Tumpukan Jerami

2013-06-27 10.38.14Sungguh jika mau menyempatkan diri merenung sejenak, kita akan terkejut ketika menyadari eksistensi wujud diri. Kita tidak sendirian. Ungkapan ‘bagaikan sebulir gandum di antara sebuah tumpukan jerami’ mungkin benar. Namun sepertinya yang sedang kita alami saat ini adalah ‘di antara ribuan tumpukan jerami’…

Di kamar berukuran 8 x 10 meter itu tawa berhamburan setelah malu-malu berkecambah. Ada 16 nafas dari 5 suku bangsa yang merangkai gandengan persahabatan di bawah atap sebuah event santri Nasional. Meski berbeda ibu dan lambang kafilah, kami tetap saling bercerita layaknya saudara. Membuat lelucon siang malam. Berebut makanan ketika asam lambung sudah tak tertahankan.

Di sini ada tiga kepala anak pinggir Sungai Kapuas. Dengan tawa renyah dan dialek yang khas, anak-anak bagian barat Pulau Borneo itu selalu menjadi momok tawa di ruangan dingin ini. Sedang Bapak pendamping mereka merupakan sosok kurus tinggi berhati bijak sedalam samudra. Meski sering saya terkekeh sendiri olehnya ketika dia membangunkan subuh ketiga bocah dayak bimbingannya dengan raungan ‘angin’ busuk dari tubuh bagian belakang nya.

Adapula tiga cahaya dari tanah timur Indonseia; Papua! Mereka pendiam. Tipikal tak banyak perkara tapi ketika berbicara siap-siap saja terkena deburanĀ liur eksofagus seorang Suku Asmat. Memiliki kulit cokelat, mereka mengaku merupakan darah campuran. Bukan asli Papua. Meski sebagian darah mereka mungkin bukan milik Papua, tapi hati dan pijakan kaki mereka tertancap dalam di tanah hitam Pulau Kepala Burung itu. Layaknya orang timur lainnya, nada bicara mereka sesekali naik beberapa oktaf, lalu turun kembali ke tangga minor. Telinga saya dibuat berdawai mendengar suaranya!

Lantas di kamar ini juga dihuni dua orang penyair dari Ranah Sumatera. Sulaiman, Si Togar asli Batubara dan Paras, pencinta Rafflesia kelahiran Bengkulu. Kadang kami bertiga duduk di pematang sawah di samping pemondokan. Tujuan kami sederhana saja: Mencari kata-kata di balik helaian hijau padi yang merunduk dipukul angin. Namun, ketika angin lelah memukul padi saat itulah dia membelok menerjang kami. Lamat kantuk pun menghampiri. Indeed, kami terlelap bertiga di samping sawah. Paduan yang dramatis.

Sementara itu di kamar sesak ini juga berdesakan enam anak Aceh yang turut memperkaya diorama mini Indonesia itu. Hal yang paling bisa saya ingat tentang kami anak Aceh adalah memutar lagu berbahasa Aceh keras-keras agar provinsi lain mau melirik dan meminta untuk dikirim. Ah, kami disini sedang menjadi duta budaya Aceh bukan?

***

Jika dibuat membujur sungguh kita hanya sepersepuluh dari sebuah titik merah bertuliskan nama kota di atas peta. Mungkin juga lebih kecil. Karena masih banyak nama-nama kota berserakan di atas peta itu yang belum kita jamah. Sungguh, masih banyak teman yang belum kita miliki. Ranah yang belum kita injak. Bahasa yang belum mengalir di sela papila kita. Juga wajah-wajah yang belum kita tatap. Karena itu, hidup ini tidak lebih dari suatu bingkai puzzle yang tercecer. Tugas kita adalah mengumpulkan yang tercecer lalu menggabungkannya. Maka proses mengumpulkan inilah yang paling kita debarkan. Terkadang untuk mencomot satu bingkai kita harus berjalan jauh. Jauh meninggalkan injakan tanah di bawah. Melangkah menuju tanah yang belum pernah kita baui. Tapi tidak apa. Semakin jauh kaki mengeksplorasi, semakin banyak pula kepingan puzzle mozaic yang terekam jejak. Untuk alasan itulah, saya menyukai sebuah perjalanan…

Jadi, melangkahlah dan temukan kepingan mozaik hidupmu di sudut-sudut dunia!

Salam,
A
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s