The Old Friend

baiturahman.jpg

Jika Banda Aceh menjelma menjadi sebuah sistem konstelasi, maka saya tak kan ragu untuk menyebut Masjid Baiturrahman sebagai pusatnya. Sedangkan gedung pemerintahan, bangunan-bangunan, dan orang-orang yang bermukim di kota Banda tak lebih dari asteroid-asteroid dan kepulan kabut penganggu yang mengitarinya. Tak penting. Karena di sanalah, di tengah himpitan gegap gempita kehidupan ibukota, beragam wajah mewarnai semburat kemegahan Baiturrahman dan ribuan kaki menjejaki tiap jengkal tempatnya berdiri…

Baiturrahman Grand Mosque — Banda Aceh, 1 December 2013 [06:09pm]

Ahh, perasaan seperti ini selalu saja memeluk saya di detik-detik terakhir malam minggu pertama tiap bulan. Minggu awal tiap bulan merupakan hari libur yang mengizinkan kami untuk beranjak keluar dari dayah sebentar. Untuk sekedar melepas penat dan mengisi kembali semangat yang hampir berantakan. Malam rasanya terlalu lama menjauh untuk hari yang ‘suci’ itu.

Tetesan air wudu belum juga mengering selepas salat subuh. Venus masih berkerling di ujung langit dan cicitan burung belum terdengar dari puncak-puncak kasia yang memagari pekarangan dayah. Tapi adrenalin saya sudah mulai berpacu melawan dingin yang menghentak. Pagi ini saya mengajak diri saya sendiri untuk mengisi hari yang berbahagia ini dengan mengunjungi salah satu landmark kota. Masjid Baiturrahman. Continue reading

Geunteut: Senja Tak Selalu Indah

senja.jpg

Darul Ulum Islamic College — Banda Aceh, 28 Desember 2013 [17:58pm]

“Asri’uu ilal masjid! Laa ahad aiyakun muta’akkhiran!”

Suara Chairunnas bertalu-talu bergema melalui pengeras suara yang tersebar di setiap bangunan asrama dan sekolah menyuruh segenap santri untuk pergi ke masjid. Tanggung jawab sebagai ketua bidang ibadah membuatnya harus merelakan sebagian waktu istirahat untuk mengontrol pelaksanaan ibadah di dayah. Jika subuh hampir tiba, teman saya ini bangun dari tidurnya dan membangunkan para santri. Pada waktu zuhur dan asar pun, tanpa banyak berbicara dia meletakkan tas sekolahnya dan mengajak para santri untuk salat berjamaah di masjid. Sungguh, saya sangat kagum pada semangat dakwahnya!

Magrib ini dia kembali menunjukkan semangatnya. Dengan wibawa yang tinggi dia menyuruh para santri untuk bergegas beranjak ke masjid. Jika terlambat sebentar saja, hukuman sudah menunggu mereka. Tak ayal beberapa santri berlarian serabutan melihat Chairunnas sudah sampai di depan masjid. Sebagian kancing baju mereka belum terkancing sepenuhnya, sarung masih berkibar-kibar tak terpasang sempurna dan kopiah tersampir miring. Tangan kiri mereka memegang sajadah aneka warna, sedangkan sebelah kanan memegang Alquran ragam ukuran. Saya tergelak melihatnya. Semburat jingga di ujung barat beradu dengan tubuh mereka yang berlari kencang ke arah masjid. Membuat sebilah siluet yang indah. Bayangan hitam dan panjang.

Tiba-tiba saya terdiam.

Pelan, saya merasa sedang mengalami deja vu. Seperti menyusuri sebuah teka-teki berlabirin saya berusaha menelusuri kemana ingatan ini bermuara. Garis-garis besar berkelabat saling mengejar satu persatu mencoba mengingatkan saya akan suatu hal,

“Anak-anak yang berlarian dengan sarung dan kitab suci. Matahari jingga di horizon barat. Siluet hitam, panjang dan besar…”

Seketika bulu roma saya berdiri. Saya menarik nafas. Udara berubah menjadi tidak nyaman. Satu kata berusaha keluar dari mulut saya. Pelan saya berdesis,“Geunteut..”

***

Saya dan beberapa teman masa kecil selalu bermain bola di sebuah lapangan rumput yang berdekatan dengan kebun seorang warga desa. Kebun itu seperti hutan kecil, dengan rimbunan belukar dan perdu serta pepohonan tinggi. Tiap sehabis bermain, saat  matahari sebelah barat sudah mulai berubah warna menjadi jingga sementara suara alunan ayat-ayat suci sudah mulai bergema dari corong TOA meunasah, saat itulah kami berlari membawa pulang bola tanda permainan selesai. Kami berlari pontang-panting. Bukan karena takut akan dimarahi oleh orang tua. Namun karena teringat teriakan salah seorang sepuh yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju meunasah beberapa hari yang lalu,“Hai gam, bagah kah woe! Ie cok le geunteut en teuk!”. Lain waktu saya mendengar kabar bahwa salah seorang warga telah hilang selama berhari-hari dan akhirnya ditemukan di atas pohon keutapang. Semua orang percaya bahwa ini adalah ulah geunteut. Sungguh mengerikan!

Geunteut bagi masyarakat Aceh merupakan sebuah sebutan untuk jin yang dipercaya sering menganggu para pejalan malam hari. Penduduk kampung selalu menggambarkannya dengan sosok berwarna hitam. Berdasarkan haba orang tua, ciri khas geuntuet adalah jika dilihat ke arah atas maka penampakan jin ini tinggi besar. Namun sebaliknya jika dilihat ke arah bawah akan terlihat pendek dan kecil. Jin ini mencegat di tengah kegelapan lalu membawa korban dan menggantungnya di pohon yang tinggi.

Maka jika petang sudah menguning dengan segera kami, para anak kecil, akan berlari pulang ke rumah, mengambil sarung dan kitab, lalu beranjak menuju meunasah untuk mengaji. Sejak itu dalam bayangan masa kecil saya, senja begitu menakutkan. Mencekam seperti kegelapan yang menyelimuti saat mendung badai datang. Semua perasaan takut itu didukung secara ‘manis’ oleh situasi malam. Dulu masih jarang ada orang yang berjaga hingga larut malam di luar rumah, kecuali bagi mereka yang terkena giliran untuk berjaga malam di pos siskamling. Pulangnya kami bergerombolan seperti sekumpulan orang yang menghangatkan diri sembari memegang kepala karena menurut rumor, geunteut menculik dengan mencengkram rambut.

Perjalanan menuntut ilmu ke Banda Aceh mempertemukan saya dengan beragam orang dari berbagai daerah di Aceh. Hal ini memudahkan saya untuk mengetahui seluk beluk adat budaya Aceh dari beberapa daerah sekaligus. Termasuk soal geunteut ini. Semua teman saya memiliki gambaran dan cerita masing-masing mengenai jin ini. Juga soal kondisi para korban. Razi, salah seorang teman saya yang berasal Bireuen bercerita bahwa geunteut akan membawa korbannya ke ‘peuredeu trieng’ (rimbunan bambu berukuran besar). Sedang Affas yang berasal dari Sigli berkisah bahwa korban yang dibawa geunteut biasanya akan merasa sedang berada di tempat yang penuh dengan kenikmatan dan hanya bisa sadar setelah diperdengarkan suara azan. Layaknya pengalaman masa kecil saya, Rian yang berasal dari kota Banda Aceh pun dulu ketika selesai bermain bola bersama teman-temannya akan pulang dengan langkah seribu sembari berteriak,”Woi pulang, pulang! geunteut…geunteut…”

Di luar persepsi percaya atau tidak, sebenarnya ada sedikit hikmah yang menggelitik di balik geunteut ini. Alasan para orang tua dulu membesar-besarkan kisah tentang jin ini untuk kami, anak kecil, tak lain agar bergegas pulang ke rumah jika magrib hampir tiba. Pesan orang tua untuk tidak berkeliaran di luar rumah saat magrib [agar tidak diculik geunteut] sedikit banyak membuat kami ketakutan. Maka jika magrib datang, tempat kami hanya ada dua: kalau bukan di rumah, berarti di meunasah sedang mengaji. Tak heran kami lekas pintar mengalun-alunkan ayat ilahi. Masa kecil kami dulu, saat dunia belum dicengkeram terlalu erat oleh globalisasi, merupakan salah satu hal yang paling saya syukuri.

