Senja di Atas Dawai

zamer bungr

Layaknya manusia, sepasang burung ini sepertinya sedang mengalami hubungan yang kurang harmonis. Keduanya bersitegang di antena belakang rumah saya. Saling tak acuh dengan mempalingkan kepala. Kiranya keempat kepak sayap itu terbang tentu indah sekali bukan. Tapi mau diapakan lagi. Bukankah perseteruan akan selalu hadir di setiap santiran kaki komponen semesta?

Continue reading

TFP #21 Jalanan: Usang. Berdebu. Mati!

DSCF5671 copy

Salah sudut kumuh Pasar Aceh. Jalannya penuh barang-barang dagangan tak beraturan dan kepulan debu. Lebih jauh lagi, penuh dengan deru kesendirian. Kabel-kabel kecokelatan yang usang dimakan asap usia. Jendela-jendela retak. Dedauan kering dan sampah dekil. Jalan berujung yang dihimpit dinding suram dan keacuhan.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 21: Jalanan, yang berlangsung di sini

Perfect Night !

Saya lelah. Saya ngantuk. Saya terharu. Tapi, saya senang tiada duanya.

Semalam, setelah menunggu hampir selama dua jam, pengumuman pemenang rangkaian lomba EDSA 31th Anniversary akhirnya di teriakkan. Dalam rangkaian lomba itu saya hanya mengikuti dua kompetisi: Lomba Essay dan Lomba Fotografi. Dan hasilnya: Lomba Essay, terbang ! Saya kalah.

Tapi, dalam lomba fotografi, foto black n white saya yang didapatkan dengan mentraktir adik kelas saya supaya mau menjadi model, berhasil bersarang di hati para panitia, dan di ganjar dengan peringkat ke-3 ! Akhirnya, foto yang saya potret sendiri, foto yang saya tangkap dengan susah payah, foto yang saya dapatkan setelah mengotak-atik kamera selama berbulan-bulan dan setelah mempelajari teknik-teknik fotografi secara autodidak melalui internet dinyatakan layak menjadi pemenang. Dan yang bikin saya terharu adalah kamera yang saya gunakan: Fujifilm FujiPix JX370. Iya, kamera saku ! Bukan kamera DSLR: kamera yang sudah sekian lama tertulis di daftar barang yang paling ingin saya miliki. Ngeliat foto-foto pemenang 1 dan 2 yang dipotret pake DSLR dan bandingin dengan kamera saku sendiri bikin saya tambah galau.

Tapi tetap saja, saya bahagia tiada banding !

*nangis dulu. Hiks..hiks… Srott!

Foto ini dulu pernah saya posting di sini. Ini dia foto nya:

Dari pemandian umum sebuah dayah di Banda Aceh, seorang anak membunuh waktu luang antrian mandinya dengan membaca sebuah buku pelajaran.

FYI, pemenang pertamanya adalah abang kelas saya, yang sekarang sudah jadi alumni :D Bang Hendri Julian. Tapi foto beliau lupa saya minta. Foto nya bagus banget ! Nanti deh, saya tempel di sini.

Saleum.

Weekly Photo Challenge: Color

DSCF6466

A monument of Nations that have been help to reconstruct and rehabilitate Aceh after Tsunami. Taken at Blang Padang, Aceh.

New to The Daily Post? Whether you’re a beginner or a professional, you’re invited to get involved in our Weekly Photo Challenge to help you meet your blogging goals and give you another way to take part in Post a Day / Post a Week. Everyone is welcome to participate, even if your blog isn’t about photography.

Ere Dip !

Zamer

Dari pemandian umum di sebuah dayah Banda Aceh, seorang anak membunuh waktu kosong antrian mandinya dengan membaca sebuah buku pelajaran.

Foto ini diikutsertakan dalam lomba Fotografi Edsa 2013: Pendidikan, yang berlangsung di sini

 

My This Week Photo: The Justice

Salah satu sistem pendidikan yang ada di lembaga dayah (pesantren) modern adalah mahkamah. Mahkamah berarti ‘pengadilan’ atas kesalahan yang dilakukan santri. Kesalahan yang biasa dilakukan biasanya terkait dengan penggunaan bahasa yang tidak diperbolehkan -seperti bahasa nasional, bahasa daerah, dan ucapan yang tidak pantas- (di pesantren hanya diizinkan berbicara memakai dua bahasa, Arab dan Inggris), pelanggaran di bidang akhlak, pelanggaran di bidang kebersihan, pelanggaran di bidang keamanan, dan lain sebagainya.

Dan yang menjalankan roda mahkamah adalah kami, para senior organisasi. Kami lah yang tiap malam bertugas ‘menghakimi’ para santri di bawah kami yang bermasalah. Pelanggaran ringan hanya kami berikan hukuman sekedarnya seperti push-up, lari keliling lapangan, mencari pelanggar lain dan menghafal kosakata baru dalam bahasa Arab dan Inggris. Adapun yang berat langsung diambil alih oleh para ustad.

Di novel ‘Negeri 5 Menara’, semua proses mahkamah di jelaskan secara rinci oleh Bang Ahmad Fuadi. Karena dayah tempat saya belajar, kurang lebih, mengadopsi sistem pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo.

TFP #17 Biota Laut: Akhir Kehidupan Sang Ksatria Laut

ikan

Saya yakin sosok asli bangkai ekor ikan ini dulunya besar. Skala foto ini 1 : 10. Tapi saya tidak tahu persis jenis ikan apa ini. Gambar tersebut saya ambil di dapur umum salah satu dayah di Banda Aceh: Dayah Modern Darul Ulum. Ya, ikan ini sudah dijadikan santapan bagi ratusan kepala santri dayah tersebut. Akhir kehidupan sang ksatria laut.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17: Ocean Creatures (Biota Laut), yang berlangsung di sini

TFP #16 Pelarian: Tidur Untuk Berlari

TFP Ronde 16

Di satu sudut Pasar Atjeh, saya menemukan arti lain dari sebuah pelarian. Dia dekat, kita bisa mendatanginya tanpa perlu perencanaan. Di tengah hiruk-pikuk suara manusia dan kendaraan, atau deraan panas matahari yang menyesakkan, pun di antara puing-puing sampah yang bertebaran dia ada. Bahkan jika kita tak mendatanginya, dia yang akan menyambangi kita. Bagi saya pelarian terindah itu adalah berlari ke alam mimpi. Merangkai dunia yang kita inginkan untuk sejenak melupakan carut-marut kehidupan. Tidur.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 16: Pelarian, yang sedang berlangsung di sini

Dua Menara

2 Menara

Ditatap matahari. Dibayangi awan. Didera hujan. Dibelai angin. Dihinggapi burung. Saban hari. Mereka berdua selalu menunggu manusia-manusia yang datang pada-Nya. Untuk-Nya: Tuhan Manusia.

Dua Menara Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan: Ronde 15 Pasangan, yang sedang berlangsung di sini