Senja di Atas Dawai

zamer bungr

Layaknya manusia, sepasang burung ini sepertinya sedang mengalami hubungan yang kurang harmonis. Keduanya bersitegang di antena belakang rumah saya. Saling tak acuh dengan mempalingkan kepala. Kiranya keempat kepak sayap itu terbang tentu indah sekali bukan. Tapi mau diapakan lagi. Bukankah perseteruan akan selalu hadir di setiap santiran kaki komponen semesta?

Continue reading

TFP #21 Jalanan: Usang. Berdebu. Mati!

DSCF5671 copy

Salah sudut kumuh Pasar Aceh. Jalannya penuh barang-barang dagangan tak beraturan dan kepulan debu. Lebih jauh lagi, penuh dengan deru kesendirian. Kabel-kabel kecokelatan yang usang dimakan asap usia. Jendela-jendela retak. Dedauan kering dan sampah dekil. Jalan berujung yang dihimpit dinding suram dan keacuhan.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 21: Jalanan, yang berlangsung di sini

TFP #18 Hutan: Magical Remind !

as

Dari hutan tempat berlari pada masa kecil di antara ranting dan dedahan rendah, saya memanggil kembali memori dan ingatan masa lalu. Pepohonan yang masih sama susunan nya dan rumput hijau yang khas aromanya. Sejenak bermain bola dan melupakan tugas rumah seharian.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 18: Hutan, yang berlangsung di sini

My This Week Photo: The Justice

Salah satu sistem pendidikan yang ada di lembaga dayah (pesantren) modern adalah mahkamah. Mahkamah berarti ‘pengadilan’ atas kesalahan yang dilakukan santri. Kesalahan yang biasa dilakukan biasanya terkait dengan penggunaan bahasa yang tidak diperbolehkan -seperti bahasa nasional, bahasa daerah, dan ucapan yang tidak pantas- (di pesantren hanya diizinkan berbicara memakai dua bahasa, Arab dan Inggris), pelanggaran di bidang akhlak, pelanggaran di bidang kebersihan, pelanggaran di bidang keamanan, dan lain sebagainya.

Dan yang menjalankan roda mahkamah adalah kami, para senior organisasi. Kami lah yang tiap malam bertugas ‘menghakimi’ para santri di bawah kami yang bermasalah. Pelanggaran ringan hanya kami berikan hukuman sekedarnya seperti push-up, lari keliling lapangan, mencari pelanggar lain dan menghafal kosakata baru dalam bahasa¬†Arab dan Inggris. Adapun yang berat langsung diambil alih oleh para ustad.

Di novel ‘Negeri 5 Menara’, semua proses mahkamah di jelaskan secara rinci oleh Bang Ahmad Fuadi. Karena dayah tempat saya belajar, kurang lebih, mengadopsi sistem pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.