Banyak teman di dayah yang sependapat dengan saya bahwa pengaruh zaman turut memudarkan karisma geuntuet ini. Anak-anak berkeliaran di berbagai warung internet saat magrib sudah jamak terlihat. Banyak orang yang terjaga hingga larut malam membuat berbagai kebisingan, menyulitkan para kaum yang ingin menikmati malam sebagai waktu beristirahat ataupun menggelar sajadah. Sungguh sebuah ironi ketika anak-anak Aceh lupa terhadap ‘makna’ legenda jin ini. Tidak ada lagi ketakutan untuk beraktifitas di luar pada malam hari. Silahkan menganggapnya sebagai sebuah kemajuan! Namun, kerap saya berfikir bahwa kemajuan sedikit banyak turut ikut serta dalam membungkam kearifan lokal. Meski kearifan lokal itu bertema makhluk gaib yang bernama geunteut.

Bukan hanya kota, namun juga kawasan pedesaan. Sesekali, jika masa mengizinkan, pergilah ke gampong-gampong dan lihat bagaimana balee-balee beut kayu [yang sudah mulai lapuk] kosong tak terurus. Lihat bagaimana keude kupie yang dilengkapi dengan TV LCD sudah menjamuri kawasan gampong. Mengutip perkataan salah seorang teman ketika membahas tentang perilaku remaja sekarang: “Lagi-lagi globalisasi menjadi batu sandungan terhadap moral dan budaya…”

Memang peristiwa penculikan oleh jin geunteut ini sudah jarang terdengar, namun [layaknya tsunami] perlukah jin ini ‘bangkit’ kembali agar moral manusia sekarang kembali ke titik yang sebenarnya. Dalam arti, kembali menghargai waktu malam dan petang sebagai ‘penutup tubuh’ bagi manusia. Nah, sepertinya kita tidak bisa mengelak pada tugas yang satu ini, mempertahankan kearifan lokal tanpa terhisap jauh ke dalam pusaran globalisasi. Agar generasi setelah kita nantinya tidak hanya memilah dan menyesapi aroma kemajuan zaman yang bersahabat, namun juga tetap bisa ‘menikmati’ makna dari perbuatan geunteut ini seperti yang pernah kita rasakan saat ini.

Dan seperti kata salah seorang guru saya, perkembangan zaman seperti sekeping mata koin, ada sisi baik dan buruk yang saling berkebalikan. Adalah tangan kita sendiri yang menentukan sisi mana yang menjadi milik kita…

Salam

***

Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6! Yuk menulis tentang Aceh, rakan!

A Note of Exam

BeFunky_DSCF8551.jpg

Saat pikiran diperluas gagasan baru , ia takkan pernah kembali pada bentuknya semula ~Oliver Wendell Holmes

Darul Ulum Islamic College, 6 December 2013 [07:04pm]

Bagi mereka yang telah terpilih untuk merasakannya, saat-saat ini merupakan waktu yang paling dirindukan. Hari berulang kali berganti nama dan akhirnya ujian dayah kembali hadir bersambang. Kali ini dengan sentimentil, ujian datang dalam balutan kenangan yang istimewa. Inilah ujian dayah ke sebelas sejak saya pertama kali menyicip potongan-potongan ilmu di sini. Inilah ujian terakhir saya di dayah ini.

Saya senang menganalogikan ujian seperti kembang api. Mulanya ia menderita. Segala bentuk api penyulut yang membakar membuatnya terbang tinggi ke langit disertai teriakan hebat yang memekakkan telinga dan kepulan asap yang menyesakkan rongga dada. Tapi lihat bagaimana akhirnya! Dia menjelma menjadi kilauan bunga-bunga api indah aneka warna dan rupa di atas sana. Dia menerobos gelap malam lalu menggantinya dengan riuh cahaya yang gegap gempita. Saya rasa hanya pemandangan matahari yang kembali ke peraduanlah yang mampu bersanding dengan cantiknya kembang api.

Saya pun demikian.

Jika terizin disebut, ujian kali ini kiranya menjadi salah satu etape terakhir perjalanan dari kembang api dalam diri saya sebelum bermetamorfosis menjadi ledakan sinar yang menyenangkan dan menerangi alam sekitar. Ujian kali ini, jika diperinci, merupakan ujian ke dua puluh tiga dalam senarai hidup saya. Yang berarti kurang lebih: Seberapa banyakkah ilmu saya sekarang?

Tidak tanggung-tanggung ujian ini. Jika tidak kuat, siap-siap terpental. Selama setengah bulan ujian maraton akan menarik-narik diri dalam pusaran yang kuat.

Saat beberapa teman menganggap ujian sebagai sebuah momok, saya cenderung menganggapnya sebagai salah satu puncak selebrasi intelejensia selama 6 bulan ke belakang. Hanya di minggu-minggu ini beberapa kejadian unik akan berlangsung. Tidak akan terjadi di luar ujian.

Saat-saat seperti ini lah buku seakan menjadi baju yang senantiasa melekat di badan. Mengikuti kemana saja saya beranjak. Lalu malamnya tertelungkup menutupi wajah mengiringi  sang empunya melangkah ke taman mimpi. Ada juga yang menjadi makhluk malam dan menekuri buku setelah berdoa panjang dalam tahajud. Kemudian terkikik-kikik mendengar teman yang mengigau tentang pelajaran Nahwu. Juga jembatan-jembatan keledai aneh dan menggelikan yang, entah kenapa, hanya bisa tercipta selama ujian. Menarik sekali. Ujian, sungguh sangat menarik.

Pun, saya merasa hanya di malam-malam ujian mimpi menjadi sangat absurd.

Saya pernah bermimpi menjadi Iron Man menggantikan Tony Stark yang sedang sakit. Dalam mimpi itu saya merupakan salah satu anggota Fantastic Four. Padahal setahu saya, si Iron tak ada sangkut pautnya dengan Fantastic Four. Lebih ganjil lagi saat ternyata saya bisa menembakkan meriam laser dari telapak tangan seperti yang kerap dilakukan Tony Stark. Namun, sebelum menembaknya saya harus melafalkan beberapa kaidah Nahwu yang sedang saya hafal dengan benar. Jika salah, tak akan keluar tembakan itu. Dengan sekuat tenaga saya berusaha membaca dengan benar. Dan, ampun, karena hafalan saya benar luar dalam, maka kekuatannya menjadi tak terkendali dan tangan saya terbang kemana-kemana. Tiba-tiba Ben Grimm yang tak lain adalah si Thing, sang manusia batu, menepuk bahu saya dengan keras. Lalu terdengar teriakan,”Saket, gam!”. Saya terbangun. Teman saya yang berbadan tambun mengelus-elus wajahnya yang memerah terkena pukulan saya.

Lain waktu, malam ujian hadis, saya bermimpi kembali. Dalam mimpi itu secara ajaib saya menjadi komposer selihai Mozart. Saya sinuhun memainkan berbagai alat musik. Yang lebih mendebarkan lagi: saya pandai bermain biola! Bukan main bahagianya hati saya dalam mimpi itu. Padahal di alam nyata gitarpun seperti tidak mau bertunangan dengan saya. Kunci-kuncinya susah sekali terhafal. Dan ketika saya sedang bermain biola itu, dawai-dawai yang sedang tergesek menjelma menjadi lembaran-lembaran kitab hadis yang semestinya saya daras. Saya tak acuh. Toh, ini hanya mimpi. Untuk apa dipusingkan? Kemudian saya pun mendikte hadis-hadis yang terdapat dalam kitab itu. Jika susunan sanad nya benar, maka alunan biola mengkidungkan Symphony No. 4 in D major, K. 19 milik Mozart. Manis nian terdengar! Tapi, sekonyong-konyong nada-nada gemulai tadi berhamburan tak tentu arah seperti ayam dikejar mau dipotong. Nadanya berubah. Lama-kelamaan semakin terdengar seperti suara ketukan pintu. Lalu titik air terasa membasahi wajah. Saya terkejut dan terbangun.”Istaiqidhz, ya akhi! Bangun! Udah mau subuh!” suara salah seorang teman menghancurkan mimpi aneh saya yang indah tadi.

