The Old Friend

baiturahman.jpg

Jika Banda Aceh menjelma menjadi sebuah sistem konstelasi, maka saya tak kan ragu untuk menyebut Masjid Baiturrahman sebagai pusatnya. Sedangkan gedung pemerintahan, bangunan-bangunan, dan orang-orang yang bermukim di kota Banda tak lebih dari asteroid-asteroid dan kepulan kabut penganggu yang mengitarinya. Tak penting. Karena di sanalah, di tengah himpitan gegap gempita kehidupan ibukota, beragam wajah mewarnai semburat kemegahan Baiturrahman dan ribuan kaki menjejaki tiap jengkal tempatnya berdiri…

Baiturrahman Grand Mosque — Banda Aceh, 1 December 2013 [06:09pm]

Ahh, perasaan seperti ini selalu saja memeluk saya di detik-detik terakhir malam minggu pertama tiap bulan. Minggu awal tiap bulan merupakan hari libur yang mengizinkan kami untuk beranjak keluar dari dayah sebentar. Untuk sekedar melepas penat dan mengisi kembali semangat yang hampir berantakan. Malam rasanya terlalu lama menjauh untuk hari yang ‘suci’ itu.

Tetesan air wudu belum juga mengering selepas salat subuh. Venus masih berkerling di ujung langit dan cicitan burung belum terdengar dari puncak-puncak kasia yang memagari pekarangan dayah. Tapi adrenalin saya sudah mulai berpacu melawan dingin yang menghentak. Pagi ini saya mengajak diri saya sendiri untuk mengisi hari yang berbahagia ini dengan mengunjungi salah satu landmark kota. Masjid Baiturrahman. Continue reading

Satu Muharram

darululumnight.jpg

Satu Muharram kembali datang dan saya menyambutnya dengan terus menggelas ilmu pengetahuan di dayah yang hampir menggenapi enam tahun di sisi. Malam ini tidak ada apa-apa yang bisa saya sodorkan untuk pergantian tahun Hijri. Hanya ada beberapa santri lain yang berangkatan di bawah saya. Langit cerah. Semarak. Masjid Baiturrahman mengkidungkan ayat-ayat langit sejak selepas Isya. Sebuah acara menyambut 1435 Hijriyah sedang berlangsung di tengah kota. Andai ada sistem konstelasi di kota Banda, maka sudah pasti saya katakan Mesjid bersejarah itu sebagai matahari pusatnya. Sedang bangunan-bangunan remeh di sekitarnya tak lain adalah sekumpulan planet dan masyarakat yang berduyun-duyun masuk ke lingkaran komplek Baiturrahman tak lebih sebagai asteroid-asteroid yang hilir mudik tak tentu arah.

Ah, betapa inginnya saya menyambut malam istimewa ini di sana…

***

Darul Ulum Islamic College, 4 November 2013 [20:56 PM]

Sepulang Isya, saya kembali ke kamar. Merencanakan sesuatu untuk sekedar melepas rasa penat. Saya mengambil sebuah buku ketika Ade, salah seorang junior saya, memasuki kamar.

“Akhi!” Ade memanggil saya dan bertanya,”kalau di rumah, rayain satu Muharram kayakmana?”

Saya terkejut dengan pertanyaan beraroma tiba-tiba itu. Tapi kemudian saya tersenyum dan mencoba mencari jawaban. Nihil.”Biasanya apa ya? Laa adri. Tidak tahu.  Akhi udah 6 tahun selalu satu Muharram di sini. Biasanya ke Baiturrahman kan dengar ceramah” Saya mencoba jujur. Dia terdiam. Saya mencoba bertanya balik. “Maza taf’al ‘adaatan? Biasanya kamu ngapain”

“Ana kalau di rumah biasa bakar ayam,” jawabnya. Dia tersenyum. Saya tertawa. Perut saya berbunyi.

Kemudian dia melanjutkan ceritanya. “Tapi gak enak juga akhi, kalau selalu makan ayam rame-rame. Lebih enak makan sendiri.”

Demi mendengarnya saya terdiam. Kata-kata Ade terdengar seperti lonceng yang bergemerincing, memukul dada. Tiap sensor gelombangnya menyentuh sudut terdalam di hati saya. Saya tertegun.

“Lebih enak makan sendiri..” kata Ade mengiang-ngiang di dalam kepala saya.

Angin malam bertiup sepoi. Jarum jam bersikeras menunjuk angka setengah dua belas. Saya duduk sendiri di lantai tiga bangunan gedung sekolah. Balkon kecil yang terbuka lebar ini langsung menghadap ke tengah kota. Menyuguhkan kelipan sinar-binar lampu yang menerangi Banda Aceh tiap malam. Seperti cahaya lampu yang menerangi buku-buku kami para santri hingga Candra berdiri tegak di atas kepala langit.

Malam ini saya mencoba berdamai dengan nasib. Tidak pergi ke Baiturrahman bukan berarti tidak bisa merayakan satu Muharram. Bahkan saya masih bisa untuk merayakannya sekedar dengan duduk di atas sini. Hanya ada saya dan diri saya sendiri. Kami bercengkrama, mengobrol seperti sepasang teman yang sudah terlalu lama berpisah. Kata-kata Ade tadi mengingatkan saya.

