Rencong: A Slasher, A Token, A Legacy

Kawan, pernah dengar Samurai ? Pernah. Kalau Keris? Pernah. Bagus. Tapi pernahkah kawan mendengar kata Rencong? Belum. Ah, yang bener ?? Tapi tidak masalah. Saya akan kenalkan lebih lanjut apa itu Rencong. Yang jelas rencong bukanlah nama kue khas Aceh. Bukan pula nama situs sejarah di Aceh. Apalagi nama Gubernur Aceh. Bukan. Sama sekali bukan. Rencong adalah :Rencong-a-traditional-weapon-from-Aceh-500x247

Yap, tepat sekali kawan. Rencong adalah senjata tradisional Aceh. Salah satu Budaya Aceh, dan juga…kebanggaan Aceh. Rencong yang berbentuk seperti huruf “L” ini, berbeda dengan pedang dan pisau sehingga para ahli meletakkannya dalam kategori keris. Bahan baku utama untuk pembuatan rencong adalah besi putih, kuningan, dan tanduk kerbau (tanduk berwarna putih dan warna hitam).

Rencong  memiliki rasa kuat nilai filosofis Islam, “Ba” diambil dari padanan kata “Bismillah”. Padanan kata itu bisa dilihat pada gagang yang melekuk kemudian menebal pada bagian sikunya. Dalam cengkeraman pegangan seperti karakter “Dosa”. Bentuknya yang meruncing ke bawah pada pangkal besi dekat gagangnya merupakan surat Arab “Mim”. Lanes besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya melambangkan huruf arab “Lam”. Sebagian dari bagian atas datar runcing dan bawah sedikit melengkung ke atas sebuah alfabet “ha”. Apa artinya ? Kawan, itulah “BASMALAH”. Ini menunjukkan karakteristik masyarakat Aceh yang berpegang teguh kepada kemuliaan Islam.

Rencong memiliki beberapa tingkatan, untuk seorang raja atau sultan sarung rencong biasanya terbuat dari pisau gading dan emas berukir kutipan dari ayat-ayat suci dari Al-Quran Islam. Sementara rencong lainnya biasanya terbuat dari tanduk kerbau atau kayu sebagai sarungnya, dan kuningan atau besi putih sebagai belati. Dalam Masyarakat Aceh, Rencong terbagi dalam 4 jenis:

  • Reuncong, yaitu rencong pudoi (rencong tidak lengkap pada bentuk gagangnya);
  • Rencong Meukure, yaitu bahwa rencong diberi hiasan seperti gambar hewan, akar dan bunga di mata;
  • Rencong Meupucok (memiliki tip), yang di atas gagangnya ada sebuah pucuk yang biasanya terbuat dari emas;
  • Rencong Meucugek, ada bentuk cugek handle (gagang melengkung 90 derajat). 

Pada masa penjajahan Belanda, rencong digunakan di medan perang, tidak hanya oleh laki-laki tetapi juga perempuan. Senjata ini terselip di pinggang sebagai penanda egalitarianisme dan tinggi martabat, dan simbol pertahanan diri, keberanian, kebesaran, dan ketika perjuangan heroik melawan penjajah Belanda. Dalam perjuangan melawan Belanda nama-nama pahlawan pahlawan wanita Aceh tercatat dalam sejarah, seperti Laksamana Malahayati (laksamana wanita pertama di dunia), Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren, dan Teungku Fakinah.

Saat ini, rencong telah bergeser fungsi dan menjadi salah satu souvenir yang unik dan khas di Aceh. Sepertinya tidak lengkap jika pergi ke Aceh, tidak membawa pulang Rencong. Namun tetap saja, saya menganggap Rencong sebagai salah satu nafas Islam yang diciptakan oleh pendahulu Aceh, sehingga fungsinya tidak boleh hanya sebagai souvenir tapi juga tetap sebagai warisan budaya. Allahu Akbar ! Hidup Rencong!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s