Namun tak ada mimpi yang lebih aneh dari semalam. Dalam mimpi saya, Yingluck Shinawatra, si perdana menteri Thailand yang sedang dituntut mundur itu mengadu kepada saya bahwa ia merasa tertekan dengan kehidupannya saat ini dan dia ingin masuk Islam. Nah?

….

Makin lama saya berkubang dalam ujian, semakin banyak hal unik yang saya temukan. Semua hal tadi, secara halus, membuat saya sadar bahwa tak ada yang salah dengan ujian. Ia bukanlah hal yang menakutkan. Ujian laksana teman yang jarang bersua, hanya 2 kali dalam setahun, mengajak kita menyusuri lembah-lembah ilmu dan mengenang kembali pengetahuan-pengetahuan yang tersebar di tiap sudut pemikiran. Lalu membuka cakrawala gagasan kreatif yang selama ini tertutup kerangkeng tempurung. Ujian juga kerap melentingkan kemampuan fisik sampai pada tingkat tertinggi, membuat kita mengukur sejauh mana alam menguatkan kita.

Saban tahun, tiap selesai mengarungi ujian, saya berpikir untuk apa saya melakoni ini semua. Apakah karena terinjak-injak sebuah sistem pendidikan? Apakah karena harus? Menjadi sebuah bagian dalam hidup untuk kehidupan yang ‘layak’ ketika dewasa kelak? Semua pertanyaan itu semakin menggunung ketika materi semakin banyak dan tentunya semakin pelik. Sampai suatu ketika salah seorang guru menegur saya dengan cara yang paling mengena dalam hati. Dalam hidup.

“Amirul, kalau kamu terus berpikir begitu, saya jamin, di antara semua teman-teman kamu satu tingkatan, hanya kamu yang akan gagal! Hanya kamu sendiri yang akan gagal! Ada suatu hal yang tidak kamu pernah pahami jika pemikiranmu sudah terbentuk seperti itu, yaitu penghargaan akan pengetahuan, memuliakan guru, dan teman yang selalu mendukung…”

Saya tersentak.

Benar-benar tersentak.

Kemudian akhirnya saya tersadar. Ujian tanpa saya sadari sebenarnya mendekatkan diri pada hal-hal baik yang jarang terkerjakan. Pulpen, yang biasanya secara misterius sering hilang tak tahu kemana, akhirnya selalu dalam genggaman saat ujian. Buku yang terus melekat seperti baju dalam tiap anjak. Ilmu yang senantiasa terekam oleh lisan dan pikiran. Tekad baja untuk menuntaskan semua ilmu yang terpatri. Semakin bijaksana dalam mengatur keuangan, karena harus disesuaikan dengan pembelian vitamin. Semakin adiluhung dalam mengelola jadwal keseharian, karena menjaganya agar tak terbentur dengan agenda belajar. Dan yang terpenting, semakin ramai doa yang terekam untuk diberikan sayap, terbang menuju langit, di tiap salat tertunaikan. Semua hal tadi saya singkat dengan; Ujianlah pengait kebaikan sesungguhnya.

Ujian, sungguh sangat mendebarkan!

***

Dan akhirnya jika seseorang bertanya seberapa banyak ilmu saya sekarang, izinkanlah saya menjawab,

“Semoga ada keberkahan di tiap ilmu yang tertenun…”

***

Salam; A

Rewind The Memory

pasaratjeh.jpg

Tidak ada tempat transaksi jual beli yang paling terkenal di Banda Aceh selain di pasar semi-kumuh ini…

Saya terpekur mengenang bagaimana tempat ini terekam sejak kecil ketika kaki pertama kali menginjak altar suci Baiturrahman. Masih jelas dalam ingatan saat bunyi klakson kendaraan bermotor bertalu-talu mengangkasa mengalahkan seru azan yang menyejukkan. Terpal-terpal biru bergelimpangan sepanjang jalan melindungi para penjual dari sinar matahari panas yang tak tahu adat itu. Macet dimana-dimana, etnis Tinghoa saling mengeluarkan beberapa kata dalam bahasa ibu mereka, kucing-kucing berbelang menguap sejadi-jadinya. Sampah-sampah pun dengan sopan mengambil posisi di depan jalan, merata dan bertumpuk-tumpuk.

Dan tak pernah lupa, saat Ayah saya bercerita dengan bangga sembari menunjuk-tunjuk sebuah lokasi persis di bawah tangga, tempat dia dan dua temannya memanggul beras dan mereparasi arloji untuk menyambung hidup, untuk terus bersekolah di kampus universitas syiah kuala. Tempat yang penuh hikayat perjuangan kaum miskin. Tak pernah berubah. Pasar Atjeh tidak pernah berganti cerita.

Saya rindu tempat ini.

Namun, kini tak ubahnya wanita yang ditinggal pergi suami tanpa kabar berita. Sebuah pembangunan pasar yang lebih modern dilaksanakan tepat di belakangnya. Sehingga berbondong-bondonglah umat Banda Aceh ke sana. Tak pelak jumlah pengunjung pasar ini turun. Dan tak tahu malu, pemerintah memberi nama yang sama pula untuk pasar yang lebih modern itu. Kasihan sekali pasar tradisional ini. Sudah ditinggal suami, dicuri nama pula oleh pasar baru di belakangnya.

Lalu ku perhatikan lagi jendela-jendela berdebu, daun pintu berlubang, papan nama toko yang mulai lapuk. Ku lihat lagi kabel-kabel usang yang mulai kendur dan telanjang tak berpenutup. Ku pandang kembali lantainya yang makin hari makin kusam, dinding-dindingnya yang dikhianati zaman, kucing-kucingnya yang tertidur pulas. Tak berubah. Masih sama, selalu sama…

Tak ada ciptaan Tuhan yang paling sering dirutuki sekaligus dipuji-puji selain kenangan masa lalu…

Pasar Atjeh, 19 November 2013 [02:26pm]

Kopi, Bukan Sekadar Air Berwarna Hitam

Saya selalu menyukai semua hal yang berhubungan dengan kakek saya. Dia adalah orang tua yang masih menyisakan sisa-sisa aroma masa muda. Beliau merupakan tipikal orang kelahiran pertengahan abad 20 yang semangatnya meledak-ledak namun antisipatif, penuh loyalitas, dan pandai memanfaatkan semua momentum yang ada. Semua terlihat dari caranya mengeber sepeda motor dengan kencang namun cepat menelisik rasio terjadinya kecelakaan—semangat meledak-ledak namun antisipatif, sikapnya mengasihi keluarga—penuh loyalitas, dan pintar mendaur ulang kayu-kayu bekas pembangunan rumah menjadi semacam kursi furnitur yang cantik—pandai memanfaatkan semua momentum yang ada. Unik bukan?

Masa mudanya dipenuhi dengan kerja keras dan perjuangan. Semua itu berakibat pada meningkatnya wibawa kakek di mata orang-orang yang menghormatinya. Suatu ketika ibu saya pernah bercerita bagaimana dia dan kakak adiknya, yang masih kecil-kecil, diizinkan masuk ke dalam bioskop Langsa hanya karena sang pemilik bioskop sangat menghormati kakek. Katanya, beliau sangat disegani mengingat kakek saya itu merupakan penyuluh pertanian yang hebat. Demi mendengar cerita itu kakek saya tertawa terbahak-bahak, sampai bahunya berguncang-guncang. Tertawa, salah satu kebiasaan masa muda yang masih dipeliharanya hingga kini.

