pemilik penginapan baru saja panen. Dan ada sekarung penuh jeruk yang tersisa. Saya pun menawar jeruk itu. Bapak itu mengizinkan saya membawanya pulang dengan harga yang sangat murah. 8000 perak.

Dan dengan sekarung jeruk itu, perjalanan saya di Takengon berakhir.

58492_1401020907376_7095650_n

Foto-foto oleh: Syahrul Fuadi

Weekly Photo Challenge: Color

DSCF6466

A monument of Nations that have been help to reconstruct and rehabilitate Aceh after Tsunami. Taken at Blang Padang, Aceh.

New to The Daily Post? Whether you’re a beginner or a professional, you’re invited to get involved in our Weekly Photo Challenge to help you meet your blogging goals and give you another way to take part in Post a Day / Post a Week. Everyone is welcome to participate, even if your blog isn’t about photography.

I Love Aceh Story: Merekam Senja di Ujung Barat Indonesia

Paling terkesan sama postingan bang Ari yang ini

The Science of Life

i-love-aceh-story

When I admire the wonders of a sunset or the beauty of the moon, my soul expands in the worship of the creator -Mahatma Gandhi-

Saya mengamini pernyataan dari Mahatma Gandhi di atas. Menyaksikan matahari tenggelam di kala senja selalu bisa mengisi relung hati saya dengan rasa syukur tak terkira. Beruntung saya tinggal di Aceh. Bagaimana tidak, setiap hari saya bisa menyaksikan senja yang terjadi paling akhir di Indonesia. Terletak di ujung barat Indonesia, tentu saja matahari yang terbenam terakhir di Indonesia setiap harinya terjadi di Aceh.

Saya sudah cukup sering berkelana ke berbagai tempat. Percayalah kawan, tidak ada yang bisa mengalahkan cantiknya pemandangan senja di Aceh. Kalau ditanya apa yang membuat saya jatuh cinta pertama kali dengan Aceh, saya akan menjawab karena senja.

Suatu sore di akhir Oktober 2008, saya bersama beberapa karib duduk bercengkerama di pepasiran pantai Lhok Nga. Matahari sudah kembali ke peraduan dan jarum pendek arloji…

View original post 323 more words

This is My Aceh, How’s yours?

Hidup saya ada di sini. Semuanya. Ayah Ibu Kakek Nenek semua bernafas Aceh. Sekolah saya juga di Aceh. Guru saya di Aceh. Ilmu saya dari Aceh! Sepanjang hidup saya selama 17 tahun, sebagian besar saya habiskan di sini. Aceh. Semua emosi pernah saya rasakan selama menginjakkan kaki di sini.Aceh. Cubitan kecil, tamparan hebat. Semuanya.

Saya rasakan kehangatan matahari pertama saya di sini. Saya menghirup nafas pertama saya di sini. Memeluk erat tubuh manusia yang kelak akan saya panggil ibu pertama kali di sini. Aceh. Saya menangis, menjerit, berteriak pertama kali di sini. Aceh.

Makanan nya yang merangsang kelenjar untuk mengeluarkan liur. Penuh gizi dan kaya nutrisi. Timphan, Plik U, Eungkot Paya, Kanji Rumbi, Sie Reuboh, Masam Keu’eueng. Brr.. bikin lapar!

Ketika konflik berdarah berkepanjangan mencabik darah dan impian insan Aceh di hamparan sejarah, saya rasakan marah. Saya memang tidak merasakan kerasnya konflik secara langsung. Ketika itu saya sedang berada di sebuah kota Pulau Jawa menemani Orang tua mengejar ilmu. Tapi saya rasakan kengerian ketika bersama Ayah  menyempatkan pulang ke Aceh untuk menziarahi makam kakek. Semua lelaki hilang. Raib. Kata nenek  sedang bersembunyi. Saya takut. Bagaimana dengan Ayah? Tapi Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa ketika itu.

Tidak lama setelah itu, Semua mengangkat tangan. Kertas di tanda-tangani, senjata di bakar, tangan-tangan saling menyambut, wajah ceria menyeruak. MoU. Semua mengangkat tangan. Berdamai, kata orang. Antara pejuang negeri Ini dengan pejuang negeri Aceh, katanya. Semua bahagia, semua senang, semua lelah. Lelah melihat darah. Lelah mendengar bunyi tembakan. Lelah berlari. Lelah bersembunyi. Namun, inilah Aceh. Segera tangan ulur-mengulur, bahu-membahu. Berbenah. Saya kagum pada Aceh. Pada semangat nya. Pada sifat gotong-royongnya. Ya, inilah Aceh.

Lalu pelan-pelan pikiran kita terbawa pada potret air hitam. Di kalender tertulis Minggu. Tanggal 26 Desember 2004. Air laut naik ke darat. Lajunya kencang. Warnanya hitam. Setinggi pohon kelapa. Membawa semua benda yang di laluinya. Lalu kembali ke laut. Semua yang di bawanya ikut kembali ke laut raya. Ada juga yang ikut kembali ke akhirat. Saya Tercenung. Koran, majalah, televisi menyebutnya bencana terbesar sepanjang sejarah modern. Korbannya banyak. Saya tercenung. Inilah Aceh. Negeri yang disayangi Tuhan. Saya yakin. Allah menyayangi Aceh. Hanya saja edisi kasih sayangnya kali ini berjudul sendu: Tsunami

Raja nya Adil. Saya teringat beberapa tahun silam sedang berdiri di depan makam seorang insan. Dulunya dia kuat, gagah, tegas, dan bijak. Membawa Aceh ke puncak dunia bersama tebaran wangi desah nafas Islam. Di depan saya seorang raja yang adil berbaring. Membawa serta semua amal baik nya ke dunia sana. Bukan hanya amal baik saja yang di bawanya, tapi juga doa dan rasa harap seluruh rakyat akan lahirnya insan seadil dirinya. Hari lahir nya di ingat dan di doakan. Barakah. Menegakkan keadilan tanpa pandang kepala. Anaknya, Meurah Pupok adalah keadilannya. Sultan Iskandar Muda.

Di Aceh pun banyak tempat-tempat hebat. Yang indah, yang bersejarah. Ada Geurutee, Museum Tsunami, Tugu Nol Kilometer, Danau Lut Tawar, Kapal PLTD Apung: saksi bisu kekuatan tsunami, Pantai Lampuuk, dan kebanggaan Aceh Masjid Raya Baiturrahman: salah satu masjid termegah di Asia Tenggara.

Kini Aceh punya satu hal lagi yang harus dibanggakan. Itu adalah @iloveaceh. Berbagi informasi tentang Aceh, saya rasa itu adalah hal terbaik yang pernah ada dalam sejarah Aceh. Setuju?

Inilah Aceh ku. Aceh kamu gimana ?

zamerfive

Senja di Pinggir Kota Banda Aceh