Wastra!

10303771_772030832816362_7649778786014823150_n

Beberapa hari lalu dalam lawatan menuju Kuala Lumpur, saya memilih pasar tradisional yang berdiri di dekat Masjid India sebagai tempat berburu sedikit bingkisan tangan. Kios-kios kecil berbagi tempat di sepanjang tanah sempit ini, menjadikan warna dan iluminasi cahaya menjadi kentara adanya.

Saat sedang menyusuri barisan pasar aneka rupa ini , sontak retina saya menangkap barisan kain berupa-rupa warna di salah satu kios kecil yang terletak di bagian ujung pasar. Seketika saya membusurkan senyum saat menyadari barisan warni bak pelangi itu merupakan kain bercorak batik.

Menemukan sekeping bagian dari rumah di ranah yang berbeda ternyata rasanya cukup menyenangkan juga…

***

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 41: Wastra

Krueng Cut

BeFunky_dscf1181.jpg

Simpang Tibang, 2 January 2013 [11:13am]

Tiap kali saya kembali pulang setelah menyelami ilmu di pesantren, saya selalu bergembira. Seakan alam menyambut anaknya yang pulang berjihad dan menampakkan selendangnya dimana-dimana. Diantara satunya yang mempesona tak lain: Krueng Cut.

Krueng sejatinya ‘sungai’ dalam bahasa Aceh. Di sungai yang bermuara ke pantai Aluenaga ini berjejer para pencari tiram yang mencari makhluk kecil itu disudut-sudut batu. Pun sungai ini merupakan salah satu stand tetap untuk para pemancing dari atas jembatan. Ditambah dengan pemandangan sunset tiap petang yang menyeruak menjadikannya kian istimewa.

Saya merasa dianak-emaskan oleh alam!

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 32: Sungai di rumah maya milik Haryadi. Berkunjunglah ke sana dan temukan bagaimana indahnya menjadikan foto sebagai ajang saling berbagi cerita.

Senja di Atas Dawai

zamer bungr

Layaknya manusia, sepasang burung ini sepertinya sedang mengalami hubungan yang kurang harmonis. Keduanya bersitegang di antena belakang rumah saya. Saling tak acuh dengan mempalingkan kepala. Kiranya keempat kepak sayap itu terbang tentu indah sekali bukan. Tapi mau diapakan lagi. Bukankah perseteruan akan selalu hadir di setiap santiran kaki komponen semesta?

Continue reading

TFP #21 Jalanan: Usang. Berdebu. Mati!

DSCF5671 copy

Salah sudut kumuh Pasar Aceh. Jalannya penuh barang-barang dagangan tak beraturan dan kepulan debu. Lebih jauh lagi, penuh dengan deru kesendirian. Kabel-kabel kecokelatan yang usang dimakan asap usia. Jendela-jendela retak. Dedauan kering dan sampah dekil. Jalan berujung yang dihimpit dinding suram dan keacuhan.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 21: Jalanan, yang berlangsung di sini

TFP #18 Hutan: Magical Remind !

as

Dari hutan tempat berlari pada masa kecil di antara ranting dan dedahan rendah, saya memanggil kembali memori dan ingatan masa lalu. Pepohonan yang masih sama susunan nya dan rumput hijau yang khas aromanya. Sejenak bermain bola dan melupakan tugas rumah seharian.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 18: Hutan, yang berlangsung di sini

TFP #17 Biota Laut: Akhir Kehidupan Sang Ksatria Laut

ikan

Saya yakin sosok asli bangkai ekor ikan ini dulunya besar. Skala foto ini 1 : 10. Tapi saya tidak tahu persis jenis ikan apa ini. Gambar tersebut saya ambil di dapur umum salah satu dayah di Banda Aceh: Dayah Modern Darul Ulum. Ya, ikan ini sudah dijadikan santapan bagi ratusan kepala santri dayah tersebut. Akhir kehidupan sang ksatria laut.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 17: Ocean Creatures (Biota Laut), yang berlangsung di sini

TFP #16 Pelarian: Tidur Untuk Berlari

TFP Ronde 16

Di satu sudut Pasar Atjeh, saya menemukan arti lain dari sebuah pelarian. Dia dekat, kita bisa mendatanginya tanpa perlu perencanaan. Di tengah hiruk-pikuk suara manusia dan kendaraan, atau deraan panas matahari yang menyesakkan, pun di antara puing-puing sampah yang bertebaran dia ada. Bahkan jika kita tak mendatanginya, dia yang akan menyambangi kita. Bagi saya pelarian terindah itu adalah berlari ke alam mimpi. Merangkai dunia yang kita inginkan untuk sejenak melupakan carut-marut kehidupan. Tidur.

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan Ronde 16: Pelarian, yang sedang berlangsung di sini

Dua Menara

2 Menara

Ditatap matahari. Dibayangi awan. Didera hujan. Dibelai angin. Dihinggapi burung. Saban hari. Mereka berdua selalu menunggu manusia-manusia yang datang pada-Nya. Untuk-Nya: Tuhan Manusia.

Dua Menara Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Foto ini turut meramaikan Turnamen Foto Perjalanan: Ronde 15 Pasangan, yang sedang berlangsung di sini