Di lain waktu ibu pernah berkisah tentang pekerjaan sopir yang dilakoni kakek. Dia mengendarai truk 12 ban, membawa ratusan sak semen dari Banda Aceh ke Magelang hanya karena ekonomi keluarga sedang morat-marit sedangkan ibu saya memerlukan biaya untuk penelitian skripsinya. Saya mencari pembenaran atas kisah itu padanya. Dengan enteng dia menjawab, “Rul, tau kue waktu itu dua ban truknya bocor di Pekanbaru..” Lalu beliau tertawa, terbahak-bahak.

Saya dan kakek terlibat dalam sebuah hubungan kakek bercucu yang berbeda dari orang lain. Pengerat ikatan kami bukanlah permainan gendong-menggendong atau uang lebaran seperti kakek-kakek yang lain. Pelengket hubungan kami sangat tidak biasa karena tidak cocok untuk anak-anak. Pentaut hubungan kami adalah dua cangkir kopi Aceh. Kopi Aceh hitam yang pahit.

Langsa City – Paya Bujok Tunong, One Day in June 2003 [06:58am]

Saban pagi minggu jika cuaca teduh, ketika saya masih bocah sekitar kelas 1 MIN, kakek menghidupkan kereta Yamaha hitamnya. Suara kereta itu seperti kambing tersedak. Tapi, kakek sangat bangga pada Yamaha tuanya itu. Sepeda motor itu melambangkan masa-masa mudanya, sebuah supremasi atas kejantanannya.

“Yok Rul, ke keude kupie kita…” teriaknya dari luar pagar. Keude kupie itu tak lain adalah pengucapan orang Aceh atas kedai kopi.

Saya menyambut ajakannya dengan berlari-lari dari dalam rumah. Bagi saya mengopi bersamanya di keude kupie lebih menarik dari deretan film kartun Indosiar saban minggu. Beliau tertawa, terbahak-bahak. Sesampainya disana kakek langsung memesan pesanan yang telah menjadi adat jika kami berdua  pergi ke keude kupie, yaitu dua cangkir kopi Aceh pahit dan sebungkus Dji Sam Soe.

Keude kupi ini sederhana saja. Dindingnya hanya ditopang dengan kayu dan atapnya dibubungi dengan daun rumbia. Sangat tradisional, kata guru mata pelajaran ekonomi. Melihat kami berdua tiba, sang pemilik keude kupie, yang merupakan rekan kakek sesama mantan penyuluh pertanian datang menyambut. Kemudian mereka terlibat dalam sebuah percakapan serius, namun tak jarang ditengahi suara ledak tawa panjang jika yang sedang diperbincangkan itu adalah cerita-cerita masa muda yang penuh kenangan.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan kakek, saya senang mengamati perilaku, adat istiadat dan tata tertib tak tertulis orang-orang yang menghabiskan sebagian harinya di keude kupie ini. Semacam mempelajari budaya sendiri. Maka bolehlah saya disebut sebagai sosiolog termuda Aceh dalam khazanah perkopian.

Saya tergelak. Hari masih pagi perawan tapi seperti pasar ikan, keude kupie ini ribut bukan main…

Orang-orang tua berpeci haji putih duduk bergerombolan di bagian dalam, membincangkan banyak hal. Mulai dari gotong-royong mingguan, memperbaiki talang air meunasah, sampai tentang perkawinan anak orang. Namun yang lebih sering adalah mengejek-ejek pejabat. Maka bagi orang-orang seperti ini, keudeu kupi tak ubahnya ruang rapat berpendingin ruangan. Bedanya hanya terletak pada kaki yang sah-sah saja terangkat ke atas kursi saat mereka mengeluarkan pendapat. Sama sekali tidak dianggap tak sopan. Guru saya pernah menegur salah seorang teman karena mengangkat kaki ke kursi ketika duduk. Beliau membentaknya, “Kamu kira ini warung kopi?!” Nah, apa saya bilang? Dianggap sopannya mengangkat kaki ke atas kursi hanya bisa terjadi di keudeu kupi. Tidak akan terjadi di tempat lain.

Sementara di bagian luar keude, catur menjadi rebutan. Mereka yang bermain catur sama sekali tidak mengenal kata senyap. Mereka merecoki setiap langkah pion yang digerakkan oleh dua temannya yang sedang bertanding. Bersorak-sorak saat para perwira utama terkena tebasan pedang menteri lawan. Lalu tertawa-tawa ketika pion raja kehabisan nafas ditimpa pion kuda. Tapi, ajaibnya, setelah permainan berakhir, mereka menyemangati dan menepuk-nepuk bahu temannya yang kalah lalu memuji-muji rekannya yang menang. Mungkin ini disebabkan karena samanya problema hidup yang mereka hadapi. Nasib pahit yang menelikung mengubah mereka menjadi semacam kelompok egaliter. Mereka berpadu, seperti ada semangat bahu-membahu dan jiwa menolong yang tertanam dalam diri mereka. Catur adalah pengejewantahan hidup mereka. Mereka bisa mengatur permainan sendiri tanpa ada nasib yang mencekik, bersorak-sorak kegirangan saat hidup ditimpa nestapa, dan saling tolong-menolong ketika menjalaninya. Semua hanya bisa mereka dapatkan di dunia hitam putih kotak-kotak itu.

Adapun di bagian tengah hanya ada satu dua pemuda yang duduk membisu sendirian. Ruang tengah ini dikuasai oleh radio berukuran besar yang sering mendendangkan lagu-lagu cinta tahun 90-an. Saat itu belum banyak keude kupie yang dilengkapi dengan tv tabung, sehingga cukuplah radio sebagai hiburan penyeimbang tawa yang berderai di sana. Muka pria-pria muda itu lesu. Seperti ingin menggantung diri sendiri siang nanti. Saat itu saya belum paham, apa yang mendasari terbentuknya wajah-wajah murung seperti itu. Waktu berjalan dan saya tumbuh remaja, akhirnya saya mafhum artinya. Penopang wajah murung itu tak pelak karena masalah asmara. Jika radio mengalunkan lagu-lagu cinta, mereka memejamkan mata, mendengarnya sepenuh jiwa. Tiap lirik diseksamainya. Seakan dia adalah pria paling tidak beruntung di dunia ini. Pria yang dipatahkah harapannya karena dikhianati cinta. Ah, terkadang cinta bisa jadi sangat mengerikan.

Dan jangan pernah mencari anak perempuan yang hilang, istri ataupun nenek-nenek di keude kupie ini. Saya tak pernah melihat mereka menginjakkan kaki di sini. Keude kupie adalah teritorial para lelaki. Kaum hawa tak kan mendapat tempat di sini.

Gelas kopi mulai mendingin karena saya keasyikan mengamati keadaan sosiologis para peminum kopi. Saya mengaduk dasar gelas dengan sebuah sendok kecil. Tujuh adukan. Mengapa tujuh? Karena saya suka angka tujuh. Bagi saya tujuh melambangkan para sahabat Rasul mulia yang paling saya kagumi: Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hasan anak Ali, Abdullah anak Abu Bakar, dan Abdullah anak Umar. Kemudian saya meminumnya seperti orang dewasa, yaitu dengan menyesapnya perlahan. Perlahan saja, menimbulkan suara hirup yang khas. Dan harus terdengar sampai ke seberang jalan. Lalu aroma khas bubuk kopi membumbung tinggi, mengelus-elus bulu hidung. Pahitnya menyentak kerongkongan. Saya sangat menikmatinya. Saya tambahkan tiga sendok teh gula. Nikmatnya makin tak terkatakan. Ah, tiba-tiba saya merasa sangat dewasa.

Kakek saya masih tertawa, terbahak-bahak, dengan rekannya. Kopi miliknya sudah mulai mendingin dan saya memperingatkannya akan hal itu. “Paknek, minum dulu kopinya. Nanti dingin,” Kakek lalu melihat saya sambil menepuk-nepuk pundak dan tentu saja, tertawa.