Bukan… bukan tentang potongan ayam yang nikmat disantap. Tapi tentang menyepi. Mencari tempat untuk menyendiri…

Sudah berapa lama saya tidak memperhatikan diri sendiri. Bercermin tentang kekurangan dan laku buruk yang sering tertunaikan. Lalu mencari sebuah pembenaran dari sebuah kejelekan yang acap kali menorehkan tinta hitam di buku amal. Kesibukan saya di dayah membuat saya melupakan bagian diri saya yang satunya. Tempat saya untuk membandingkan amal. Kini saya sadar bahwa Satu Muharram dan diri sendiri merupakan perpaduan yang memikat dan salah satu hal yang patut saya syukuri. Saya tersadar bahwa seringkali saya lupa menghaturkan maaf pada bagian diri yang lain dan mengikat janji untuk memperbaiki diri menuju laku yang lebih baik. Setidaknya saya tersadar…

Selamat satu Muharram! Semoga kau temukan bagian lain dirimu yang senantiasa menjadi pengingat akan tindak tanduk burukmu. Sampaikan salam terhangat saya untuk keluargamu dan orang-orang yang kau cintai.

Saleum; A

A Word on Cognizance

DSCF0280

Tak terasa dedaunan telah berubah warna: kecokelatan, lalu menjadi hijau terang benderang. Bebungaan kuning telah mekar dari pohon-pohon besar yang tumbuh di depan bangunan utama sekolah saya. Musim-musim telah bertukar posisi. Seirama dengan semester yang sesaat lagi akan segera berganti: dari Desember sampai ke April. Seakan baru kemarin kami merayakan euforia berakhirnya ujian semester ganjil.

Tak terasa.

Minggu-minggu ke belakang selalu merupakan masa-masa paling melelahkan dalam semester ini. Sepanjang tahun. Setidaknya sampai saat ini. Absennya liburan panjang layaknya dalam masa semester ganjil selalu menjadi daya peredup semangat kami dalam belajar. Namun daya peredup yang sesungguhnya adalah ujian tengah semester. Dan senin kemarin merupakan hari ditiup nya peluit start estafet ujian yang berhari-hari lamanya.

Saya menyebutnya sebagai: Genderang Perang !

Penabuhnya adalah kami, para santri yang sedang labil ditengah sistem pendidikan melelahkan ini. Dan lawan kami adalah belasan pelajaran abstrak yang selalu penuh dengan rumus, kosakata asing, dan hafalan. Tiap malam kami mengeja satu-satu pelajaran yang akan diujikan besok. Semuanya terasa mengalir di sela-sela kening: Asas Black, Limit Fungsi, Laporan Ilmiah, G 30 S/PKI, Sistem Saraf…

Untungnya kawan, semua pelajaran abstrak itu masih berada dalam ruang lingkup ujian tengah semester. Belum lagi jika ujian yang dihadapi bernama: Ujian Semester. Pelajaran yang diujikan akan berlipat menjadi 2, karena ditambah dengan pelajaran dari kurikulum dayah.

Walaupun membayangkan betapa beratnya, tetap saja selalu terbersit dalam relung diri bahwa semuanya terasa alamiah. Tubuh kami telah terlatih selama 4 tahun lamanya untuk menghadapi terjangan soal-soal selama 14 hari itu. Tapi tetap saja, kehidupan bagaikan pohon tinggi. Semakin tinggi ia, semakin kencang angin yang menerpanya -klise sekali-. Setiap tahun pelajaran semakin rumit saja. Dan tentunya soal-soal akan semakin susah !

Makin menjadi-jadi sulitnya karena tahun ini kami didapuk sebagai pemegang kendali organisasi dayah. Kami lah masinis yang mengatur santri-santri junior di bawah kami untuk tetap berjalan di atas rel bernama peraturan. Di tengah kesibukan menghitung rumus-rumus Bernoulli dan Algoritma Trigonometri, kami juga harus membilang dan mengabsen santri yang tidak pergi ke masjid. Di tengah rutinitas mengukur takaran yang tepat dalam percobaan koloid dan buffer di laboratorium kimia, kami juga harus mengukur bijak beratnya hukuman yang diberikan pada para pelanggar nidham, peraturan. Ketika kami mulai sibuk mencari-cari info universitas-universitas favorit, kami juga harus mencari para pelanggar nidham yang luput tidak masuk mahkamah.

Begitulah. Sampai saya digiring oleh alam pada sebuah kesimpulan: tingkatan usia seseorang berbanding lurus banyaknya tanggung jawab yang dipikul. Pada akhirnya orang di sekeliling saya akan berubah. Semua nya akan berubah. Maka ketika alam di sekitar berubah, saya –dan kita semua– harus ikut berubah.

Inilah hukum alam. Tidak ada yang bisa mengelak dan menghalanginya. Bagaimana pun kita mencoba, alam pasti kan mendobraknya. Kita lah yang harus menyesuaikan diri. Seperti pohon besar yang tumbuh di depan sekolah saya: Menyesuaikan diri mengikuti kehendak alam. Dulunya cokelat, lalu menghijau, lalu bermekaran bunganya, lalu gugur dedaunan dan buah-buah kecil nya, lalu kembali menjadi cokelat. Siklus pun berulang. Sampai gugur semua helaian daun dan ranting dedahan nya. Dan mati.

Hari ini, saya kembali menemukan satu kepingan lain tentang makna hidup ini.

Saleum !

Dua Menara

2 Menara

Ditatap matahari. Dibayangi awan. Didera hujan. Dibelai angin. Dihinggapi burung. Saban hari. Mereka berdua selalu menunggu manusia-manusia yang datang pada-Nya. Untuk-Nya: Tuhan Manusia.

Dua Menara Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan: Ronde 15 Pasangan, yang sedang berlangsung di sini