“Oh, iya iya..” bahunya masih berguncang saat menyeruput air hitam pahit itu. Lalu tertawa kembali selepas pinggiran gelas berpisah dari bibirnya. Kumis putihnya berubah warna menjadi kehitaman terkena air kopi. Pemilik kopi menatap saya lalu bertanya kepada kakek. “Soe aneuk nyoe, Bang Ma’e?” Ismail adalah nama kakek saya. Panggilan akrabnya Bang Ma’e.

“Cuco lon..aneuk si Ita,” jawabnya sembari tertawa. Nah, ‘si Ita’ adalah nama panggilan ibu saya.

“Masya Allah…ka rayeuk lagoe aneuk si Ita nyoe..” godanya seraya mengusap-usap kepala saya. Saya malu tersipu-sipu. Sejak itu saya mafhum bahwa keude kupie juga berfungsi sebagai tempat pamer anak cucu.

Sejak kecil saya sudah diajak kakek berhubungan dan bersentuhan langsung dengan budaya keude kupie. Tempat ini bagi orang-orang semacam mereka, bukanlah sekadar tempat meminum air gula hitam. Di sana merupakan tempat pelarian dari masalah, tempat membahas sebuah mufakat, sampai tempat mengurai benang-benang kenangan tempo dulu. Dan kopi bukan sekadar air pahit berwarna hitam. Air hangatnya mampu meredam emosi yang bergejolak, tiap aroma uapnya menghilangkan setiap kejahatan bagi mereka yang ingin melakukannya, dan dentingan gelasnya semacam simfoni yang memainkan melodi terindah sepanjang masa.

Namun, seperti yang pernah saya katakan, waktu berjalan dan roda kehidupan berputar. Kini jarang saya jumpai keude kupie yang penuh kejadian sosial menarik seperti dahulu. Suara orang duduk bergerombolan yang membincangkan banyak hal dan pantangan mengopi di keudeu kupi bagi perempuan berganti dengan suara muda-mudi bukan mahram yang saling tertawa cekikikan. Teriakan ‘skakmat’ catur berubah irama menjadi teriakan caci maki orang yang sedang menonton bola di TV LCD, bukan sekadar tv tabung ataupun radio butut. Dan romansa putus cinta berubah bentuk menjadi status relationship yang terpampang di akun facebook. Bahkan sekarang bukan hanya kopi hitam pahit yang sediakan, namun sudah bermunculan kopi-kopi lain yang bernama aneh. Cappucino, macchiato, espresso, kopi luwak, mocha dan -yang paling aneh- kopi cantik (?).

Ah, mengingat kopi membuat saya teringat pada kakek. Begitupun sebaliknya, mengingat kakek membuat saya teringat pada kopi hitam pahit yang saban saya pesan jika mengopi bersamanya. Mungkin senarai zaman akan terus berlanjut, namun kenangan akan keude kupie berdindingkan kayu dan kopi Aceh hitam yang disajikan secara tradisional tak akan pernah saya lupakan.

…..

Me: Mungkin memang terlambat, tapi Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6, blogger amatiran yang lagi ke Amerika, jauh dari Aceh…  Yuk menulis tentang Aceh dari tanah asing di sana! | Her in USA: Haha, jahat kali. Tapi emang amatir sih. Iya, Micul… Ntar ana tulis. | Me: Ok! Ngomong-ngomong di sana gak bisa makan mie caluk ya? Her in USAih apa maksudnya ni tanya2 mie caluk -_-

kopi.jpg

Half Page of The Strangers

Banda Aceh City – Darussalam, 24 November 2013 [10:12am]

Setelah hampir sebulan belajar keras di dayah, hari ini -akhirnya- libur tiba! Dayah tempat saya belajar itu seperti tidak mengenal dikotomi waktu. Malam dan siang tak ada bedanya. Buku dan kitab terus kami daras selama tubuh masih kuat untuk belajar dan mata masih mampu untuk tetap terbuka. Bahkan tak jarang kami terang-terangan menantang bulan untuk tetap terjaga hingga larut malam. Sehingga remeh-remeh hal seperti internet tak mendapat tempat di tiap kegiatan. Dan kesempatan untuk merayakan kebebasan sepanjang hari ini saya mulai dengan menyapa jurnal kehidupan saya ini.

Seharusnya saya mulai menjelajahi akun-akun yang tersebar di tiap sudut dunia maya sekarang. Membuka blog dan membaca postingan beberapa teman. Namun, sebaris aksara bertuliskan, “Selamat Ulang Tahun Aceh Blogger ke-6”, mengejutkan saya. Sebagai seorang blogger Tanah Rencong sudah sepatutnya saya bergembira. Saya tergoda untuk meneruskan dan membiarkan bit-bit metadata itu bekerja hingga kursor berhenti di sebuah postingan berisi ajakan, “Yuk menulis tentang Aceh”.

Saya tertarik.

Dan di sini, biarlah halaman sederhana ini menunjukkan bagaimana hidup menawarkan sisi-sisi terindah untuk menjadi seorang keturunan daerah Iskandar Muda ini…

Seseorang yang pertama kali berucap, “the strangers you meet on the way will leave you a memory that will linger forever” adalah shahih adanya. Saya pun demikian. Orang-orang asing yang saya temui di tiga kota besar Indonesia nanti adalah bagian dari senarai hidup tak terlupakan. Tak pernah terbersit dalam angan akan bersua, namun mereka menyadarkan saya akan jiwa Aceh yang bersemayam di badan sampai khatam usia. Mereka menunjukkan saya, betapa indahnya menjadi seorang Aceh. Namun, secara tak sadar membuat saya malu kepada diri sendiri karena minim pengetahuan sejarah tanah ini.

Jakarta City – Pondok Gede, 20 July 2011 [07:32pm]

Kembali ke awal malam saat itu selepas Isya, bulan masih belum tampak. Rombongan kontingen kami sedang menikmati makan malam yang disuguhkan panitia perlombaan. Perlombaan apa? Ah, perlukah saya sebut? Saya rasa tidak perlu. Biarlah ia menjadi rahasia saya dan Tuhan Yang Mahatahu.

Hidangannya tidak terlalu menjanjikan. Nasinya kering. Lidah saya yang terbiasa dengan nasi berkuah menyuarakan kata tidak sepakat. Dia memberontak. Memaksa saya untuk mencari makanan lain yang lebih bisa diterima papila-papila kecil lidah. Kemudian saya berjalan keluar dari komplek pemondokan. Melihat-lihat para penjaja makanan yang berjualan di sekitarnya. Dari kaca-kaca gerobak tertulis nama-nama makanan asing. Mpek-mpek, tahu tek-tek, telor gulung. Tidak ada yang menerbitkan selera.

Saya terus berjalan, sampai telinga menangkap sebuah suara percakapan berbahasa Aceh. Menimbulkan semacam sensasi asing yang tidak pernah terasa selama kaki menginjak Serambi Mekah. Dan kontan saya bersorak dalam hati ketika tahu bahwa suara itu berasal dari sebuah warung mie Aceh!

Di depan warung yang tak bernama itu, seorang pria tua tambun dengan kumis putih melintang di bawah hidung peseknya, cekatan menuang kecap dan sayuran ke dalam wajan besar berisi mie kuning yang telah berubah warna karena bercampur dengan bumbu merah khas. Aroma pedas-pedas gurih menguap dan seketika lidah mengucap kata sepakat. Dengan ragu saya dekati bapak itu dan menyapanya dalam bahasa Aceh.

“Assalamualaikum, kiban haba? Pak…” saya menunjuk-nunjuk beliau. Dia tampak terkejut disapa dalam bahasa Aceh, serta merta sumringah menyambut tangan saya. “Geut, geut.. Ureung Aceh? Oh, neuhoi  mantoeng lon Pak Abu.” Tangan saya digoncang-goncangnya. Ah, menyenangkan sekali menemukan penutur Aceh di tanah asing. Pak Abu menyuruh saya duduk, menyiapkan mie yang memang sudah masak, lalu duduk di samping saya. Kemudian ceritapun mengalir di antara kami.

Dia adalah pencinta mie dan ternyata beliau bukanlah orang Aceh asli. Pak Abu sunda tulen. Maka ‘Abu’ hanyalah sebuah nama panggilan. Istrinya lah yang mengubah tutur kata dan logat bicara beliau, dari dialek sunda menjadi aksen Aceh, karena dia adalah orang Sigli. Dia pun bercerita bahwa sudah belasan tahun membawa istri ke kampung halamannya dan mengajarinya cara memasak mie Aceh. Dan tentu saja saya langsung mafhum bahwa yang menguatkan ikatan pernikahan mereka adalah tepung giling yang dibentuk  menjadi seperti tali: mie.

Saya terkagum bagaimana makanan yang terkadang dibuat sambil lalu itu mampu menyatukan sekaligus mengeratkan cinta dari dua ranah berbeda. Bahasa dan istiadat tak jadi soal. Karena semuanya luluh dalam seporsi makanan bernama mie. Terlebih membanggakan karena mie itu adalah mie Aceh.

Cerita beliau meredam pemberontakan lidah saya akan makanan dan gelak tawa Pak Abu melengkapi hubungan kami yang baru saja tercipta. Penutup malam yang sempurna!

mieaceh.jpg

Batam City – Kabil, 7 July 2012 [08:02pm]

Pada malam terakhir Perkemahan Pramuka Santri Nusantara, panitia menjadwalkan acara yang paling dinanti oleh peserta. Sebuah acara yang luar biasa. Acara ini merefleksikan kekuatan budaya Indonesia sebagai hal yang paling dibanggakan dan paling menggetarkan. Semuanya tergambar dari sebaris perkataan yang menjadi slogan republik ini, Bhinneka Tunggal Ika. Acara ini tertulis di buku agenda peserta dengan judul, Pentas Kesenian Nusantara.

Dan tentu saja kami langsung paham bahwa marwah Aceh tertulis di lekuk-lekuk tubuh kami. Bahkan sampai ditempelkan di lengan baju kami. Sebuah gambar daun sirih dan sepasang rencong, lambang Gerakan Pramuka Aceh. Maka kami tidak boleh menjatuhkan martabatnya. Namun janganlah risau karena sebenarnya sejak awal langkah kami telah menyiapkan salah satu kesenian yang paling dibanggakan penduduk Aceh. Mulai dari para seniman, mereka yang mengaku-aku sebagai penikmat seni sampai sopir labi-labi dan para pejabat yang budiman, pasti menyukai penampilan kami ini: Tari Rapai!

Tidak main-main. Kami menyiapkan sekitar 10 buah rapai lengkap dengan seragam dan ikat kepala yang kerap membuat saya pusing. Setiap hari, setelah semua acara harian selesai, sejak hari pertama di bumi perkemahan kami rajin latihan. Tak jarang kami menari kesetanan. Sampai menarik perhatian kontingen lain. Hingga akhirnya tiba pada malam penampilan. Nomor undian menakdirkan kami untuk menabuh rapai setelah tari bertopeng asal daerah Bali. Ini berarti kami akan tampil pada urutan kedua terakhir. Giliran tampil yang masih lama ini kami gunakan untuk menonton semua penampilan daerah lain.

Kami berbaur dengan peserta lain. Saya sedang berebut mengambil posisi dengan seseorang tidak jauh dari panggung saat seorang lelaki dengan cat hitam menutupi seluruh wajah dan badannya menghampiri saya. Mengingatkan saya akan refleksi karakter hantu geunteut yang sering digembar-gemborkan orang tua agar kami, para anak kecil, pulang ke rumah saat maghrib tiba.

“Joko asli Suroboyo…” ujarnya memperkenalkan diri sambil tangannya membentuk sikap akan menjabat. Saya menyambutnya, “Ya, saya Amir..”

“Dari Aceh ya?” Saya mengangguk. Matanya melirik-lirik rapai yang sedang saya peluk. “Itu apa?” tanyanya. “Oh, ini rapai. Seperti gendang tapi suaranya lebih keras.” Saya menabuh rapai dengan bangga. Semacam memamerkan. “Khas dari Aceh..” saya menambahkan. Joko mengangguk-angguk kemudian bertanya,

“Kenapa namanya rapai?”

Saya terkejut. Seperti mendengar suara petir yang menyambar-nyambar nun jauh di ujung horizon. Saya gelagapan dan akhirnya menjawab lesu, “Saya tidak tahu ya, Joko…” Memang sepertinya orang Surabaya sopan-sopan dan baik karena demi melihat perubahan air muka saya, dia langsung mengubah arah pembicaraan. Kemudian perbincangan kami berlanjut ke arah-arah yang menarik dan tak terduga. Kami puas tertawa malam itu. Namun pertanyaan Joko terus mengiang-ngiang di kepala saya.

Pertanyaan Joko menyadarkan saya dari euforia kebanggaan. Saya sama sekali tidak tahu asal-usul nama gendang Aceh itu. Saya pun yakin, teman-teman yang lain juga tidak mengetahuinya. Dan seketika saya dirundung malu yang tak terkira. Mungkin memang benar tiap orang punya hak untuk membanggakan budayanya. Namun bukankah itu menjadi sebuah kejanggalan karena di saat yang sama dia sama sekali tidak tahu menahu soal asal-usul budayanya itu?

rapai.jpg

Gorontalo City – The Downtown Stadium, 27 June 2013 [04:22pm]

Kali ini takdir menggiring saya ke Gorontalo dalam kerangka perlombaan olahraga dan seni antar pesantren Indonesia. Perlombaan ini sebenarnya biasa saja. Tak ada kata meriah di sana. Jika pun ada banyak orang berteriak semarak tak karuan seperti orang kesurupan menyemangati temannya yang sedang berlomba, maka hampir bisa dipastikan bahwa pertandingan yang sedang berlangsung adalah lomba lari.

Lomba lari diadakan di sebuah stadion pusat kota yang dikelilingi oleh realita-realita miris kehidupan. Pengemis, orang mengumpat-umpat di sebuah emperan toko, dan tukang bentor [kendaraan penumpang khas] yang saling berebut langganan. Namun semua drama satir tadi dibungkus dengan pemandangan alamnya yang indah. Bentangan gunung berkabut sambung-menyambung berpadu dengan persawahan hijau bak permadani. Sampai-sampai saya berpikir, terkadang Tuhan begitu nakal karena menyandingkan keindahan dengan kebobrokan.

Saat itu pelari asal Jawa Timur sedang bersaing ketat dengan pelari asal Sumatera Utara. Seorang pria yang memakai topi rajutan menghampiri saya. Saya pun kemudian mengamati topi rajutan yang melekat di kepalanya. Rajutannya bukan terbuat dari kain melainkan dari kulit kayu kecil-kecil. Warnanya coklat, seperti rotan yang sering dilibas oleh Teungku Tie ke betis jika saya terlambat pergi mengaji ke meunasah.

“Peci Gorontalo nya Mas.. Tiga puluh ribuan saja” tawarnya dengan jejak aksen bernada tinggi di tiap akhir kata. Khas dialek orang timur Indonesia. Saya senang mendengarnya, sangat nasionalis. Ternyata topi rajutan itu tak lain adalah pecinya orang Gorontalo dan pria ini adalah penjualnya. Saya teringat ayah dan paknek di rumah. Sebuah oleh-oleh yang menarik. “Bungkus dua ya, Mas..” Saya membelinya. Dia tersenyum dan dengan cekatan mengemasnya dalam lembaran koran lalu menyerahkannya kepada saya. Uang saya berikan dan dia berujar terima kasih.

Kubu pendukung Jawa Timur bersorak girang gegap gempita karena pelarinya menang, sedang kubu Sumatera Utara terlihat mendengus-dengus kesal karena pelarinya tertinggal di belakang. 

Kemudian penjual itu duduk di samping saya. Mengkipas-kipasi tubuhnya yang berkeringat dengan semacam kain lap. “Aslinya mana, Mas?” Dia bertanya kepada saya. Kali ini jejak aksen bernada tingginya berbunyi di bagian tengah kalimat. “Dari Aceh…” Saya mencoba menjawab seramah mungkin dan tersenyum. Mencoba bersikap bersahabat. Bukan apa, Dia seorang pribumi, saya harus menjaga sikap. “Wah, dari Aceh rupanya!” dia sumringah. Kali ini aksen berbunyi kembali di bagian akhir. “Saya dengar disana punya pantai indah-indah…” Saya mengangguk mengiyakan seperti ayam mematuk batu. Hati saya girang bukan kepalang karena Aceh saya disebut, indah.

“Hm..tapi saya sering pikir punya pertanyaan.” katanya dengan raut serius.

Pertanyaan? Pertanyaan apa?

“Mana indah saya punya daerah atau punya Mas?”

Saya terdiam. Tak menduga akan ditabrak pertanyaan seperti itu di tanah asing. Oleh orang asing pula. Lalu saya mengedarkan pandangan pada siluet gunung-gunung tertutup kabut nun di pinggir kota. Saya teringat persawahan hijau yang membentang bak permadani ketika melewati jalan protokolnya. Hal yang sama seperti itu terakhir saya lihat ketika pulang kampung ke Lhokseumawe melalui jalan antar provinsi Banda Aceh-Medan. Saya coba membandingkan. Ah, sulit. Terlalu sulit. Dan untuk pertama kalinya saya menyadari keindahan Aceh dalam sudut pandang yang sulit dilukiskan.

“Tidak tahu saya, Mas.” Saya mengambil dua tarikan nafas, “Alam aceh sudah tergambar di bawah alam sadar saya sejak lahir dan saat ini untuk menafikan keindahannya tidaklah mungkin karena saya sangat mencintai tanah lahir saya itu. Namun mengingkari keindahan kota ini juga tidak bisa. Gorontalo ini indah sekali.”

Dia tersenyum senang dan berdecak-decak sendiri. “Gimana kalau sama-sama indah?” tawarnya tiba-tiba. Saya membalas,”Jadi seri ini ceritanya ni, Mas?” Dia tertawa. Saya tergelak. Dan sepertinya kami telah menemukan kesimpulan yang memuaskan!

gorontalo

Andai Andrea Hirata benar, maka di sana, di tiga kota itu saya menemukan kepingan hidup. Kepingan yang tidak biasa karena dia melengkapi penglihatan saya akan Aceh, tanah kerinduan saya, tanah kelahiran saya. Tiga kepingan itu mengejewantah dalam tiga sosok asing yang sama sekali tidak pernah saya temui. Namun mereka seperti angin bagi para pelaut, yang menunjukkan bagaimana caranya berlayar. Menyinggung titik buta, mengubah haluan kehidupan.

Dibuatnya saya paham tentang fungsi lain dari seporsi mie Aceh. Dibuatnya muka saya merah padam menanggung malu karena tidak tahu sejarah budaya sendiri. Dibuatnya saya merasakan kebanggaan akan alam Aceh dalam cermin yang berbeda. Mereka adalah simpang perberhentian saya. Menunjuki ulang cara saya menjiwai daerah sendiri. Mereka menghiasi perjalanan saya, dan melengkapinya.

Untuk itu saya mengucapkan terima kasih yang tak terkira pada mereka…

…..

Mungkin memang benar kata para pejalan. Terlebih bagi mereka yang menunjuki jalan pulang, saat lintasan perjalanan dilewati dengan orang yang tepat, maka percayalah tak ada masa yang tak indah!

Salam!

*all photo belongs and taken by me, except gorontalo view. It taken by Ustad Alfirdaus

Thank You, Yasuko!

BeFunky_VintageColors_1.jpg

Banyak orang menganggap internet adalah sebuah dunia ilusi dimana masing-masing orang saling menyembunyikan perangai diri dari realitas yang sebenarnya. Dunia metadata tak lebih dari sebuah tempat saat wajah tidak saling bertatap dan tangan tidak saling menjabat. Maka kebohongan sangat riskan terjadi di sana. Tapi saya menganggapnya dalam pandangan lain. Bagi saya dunia maya tak ubahnya buana nyata. Tempat orang saling berhubungan, saling menyentuhkan sisi benang hidupnya dalam cara-cara yang berbeda. Bahkan dunia metadata dalam berbagai hal mampu menyambungkan dua hal berbeda yang tidak mungkin atau sukar terjadi di dunia nyata.

Dan saya pun akhirnya mengalami apa yang selama ini saya percayai…

Saya percaya bahwa ada banyak orang di luar sana yang tidak peduli siapa kau, dimana tanah lahirmu atau bagaimana rupamu bahkan tidak tahu siapa dirimu, namun karena  suatu hal mampu menyatukan hati denganmu dari rentang jarak yang amat sangat jauh: melalui dunia metadata. Seperti salah seorang yang saya kagumi pernah berkata bahwa,”Bytes-bytes kami bersinggungan dan menjelma menjadi memori. Membuat saya memiliki kenangan virtual tentang siapa saja yang pernah saya temui”. Pun begitu yang terjadi pada diri saya.

Adalah selembar kertas dengan gambar indah dengan perangko yang menghiasi bagian sudut halaman sebaliknya bernama kartu pos lah yang memandu nasib saya ke sana. Bertukar kartu pos adalah hobi yang baru saja saya nikmati belakangan ini. Saya mengirimkan kartu ke alamat yang saya print melalui sebuah situs pertukaran kartu pos di seluruh dunia. Biasanya saya mengirimkan selembar kartu pada seorang di belahan antah bumi lainnya dan akan dibalas oleh seorang di bagian dunia yang lain pula. Namun sebuah hal yang tidak biasa terkirim kepada saya suatu ketika.

Ada 8 kartu pos dengan gambar anime yang terkirim kepada saya hari itu hanya dari seorang pengirim! Sinting!

Namanya Yasuko, seorang gadis Jepang yang bekerja pada sebuah kantor pembuatan manga, sebutan untuk komik khas Negeri Sakura. Dia mengirimkan kartu yang sesuai dengan keinginan yang tertulis di wall profil akun saya. Maka betapa bahagianya saya ketika menyadarinya. Namun saya juga dihinggapi rasa cemas. Untuk menghilangkannya, saya mencoba mengirim sebuah email konfirmasi yang berisi pertanyaan: “Apakah dia tidak salah kirim?

Lalu keesokan harinya ia memberi balasan yang membuat saya berlonjak kegirangan seperti menyemangati Timnas Indonesia yang melakukan tendangan pinalti penentuan di detik-detik terakhir,

“No, it’s not a mistake. I just want to share the anime cards to those who like anime. Thank you for being a fans of our comic :)”

Yasuko

Maka pecahlah gelembung-gelembung tawa saya, mencairlah segala keluh kesah hati karena pelajaran sekolah, dan melonjaklah semangat saya untuk terus melanjutkan hobi yang satu ini.

Hanya sebuah kalimat yang mengisyaratkan bahwa saya menyukai komik buatan negeri mereka, namun Yasuko langsung mengirimi saya dengan berlembar-lembar kartu bergambar anime. Sungguh, bukan saling-mengenali yang menghubungkan kami, tapi kesamaan hobi dan kesukaan lah yang melakukannya.

Saya dan Yasuko mungkin memang tidak saling mengenal secara utuh laiknya dua orang teman yang sedang berpisah jauh. Tautan salam kami hanyalah beberapa kata basa-basi di dinding profil akun dan tatapan muka kami hanyalah sepasang foto yang bertengger di sisi kiri atas situs. Tapi kartu pos berhasil menjadi jembatan penghubung sebuah samar yang tercipta karena jauhnya rentang jarak. Dan dunia metadata adalah tiang-tiang penyangga dan tali-tali penghubung jembatan itu.

Saat kartu-kartu itu datang saya sedang dirundung kelelahan yang sangat akan pelajaran dan aktivitas yang padat. Keletihan itu seudah demikian memuncaknya hingga hampir saja saya ingin bolos sekali saja. Kartu-kartu pos kiriman Farli mungkin hanyalah selembar kertas, namun karena kejutan negeri jauh yang mengiringinya dan ketidak-biasaan yang menyelimutinya, mereka telah menjadi sebuah oase di tengah aktivitas yang menyibukkan dan penggetar kaki yang lelah berjalan.

Kini saya berharap semoga takdir saling menautkan benang-benang hidup kami dalam kehidupan nyata. Yasuko yang akan datang menikmati alam Indonesia atau saya akan menjelajahi Negeri Matahari Terbit hanya untuk mengucapkan terima kasih  padanya.

Maka bergembiralah mereka yang mencipta kehangatan melalui tali dunia maya!

Salam; 

amplop depan.jpg amplop belakang.jpg

The Rain

It’s 11:12 am and raining now so as memories. The fact that I’ve been here -in my campus- for almost six years surprises me. The time runs without any limit. And I want to share to you a little part of it…

hujan

Hujan pertama sejak saya kembali ke tanah ini, akhirnya menjamahi bumi…

Mungkin arus kesibukan tempat ini telah membuat saya lupa bahwa alam terkadang memilah tanah-tanah kering untuk dicandai suatu ketika, dan datang bersama awan-awan kelabu pekat beserta orkestra guntur yang bertalu-talu memainkan nada oktaf feedback tertinggiMungkin ribuan kosakata-kosakata arab yang wajib saya hafal saban minggunya membuat kepala saya tidak mampu merasakan lelah, atau lebih tepatnya tidak boleh merasakan lelah. 

Kemudian hujan bertandang melunturkan itu semua. Menyadarkan saya dalam berbagai cara bahwa kehidupan juga butuh sebuah tombol pause, menghentikan sejenak permainan anak-anak manusia. Menghadirkan cerita kalis di tengah drama satir perjalanan. Membiarkan sejenak telinga-telinga cendawan untuk tumbuh mengikuti irama angin. Dari beberapa alasan sentimentil, saya menyukai rintikan air dari langit ini…

Hujan lalu menziarahi tanah ini dengan membawa berbagai ‘pertama kalinya’. 

Untuk pertama kalinya dalam bulan ini, saya harus membiarkan baju-baju kotor menumpuk di sudut kamar. Menunggu hujan reda hingga matahari bersedia untuk menerpa sinar hangatnya pada cucian saya. Untuk pertama kalinya, saya terlambat mengikuti beberapa pelajaran karena rona abu langit tak sejalan dengan gerak detik jam tangan saya. Untuk pertama kalinya saya terpaksa meninggalkan shalat Ashar berjamaah karena hujan berbaris menghalangi.

***

Hujan sudah hampir seminggu membasahi ranah. Tapi siang ini sepertinya dia mulai mempersilahkan kami menikmati hasil perbuatannya. Beberapa genangan air terbentuk bertali dua dengan “jebakan” lumpur-lumpur yang tidak terlihat oleh retina.

“Yakhriq bait!” salah seorang teman mengumpat. Kakinya berlepotan terkena tanah lembek berlumpur. Saya dan beberapa teman tertawa mengejek. Ahh… kadang ditengah keseriusan mengumpulkan ilmu, ada celah-celah sempit yang memang disiapkan Tuhan untuk menguburnya sejenak.

“Unzur akh! Bada’at syajaral muzharah!” Kali ini teman saya yang lain sontak kegirangan. Telunjuknya mengarah pada sebatang kasia emas yang mulai kuning berbunga di depan komplek sekolah ini. Saya tercengang melihatnya. Padahal baru beberapa hari yang lalu panasnya kota ini meretakkan beberapa tanah yang tersisih air. Tapi lihat sekarang, sepenuh batangnya dikelilingi kelopak-kelopak kecil yang terkadang berdesau digasak angin. Miracle!

***

Pun begitu, alih-alih mengungkung ruang gerak, hujan justru memberi kita sedikit waktu untuk berlepas lelah. Menyediakan kita seruang tempat untuk berbagi tawa bersama teman di kamar masing-masing. Air ini sedikit banyak membuat saya malu kepada diri yang terlalu terpaku pada kekakuan dogma. Terlalu patuh pada dentuman realita yang kadang tak perduli pada orang-orang yang terlalu lemah untuk berdaya.  Kadang hujan juga membuka mata saya bahwa bagaimanapun kita, sebagai sesosok kiyan perlu sebuah jeda.

Setelah tamparan hidup satu persatu kita elaki, mungkin hujan lah tempat kita membangun ulang semangat menapaki…

Darul Ulum Islamic College, 1 Sept 2013 [15:25:16]

In The Name of God

Indonesia adalah negeri dengan jajaran kepulauan yang memeluknya dari timur ke barat. Seandainya Ibu Pertiwi ini adalah sebuah tubuh, maka saya tidak akan ragu jika menyebut jantungnya adalah deretan pantai putih yang senantiasa dijilati ombak dan paru-paru pemberi udaranya adalah selaksa gunung yang tinggi menjulang.

Maka laut adalah salah satu destinasi pariwisata favorit diantara anggota republik ini. Termasuk saya. Setiap gelombang air dan angin pantainya selalu menyiratkan kenangan indah di setiap detik menghitung mundur hari liburan tiba. Seakan-akan laut memanggil dan kita selalu berharap sekiranya mampu memenuhi seruannya di tiap akhir pekan.

Setiap tempat memiliki kisahnya sendiri…

Tiap hari prei tiba, tempat yang pertama kali menggerayang di pikiran saya adalah bibir pantai sebelah utara Aceh Besar atau dengan kata lain area timur Banda Aceh. Bukankah pernah saya ceritakan bahwa Aceh Besar memiliki bibr pantai yang panjang? Krueng Raya namanya. Tempat yang menjadi andalan para punggawa pariwisata Pemerintah Aceh Besar itu, menyimpan kekayaan alam yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Berbagai kawanan ikan bergerak dalam formasi padu tanpa dikomandoi. Lineria matahari bergerayang di riak air lalu menelusup di antara lantai laut yang putih. Akar-akar pepohonan keurambang berebutan bernafas menusuk-nusuk udara dari bawah air. Nah, tidak heran bukan jika pantai-pantai Krueng Raya memikat saya?

Tapi bukan itu yang menjadi alasan kerinduan saya…

Saat pemandangan termagis yang Tuhan lukis saya nikmati, ada rasa getar yang tidak bisa kita dapatkan saat menyanyikan sajak-sajak langit dalam balutan kehangatan sajadah di mesjid. Di sana, di antara lantai butir-butir pasir putih saya menemukan arti lain dalam sejarah penghambaan saya.

Kali ini bukan azan yang memanggil saya dan bukan seruan iqamah yang menjadi pengingat waktu salat, tapi matahari dan sayup bayangannya yang menyadarkan kami bahwa waktu untuk bertasbih pada Tuhan telah sampai. Dan juga bukan air tanah yang membasuh tiap lengkuk dosa, tapi asin buih laut yang menjadi air wudu saya. Dan sang imam tidak perlu menggunakan alat pengeras untuk menyampaikan lafal nyaring kidung ayat-ayat tua, cukuplah alam menjadi pemberi tahu bahwa sudah saatnya untuk sujud dan bangun kembali.

Ah, mengingatnya membuat saya semakin merindukan saat-saat indah bersujud kembali di permukaan jantung Indonesia itu. Dan sudah selayaknya bagi kita agar selalu mengiringi langkah perjalanan dengan Tuhan yang selalu di sisi…

Berjalanlah ke seluruh penjuru bumi, dan rekatkanlah di tiap simpul sepatu yang kau ikat mati itu nama Tuhanmu dan juga Ibu Pertiwi…

lhok mee